• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil observasi periset menilai aturan-aturan adat yang berlaku di masyarakat hukum adat To Sinduru, Tuva-2007.

Dalam dokumen Kebijakan Daerah dan Tenure Masyarakat A (Halaman 161-164)

Bagian Ketiga

II... Pembagian Fungsi Dan Peruntukkan Kawasan Hutan

5 Hasil observasi periset menilai aturan-aturan adat yang berlaku di masyarakat hukum adat To Sinduru, Tuva-2007.

Wilayah Adat To Sinduru

Pengaruh nilai Hintuvu Dan Katuvua yaitu Pembatasan Hak Komunal Dan Individu/Keluarga: . Ombo.

. Taolo

Tana Totuata: Tana Totuaku:

. Wanangkiki. . Pangale. . Oma. . Balingkea. 5. Pampa/Pobonea

Pada intinya, hukum adat To Sinduru khususnya konsep kearifan lokal ada dua je- nis:126

1. Pantangan ialah hal-hal yang dianggap tabu atau pamali untuk dilakukan ang- gota-anggota masyarakat hukum adat To Sinduru, yang biasanya berhubungan dengan dunia kosmik. Dapat bersifat mutlak dan sementara. Mereka percaya pelanggaran terhadap pantangan-pantangan, efek negatifnya berpengaruh bagi kehidupan komunitas. Salah satu jenis pantangan, nampak dalam proses pembukaan hutan untuk lahan pertanian. Warga masyarakat hukum adat To Sinduru, dianjurkan agar membawa jenis makanan tertentu untuk dikonsumsi seperti sayur umbut enau. Yang ini termasuk bersifat sementara karena berlaku hanya selama proses pembukaan hutan untuk persiapan lahan pertanian. Keti- dak-patuhan terhadap pantangan ini, dipercaya akan mempengaruhi keberha- silan panen masyarakat di lokasi tersebut.

2. Larangan ialah tindakan dan tingkah-laku dan perkataan yang tidak boleh di- lakukan. Larangan dapat bersifat mutlak dan sementara. Larangan sementara adalah pemberlakuan aturan adat yang menggunakan masa atau batasan wak- tu, terlihat pada kawasan yang sedang di Ombo. Sedang larangan mutlak adalah

pemberlakuan aturan adat tanpa mengenal pembatasan waktu (aturan tetap), terlihat pada kawasan Taolo. Kategori larangan terbagi dalam :

- Larangan keras. Larangan keras sangat berhubungan dengan kepentingan atau kehidupan masyarakat luas (dianggap sebagai pelanggaran fatal), se- hingga siapapun yang melakukan pelanggaran terhadap larangan ini akan mengakibatkan pelaku diancam dengan sanksi adat dua kali lipat dari yang biasanya, misal pelaku meneban pohon di kawasan Taolo. Sanksi adatnya menjadi berlipat karena dinilai sudah membahayakan kehidupan seluruh masyarakat (banjir, longsor, dan lain-lain).

- Larangan biasa. Larangan ini tidak bersentuhan dengan kepentingan/ke- hidupan seluruh anggota komunitas. Oleh karenanya ancaman sanksi adat yang dikenakan kepada pelaku tidak dilipat-gandakan (normal), misal mene- bang pohon di kebun milik orang lain.

Awalnya dua macam jenis kearifan lokal masyarakat adat diutarakan oleh Andreas Lagimpu (tokoh /pemerhati budaya kulawi),

sebagai narasumber dalam Studi Peradilan Adat tahun 2005. Kemudian, peneliti mengembangkan lebih rinci lagi berdasarkan observasi dan interaksi bersama masyarakat hukum adat To Sinduru.

5

Sedang sanksi adat To Sinduru dapat berbentuk :127

1. Sanksi pokok berupa denda “Hampole Hangu” yaitu 1 ekor kerbau (Hangu Beng- ka), 1 kain mbesa (Hangkau Mbesa), 10 dulang (Hampulu Dulang) atau “Rongu Bengka (2 ekor kerbau), Rompulu (20 dulang) dan Rongkau (2 kain mbesa). 2. Sanksi tambahan berupa :

• Penyitaan terhadap barang/benda yang bukan hak pelaku, seperti penyitaan kayu-kayu yang diambil dari kawasan milik umum/Ngata.

