Top PDF keynesian model desain pembelajaran (1)

keynesian model desain pembelajaran (1)

keynesian model desain pembelajaran (1)

Multiplier model is a macroeconomics theory used to explain how output is determined in the short run. “ The multiplier ” comes from the finding that each dollar change in exogenous expenditures leads to more than a dollar change in GDP. Economists try to understand the mechanism by which changes in spending get translated into changes in output and employment. The simplest approach to understanding business cycles is known as the Keynesian multiplier model.

6 Baca lebih lajut

Desain dan Model Pembelajaran Di Perguru

Desain dan Model Pembelajaran Di Perguru

Sasaran standar kompetensi yang ingin dicapai dalam mata kuliah ini adalah supaya peserta Akta IV memiliki pengetahuan, sikap positif dan trampil menerapkan metodik pelatihan dalam menciptakan proses pembelajaran atau pelatihan yang sistematis, sistemik dan efektif. Proses perkuliahan yang digunakan untuk mengembangkan atau mencapai kompetensi tersebut adalah dengan brainstorming, diskusi, ekspositorik, inkuiri dan simulasi dengan menerapkan prinsip eksploratif, apresiatif, aplikatif partisipatif, produktif dan evaluatif. Deskripsi umum materi perkuliahan adalah : 1) metodik khusus dalam konsep dan proses sistem pelatihan atau pembelajaran; 2) variabel-variabel metodik pembelajaran; 3) identifikasi dan pengembangan materi pelatihan berdasarkan aspek-aspek (konsep, fakta, prinsip, nilai, prosedur, keterampilan kognitif dan psikomotor) materi pelatihan (dikelompokan pada kelompok Materi Umum dan berdasarkan kelompok fungsi teknis LANTAS, RESERSE, SAMAPTA , INTELKAM dan BINA MITRA); 4) Jenis-jenis metodik pembelajaran/ pelatihan; 5) pengembangan skenario pembelajaran berdasarkan pengembangan aspek materi pelajaran dan metodik khusus; 6) simulasi metodik khusus, seperti : ekspositorik, jurisprudensial, penggalangan, debat pendapat (Poin-counterpoint), model latihan (training model), pengamatan (observation), investigasi kelompok-individu (individual- group investigation), pemecahan masalah sosial (social problem solving), mencari informasi (information search), pemodelan (modeling), inkuiri sosial (social inquiry), dan simulasi; 7) kulminasi dan refleksi.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

MODEL MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

MODEL MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

dan penilaian sumatif. Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses penyesuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki. Model Hannafin dan Peck (dalam Supriatna & Mulyadi, 2009 : 14) menekankan proses penilaian dan pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut Hannafin dan Peck (dalam Supriatna & Mulyadi, 2009 : 14) menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media telah selesai dikembangkan. Dengan berpedoman pada sebuah desain pembelajaran yang telah tersusun, maka pembelajaran di kelas dapat dilaksanakan dengan lebih terarah dan terencana.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

DESAIN MODEL PEMBELAJARAN KEMP

DESAIN MODEL PEMBELAJARAN KEMP

Bila evaluasi formatif dilakukan dalam proses pengembangan sistem pembelajaran untuk perbaikan-perbaikan dari segi pengembangan, maka evaluasi sumatif dilakukan untuk menilai sistem penyampaian secara keseluruhan pada akhir kegiatan. Yang harus dinilai pada evaluasi sumatif bukan sekedar hasil belajar, tetapi juga tujuan pembelajaran dan prosedur Model tersebut di atas merupakan model yang paling lengkap yang melukiskan bagaimana suatu proses pembelajaran dirancang secara sistematis dari awal sampai akhir. Kegiatan seperti ini cocok untuk diterapkan pada suatu program pendidikan yang relatif baru. Di Indonesia prosedur tersebut mencakup mulai dari simposium dan pengembangan kurikulum yang dilakukan mulai dari tingkat sekolah. Kemudian guru diberikan kewenangan untuk mengembangkan standar kompetensi menjadi sejumlah kompetensi dasar yang dituangkan secara eksplisit dalam silabus dan RPP.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengembangan & Penyelenggaraan

