Top PDF Gambaran Fraksi Protein Darah Pada Preeklampsia dan Hamil Normotensif

Gambaran Fraksi Protein Darah Pada Preeklampsia dan Hamil Normotensif

Gambaran Fraksi Protein Darah Pada Preeklampsia dan Hamil Normotensif

Beber apa fak t or- fak t or ( v ar iabel) y ang ber per an dalam epidem iologi PE, Per lu dik aj i lebih m endalam k er ena belum j elas per ananny a. Penapisan Dini pada w an it a h am il den gan r esik o m en dapat PE seper t i pr im igr av ida, Riw ay at k eluar ga y ang m ender it a PE dan ek lam psia, k eham ilan ganda, Diabet es, peny ak it v ask uler at au ginj al k r onik , m ola hidat idosa, dan Hidr ops fet alis pent ing dilak sanak an. Sebaik ny a dilak uk an penilaian Pem er ik sa pr ot ein, k r eat in in klir ens, elek t r olit , asam ur at , k alsium , Tr om bosit dan k adar gula darah.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Arteri Spiralis Alas Plasenta pada Preeklampsia/Eklampsia dan Kehamilan Normotensif

Gambaran Histopatologi Arteri Spiralis Alas Plasenta pada Preeklampsia/Eklampsia dan Kehamilan Normotensif

Dari Tabel 2 sampai Tabel 7 didapatkan 5 variabel yang berbeda bermakna (p<0,05) pada kelompok PE/E dan kelompok hamil normotensif, yaitu trombosis, proliferasi subintima, deposit fibrin, hiperplasia tunika media dan aterosis akut. Kelima variabel ini selanjutnya digunakan dalam analisis Regresi Logistik untuk menentukan variabel-variabel yang terpilih secara bersama-sama dan langsung mempengaruhi kejadiaan preeklampsia.

7 Baca lebih lajut

Gambaran Hematologi Rutin, Tes Fungsi hati, dan Tes Fungsi Ginjal Pasien Preeklampsia, Eklampsia, dan Hipertensi Gestasional di RS. Santo Borromeus Bandung Periode Bulan Januari 2013-Desember 2014.

Gambaran Hematologi Rutin, Tes Fungsi hati, dan Tes Fungsi Ginjal Pasien Preeklampsia, Eklampsia, dan Hipertensi Gestasional di RS. Santo Borromeus Bandung Periode Bulan Januari 2013-Desember 2014.

90 mmHg yang timbul setelah minggu ke-20 kehamilan dan diketahui bahwa tekanan darah sebelum wanita tersebut hamil atau sebelum minggu ke-20 kehamilan adalah normal tanpa atau dengan proteinuria dan akan kembali normal dalam waktu 6 minggu setelah masa nifas. Hipertensi Gestasional dapat berkembang menjadi preeklampsia dan eklampsia. (Onisai, 2009; Sibai, 2003; Woo Yang, 2015).

23 Baca lebih lajut

GAMBARAN KADAR PROTEIN URIN PADA IBU HAMIL TRIMESTER II MENGGUNAKAN METODE ASAM ASETAT 6% - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

GAMBARAN KADAR PROTEIN URIN PADA IBU HAMIL TRIMESTER II MENGGUNAKAN METODE ASAM ASETAT 6% - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

Pemeriksaan protein urin adalah pemeriksaan yang penting untuk dilakukan selama kehamilan sebagai penentu tanda pentingnya preeklampsia. Preeklampsia ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan oedema (Winkjosastro, 2006). Preeklamsia adalah suatu kelainan malfungsi endotel pembuluh darah yang menyebar secara luas sehingga dapat terjadi vasospasme (penyempitan pembuluh darah) setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu yang mengakibatkan terjadinya pengaktifan endotel yang menimbulkan terjadinya hipertensi, oedema dan proteinuria dan penurunan perfusi organ(Brooks M.D., 2010).
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan s (1)

asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan s (1)

contohnya seperti wortel atau sayuran yang berwarna merah, karbohidrat sebagai energy seperti biji-bijian contohnya: nasi, roti. Mengandung protein agar luka operasi SC ibu cepat sembuh, contohnya: tahu, tempe, daging, ikan, putih telor. Mengandung zat besi dan asam folat untuk menghindari terjadinya anemia yang terdapat dalam sayuran hijau-hijauan, seperti: bayam, katuk, dan minum air mineral yang banyak minimal 3liter/hari.

