Yayuk Sudarwati, Vita Ria Mustikasari SMPN 4 Bangil
[email protected] Abstrak
Pada pengamatan awal diperoleh data bahwa kemampuan mengkomunikasikan hasil belajar secara lisan maupun tulisan di SMPN 4 Bangil Satap masih rendah. Penyebabnya adalah belum diterapkanya model dan metode pembelajaaran yang bervariasi sehingga selama pembelajaran siswa belum terlibat aktif dalam berinteraksi. Tujuan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Carousel menggunakan metode diskusi analisa masalah, fishbone ataupun peta konsep untuk meningkatkan kemampuan mengkomunikasikan hasil pengamatan siswa. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Prosedur penelitian dalam penelitian ini adalah observasi awal, pelaksanaan penelitian, analisis data, penarikan kesimpulan, dan pelaporan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah rubrik kemampuan komunikasi dan kinerja kelompok, serta lembar kerja berupa peta konsep ataupun fishbone. Pada awal pelaksanaan diskusi carousel hanya 8 dari 38 siswa yang dapat menjelaskan hasil diskusi dengan baik, namun penggunaan peta konsep belum menarik untuk mendukung diskusi.
Pada pelaksanaan carousel tahap 2 tampak 28 siswa mulai lancar menjelaskan dengan kualitas peta konsep yang lebih baik. Penerapan model pembelajaran Carousel menggunakan metode diskusi analisa masalah menggunakan LK fishbone dan peta konsep dapat meningkatkan kemampuan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
Kata kunci: pembelajaran Carousel, komunikasi, fishbone, peta konsep.
PENDAHULUAN
Peran guru dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif sangat penting agar pembelajaran di kelas berhasil. Proses pem-belajaran dapat dikatakan berhasil apabila sebagian besar siswa terlibat aktif baik secara fisik, mental, maupun sosial dalam pembelajaran. Aktivitas siswa tersebut menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan percaya diri yang tinggi (Mulyasa,2003:101). Salah satu indikator peran aktif siswa dalam belajar adalah kemampuan komunikasi dalam diskusi.
SMPN 4 Bangil satap masih menerapkan kurikulum KTSP. Kurikulum apapun yang diterapkan yang penting adalah bagaimana guru terus berupaya mengelola kelas dengan baik agar anak-anak dapat belajar. Berbagai model dan metode pembelajaran dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran secara inovatif, kreatif dan menyenangkan. Berkaitan dengan hal tersebut, guru sebagai salah satu subsistem dalam sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis dalam mempersiapkan siswa menjadi anak Indonesia yang
cerdas seutuhnya, baik cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, maupun kinestetis.
Kemampuan menyampaikan atau mengko- munikasikan hasil pengamatan selama kerja kelom- pok dalam pembelajaran IPA siswa kelas 9A di SMP Negeri 4 Bangil masih rendah. Hal ini terlihat dari catatan hasil pengamatan guru selama pem-belajaran kelas 8 pada tahun pembelajaran 2015 - 2016 yang lalu. Jumlah siswa kelas 9 sebanyak 38 anak. Fakta yang ditemukan 30 anak belum bisa menjelaskan dengan baik dalam diskusi, belum bisa menyampaikan pendapat dengan bahasa Indonesia yang benar, banyak siswa yang menarik kesimpulan masih menyimpang dari tujuan pembelajaran, siswa kesulitan menarik kesimpulan sendiri, dan banyak siswa yang masih enggan untuk mengajukan pendapat melainkan lebih suka menyalin kesimpulan yang dibuat ketua kelompoknya.
