dilakukan pemerintah.. Tak pelak lagi kekecewaan, kecemasan, keresahan dan bahkan kemarahan melingkupi hampir semua elemen masyarakat atas pengelolaan dan kebija- kan kehutanan yang berhubungan dengan hutan di nagari mereka.
Fenomena yang mewarnai dua nagari ini menjadi menarik untuk diungkap teru- tama dalam melihat sejauh mana kebijakan kehutanan, baik itu kebijakan nasional mau- pun kebijakan daerah berdampak terhadap status ulayat, sistem nilai, hukum adat, dan pola pengelolaan hutan yang di lakukan oleh masyarakat nagari. Kenyataan bahwa hu- tan ulayat di Nagari Kambang ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Kerinci Se- blat (TNKS) tanpa sepengetahuan sebagian besar masyarakat nagari menimbulkan ber- bagai tanggapan negatif dari masyarakat. Tanggapan tersebut muncul terutama seputar kekhawatiran masyarakat nagari atas dihilangkannya keberadaan hutan ulayat mereka sehubungan dengan penetapan TNKS.
Berbagai hal yang berkenaan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang disosialisasikan pemerintah (instansi terkait) terasa asing bagi masyarakat Nagari Kambang. Sebagai contoh fungsi TNKS sebagai fungsi perlindungan hutan yang dite- gakkan dengan cara menutup akses pengelolaan hutan oleh masyarakat menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Kebingunan ini muncul karena sebenarnya fungsi perlindungan telah dikenal oleh masyarakat nagari jauh sebelum adanya TNKS dengan adanya konsep hutan larangan yang berfungsi sebagai daerah resapan air bagi hulu- hulu sungai di nagari mereka. Di samping itu ada pula konsep hutan simpanan yang berfungsi sebagai hutan cadangan anak kemenakan dan hutan olahan yang berfungsi sebagai hutan yang dimanfaatkan. Pola pengelolaan hutan secara tradisional ini tersirat dari pernyataan salah seorang tokoh masyarakat Kampung Koto Pulai yang merupakan bagian dari Nagari Kambang, yaitu Drs Anwar Am, yang berbunyi:
Ketersedian air di Nagari Kambang sangat tergantung pada keberadaan hutan yang ada di kawasan hutan larangan yang merupakan daerah tangkapan air untuk Nagari Kambang dan sekitarnya. Karena kebanyakan anak nagari dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya bergantung pada aliran Sungai Batang Kambang. Berbicara tentang fungsi dan pemanfaatan kawasan hutan di Nagari Kambang sebetulnya telah di tata sesuai dengan peruntukan kawasanberdasarkan ketentuan adat.
Namun pernyataan salah satu tokoh masyarakat di atas yang menggambarkan pengatahuan tradisional nan arif dalam pengelolaan hutan dan kesadaran ekologis ma-
syarakat nagari terhadap fungsi hutan tidak diakui oleh pemerintah. Kenyataan terse- but kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik dari masyarakat Nagari Kambang seputar hutan di nagari mereka, yang mencuat dari beberapa wawancara dan diskusi yang di lakukan peneliti, seperti; kenapa harus ada TNKS di Nagari Kambang?, Apa dasar TNKS di Nagari Kambang? Bagaimana keberadaan hak ulayat terhadap hutan di Na- gari Kambang? Dan Kenapa kita harus menjadi tamu di nagari sendiri?
