Konflik Tenurial
III.. Dampak Terhadap Keberadaan Masyarakat hukum Adat Sinduru.
Berikut gambaran dampak relasi kebijakan daerah Sulawesi Tengah dengan konflik tenurial To Sinduru :
. Dampak dari kasus CV Satria Abadi dan KUD Singgani ;
• Dampak material.
a. Berkurangnya pendapatan.
- Terganggunya roda ekonomi masyarakat hukum adat To Sinduru. Masy- arakat terpaksa meninggalkan sementara lahan pertanian mereka un- tuk ikut aktif memperjuangkan penuntasan kasus ini. Akibatnya, hasil pertanian masyarakat berkurang dari yang biasanya.
- Penyerobotan kebun-kebun masyarakat. Praktek illegal loging yang dilakukan oleh CV Satria Abadi dan KUD Singgani menyebabkan be- berapa anggota masyarakat hukum adat To Sinduru kehilangan lahan pertanian.
- Perubahan kondisi lingkungan. Pertama, sebelum berlaku Otonomi Daerah, wilayah Ngata Tuva sudah beberapa kali mengalami kegia- tan-kegiatan eksploitasi yang merusak hutan oleh pihak luar (pejabat pemerintah, pengusaha dan lain-lain). Masuknya CV Satria Abadi dan KUD Singgani, semakin memperparah kerusakan kawasan hutan adat To Sinduru. Kerusakan hutan tersebut mengurangi manfaat yang dapat diperoleh guna mendukung pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat (terjadi penurunan jumlah dan kualitas SDA seperti kayu ramuan ru- mah). Kedua, kerusakan hutan di daerah barat Ngata Tuva, mempenga- ruhi peningkatan intensitas bencana alam seperti erosi dan banjir yang menimpa masyarakat hukum adat To Sinduru. Ketiga, hama hewan (monyet, babi, burung dan lain-lain) telah mengganggu dan menurun- kan hasil pertanian masyarakat. Hal ini dihubungkan dengan kegiatan- kegiatan eksploitasi hutan yang tidak memperhatikan keseimbangan alam.
- Masyarakat hukum adat To Sinduru tidak bisa melakukan perluasan la- han pertanian atau redistribusi tanah kepada anggota-anggota komu- nitas yang membutuhkan areal bercocok-tanam.
b. Sosial.
Tercipta keresahan dalam masyarakat hukum adat To Sinduru. CV Satria Abadi dan KUD Singgani merasa kegiatannya resmi secara legal formal. Masyarakat hukum adat To Bangga merasa wilayah pengelolaan CV Satria Abadi dan KUD Singgani, masih di wilayah adat To Bangga. Sedang ma- syarakat hukum adat To Sinduru menyatakan pengelolaan itu, sudah me- langkahi wilayah kedaulatan To Sinduru. Masing-masing pihak mempunyai landasan klaim yang berbeda. Ketegangan sosial hampir saja membuah- kan pergesekan fisik di antara mereka. Apalagi sejumlah anggota Masyara- kat hukum adat To Sinduru, kehilangan kebunnya karena diserobot oleh CV Satria Abadi dan KUD Singgani.
c. Politik.
- Lembaga Adat To Sinduru terutama para Totua Ngata mengalami gang- guan terhadap kewenangan mereka mengontrol dan mengatur peman- faatan sumber daya alam di kawasan hutan adat To Sinduru.Lembaga Adat To Sinduru sebagai organisasi rakyat berkultur budaya tak berdaya menerapkan hukum adat pada pihak-pihak dari luar Masyarakat hukum adat To Sinduru.
- Kontruksi kebijakan-kebijakan yang dihasilkan Pemerintah Daerah Su- lawesi Tengah membawa dampak buruk pada eksistensi sistem pen- guasaan masyarakat hukum adat To Sinduru atas sumber daya alam di kawasan hutan adat mereka.
- Daya kerja hukum adat To Sinduru melemah. • Dampak non material:
a. Secara spiritual.
Hilangnya ikatan emosional To Sinduru dengan beberapa kawasan hu- tan adat mereka.
b. Melemahnya pengetahuan lokal pada tataran prosedur dan nilai: - Sistem tenurial To Sinduru mengalami kekacauan konsep. Kawa-
cemar oleh kegiatan-kegiatan eksploitasi hutan.