Pembelajaran IPA kelas 8 semester genap pada tahun pembelajaran 2015 – 2016 lebih banyak menerapkan ceramah sebab banyak waktu yang terganggu dengan kegiatan kelas 9 try out, ujian akhir sekolah, ujian praktek, dan ujian nasional
179 sehingga guru mengejar target kurikulum untuk menyampaikan semua tuntutan materi. Dalam proses belajar kurang memberikan kesempatan siswa bertanya atau menjawab secara lisan per- tanyaan guru, ataupun permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran. Inilah yang menyebabkan anak-anak kurang bisa mengkomuni- kasikan hasil pengamatan yang diperoleh.
Pembelajaran masa kini diarahkan pada pembelajaran yang menekankan pada pengalaman langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah untuk meng- embangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (Depdiknas, 2006:377). Pembelajaran yang mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah akan memberikan pembelajaran lebih berkualitas dan bermakna. Salah satu aspek keterampilan proses adalah kemampuan komunikasi dalam diskusi.
Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana upaya guru untuk membawa siswa menjadi berani bertanya dan berpendapat, ber- semangat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Dipilihlah model pembelajaran Carousel dengan metode diskusi, peta konsep atau fishbone untuk mempermudah belajar. Masalah yang muncul adalah 1)Bagaimana penerapan model pem- belajaran Carousel di kelas 9A SMPN 4 Bangil?
2)Bagaimana peningkatan kemampuan komunikasi anak kelas 9A SMPN 4 Bangil selama penerapan model pembelajaran Carousel ?
Tujuan penulisan laporan ini untuk menunjukan proses penerapan pembelajaran Carousel dan membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran Carousel menggunakan metode analisa masalah, fishbone ataupun peta konsep 1)dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar, 2)meningkatkan kemampuan meng- komunikasikan hasil pengamatan siswa dalam belajar.
A. Pembelajaran Carousel
Carousel merupakan salah satu model pembelajaran yang berperan penting dalam membangun paradigma pembelajaran konstruk- tivistik yang menekankan pada keaktifan belajar siswa. Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam meng- gunakan keterampilan proses dengan mengumpul- kan data, menyusun peta konsep dan mengkomuni- kasikan dalam diskusi.
Terdapat delapan langkah pembelajaran Carousel seperti yang tertulis dalam handout Teacher Workshop pendampingan PSF oleh Ibu Farlinawati yaitu1)Siswa menentukan siapa yang mendapat nomor 1-4 di dalam kelompoknya, tergantung dari jumlah anggota kelompok dan disesuaikan jumlah beban soal, 2)Guru mem- berikan pertanyaan/ permasalahan yang harus didiskusikan, 3)Siswa menulis jawaban secara individu sesuai pembagian tugas dalam kelompok,
4)Dalam kelompok, siswa mendiskusikan jawaban setiap anggota, 5)Guru menyebutkan satu nomor untuk memandu jalanya diskusi dengan rotasi, 6)Siswa dengan nomor yang disebutkan melaku- kan rotasi. Contoh: Guru menyebutkan nomor 2, siswa nomor 2 dikelompok A, akan menuju ke kelompok B, nomor 2 dikelompok B akan ke C, dstnya, 7)Siswa berdiskusi dengan teman baru nya yang berada di kelompok yang berbeda, 8)Guru dapat menyebutkan nomor lain atau memberikan pertanyaan/ permasalahan lainnya
Kelebihan pembelajaran Carousel antara lain: 1)semua siswa aktif belajar 2)meningkatkan kreatifitas, 3)membangun kemampuan komunikasi antar siswa 4)memudahkan mendaptkan hasil belajar dengan mendengar paparan materi berulang-ulang 5)siswa mendapatkan hasil belajar dengan mencari sendiri pengalamanya secara kolaboratif.
B. Ketrampilan Komunikasi
Robin Miliar (Popi Kamilia Devi, 2010) menyatakan bahwa proses sains sangat banyak digunakan di Inggris. Istilah ini mengacu pada pendekatan proses (prosess Approach) yang digunakan oleh guru dalam membahas materi yang mengacu pada prosesnya. Menurut Semiawan dkk (Nasution, 2007) menyatakan bahwa ketrampilan proses adalah ketrampilan fisik dan mental mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam kegiatan ilmiah sehingga dapat menemukan sesuatu yang baru. Klasifikasi ketrampilan proses meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan terpadu.