Ternyata pertanyaan-pertanyaan serupa ditemukan juga di Nagari Guguk Malalo Kabupaten Tanah Datar. Walaupun berbeda konteks, namun tetap saja masyarakat Na- gari Guguk Malalo heran atas berubahnya hutan ulayat nagari mereka menjadi kawasan hutan lindung. Masyarakat merasakan bahwa kebijakan kehutanan pemerintah tidak mengakui cara-cara masyarakat melindungi hutan dengan nilai-nilai adat. Pertanyaan kemudian muncul: Apakah benar konflik antara masyarakat nagari dengan kebijakan kehutanan hanya menyangkut tata pengelolaan hutan yang berbeda antara pola atau model masyarakat dengan model pemerintah, atau ada hal lain, yang merupakan sum- ber permasalahan yang selama ini tersembunyi di balik berbagai produk kebijakan baik pada tingkat nasional, maupun pada tingkat daerah, yang kemudian melahirkan fenom- ena-fenomena di atas? Pertanyaan tersebut kemudian dicoba untuk jawab oleh peneliti dengan melihat berbagai kajian dan studi kebijakan kehutanan yang ada. Adapun ka- jian-kajian tersebut menggambarkan bahwa politik hukum kebijakan kehutanan masih berorientasi pada pengelolaan yang bertumpu pada pemerintah dan pemilik modal be- sar. Di sisi lain, posisi masyarakat yang berada di kawasan hutan atau di sekitar kawasan hutan yang notabene sebagian besar adalah masyarakat hukum adat sangat sedikit atau tidak sama sekali di beri ruang dalam kebijakan kehutanan. Selain itu yang terpenting adalah terjadinya pengaburan status hutan adat dan dijadikan sebagai hutan negara, sehingga memperlemah pengakuan hak masyarakat adat atas hutannya.31
Jurang antara konsep dan realita, antara aras kebijakan kehutanan sebagai das sein dengan fakta pengelolaan hutan oleh masyarakat di dua nagari dan nilai-nilai adat (sistem ulayat) sebagai das sollen, justru makin menambah jauh jarak antara pemerintah dengan rakyatnya. Saling curiga-mencurigai antara dua stake holder ini tentunya tidak sehat bagi kelangsungan sinergitas pengelolaan dan atau pengurusan hutan. Pola kebi- jakan yang tidak partisipatif menekan keberadaan entitas dan identitas nagari sebagai
Dalam melihat sebesar apa pengakuan hukum terhadap hak masyarakat adat atas sumber daya alam terutama hutan di indonesia, baca; Rikardo Simarmata, Pengakuan hukum terhadap masyarakat adat di Indonesia, RIPP/UNDP, Jakarta, 2006.
0
kesatuan masyarakat hukum adat, tertutupnya akses masyarakat Nagari Kambang ter- hadap hutan mereka, dan tuduhan-tuduhan kepada masyarakat nagari atas kerusakan hutan adalah contoh tindakan yang memperlebar jurang tersebut.
Semangat ‘Kembali ke Nagari’32 sebagai momentum mengembalikan nagari pada
nilai-nilai luhur adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah sedang bergeliat dan ber- gumul dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat hari ini. Arus pengakuan nagari se- bagai kesatuan masyarakat hukum adat dan nagari sebagai bagian sistem pemerintahan terendah berdasarkan hak asal usul seharusnya berbanding lurus terhadap pengakuan penguasaan atas ulayat yang ada di nagari, atau dengan kata lain kembali ke nagari se- harusnya berimbas pada penguatan hak masyarakat adat terhadap ulayatnya (tenurial adat), dan berkembangnya pola pengelolaan ulayat berdasarkan nilai-nilai adat yang hidup di nagari. Namun ternyata antara harapan dengan kenyataan tidaklah semanis yang dikira. Kenyataannya, kebijakan kehutanan baik nasional maupun daerah seakan bergeming dari derasnya arus tersebut.
Oleh sebab itu untuk memotret sejauh mana dampak kebijakan kehutanan, teru- tama kebijakan daerah terhadap penguasaan ulayat atas hutan di nagari, maka peneli- tian ini melakukan kajian terhadap dampak kebijakan terhadap penguasaan ulayat yang hidup di masyarakat secara empiris. Selain itu kajian ini juga memeriksa dokumen-doku- men skunder yang berhubungan untuk bahan analisa. Kajian ini hanya mengambil dua wilayah penelitian, yaitu Nagari Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan dan Nagari Guguk Malalo, Kabupaten Tanah Datar. Tentu saja dua wilayah ini belumlah mewakili secara kes- eluruhan untuk menyimpulkan dampak kebijakan kehutanan terutama kebijakan daerah terhadap penguasaan (tenurial) ulayat atas hutan di Sumatera Barat. Meskipun demikian, dengan konteks kebijakan daerah di dua nagari ini diharapkan bisa menjadi bahan per- timbangan dalam mencari solusi konflik kehutanan yang ada di Sumatera Barat.