Pengembangan & Penyelenggaraan

Strategi objek pembelajaran telah diadopsi terlebih dahulu oleh Autodesk, Inc dan Cisco System (Hodgins, 2002 dan Cisco, 2003). Berdasarkan model konten Autodesk, Cisco telah mengembangkan framework e-learning-nya beserta panduan authoring-nya, serta mendeskripsikan desain modular dari konten e-learning dalam format berhirarki. Suatu cara untuk memahami struktur konten berhirarki dari mata kuliah e-learning adalah dengan memperhatikan bagaimana sebuah buku teks diorganisasikan. Umumnya, sebuah buku teks terdiri atas beberapa bab, tiap bab terdiri atas beberapa seksi, dan tiap seksi berisi teks yang dilengkapi dengan gambar, foto atau diagram. Dengan cara yang sama, kita dapat merancang mata kuliah untuk sistem e-pembelajaran (selanjutnya kita sebut sebagai mata kuliah) dalam beberapa Pokokbahasan, tiap Pokokbahasan mempunyai beberapa Subpokokbahasan, dan kita dapat menyajikan tiap Subpokokbahasan dengan multimedia seperti teks, gambar, animasi, simulasi, audio, dan video. Struktur berhirarki ini diperlihatkan pada Tabel 1.
Baca lebih lanjut

159 Baca lebih lajut

Model  Desain Pembelajaran [Compatibility Mode]

Model Desain Pembelajaran [Compatibility Mode]

Pembelajaran dilakukan dengan cara langsung melihat atau menggunakan objek sesuai dengan materi pelajaran objek sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran. Jadi seorang siswa diharapkan langsung bersentuhan dengan objek pelajaran. Dalam hal ini

9 Baca lebih lajut

d pu 056390 chapter5

d pu 056390 chapter5

Sesuai dengan karakteristik model, desain perencanaan model pembelajaran yang dirumuskan dalam komponen ini memiliki dua aspek tujuan: Pertama, kemampuan melakukan penanaman nilai-nilai kepenjasan dalam aktivitas gerak, yaitu tujuan yang berhubungan dengan usaha guru menanamkan sikap sportivitas dalam proses pembelajaran Penjas yang dilakukan oleh siswa. Kriteria yang dapat digunakan untuk konsep gerak dasar ini dilihat dari beberapa sikap positif dalam sportivitas seperti sikap kejujuran, sikp disiplin, sikap kerjasma, sikap pantang menyerah dan sikap menghargai antara sesama teman bermain. Kedua, kemampuan melakukan aktivitas gerak secara fisik dalam arti bagaimana siswa mencapai tujuan yang berhubungan dengan hasil belajar. Tujuan ini diarahkan sebagai upaya agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Oleh karena tujuan ini berhubungan dengan penguasaan materi pembelajaran, maka tujuan hasil pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tujuan tingkah laku yang dapat diukur, dengan maksud agar mudah menentukan tingkat keberhasilannya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Model ASSURE

BAB I PENDAHULUAN - Model ASSURE

Disain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Disain pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

peranan model pembelajaran arias (Assurance, relavance, interest, assessment dan satisfaction untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa; penelitian tindakan kelas di MTs. Sa'aadatul mahabbah Pondok Cabe

peranan model pembelajaran arias (Assurance, relavance, interest, assessment dan satisfaction untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa; penelitian tindakan kelas di MTs. Sa'aadatul mahabbah Pondok Cabe

Pada tahap ini peneliti berusaha menanamkan rasa bangga dan puas dalam diri siswa agar siswa merasa lebih dihargai. Cara yang dilakukan peneliti untuk menerapkan tahap ini pada pembelajaran siklus I adalah memberikan reword berupa nilai tambah kepada siswa yang mendapat nilai paling tinggi. Peneliti juga memberikan pujian kepada siswa yang mau mengerjakan soal di papan tulis, seperti: “ Bagus. Kamu telah mengerjakannya dengan baik sekali…”. Serta menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda setuju atas jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan. Menurut hasil wawancara dengan siswa di akhir pembelajaran siklus I disimpulkan bahwa dengan adanya pemberian reword kepada siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu membuat siswa merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut.
Baca lebih lanjut