Ketrampilan dasar meliputi pengamatan, pengukuran, menyimpulkan, meramalkan, meng- golongkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan ketrampilan proses terpadu meliputi pengontrolan variable, intrepetasi data, perumusan hipotesa, pendefinisian variabel secara operasional, dan merancang eksperimen. Popi Kamila menjelaskan bahwa ketrampilan proses dasar merupakan fondasi untuk melatih ketrampilan terpadu.
Ketrampilan komunikasi adalah ketrampilan menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis. Ketrampilan komunikasi lisan dapat dilkukan dalam beberapa cara. Salah satu cara yang efektif melalui kerja kelompok, diskusi kelompok dan memberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil belajarnya di depan kelas. Ketrampilan mengkomunikasikan tertulis dapat berbentuk tulisan, grafik, diagram, poster, tabel maupun gambar. Karakteristik ketrampilan proses mengkomunikasikan antara lain:
1)mengutarakan suatu gagasan, 2)menjelaskan penggunaan data hasil pengamatan/pengindraan secara akurat suatu obyek atau kejadian, 3)mengubah data dalam bentuk tabel atau bentuk lainya misalnya grafik, diagram, peta konsep dan fishbone adalan salah satu bentuknya.
C. Peta Konsep dan Fishbone
Fishbone dan peta konsep adalah sebagian dari metode analisa masalah. Fishbone adalah alat visual untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi secara grafik menggambarkan semua penyebab yang berhubungan dengan suatu permasalahan.
Umumnya digunakan pada tahap mengidentifikasi permasalahan dan menentukan penyebab muncul- nya permasalahan tersebut. Manfaat diagram fishbone: 1)membantu untuk fokus dalam mencari permasalahan yang menjadi prioritas, 2)memudah- kan dalam mengilustrasikan gambaran singkat permasalahan. 3)menentukan kesepakatan meng- enai penyebab suatu masalah 4)memudahkan visualisasi hubungan antara penyebab dengan masalah, 5)memudahkan diskusi dan menjadikan diskusi lebih terarah pada masalah dan penyebabnya.
Analisis fishbone dan peta konsep merupakan suatu alat atau teknik atau pendekatan untuk mengidentifikasi dan menganalis masalah yang menggambarkan rangkaian hubungan sebab akibat dari beberapa faktor yang saling terkait.
Peta konsep dikembangkan untuk menggali ke dalam struktur kognitif pelajar dan untuk mengetahui yang telah diketahui pelajar ataupun guru. Ada tiga gagasan dalam teori kognitif Ausubel yang mendasari peta konsep. Pertama, struktur kognitif tersusun secara hirarkis dengan proposisi kea rah yang lebih khusus. Kedua, konsep- konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi progresif, yaitu belajar bermakna merupakan suatu proses kontinu, bila diperoleh hubungan-hubungan baru terus dipelajari, dimodifikasi dan dibuat lebih eksplisit dan lebih inklusif. Ketiga, penyesuaian integrative merupakan salah satu prinsip belajar yang mengemukakan bahwa belajar bermakna meningkat bila pelajar mengenal hubungan-hubungan yang baru antara satu set konsep dengan yang lain yang berhubungan.
