PEMERINTAH PUSAT RAPBN 2016 DAN PROYEKSI JANGKA MENENGAH PERIODE 2017-2019
ANGGARAN PENDIDIKAN
Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945 menyebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional. Alokasi anggaran pendidikan dalam RAPBN tahun 2016
tersebut akan diarahkan untuk: (1) melanjutkan upaya pemenuhan hak seluruh penduduk
mendapatkan layanan pendidikan dasar berkualitas; (2) memperluas dan meningkatkan pemerataan pendidikan menengah yang berkualitas; (3) meningkatkan akses dan kualitas pendidikan anak
usia dini (PAUD); (4) meningkatkan kualitas pembelajaran; (5) meningkatkan relevansi
pendidikan kejuruan dengan kebutuhan dunia kerja; (6) meningkatkan kualitas, pengelolaan dan penempatan guru yang merata, serta jaminan hidup dan fasilitas pengembangan keilmuan dan karir bagi guru di daerah khusus; (7) meningkatkan
pemerataan akses, kualitas, relevansi, dan
daya saing pendidikan tinggi.
Dalam RAPBN tahun 2016, alokasi anggaran
pendidikan direncanakan mencapai Rp424,8 triliun (20,0 persen terhadap belanja negara), yang berarti meningkat cukup signifikan (Rp16,3 triliun) dari APBNP tahun 2015. Perkembangan alokasi anggaran pendidikan dalam tahun 2015-2016 disajikan dalam tabel berikut ini.
APBNP 2015
RAPBN 2016 I. Anggaran Pendidikan melalui Belanja Pemerintah Pusat 154,4 143,8
A. Anggaran Pendidikan pada Kementerian Negara/Lembaga 154,4 143,8 a.l. a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 53,3 49,2 b. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 42,7 37,0 c. Kementerian Agama 49,4 46,8
II. Anggaran Pendidikan melalui Transfer ke Daerah dan Dana Desa 254,2 275,9
a.l. a. DAU yang diperkirakan untuk pendidikan 135,0 142,2 b. DAK Pendidikan 10,0 129,1 c. Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG) PNSD *) 1,1 -d. Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNSD *) 70,3 -e. Bantuan Operasional Sekolah *) 31,3 -f. Otsus yang diperkirakan untuk pendidikan 4,2 4,7
III. Anggaran Pendidikan melalui Pengeluaran Pembiayaan - 5,0
1. Dana Pengembangan Pendidikan Nasional - 5,0
Total Anggaran Pendidikan 408,5 424,8
Total Belanja Negara 1.984,1 2.121,3
Rasio Anggaran Pendidikan (%) 20,6 20,0
*) Dalam RAPBN 2016 merupakan komponen DAK
Sumber: Kementerian Keuangan
(triliun rupiah)
Komponen
Bab 4: Kebijakan dan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
RAPBN Tahun 2016 dan Proyeksi Jangka Menengah Periode 2017-2019 Bagian II
Sasaran anggaran pendidikan dalam tahun 2016 antara lain disajikan pada tabel berikut ini.
Dengan pemanfaatan anggaran pendidikan
tersebut diharapkan dapat meningkatkan :
(1) angka partisipasi murni SD/MI 91,79 persen, angka partisipasi murni SMP/MTs 80,87 persen, angka partisipasi murni SMA/MA/SMK 60,84
persen, dan angka partisipasi kasar perguruan tinggi 31,31 persen; (2) meningkatnya angka keberlanjutan pendidikan, yang ditunjukkan oleh menurunnya angka putus sekolah.
Fungsi Perlindungan Sosial
Alokasi anggaran pada fungsi perlindungan sosial dalam RAPBN tahun 2016 direncanakan sebesar
Rp16.223,8 miliar, menunjukkan penurunan sebesar 28,3 persen apabila dibandingkan dengan
alokasinya dalam APBNP tahun 2015 sebesar Rp22.615,8 miliar. Selanjutnya, arah kebijakan dan langkah-langkah yang akan ditempuh Pemerintah dalam rangka melaksanakan fungsi perlindungan sosial pada tahun 2016 antara lain: (1) peningkatan akses semua anak terhadap pelayanan yang berkualitas dalam rangka mendukung tumbuh kembang dan kelangsungan hidup; (2) peningkatan perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan perlakuan salah lainnya; (3) meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan; (4) meningkatkan perlindungan perempuan dari berbagai tindak
kekerasan; (5) peningkatan efektivitas pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan anak;
(6) peningkatan pelayanan dasar bagi masyarakat miskin dan rentan; (7) penyempurnaan dan pengembangan sistem perlindungan sosial yang komprehensif.