40 Baca lebih lajut

Gambaran Protein Urin pada Ibu Hamil Pre-eklamsia dan Eklamsia di RSUP. H. Adam Malik Medan pada Desember 2009 – Oktober 2010.

Gambaran Protein Urin pada Ibu Hamil Pre-eklamsia dan Eklamsia di RSUP. H. Adam Malik Medan pada Desember 2009 – Oktober 2010.

Menurut Williams (2005) terjadi perubahan pada ginjal selama kehamilan. Ukuran ginjal sedikit bertambah besar selama kehamilan. Bailey dan Rollenston (1971), misalnya menemukan bahwa ginjal 1,5 cm lebih panjang selama masa nifas awal dibanding ketika diukur bulan kemudian. Laju filtrasi glomerulus (GFR) dan aliran plasma ginjal (RPF) meningkat pada awal kehamilan, GFR sebanyak 50 % pada awal trimester kedua, dan RPF tidak cukup banyak (Chesley,1963; Dunlop,1981). Kalakrein, protease jaringan yang disintesis dalam sel tubulus distal ginjal meningkat pada beberapa kondisi yang berhubungan dengan meningkatnya perfusi glomerular pada individu yang tidak hamil. Selama kehamilan konsentrasi kreatinin dan ureum plasma normalnya menurun akibat meningkatnya filtrasi glomerulus. Sewaktu-waktu, konsentrasi urea dapat menjadi sedemikian rendah sehingga mengesankan cendrung mengakumulasi air dalam bentuk edema dependen, dapat terjadi pada malam hari, saat berbaring, mereka memobilisasi cairan ini dan mengekskresikan lewat ginjal.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG - UDiNus Repository

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG - UDiNus Repository

Hubungan Antara Jumlah Asupan Protein dengan Kejadian KEK pada Ibu Hamil .... Hubungan Antara Jenis Asupan Protein dengan Kejadian KEK pada Ibu Hamil ...[r]

7 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka - PENGGUNAAN PLASMA EDTA 10% SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI PLASMA SITRAT 3,8% PADA TES KOAGULASE BAKTERI Staphylococcus aureus - Repository Poltekkesjogja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka - PENGGUNAAN PLASMA EDTA 10% SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI PLASMA SITRAT 3,8% PADA TES KOAGULASE BAKTERI Staphylococcus aureus - Repository Poltekkesjogja

Natrium sitrat digunakan dalam bentuk larutan pada konsentrasi 3,8%. Cara kerjanya dengan mengendapkan kalsium. Antikoagulan banyak digunakan untuk pengujian sistem pembekuan darah atau koagulasi karena paling baik dalam memelihara faktor-faktor pembekuan darah dan mengembalikan kalsium kedalam spesimen selama proses pemeriksaan serta dapat dengan mudah mengembalikan efek pengikatan (Riswanto, 2013).

21 Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Pencernaan Tikus pada Pemberian Fraksi Asam Amino Non-Protein dan Fraksi Polifenol Lamtoro Merah (Acacia villosa)

Gambaran Histopatologi Pencernaan Tikus pada Pemberian Fraksi Asam Amino Non-Protein dan Fraksi Polifenol Lamtoro Merah (Acacia villosa)

Kongesti pada pemberian AANP dan polifenol diduga disebabkan oleh kegagalan ventrikel jantung dalam memompa darah. Kegagalan jantung disebabkan oleh efek toksik A. villosa yang menyebabkan dege nerasi hingga nekrosa otot jantung (Himmah 2007). Adanya gangguan aliran darah dari jantung menyebabkan pembuluh darah melebar dengan aliran darah yang melambat. Hal ini mengakibatkan darah membendung di jaringan sehingga berkumpul membentuk pembendungan di pembuluh darah. Apabila kongesti terjadi secara kronik menyebabkan peningkatan jaringan fibrosa pada dinding vena (Smith et al. 1972). Kongesti yang berlebihan dapat menimbulkan perdarahan sehingga cairan akan bercampur dengan sel darah merah (Kusumawidjaja 1996).
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Hubungan Soluble Fms Like Tyrosine Kinase-1 dan Placental Growth Factor dengan Preeklampsia

