• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN KEDIRI

Dalam dokumen Untitled - IPA FMIPA UM (Halaman 88-92)

87

guru meminta siswa berpasangan dengan teman sebangku untuk mendiskusikan jawaban masing- masing, dan yang terakhir diskusi secara klasikal dengan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Kelebihan dari model pembelajaran ini yaitu siswa diberikan kesempatan bekerja sama, siswa dilatih untuk berpikir menyelesaikan masalah terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam materi, menghidupkan suasana kelas yang aktif, menyenangkan, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Penelitian terdahulu yang melatarbelakangi pemilihan model Think-Pair-Share ini adalah pembelajaran ini meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII A MTs Al Huda 2 Jenawi Karanganyar tahun pelajaran 2012/2013 meningkat dari siklus I, II, dan III yaitu 7,64<7,71<8,14 (Rusmaryanti, 2013) , hasil belajar siswa meningkat pada materi Gejala Atmosfer dan Hidrosfer Serta Dampaknya Bagi Kehidupan yaitu rata-rata 67,42 menjadi 71,84 (Permitasari dkk, 2012), dan meningkatnya keaktifan belajar dan pemahaman konsep siswa kelas VII C SMPN Ngemplak (Fitriani, 2014). Dari implementasi penerapan model pembelajaran TPS inilah yang nantinya menjadi tujuan pembelajaran yakni meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Aktif berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif. keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran.

Dalam hal ini keaktifan siswa terlihat dari merespon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, bertanya apabila ada penjelasan guru yang kurang jelas dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru. Dari keaktifan siswa tersebut maka diharapkan akan berdampak juga pada hasil belajar siswa. Dalam prakteknya, hasil belajar diukur dengan tes evaluasi dimana tes tersebut siswa diberikan pertanyaan permasalahan yang menuntut siswa untuk berpikir kritis dengan tujuan membiasakan siswa untuk mengembangkan pola pikir mereka sehingga hasil belajar siswa meningkat.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan model Kemmis and Taggart (Arikunto, 2006). Tahapan- tahapan dari model ini adalah perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-A MTs Tribakti Kunjang pada tahun ajaran 2015/2016 sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 8 siswa putra dan 15 siswa putri. Penelitian ini dilakukan di VII-A MTs Tribakti Kunjang pada semester genap bulan Februari sampai April 2016.

Instrumen yang digunakan adalah perangkat pembelajaran, lembar observasi, rubrik penilaian, soal evaluasi, dokumentasi, dan catatan lapangan.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode observasi, angket, tes dan dokumentasi.

Analisis data keaktifan siswa dilakukan dengan menghitung data kuantitatif yang didapatkan pada rubrik penilaian keaktifan siswa. Setelah didapatkan data kuantitatif, maka data diolah untuk dianalisis secara deskriptif/kualitatif.

Tabel 1. Kriteria keaktifan

No Kriteria Aspek Nilai

1 Bertanya

Jika siswa tidak pernah bertanya 1 Jika siswa jarang bertanya (1 kali) 2 Jika siswa sering bertanya (2 kali) 3 Jika siswa selalu bertanya (3 kali) 4 Jika siswa selalu bertanya (≥3 kali) 5

2 Men-

jawab

Jika siswa tidak pernah menjawab 1 Jika siswa jarang menjawab (1

kali) 2

Jika siswa sering menjawab (2

kali) 3

Jika siswa selalu menjawab (3 kali) 4 Jika siswa selalu menjawab (≥3

kali) 5

3 Kerja- sama

Jika siswa tidak pernah bekerja

sama 1

Jika siswa jarang bekerja sama (1

kali) 2

Jika siswa sering bekerja sama

(2kali) 3

Jika siswa selalu bekerja sama

(3kali) 4

Jika siswa selalu bekerja sama

((≥3kali) 5

4 Mengemu kakan Ide

Jika siswa tidak pernah

mengemukakan ide 1

Jika siswa jarang mengemukakan

ide (1 kali) 2

Jika siswa sering mengemukakan

ide (2 kali) 3

Jika siswa selalu mengemukakan

ide (3kali) 4

Jika siswa selalu mengemukakan

ide ((≥3kali) 5

Tabel 2. kategori keaktifan :

Interval Kategori

X≥16,5 Sangat Tinggi

13,5≥X≤16,5 Tinggi

10,5≥X<13,5 Sedang

8,5≥X≤10,5 Rendah

X<8,5 Sangat Rendah

Sumber : data primer yang diolah menurut Azwar (2013 dalam Fitriyani 2014).

Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui skor hasil evaluasi belajar siswa adalah menggunakan tes akhir siklus. Soal pada tes ini terdapat 5 butir soal essay yang masing-masing mendapat nilai sesuai rubrik penilaian Asesment Berpikir Kritis menurut Finken dan Ennis yang sudah dimodifikasi (Zubaidah dkk, 2015).

89

0 5 10 15 20 25

I II

Jumlah Siswa

Siklus

tuntas belum tuntas

Tabel 3. Rubrik penilaian hasil belajar

Skor Deskriptor

5

Semua konsep benar, jelas, dan spesifik

Semua uraian jawaban benar, jelas, dan spesifik, didukung oleh alasan yang kuat, benar, argumen jelas

Alur berfikir baik, semua konsep saling berkaitan dan terpadu

Tata bahasa baik dan benar

Semua aspek nampak, bukti baik, dan seimbang

4

Sebagian besar konsep benar, jelas namun kurang spesifik

Sebagian besar uraian jawaban benar, jelas namun kurang spesifik

Alur berfikir baik , sebagian besar konsep saling berkaitan dan terpadu

Tata bahasa baik dan benar, ada kesalahan kecil

Semua aspek nampak, namun belum seimbang

3

Sebagian konsep benar dan jelas

Sebagian kecil uraian jawaban benar dan jelas, namun alasan dan argumen tidak jelas

Alur berfikir cukup baik, sebagian kecil saling berkaitan

Tata bahasa cukup baik, ada kesalahan dalam ejaan

Sebagian besar aspek yang nampak benar

2

Konsep kurang fokus atau berlebihan atau meragukan

Uraian jawaban tidak mendukung

Alur berfikir kurang baik, konsep tidak saling berkaitan

Tata bahasa baik, kalimat tidak lengkap

Sebagian kecil aspek yang nampak benar

1

Semua konsep tidak benar atau tidak mencukupi

Alasan tidak benar

Alur berfikir tidak baik

Tata bahasa tidak baik

Secara keseluruhan aspek tidak mencukupi 0 Tidak ada jawaban atau jawaban salah

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keaktifan Siswa

Aktifitas siswa pada penelitian ini mengacu pada aspek keaktifan siswa dalam pembelajaran.

Berikut adalah hasil dari keaktifan siswa:

Tabel 4. Hasil keaktifan siswa

Kategori

Pra siklus Siklus I Siklus II Jumlah

siswa/

Presentase

Jumlah siswa/

Presentase

Jumlah siswa/

Presentase Sangat

Tinggi - 0 (0%) 0 (0%)

Tinggi - 1 (4,3%) 5 (21,7%)

Sedang - 6 (26%) 11(47,8%)

Rendah - 15 (65,2%) 7 (30,4%)

Sangat Rendah

23

(100%) 1 (4,3%) 0 (0%)

Dalam pengamatan yang dilakukan pada pra tindakan, keseluruhan siswa menunjukkan keaktifan yang sangat rendah. Sangat rendah nya keaktifan siswa membuat siswa jadi pasif dan tidak terlalu memperhatikan penjelasan guru. Tetapi setelah memasuki siklus, beberapa siswa sudah mulai menunjukkan keaktifannya. Aktifitas siswa pada penelitian ini mengacu pada aspek keaktifan siswa dalam pembelajaran. Hasil penelitian yang dilakukan pada siklus 1, dari 23 siswa 15

diantaranya berada dikategori rendah dan ada 1 siswa berada dikategori sangat rendah sedangkan pada siklus II siswa tidak lagi mendominasi kategori rendah, siswa dominan berada di kategori sedang 11 siswa dan tinggi 5 siswa. Meskipun siswa masih belum secara maksimal bisa aktif didalam kelas, dengan penerapan model pembelajaran ini, keaktifan siswa yang dahulunya sangat rendah sedikit demi sedikit bisa meningkat

B. Hasil Belajar

Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus 1 dan 2 yang diperoleh dari tes evaluasi akhir siklus hasil belajar siswa meningkat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian siswa tuntas dan ada sebagian lain yang belum tuntas. Dari pra penelitian siswa hanya menerima soal dengan tingkatan C1 dan C2, tetapi setelah memasuki siklus soal evaluasi menjadi tingkatan C3 dan C4.

Berikut adalah rata-rata hasil belajar:

Gambar 1. Grafik rata-rata hasil belajar

Ketuntasan siswa dilihat dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang didapatkan dari perhitungan KKM KD pada sub bab materi plantae diperoleh hasil yaitu 68 dengan rata-rata nilai pada siklus I 45,74 dan siklus II 78. Sedangkan pra penelitian KKM mengacu pada sekolah yakni 70 dengan rata-rata nilai 64,61 pada sub bab ciri-ciri makhluk hidup.

