PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA (FISIKA)
139 golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Sedangkan faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru juga merupakan salah satu faktor ekstern yang menentukan dalam proses pembelajaran.
Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat,
sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa seringkali tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini dapat terlihat pada siswa kelas VIII A di SMPN 1 Beji.
Berdasarkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada semester ganjil di SMPN 1 Beji, ditemukan beberapa masalah di kelas VIII A, yaitu rendahnya hasil belajar dan motivasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil pengalaman peneliti, penyebab rendahnya hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas VIII A di SMPN 1 Beji adalah:
1) Guru lebih sering menggunakan model pembelajaran yang cenderung lebih banyak menggunakan metode ceramah, tugas, dan megerjakan latihan soal. Hal ini membuat siswa cenderung mendengar, menulis apa yang diinformasikan dan mengerjakan latihan berdasarkan contoh soal yang diberikan oleh guru.
Pembelajaran seperti ini cenderung lebih bersifat hafalan atau kurang bermakna; 2) Sebagian besar siswa tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas; 3) Sebagian besar siswa bergurau saat melaksanakan praktikum dan hanya siswa tertentu yang aktif dalam kegiatan praktikum.
Pemilihan model pembelajaran yang digunakan oleh guru sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang diajarkan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut dan tingkat kemampuan peserta didik. Penerapan model pembelajaran yang tepat dapat mengakibatkan pembelajaran akan menjadi lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas VIII A di SMPN 1 Beji yaitu melalui penerapan model pembelajaran langsung (Direct Intruction/DI).
Model pembelajaran langsung (Direct Intruction/DI) adalah suatu model pembelajaran yang bersifat teacher center. Dalam menerapkan model pembelajaran langsung guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah. Proses belajar mengajar model direct intruction dapat berbentuk ceramah, demostrasi, pelatihan atau praktek dan kerja kelompok. Dalam direct intruction, seorang guru juga dapat mengkaitkan dengan diskusi kelas dan belajar kooperatif. Sebagaimana dikemukakan oleh Kardi (2000:8), bahwa seorang guru dapat menggunakan
direct intruction untuk mengajarkan materi atau keterampilan baru dengan diskusi kelompok. Hal tersebut bertujuan untuk melatih siswa berpikir, menerapkan keterampilan yang baru diperolehnya, serta membangun pemahamannya sendiri tentang materi pembelajaan.
Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang lebih berpusat pada guru dan lebih mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar (Rosdiani,2012:6). Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri- ciri sebagai berikut: (1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; (2) pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu; (3) materi pembelajaran yang telah terstuktur; (4) lingkungan belajar yang telah terstruktur; dan (5) distruktur oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder, gambar, peragaan, dan sebagainya.
Ada lima tahap yang harus diketahui guru dalam menggunakan pembelajaran langsung, yaitu:
1) menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa; 2) mendemonstrasikan atau menjelaskan materi yang akan dipelajari oleh siswa;
3) memberikan bimbingan praktek; 4) mengecek pemahaman siswa dan memberikan balikan; dan 5) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih sendiri dan menerapkan hasil belajar.
Penerapan model direct intruction dalam pembelajaran IPA dapat mengembangkan keterampilan sederhana dan komplek serta pengetahuan deklaratif yang dapat dirumuskan dengan jelas dan diajarkan tahap demi tahap. Dalam menerapkan model pembelajaran langsung guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah. Proses belajar mengajar model direct intruction dapat berbentuk ceramah, demostrasi, pelatihan atau praktek dan kerja kelompok. Hal tersebut bertujuan untuk melatih siswa berpikir, menerapkan keterampilan yang baru diperolehnya, serta membangun pemahamannya sendiri tentang materi pembelajaan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran direct intruction. Dengan meningkatnya motivasi belajar siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pula.
METODEPENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Desain penelitian yang digunakan adalah model siklus Kemmis dan Taggart, yaitu penelitian tindakan kelas dalam bentuk spiral yang terdiri atas empat fase meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat fase tersebut saling
berhubungan dalam siklus yang berulang. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Beji tahun pelajaran 2015/2016.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, angket dan tes. Data motivasi belajar siswa diper- oleh dari analisis dokumen yaitu hasil jawaban angket motivasi belajar siswa. Adapun data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil jawaban post-test siswa. Teknik analisis data untuk mengetahui kondisi motivasi belajar siswa dengan metode angket yaitu:
S = N
nm x 100%
Keterangan: S = Prosentase angket siswa nm = Jumlah item yang dipilih siswa
dari tiap aspek pada angket N = Jumlah seluruh item dari tiap aspek
pada angket
Menurut Subhan (2005:27), pedoman konversi yang umum diberikan dalam skala lima yaitu sebagai berikut:
Tabel 1 Prosentase Motivasi Belajar Siswa
Prosentase Hasil Motivasi (%) Skor Standar 80 ≤ P ≤ 100 Sangat tinggi
65 ≤ P ≤ 79,99 Tinggi
55 ≤ P ≤ 64,99 Sedang
40 ≤ P ≤ 54,99 Rendah
30 ≤ P ≤ 39,99 Sangat rendah
Data hasil belajar siswa yang diperoleh dianalisis dengan cara kualitatif dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75 dan ketuntasan klasikal sebesar 75%. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal dapat dihitung dengan:
Keterangan :
X = ketuntasan belajar secara klasikal Xi = jumlah siswa yang tuntas N = jumlah siswa keseluruhan HASIL DAN PEMBAHASAN
Data motivasi belajar siswa diperoleh dari angket yang bagikan pada pembelajaran pada setiap siklus. Angket yang terisi menggambarkan tentang kondisi motivasional siswa sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model direct intruction (DI). Deskripsi prosentase rata-rata kondisi motivasi belajar seluruh siswa pada pembelajaran IPA (fisika) bahasan cahaya dan optik terhadap kondisi motivasional hasil penelitian dijabarkan dalam Tabel 2.