• Ganti rugi

• Memerintahkan pelaku melakukan sesuatu seperti memohon maaf kepada pihak yang dirugikan, atau memerintahkan pelaku untuk tidak melakukan sesuatu seperti menghentikan dengan segera perbuatannya.

• Pengusiran atau pengucilan dari kampung.

Berkaitan dengan subtansi subyek dan obyek hak, pandangan masyarakat hu- kum adat To Sinduru sangat berbeda dengan hukum formal Negara . Hukum formal mendefinisikan subyek hak adalah orang dan/atau badan hukum yang mendapat beban kewajiban atau yang mempunyai atau diberikan hak atas sesuatu. Sedang obyek hak adalah tempat perlekatan hak. Obyek hak dapat berupa barang dan benda, tempat me- lekatnya suatu kewajiban atau hak.128 Seperti yang sudah dipaparkan, hukum atau aturan

adat To Sinduru merupakan hasil sintesa dari pembelajaran pengalaman-pengalaman hidup mereka. Kesalahan-kesalahan dan akibat dari kesalahan tersebut, menjadi refleksi bagi mereka dalam menentukan pola tingkah-laku mana yang baik dan mana yang tidak baik dilakukan. Masyarakat hukum adat To Sinduru menyadari benar manfaat alam yang berada di sekitarnya untuk menunjang keberlanjutan kehidupan mereka. Oleh sebab itu, penempatan alam harus pada posisi sejajar dengan manusia. Bukan hanya manusia yang mempunyai hak, alam pun mempunyai hak di mana manusia memegang beban kewajiban melaksanakan hak alam (contohnya kawasan Ombo). Jelasnya, pandangan masyarakat hukum adat To Sinduru terurai sebagai berikut:129

Op.Cit. Hasil observasi periset 2007.

Prof. Wiryono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perdata Cetakan Ke empat hal 35. Penerbit Sumur Bandung 1962.

Periset mengambil kesimpulan ini sesuai dengan pandangan beberapa tokoh adat To Sinduru yang berpandangan bahwa “

manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan” (sumber : Mahori Galakia, Dae Mpamere, Lahi Sulengka, Halija Sulengka, Murni, Arifin Panjaitan, dan Royke Baligau). Keterangan Pra Riset. Ngata Tuva, 2005.

1. Subyek hak. Menurut To Sinduru, subyek hak terdiri atas manusia dan alam se- kitarnya. Bukan hanya manusia yang memiliki hak, alam turut memiliki hak se- tingkat dengan manusia untuk selalu di jaga kelestariannya.

2. Obyek hak. Obyek hak meliputi tanah, hutan, sungai/air atau alam sekitar term-

asuk manusia itu sendiri. Manusia juga mesti menjadi fokus pengaturan (kewa- jiban), sehingga tercipta keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan terhadap alam.

Daya kerja sistem tenurial masyarakat hukum adat To Sinduru pada saat ini begitu kecil dan goyah. Kawasan-kawasan Wanangkiki serta sebagian besar Kawasan Pangale, masuk ke kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan Hutan Lindung Gawalise. Padahal, kawasan Wanangkiki dan Pangale merupakan kawasan hutan adat To Sinduru yang pa- ling luas dibandingkan dengan jenis kawasan hutan lain (Oma, Pohambei Pongko, Ba- lingkea). Praktis, peran lembaga adat To Sinduru sebagai model organisasi rakyat ber- kultur budaya dalam mengontrol aktifitas pemanfaatan sumber daya alam di seluruh wilayah adat menjadi terbatas. Karena klaim Negara melalui Taman Nasional Lore Lindu dan Hutan Lindung Gawalise atas wilayah adat To Sinduru sekitar 60%.

Sekarang masyarakat hukum adat To Sinduru tinggal mempertahankan wilayah adat yang tersisa, yaitu hanya sekitar 20-40% dari klaim-klaim hak lain (IPK dan sejenis- nya).

Dalam dokumen Kebijakan Daerah dan Tenure Masyarakat A (Halaman 161-164)