Sesuai perhitungan KKM KD, KKM yang digunakan adalah 68. KKM Individual yaitu apabila siswa dibawah KKM maka siswa tersebut dinyatakan belum tuntas. KKM Klasikal yaitu jumlah siswa mendapat nilai sama dengan KKM atau diatas KKM. Berikut adalah grafik jumlah siswa yang tuntas dan yang belum tuntas:

Gambar 2. Grafik ketuntasan Klasikal siswa

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

pra siklus 1 siklus 2

Rata-rata Nilai

Tahapan penelitian

C. Hasil Angket

Dari sembilan pertanyaan yang tersaji dalam angket, rata-rata siswa menjawab “Ya”

mendapatkan presentase 87% dan rata-rata yang menjawab “Tidak” berjumlah 13%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak nya presentase siswa yang menjawab “Ya”

menunjukkan siswa merasa pembelajaran menggunakan model pembelajaran Think-Pair- Share menarik, menyenangkan, memotivasi mereka untuk belajar aktif dan bekerja sama, mudah dimengerti, media yang digunakan menarik sehingga membantu memahami materi dan soal-soal evaluasi dengan tingkatan beripikir kritis sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga dengan penerapan model belajar kooperatif siswa mampu menemukan konsep-konsep dasar suatu materi dengan mandiri dan berdampak pada hasil evaluasi.

Siswa merasa senang dengan adanya kegiatan kelompok, selain aktif dalam kegiatan belajar siswa juga dilatih untuk selalu menemukan hal baru dalam materi yang akan diajarkan. Karena pembelajaran menyenangkan siswa akan terbiasa menyambut pelajaran dengan senang hati, mereka merasa tidak sendirian dalam mempelajari materi pelajaran karena adanya diskusi, dengan begitu mereka akan berusaha memahami dan saling bertukar ide sehingga hasil belajar yang terintegrasi berpikir kritis meningkat sekaligus dengan keaktifan siswa dalam kelas.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas mengenai keaktifan siswa dan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPA sub bab materi Plantae dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada siswa kelas VII-A MTs Tribakti Kunjang, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair- Share (TPS) dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan aktifitas siswa pada pra penelitian hingga siklus II. Pra penelitian menunjukkan keaktifan siswa yang sangat rendah bahkan pasif, sedangkan pada siklus 1, dari 23 siswa 15 diantaranya berada dikategori rendah (65,2%) dan pada siklus II siswa tidak lagi mendominasi kategori rendah, siswa dominan berada di kategori sedang 11 siswa (47,8%) dan tinggi 5 siswa (21,7%)

2. Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pada ketuntas- an minimal pada pra penelitian guru mengguna- kan KKM sesuai sekolah yakni 70 rata-rata 64,61 dengan soal tingkat C1 dan C2. Setelah dilakukan penerapan model Think-Pair-Share dengan tingkatan soal C3 dan C4 rata-rata menjadi 45,74 dan pada siklus II rata-rata 78 Saran

Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan Lesson Study untuk mencapai hasil yang maksimal pada pengamatan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta Fitriani, A E. 2014. Peningkatan Keaktifan Belajar

Dan Pemahaman Konsep Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair- Share (TPS) (PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VII Semester Gasal SMP N 2 Ngemplak Tahun 2013/ 2014). Surakarta:

Universitas Muhammadiyah Surakarta Fitriyani,W. dan Sugiman. 2014. Pengembangan

Perangkat Pembelajaran Teorema Pythagoras Dengan Pendekatan Ideal Berbantuan Geogebra. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta : Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 1(2), November 2014

Permitasari, F., Budi H., dan Buranda J P. 2012.

Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share Berbasis Keterampilan Berfikir Kritis Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII-F Smpn 18 Malang. Malang:

Universitas Negeri Malang

Rusmaryanti, D. 2013. Meningkatkan Hasil Belajar Biologi dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) pada Siswa Kelas VIIIA Mts Al Huda 2 Jenawi Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.

Karanganyar: Jurnal Pendidikan, 22(3), Nopember 2013

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Prenada Media Group

Zubaidah, S., Corebima, A D., dan Mistianah. 2015.

Asesmen Berfikir Kritis Terintegrasi Tes Essay. Symposium on Biology Education ISBN:978-602-72412-0-6

91

Dalam dokumen Untitled - IPA FMIPA UM (Halaman 88-92)

Garis besar

Dokumen terkait