(Ratna Wilis, 2012:106)
Manfaat metode analisa peta konsep:
1)membantu merumuskan persoalan utama atau masalah prioritas, 2) Membantu menganalisis pengaruh persoalan utama terhadap kinerja/hasil/dampak suatu masalah, 3) Membantu menggambarkan hubungan antara masalah utama, penyebab masalah dan dampak dari masalah utama,
4) Membantu mencari solusi atau persoalan utama yang ada
PEMBAHASAN
Jumlah siswa kelas 9A 36 anak. Evaluasi hasil belajar dilakukan menggunakan 1)instrument lembar observasi proses pembelajaran meliputi ketrampilan kognitif dan psikomotor yang menitikberatkan pada a)mengutarakan suatu gagasan, b)menjelaskan penggunaan data hasil pengamatan/pengindraan secara akurat c)mengubah data dalam bentuk peta konsep atau fishbone, 2)lembar tagihan berbentuk peta konsep ataupun fishbone diagram. Pada pembelajaran awal siswa kesulitan mengutarakan pendapat dan penjelasan tentang hasil belajarnya, karena belum terbiasa diskusi. Siswa dipaksa untuk mau mengeluarkan pemikiranya. Pada pembelajaran kedua terjadi perbaikan, siswa sudah menyadari bahwa harus bisa menjelaskan tugasnya masing-masing.
Analisa data tiap aspek teramati dilakukan menggunakan persamaan berikut:
Nilai = Jumlah skor diperoleh x 100 Jumlah skor maksimal
Perbandingan hasil Analisa data yang diperoleh dari rubrik ketrampilan komunikasi dalam pembelajaran I dan II menujukan data sebagai berikut:
Tabel 1. Perbandingan Skor Pembelajaran
No
Aspek Ketrampilan
komunikasi
Skor Pembelajaran
I
Skor Pembelajaran
II
1
Mengutarakan gagasan (kognitif)
60% 78 %
2
Menjelaskan hasil belajar (Kognitif)
60% 81,2 %
3
Mengorganisasi kan data dalam bentuk diagram peta konsep (Psikomotor)
72,4% 82,7 %
Berdasarkan hasil pengolahan data hasil belajar didapatkan bahwa 80% siswa dapat menyusun peta konsep memenuhi ketentuan yaitu konsep-konsep tersusun dengan hubungan yang benar secara inklusif, penampilan penggabungan konsep dalam carta menarik. Namun karena waktu penyelesaian singkat jadi memerlukan polesan warna ulang untuk lebih menarik jika ditempel di madding kelas. Presentasi dalam kelompok dan
181 presentasi final di depan kelas lancer dengan bahasa dan konten yang mencakup konsep sesuai tujuan pembelajaran, masih perlu dibiasakan untuk membentuk siswa trampil berkomunikasi.
Model pembelajaran carousel merupakan salah satu model belajar penemuan. Hendaknya guru mampu menciptakan iklim yang dapat menumbuhkan kemampuan bertanya dan mengeluarkan gagasan. Hal tersebut juga diungkapkan Laksmi (2007:3 ) dalam peneilitannya bahwa model belajar penemuan dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan. Melalui model ini siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pikiran dan gasasan tentang hal yang sudah dipelajari. Siswa perlu dilatih. Untuk itu tugas guru dalam hal ini adalah memberikan motivasi, pengarahan, mengorganisasikan, dan memberi kemudahan agar semua bentuk ketrampilan komunikasi pada siswa dapat berkembang.
PENUTUP
Dari hasil refleksi disimpulkan metode diskusi dan metode pemecahan masalah menggunakan diagram fishbone, atau peta konsep dalam pembelajaran ini menerapkan model pembelajaran Carousel dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam belajar, sehingga meningkatkan kratifitas berfikir.
Makin sering diterapkan, kreatifitas berpikir peserta didik makin meningkat sebab memberikan pengalaman belajar langsung lebih luas.
DAFTAR RUJUKAN
Farlinawati, 2014. Model Pembelajaran Aktif Kagan. PSF School Development Outreach.
Soimin, Aris. 2014. Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Ar Ruzz Media
Poppy Kamila Devi. 2010. Ketrampilan dalam Pembelajaran IPA. Jakarta : PPPPTK IPA.
Nasution Noehi., dkk. 2007. Pendidikan IPA di SD.
Jakarta: Universitas Terbuka.