Sasaran yang ingin dicapai dari pengalokasian anggaran pada fungsi perlindungan sosial pada tahun 2016 antara lain, yaitu: (1) menurunnya tingkat kesenjangan antarkelompok masyarakat yang ditunjukkan dengan rasio gini sebesar 0,39; (2) meningkatnya sasaran/
coverage program-program perlindungan sosial termasuk perluasan bantuan tunai bersyarat/
conditional cash transfer (CCT) dengan sasaran sebanyak 6 juta KSM; (3) meningkatnya jumlah RTSM yang digraduasi dari program perlindungan dan jaminan sosial sebanyak 189.963 RTSM;
(4) meningkatnya cakupan pelayanan dasar dan akses masyarakat kurang mampu terhadap ekonomi produktif; (5) meningkatnya akses penduduk rentan dan kurang mampu terhadap air minum dan sanitasi layak sebesar 70 persen; (6) meningkatnya kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan; (7) meningkatnya akses dan kualitas hidup penyandang disabilitas dan lanjut usia; (8) meningkatnya jumlah pengawasan pelaksanaan perlindungan anak dari tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan perlakuan salah lainnya.
Mengenai bantuan tunai bersyarat yang diperluas cakupan sasarannya pada tahun 2016
merupakan pengembangan dari program perlindungan yang sudah ada, berupa bantuan tunai
yang diberikan kepada keluarga sangat miskin (KSM). Namun demikian, untuk mendapatkan bantuan tersebut, KSM harus memenuhi beberapa syarat, terutama dikaitkan dengan perilaku hidup sehat dan pendidikan. Dengan demikian, program ini dapat meningkatkan kualitas hidup KSM melalui peningkatan pendapatan, dan peningkatan produktivitas, serta merupakan salah
No Target
1 Kartu Indonesia Pintar (siswa) 2 1 .57 0.7 7 7
2 2 9 5.084
3 Pem bangunan unit:
- sekolah baru (unit) 9 81 - ruang kelas baru (ruang) 1 4 .56 6 - rehabilitasi ruang kelas (ruang) 1 1 .6 2 5 4 Pemberian BOS (sekolah pendidikan agama)
- MI/Ula (santri) 3 .6 55.4 2 0 - MTs/Wustha (santri) 3 .4 07 .856 - MA/Uly a (santri) 1 .2 56 .03 5 5 Peningkatan kom petensi tenaga pendidik (orang 4 9 7 .57 3
Uraian
Beasiswa bidik m isi dan bantuan siswa m iskin (m ahasiswa)
satu upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Perluasan cakupan program ini menyasar kepada daerah-daerah yang belum sepenuhnya tersentuh oleh program-program perlindungan sosial. Bantuan tunai bersyarat tersebut terdiri dari bantuan tetap, bantuan untuk kesehatan terutama bagi ibu hamil dan balita, serta
bantuan untuk pendidikan bagi keluarga yang memiliki anak sekolah tingkat SD sampai dengan SMA. Dengan demikian, program bantuan tunai bersyarat diharapkan dapat membantu KSM
menghindari kemiskinan dan memastikan generasi berikutnya tumbuh sehat serta dapat
menyelesaikan jenjang pendidikan (SD sampai dengan SMA).
4.1.2 Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Menurut Organisasi
Dalam pengelolaan keuangan negara setidaknya terdapat tiga pihak yang memiliki peran vital, yaitu Menteri Keuangan selaku Chief Financial Oficer (CFO) atau Bendahara Umum Negara (BUN) yang bertugas mengelola iskal dan penganggaran, Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional /Kepala Bappenas selaku Chief Planning Oficer (CPO) yang bertugas merencanakan
arah pembangunan dan mendesain kebijakannya, serta Menteri/Pimpinan lembaga selaku
Chief Operational Oficer (COO) yang bertugas membantu Presiden dalam menjalankan
program dan kegiatan untuk mencapai tujuan bernegara. COO pada dasarnya melaksanakan tugas sesuai dengan rencana pembangunan yang telah disusun bersama dengan CPO dengan alokasi anggaran sebagaimana telah dibahas dengan CFO.