202 Baca lebih lajut

The 3 Equation New Keynesian Model     A

The 3 Equation New Keynesian Model A

One of the key tasks of a basic macroeconomic model is to help illuminate how the main variables are correlated following different kinds of shocks. We can appraise the usefulness of the IS-PC-MR model in this respect by looking at a positive ag- gregate supply shock and comparing the optimal response of the central bank and hence the output and in ation correlations with those associated with an aggre- gate demand shock. A supply shock results in a change in equilibrium output and therefore a shift in the long-run Phillips curve. It can arise from changes that af- fect wage- or price-setting behaviour such as a structural change in wage-setting arrangements, a change in taxation or in unemployment benefits or in the strength of product market competition, which alters the mark-up.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Money in a New Keynesian model estimated

Money in a New Keynesian model estimated

Our model has also indicated the most likely sources of volatility of the German economy in the 1970s, 1980s and 1990s, although the results relative to the latter period might by strongly affected by the poor quality of the available data. At least up to the 1990s, preference and policy shocks seem to have driven the volatility of inflation and the interest rate. Less easy is to single out the major determinant of the volatility of output and real money balances. Nevertheless, we have also pointed out that there are possibly other shocks that could account for the volatility of the German economy and which we have not explicitly considered in our model. We have argued that to some extent it would be difficult to disentangle these alternative shocks from the four shocks considered here, at least in the current version of our model.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Factor analysis in a New Keynesian model

Factor analysis in a New Keynesian model

the individual pieces must add up to a coherent whole that can be used to provide an economic explanation of the causes of real-monetary interactions over the estimation period. The dominant current explanation provided by Clarida et. al. and substantiated by Boivin and Giannoni (2003, BG) and Lubik and Schorfheide (2004, LS) is that in the period after 1980 the New- Keynesian model was driven by an active monetary policy that led to a determinate equilibrium. We summarize the concept of determinacy brie fl y below. Following this summary, we study the dynamic properties of New- Keynesian model when we replace theoretical coefficient values by our point estimates and we compare our results with those of CGG, BG and LS.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

An estimated New Keynesian model with un

An estimated New Keynesian model with un

the investment shock increases output and investment at the expense of a drop in consumption due to the consequent monetary policy tightening -see Figure 3 below-. The scal-net exports (exoge- nous spending) shock increases output but crowds out investment and consumption, whereas the interest rate shock has a negative impact on these three variables, as expected. Models only dis- agree substantially in the effects of the wage-push shocks. These different effects do not come as a surprise since the interpretation of this shock in the two models, as explained above, is different. Thus, the CMV model provides a slight one-time increase in output while in the SW model we nd a negative output growth response that still persists eight quarters after the shock. Price mark-up shocks are contractionary on output, consumption and investment, through the implied increase in interest rates in response to higher in ation.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

TEORI MAKROEKONOMI KEYNESIAN MODEL ANALI (1)

TEORI MAKROEKONOMI KEYNESIAN MODEL ANALI (1)

 Dalam perpotongan ini diartikan sebagai terciptanya keseimbangan antara permintaan dengan penawaran agregat dan penawaran dengan permintaan uang... Tentukan persamaan kurva IS dan tamp[r]

16 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASISSTED INDIVIDUALIZATION DAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI POKOK JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASISSTED INDIVIDUALIZATION DAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI POKOK JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT.

Penelitian ini dilakukan dalam 4 kali pertemuan ( 7 jam pelajaran). Berdasarkan hasil pengamatan dalam tiap pembelajaran menunjukan adanya aktivitas peserta didik yang diharapkan muncul. Keaktifan peserta didik dalam pertemuan 1 belum begitu terlihat. Hal ini dimungkinkan karena peserta didik terbiasa pasif dalam pembelajaran sebelumnya, dan belum adanya penyesuaian terhadap model pembelajaran yang baru diterapkan. Kegiatan kelompok belum terlaksana dengan baik, peserta didik masih canggung untuk berdiskusi, bahkan sebagian peserta didik mengandalkan teman yang pandai dalam kelompoknya. Dalam tahap pada model pembelajaran TAI, masih banyak peserta didik belum memahami masalah yang diberikan, sehingga guru bekerja ekstra untuk membantu peserta didik yang belum paham. Begitu juga dalam tahap presentasi pada model pembelajaran CIRC, hanya dua kelompok yang berani tampil didepan kelas. Presentasi masih sekedar membaca dan belum muncul diskusi antar kelompok, karena belum ada peserta didik yang bertanya.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASISSTED INDIVIDUALIZATION DAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI POKOK JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASISSTED INDIVIDUALIZATION DAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI POKOK JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT.