- Penghancuran nilai Katuvua, yaitu suatu pedoman kearifan lokal To Sinduru dalam mengelola hasil-hasil hutan yang dipandang se- bagai unsur pelengkap kehidupan manusia yang harus di jaga. - Intervensi kebijakan daerah seperti SK Bupati dan perangkat ke-
bijakan lainnya telah menggiring To Sinduru untuk menyelesai- kan konflik/masalah di luar dari mekanisme hukum adat. Padahal menurut hukum adat To Sinduru, penyelesaian konflik yang ter- jadi di kawasan Hohora Ta/milik umum, mesti melewati jalur pera- dilan adat setempat.
. Dampak Kehadiran Kasus Kelompok Tani Lalere Jaya.
• Dampak material:
a. Berkurangnya penghasilan.
- Aktifitas bercocok-tanam masyarakat hukum adat To Sinduru ter- ganggu sehingga mempengaruhi pendapatan mereka (hasil per- tanian berkurang).
- Terjadi bencana erosi. Sebagian kebun-kebun masyarakat hukum adat To Sinduru di sebelah barat Ngata Tuva rusak akibat bencana ini.
b. Sosial
- Timbul keresahan dalam masyarakat. Pemegang IPK-TM (pengu- saha) selaku ketua kelompok tani Lalere Jaya melakukan teror dan intimidasi terhadap anggota-anggota Masyarakat hukum adat To Sinduru serta para Totua Ngata yang menolak keberadaan mere- ka.
- Beberapa kali benturan fisik hampir saja terjadi antara masyarakat hukum adat To Sinduru dengan ketua kelompok tani Lalere Jaya bersama pendukungnya.
- Kekhawatiran munculnya konflik horisontal dengan isu SARA. Al- Khaerat sebagai institusi agama Islam memiliki massa yang sangat besar di daerah Sulawesi Tengah. Di sisi lain, beberapa tokoh adat To Sinduru menganut agama Nasrani. Inilah yang dimanfaatkan
oleh pemegang IPK-TM.
- Menimbulkan keresahan masyarakat Ngata/Desa tetangga (Sa- lua). Ditemukan indikasi kuat pemegang IPK-TM terlibat pencu- rian kayu di wilayah Ngata Salua (Kalapini).
c. Politik
Hegemoni hukum formal Negara/Pemerintah terhadap norma-norma atau nilai-nilai hukum adat selama ini mengakibatkan kecenderungan si- kap ketidak-patuhan pemegang IPK-TM pada tata aturan hukum adat To Sinduru. Mekanisme atau konsep To Sinduru mengenai tahapan-tahapan pembukaan kawasan hutan dan aspek lingkungan dari hutan tersebut (layak-tidaknya di olah) bukan menjadi prioritas dalam kegiatan pengelo- laan hutan oleh pemegang IPK-TM.
• Dampak non material:
a Pengetahuan (prosedur, nilai, kelembagaan).
- Masyarakat hukum adat To Sinduru dihadapkan pada keadaan an- caman perpecahan masyarakat di Ngata Tuva. Sebab konflik ini melibatkan sebuah institusi keagamaan yang mempunyai penga- ruh besar di masyarakat. Akibatnya nilai Hintuvu (persaudaraan/ kebersamaan antara manusia) kehilangan makna.
- Pada kasus kedua, Lembaga Adat To Sinduru tak dapat menerap- kan fungsinya sebagai lembaga peradilan rakyat dalam menun- taskan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan ketua kelompok tani Lalere Jaya/pemegang IPK-TM.
- Efek dukungan kebijakan-kebijakan daerah terhadap kelompok tani Lalere Jaya menyebabkan munculnya sikap acuh tak acuh ketua kelompok bersangkutan pada landasan nilai Katuvua To Sinduru (konsep kearifan lokal) dan mengabaikan peringatan-pe- ringatan para Totua Ngata.
5
Gambar. X
Dampak Kebijakan Daerah
Implikasi Kebijakan-kebijakan Daerah Sulteng
Nyata Tidak Nyata
Ekonomi,Sosial dan Politik
Budaya/Spiritual dan Pengetahuan Lokal (prosedur,
nilai, kelembagaan)
Masyarakat hukum adat To Sinduru Kehilangan Jati Diri, Kepentingan Dan Hak