siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW). Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus.
Data hasil belajar siswa diperoleh dari skor jawaban post-test mengenai materi yang telah dipelajari dalam siklus I dan siklus II. Deskripsi rerata skor postes hasil belajar skor postes hasil penelitian dijabarkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Skor Posttes Hasil Belajar Siswa
Keterangan Hasil Belajar Siswa Siklus I Siklus II Rata-rata hasil belajar siswa 68,5 80
Ketuntasan klasikal 45% 85%
Untuk memperjelas deskripsi rerata skor postes hasil belajar siswa dengan menggunakan model menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW), ditunjukkan Gambar 1.
Gambar 1. Skor Postes Hasil Belajar Siswa Berdasarkan paparan subbab hasil penelitian, penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW). Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari dua siklus dengan materi sistem koordinasi pada manusia.
Berdasarkan hasil analisis data skor post test pada setiap siklus diketahui peningkatan hasil belajar. Pada siklus I rata-rata hasil belajar sebesar 68,5 dengan taraf ketuntasan sebesar 45%.
Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan yaitu 80 untuk rata-rata hasil belajar siswa, ketuntasan klasikal meningkat sebesar 80%.
Tahap pertama yaitu tahap think (berpikir).
Sebelum tahap ini dimulai, guru menjelaskan sedikit materi tentang sistem koordinasi sebagai pengantar.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan awal kepada siswa mengenai materi koordinasi sebelum penerapan model pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini siswa diberi Lembar Kerja Siswa (LKS), yang berisi secara individu dan diminta untuk membaca. Dari aktivitas tersebut, siswa tidak hanya mendapat pengetahuan awal yang
diperoleh dari guru sebelumnya tetapi juga siswa dapat membangun pemahamannya sendiri mengenai materi terkait dengan masalah pada LKS. Sehingga siswa akan lebih paham tentang materi yang dipelajari. Pada tahap ini siswa melatih daya pikirnya untuk mencari jawaban dari pertanyaan pada LKS secara mandiri.
Kemudian siswa diminta untuk membuat catatan kecil yang berisi ide-ide/poin-poin terkait dengan pertanyaan pada LKS. Membuat catatan akan mempertinggi pengetahuan siswa, bahkan meningkatkan keterampilan berpikir dan menulis.
Salah satu manfaat dari proses ini adalah membuat catatan akan menjadi bagian integral dalam pembelajaran. Dengan adanya catatan ini, siswa akan dimudahkan dalam mempelajari materi.
Tahap yang kedua yaitu tahap talk (berdiskusi).
Pada tahap ini siswa dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai ide-ide/poin-poin yang sudah dicatat pada tahap sebelumnya dalam kegiatan diskusi kelompok. Tahap ini bermanfaat bagi siswa dalam mengeksplorasi pemikirannya atau ide- idenya. Selain itu siswa juga akan lebih terampil dalam berbicara baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar pada saat diskusi kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Huinker dan Laughin (dalam Yamin dan Ansari, 2008) yang menyatakan bahwa berdiskusi dapat meningkatkan eksplorasi kata dan menguji ide. Proses komunikasi dalam diskusi kelompok ini dimanfaatkan sebagai alat sebelum menulis Di samping itu, berkomunikasi dalam suatu diskusi dapat membantu kolaborasi dan meningkatkan aktivitas belajar dalam kelas.
Tahap ketiga yaitu tahap write (menulis). Pada tahap ini siswa memaparkan hasil yang diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya secara individu ke dalam jawaban LKS dan rangkuman materi.
Aktivitas menulis disini berarti mengaktualisasikan ide yang diperoleh pada tahap think dan talk.
Aktivitas menulis dapat membantu siswa dalam merealisasikan pemahaman yang telah dipelajari.
Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Peningkatan tersebut mencapai 40%.
Sehingga dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar meningkat secara signifikan setelah model pembelajaran TTW diterapkan.
Hal ini semakin diperkuat dengan penelitian terdahulu yakni pada jurnal penelitian yang dilakukan oleh Jafaruddin (2005) menyatakan bahwa model pembelajaran TTW dapat membangun pemahaman siswa. Serta penelitian yang dilakukan oleh Fahrudin (2011) bahwa model pembelajaran
0 20 40 60 80 100
Siklus I Siklus II
Hasil Belajar Siswa
149 TTW mampu membantu pemahaman siswa dalam memahami materi.
Selama penelitian berlangsung, ditemukan beberapa keterbatasan, diantaranya yaitu keterbatasan waktu. Hal ini dirasakan saat dilakukannya diskusi kelompok yang menghabiskan banyak waktu bagi siswa untuk menentukan pertanyaan yang mengarah kepada indicator kemampuan komunikasi matematis, karena masing- masing siswa diwajibkan membaca, mendiskusikan, dan menuliskan hasil diskusi penyelesaian soal tiap- tiap pertemuan. Karena hal tersebut, maka waktu yang didapatkan untuk presentasi kelompok kurang optimal walaupun setiap tahapan model TTW pada LKS sudah ditetapkan waktunya. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran yang berlangsung tidak sesuai dengan rancangan proses pembelajaran
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Saran
Penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran pada kondisi yang sama dengan peneliti. Diharapkan pemilihan materi yang tepat dalam penerapkan pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe think-talk-write (TTW) pengelolaan pembelajaran yang baik dan merancang rencana pembelajaran agar didapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR RUJUKAN
Fahrudin, F.A. 2011. Penggunaan Think Talk Write dengan Menyertakan Hand Out untuk Membantu Pemahaman Siswa pada Materi Persamaan Garis Lurus di Kelas VIII C MTsN Kepanjen. Tesis tidak diterbitkan.
Malang: PPS Universitas Negeri Malang Jafaruddin. 2005. Membangun Pemahaman Siswa
melalui Model Pembelajaran Think Talk Write pada Materi Fungsi Invers Di Kelas II SMAN Baktiya. Tesis tidak diterbitkan.
Malang: PPS Universitas.
Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Yamin, M. & Ansari, B.I. 2008. Taktik
Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: Gaung Persada Pers