Pembelajaran pada kelas eksperimen 2 mendorong peserta didik aktif bekerjasama dengan peserta didik lain dan meminimalisir bantuan dari guru, sehingga mendorong peserta didik untuk mencari berbagai sumber belajar. Karena dengan berbagai sumber belajar yang dimiliki dapat meminimalisir ketergantungan peserta didik pada guru. Guru lebih konsentrasi pada suasana kelas, setiap kelompok mempunyai ketua kelompok yang bertanggung jawab penuh pada kelompok tersebut, setiap anggota kelompok mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan keahliannya. Penerapan model pembelajaran CIRC meliputi kegiatan presentasi dari guru, latihan tim, latihan independent, pra penilaian teman, latihan tambahan dan tes. Dengan menerapkan model pembelajaran CIRC peserta didik diberi kesempatan untuk menggali kemampuan yang dimiliki dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada. Kerjasama dalam kelompok merupakan kunci sukses berhasilnya penerapan model pembelajaran CIRC.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Competitive Moment Matching of a New Key

Competitive Moment Matching of a New Key

These problems can be dealt with by having recourse to a bootstrap procedure. In this respect it is only natural to make use of the bootstrap that served us to obtain the variances of the empirical moments for the weighting matrix W in eq. (2) above. From there we already have a large set of artificial moments on which, rather than on the single empirical moment vector m emp T , a model can be re-estimated just as many times as we want. In this way we get a frequency distribution for each of the parameters and can easily compute the confidence intervals from them. We only have to factor in that the original loss function (1) should be suitably demeaned, such that if the bootstrapped moments coincide with the empirical moments and the simulation is run with the random seed underlying the original MSM, the re-estimation would yield the original parameters with a zero loss (the finer details of this recentring have been provided in Section 2.2).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

A Post Keynesian Policy Model

A Post Keynesian Policy Model

A number of studies have investigated the links between demand and distribution. The main difficulty in comparing and applying any of these results is that some rest on cyclical models of a macroeconomy, and some are single equation regressions. Barbosa-Filho and Taylor (2007) estimate a structural Goodwin model, finding a steep and profit–led demand curve. Similarly, Proano (2008) finds negative feedback from unit labor costs to economic activity for the US, EU–area, and selected large EU economies. Naastepad (2006) finds a significant impact of distributive changes on investment. Rada and Taylor (2006) suggest similar numbers. Gordon (1996) finds a significant relation between distribution and demand, and the US to be profit–led. Hein and Vogel (2008) discuss literature of single–equation estimations that often commend demand in developed economies to be wage–led. More open economies on the one hand and the United States on the other hand appear more often to be profit–led. Their own estimations confirm that empirical evidence on the nature of the demand regime is often conflicting and depends on model and estimation priors. Here, I will assume that the distributive elasticity of investment (𝛼) is positive and significant, meaning that higher unit labor costs lead to lower investment. Naastepad (2006) estimates 𝛼 = 0.39 for the Netherlands, which could arguably be higher for the US. Proano (2008) (and related literature) do not estimate separate investment functions, but instead an IS–curve for capacity utilization that depends on a distributive variable. Their estimates can be read as confirmation of that general range, leading me to adopt 𝛼 = 0.40.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Basic New Keynesian Model docx

Basic New Keynesian Model docx

following the formalism proposed in [1], each firm may reset its price only with probability (1 − θ) in any given period, while a fraction θ keep their prices unchanged; therefore, we can interpret 1−θ 1 as the average duration of a price, and θ becomes a natural index of price stickiness.

47 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...