Hubungan Soluble Fms Like Tyrosine Kinase-1 dan Placental Growth Factor dengan Preeklampsia

Pada pasien preeklampsia, peningkatan sFLT-1 berhubungan dengan rendahnya kadar PLGF dalam serum. sFLT-1 sebagai antagonis PLGF akan mengikat PLGF bebas sehingga aktivitasnya sebagai faktor proangiogenik terganggu. ini menunjukkan bahwa PLGF dan sFLT-1 mungkin memiliki korelasi dengan patogenesis terjadinya preeklampsia. (Levine et al ., 2004).

7 Baca lebih lajut

Gambaran Fraksi Ejeksi secara Ekokardiografi pada Anak Kurang Energi Protein di RSUP Hasan Sadikin, Bandung

Gambaran Fraksi Ejeksi secara Ekokardiografi pada Anak Kurang Energi Protein di RSUP Hasan Sadikin, Bandung

Sejak lama diketahui bahwa Kurang Energi Protein (KEP) berat dapat menyebabkan kelainan kardiovaskular yang dapat menimbulkan kematian. Hal ini disebabkan oleh atrofi jantung selama starvasi, tetapi masih tetap diperdebatkan mengenai kapan jantung pada anak KEP mulai menunjukkan gangguan fungsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran fraksi ejeksi (FE) ventrikel kiri anak dengan berbagai derajat KEP yang berkunjung ke Instalasi Rawat Jalan serta yang dirawat di Bagian Anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross sectional dilakukan pada bulan Desember 2000 sampai Februari 2001 dengan memeriksa FE 30 anak KEP I sampai III berdasarkan klasifikasi Waterlow, menggunakan alat ekokardiografi M-Mode. Pada penelitian ini didapatkan bahwa nilai FE sudah mulai menurun pada 73,3% anak KEP I, 90,9% anak KEP II dan menurun pada seluruh anak KEP III. Kesimpulan: fraksi ejeksi sudah mulai terganggu pada sebagian besar anak KEP I.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

6. DAFTAR PUSTAKA - 09.70.0009 Yoke Siswanto DAFTAR PUSTAKA

6. DAFTAR PUSTAKA - 09.70.0009 Yoke Siswanto DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN Lampiran 1.Fraksi Protein Albumin, Globulin dan Glutelin Lampiran 2.Hasil Perhitungan Formulasi Sponge cake yang Disubstitusi Biomassa Kering Spirulina dan Fraksi Protein [r]

21 Baca lebih lajut

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL TRIMESTER III (1)

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL TRIMESTER III (1)

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhn yang sudah diberikan. Hal dievaluasi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosa dan masalah yang teridentifikasi (Salamh, 2006). Evaluasi pada ibu hamil dengan hipertensi : keadaan umum, kesadaran, dan tekanan darah ibu normal, ibu sudah mengetahbui tentang keadaan dan kehamilannya, ibu bersedia untuk istirahat cukup, ibu bersedia diet makanan rendah garam, cukup vitamin, tinggi protein, rendah lemak.

79 Baca lebih lajut

Bio7modul 7

Bio7modul 7

Antigen lain yang dimiliki sel darah merah manusia adalah M dan N. Berdasarkan kepemilikian antigen ini maka dapat dikelompokkan tiga tipe darah, yaitu : 1) Seseorang yang hanya memiliki antigen M; 2). Seseorang yang hanya memiliki antigen N; dan 3). Seseorang yang memiliki kedua antigen M dan N. Penggumpalan sel darah tidak terjadi ketika darah tipe tersebut dicampurkan dalam transfusi. Frekuensi tipe darah bervariasi pada populasi yang berbeda, tipe M banyak dimiliki oleh populasi Indian Amerika, dan sedikit pada populasi Aborigin Australia sedangkan untuk tipe N berlaku sebaliknya. Tipe darah M-N menyediakan bukti tambahan terhadap golongan darah, A, B, AB dan O, untuk menentukan kasus keraguan akan orang tua asal. Misalnya pria dengan darah tipe M, tidak dapat menjadi ayah dari anak dengan darah tipe N. Tipe darah M-N tidak menimbulkan aglutinasi dalam transfusi.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Sitotoksisitas fraksi protein daun mimba [Azadirachta indica A. Juss] FP10, FP20, FP30, dan FP40 terhadap kultur sel myeloma.