Tabel 2 Motivasi Belajar Siswa
Keterangan Hasil Belajar Siswa Siklus I Siklus II Prosentase motivasi
belajar siswa
63,85% 77,00%
Kriteria Sedang Tinggi
Untuk memperjelas deskripsi hasil motivasi belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran direct intruction (DI), ditunjukkan Gambar 1.
Gambar 1 Hasil Motivasi Belajar Siswa Hasil Belajar Siswa
. Data hasil belajar siswa diperoleh dari skor jawaban post-test mengenai materi yang telah dipelajari dalam siklus I dan siklus II. Deskripsi rerata skor postes hasil belajar skor postes hasil penelitian dijabarkan dalam Tabel 3.
Tabel 3 Skor Posttes Hasil Belajar Siswa
Keterangan Hasil Belajar Siswa Siklus I Siklus II Rata-rata hasil belajar
siswa 65,4 75,7
Ketuntasan klasikal 35% 75%
Untuk memperjelas deskripsi rerata skor postes hasil belajar siswa dengan menggunakan model menggunakan model pembelajaran direct intruction, ditunjukkan Gambar 2.
Gambar 2 Skor Postes Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan paparan subbab hasil penelitian, penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran direct intruction (DI). Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari dua siklus dengan materi Cahaya dan Optik.
Berdasarkan data angket Adapun persentase nilai yang diperoleh dari data angket mengenai kondisi motivasional siswa selama mengikuti pem- belajaran pada siklus I yaitu 63,85% (kriteria sedang). Adapun nilai angket kondisi motivasional siswa selama mengikuti pembelajaran pada siklus II ini juga mengalami peningkatan daripada siklus I.
Pada siklus II nilai kondisi motivasional siswa meningkat menjadi 77,00% (kriteria tinggi). Hasil analisis data skor post test pada setiap siklus diketahui peningkatan hasil belajar. Pada siklus I rata-rata hasil belajar sebesar 65,4 dengan taraf ketuntasan sebesar 35%. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan yaitu 75,7 untuk rata-rata hasil
0 20 40 60 80 100
Siklus I Siklus II
Motivasi Belajar Siswa
%
0 20 40 60 80 100
Siklus I Siklus II
Hasil Belajar Siswa
141 belajar siswa, ketuntasan klasikal meningkat sebesar 75%.
Pada siklus I hasil yang diperoeh kurang maksimal, hal ini disebabkan kurang maksimalnya pembelajaran dan manajemen waktu dalam penyampaian materi kerja oleh siswa dan kurangnya kemampuan dalam mengambil ide serta pandangan baru terhadap permasalahan yang didiskusikan.
Hasil siklus II untuk motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa mengalmi peningkatan. Peningkatan kondisi motivasional dan hasil belajar tersebut karena adanya kejelasan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru, kerja kelompok dan diskusi kelas yang baik, ketertarikan pada topik diskusi, maupun kesantaian siswa selama mengikuti pembelajaran.
Selain itu juga guru memberikan bimbingan- bimbingan kepada siswa dan mengarahkan siswa ketika melakukan eksperimen, sehingga siswa semakin jelas terhadap materi yang dibahas.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa keberhasilan dalam pembelajaran dengan menerapkan model direct instruction bukan hanya berasal dari guru, melainkan juga didukung dengan keaktifan siswa selama pelaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga pemahaman konsep fisika lebih mudah dipahami oleh siswa. Meningkatnya motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada setiap siklus juga disebabkan oleh meningkatnya aktifitas siswa pada setiap siklusnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya aktifitas belajar siswa selalu diikuti dengan peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa.
Peningkatan aktivitas belajar siswa terjadi karena siswa dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan permasalahan yang bertujuan untuk membangkitkan rasa keingintahuan siswa. Dengan demikian siswa menjadi termotivasi untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan kemudian dibuktikan melalui kegiatan eksperimen. Hal tersebut menjadikan siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar di kelas dan ketika siswa merasa ada hal yang belum mereka pahami mereka akan meminta bantuan kepada guru, sehingga pembelajaran berpusat pada siswa.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang penerapan model pembelajaran direct intruction (DI) dapat disimpulkan bahwa; a). dapat meningkatkan motivasi belajar siswa; dan b) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Saran
Penerapan pembelajaran dengan model direct intruction (DI) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran pada kondisi yang sama dengan peneliti. Diharapkan pemilihan materi yang tepat dalam penerapan pembelajaran, direct intruction (DI) pengelolaan
pembelajaran yang baik dan merancang rencana pembelajaran agar didapatkan hasil yang maksimal.
DAFTARRUJUKAN
A.M., Sardiman. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persda
Kardi, S. dan Moh. Nur. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: Unesa-Universitas Press
Rosdiani,Dini. 2012. Model Pembelajaran langsung dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
Bandung:Alfabeta
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Subhan, M. 2005. Pengembangan Subject Specific
Pedagogy (SSP) IPA untuk Mengembangkan Karakter Siswa SD Kelas 5. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Usman, Moh. Uzer. 2000. Menjadi Guru Professional. Bandung: Remaja Rosdakarya