Sejalan dengan fungsi tersebut, anggaran belanja pemerintah pusat sebagai bagian dari belanja negara secara umum dikelompokkan dalam dua bagian: (1) anggaran yang dialokasikan melalui
bagian anggaran (BA) K/L dengan menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran; (2) anggaran yang dialokasikan melalui BA BUN yang dialokasikan melalui Menteri Keuangan
selaku Bendahara Umum Negara.
Berdasarkan struktur K/L yang berlaku pada tahun 2016, jumlah BA K/L adalah 87 bagian
anggaran yang terdiri dari 34 kementerian dan 53 lembaga. Sementara itu, BA BUN terkait belanja pemerintah pusat terdiri atas: (1) BA BUN Pengelolaan Utang Pemerintah (BA 999.01);
(2) BA BUN Pengelolaan Hibah (BA 999.02); (3) BA BUN Pengelolaan Belanja Subsidi (BA 999.07); (4) BA BUN Pengelolaan Belanja Lainnya (BA 999.08); (5) BA BUN Pengelolaan
Transaksi Khusus (BA 999.99).
Dari anggaran belanja pemerintah pusat dalam RAPBN tahun 2016 sebesar Rp1.339.084,4 miliar, anggaran yang dialokasikan melalui K/L mencapai 58,3 persen atau Rp780.377,9 miliar.
Sementara 41,7 persen anggaran atau Rp558.706,5 miliar dialokasikan melalui BA BUN (belanja
non-K/L) sebagaimana disajikan dalam Tabel II.4.2.
2015 2016 APBNP RAPBN I. 795.480,4 780.377,9 (1,9) II. 524.068,6 558.706,5 6,6 1.319.549,0 1.339.084,4 1,5 TABEL II.4.2
BELANJA PEMERINTAH PUSAT , 2015-2016
(miliar rupiah)
Jumlah
Sumber: Kementerian Keuangan
Uraian
Belanja K/L Belanja Non K/L
Selisih thd APBNP 2015 (%)
Bab 4: Kebijakan dan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
RAPBN Tahun 2016 dan Proyeksi Jangka Menengah Periode 2017-2019 Bagian II
Penjelasan lebih lanjut atas rencana anggaran belanja K/L dan rencana anggaran belanja BUN
akan diuraikan sebagai berikut.
4.1.2.1 Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
Berdasarkan arah kebijakan dan sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai pada tahun 2016 dan keberlanjutan upaya yang telah dimulai tahun 2015 dan mempertimbangkan masalah serta tantangan yang akan dihadapi, Pemerintah telah menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
Tahun 2016, dengan tema: “Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Memperkuat Fondasi Pembangunan yang Berkualitas”.
Sebagai penjabaran dari tema RKP di atas, diidentiikasi sektor-sektor prioritas yang tertuang
dalam tiga dimensi pembangunan dan kondisi perlu sebagai berikut.
RKP tahun 2016 merupakan penjabaran tahun kedua dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang merupakan keberlanjutan upaya yang telah
dimulai tahun 2015. Untuk mendukung pencapaian target-target dalam RKP tahun 2016
dan penyelenggaraan pemerintahan, kebijakan penyusunan rencana anggaran belanja K/L
ditetapkan sebagai berikut:
1. Mempertahankan tingkat kesejahteraan aparatur pemerintah dengan memerhatikan tingkat inlasi untuk memacu produktivitas dan peningkatan pelayanan publik;
2. Melanjutkan kebijakan eisiensi pada belanja barang operasional (termasuk moratorium
pembangunan gedung pemerintah, pengendalian perjalanan dinas, dan konsinyering, serta
kebijakan sewa/leasing kendaraan dinas operasional);
3. Mendukung pelaksanaan program pembangunan seperti infrastruktur konektivitas,
kedaulatan pangan, energi, kemaritiman, dan pariwisata;
4. Peningkatan kualitas pelayanan pada Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), baik dari sisi
demand maupun supply;
5. Peningkatan kualitas pendidikan yang difokuskan pada perbaikan sarana dan prasarana pendidikan serta kemudahan akses pendidikan;