Sitotoksisitas fraksi protein daun mimba [Azadirachta indica A. Juss] FP10, FP20, FP30, dan FP40 terhadap kultur sel myeloma.

C. Pengukuran Konsentrasi Fraksi Protein Secara Spektrofotometer UV Sampel fraksi-fraksi protein daun mimba yang diperoleh kemudian diukur kadarnya menggunakan spektrofotometer UV dengan kuvet kuarsaglass. Pengukuran dilakukan pada dua panjang gelombang yaitu 280 nm dan 260 nm. Pemilihan metode pengukuran kadar fraksi protein menggunakan spektrofotometer UV didasarkan pada adanya residu asam amino dari protein yaitu tirosin, triptofan, dan fenilalanin yang memberikan absorbansi maksimal pada panjang gelombang 280 nm. Panjang gelombang 260nm digunakan sebagai faktor koreksi, karena adanya senyawa- senyawa lain seperti asam nukleat serta adanya senyawa-senyawa yang mengandung cincin purin dan pirimidin yang memiliki kemampuan untuk mengabsorbsi secara maksimal pada panjang gelombang 260nm sehingga dapat mempengaruhi pembacaan kadar protein yang didapat.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Hubungan Umur, Paritas, Pekerjaan, Dan Pendidikan Dengan Kejadian Preeklampsia Di RSUP H. Adam Malik Medan

Hubungan Umur, Paritas, Pekerjaan, Dan Pendidikan Dengan Kejadian Preeklampsia Di RSUP H. Adam Malik Medan

Paritas merupakan jumlah kelahiran hidup atau mati, namun bukan aborsi. Paritas ibu hamil merupakan salah satu faktor risiko yang tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian preeklampsia. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi p = 0,127 (>0,05) dan OR 1,68. Ibu dengan paritas <2 memiliki risiko 1,68 kali mengalami preeklampsia dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki paritas ≥ 2 . Hal ini sesuai dengan penelitian Resmi, et al (2013) dengan nilai signifikansi p = 0,075 (p<0,05) dengan OR 1,628. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Langelo, et al (2013) yang menyatakan adanya hubungan antara paritas dengan kejadian preeklampsia dengan nilai signifikansi p = 0,00 (p<0,05). Menurut Langelo, et al (2013) hal tersebut dimungkinkan pada ibu dengan jumlah anak banyak yang memiliki faktor adanya kehamilan yang tidak diinginkan karena kurangnya kontrol program keluarga berencana. Kehamilan berisiko preeklampsia menurut The New England Journal of Medicine adalah kehamilan pertama dengan besar risiko 3,9% dan risiko menurun pada kehamilan berikutnya. Pada penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan kemungkinan karena kurangnya kontrol terhadap jarak kehamilan. Semakin jauh jarak kehamilan akan semakin besar risiko terhadap preeklampsia. Wanita yang memiliki jarak kehamilan lebih dari 10 tahun memiliki risiko preeklampsia sama dengan wanita nullipara (Skjaerven, 2002).
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PreeklampsiaEklampsia - Evaluasipelaksanaan Program Pelayanan Antenatal Care Terkait Dengan Deteksi Preeklamsia/Eklampsia Di Puskesmaslhoksukon Kabupaten Aceh Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PreeklampsiaEklampsia - Evaluasipelaksanaan Program Pelayanan Antenatal Care Terkait Dengan Deteksi Preeklamsia/Eklampsia Di Puskesmaslhoksukon Kabupaten Aceh Utara

Preeklampsia/eklampsia merupakan komplikasi kehamilan dan persalinan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, protein urine dan oedema, yang kadang-kadang disertai komplikasi sampai koma.Sindroma preeklampsia ringan seperti hipertensi, oedema, dan proteinuria sering tidak diperhatikan, sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia (Prawirohardjo, 2002).

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...