• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demokratisasi dan Ideolog

Dalam dokumen MENYONGSONG 2014 2019 MEMPERKUAT INDONES (Halaman 129-136)

Ideologi adalah salah satu aspek penting yang terkait dengan konsolidasi demokrasi. Seperti telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini, semakin terkonsolidasinya

demokrasi ditandai dengan semakin meluasnya aktor-aktor politik yang menerima pelaksanaan demokrasi dan memiliki loyal- itas terhadap demokrasi sebagai aturan main. Mereka yang secara ideologis menolak demokrasi mengalami moderasi dan menerima demokrasi sebagai aturan main. Awalnya, komitmen ini bersifat instrumental saja, dalam arti bahwa sistem politik demokratis dilihat sebagai alat untuk mencapai tujuan ideologisnya. Seiring dengan konsolidasi demokrasi yang menguat, komitmen instrumental berubah menjadi komitmen mendasar kepada kerangka demokrasi. Dengan demikian, secara umum kita dapat mengatakan bahwa perkembangan konsolidasi demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari tingkat penerimaan berbagai aktor politik terhadap sistem demokrasi sebagai aturan main satu-satunya dalam politik itu. Jika demokratisasi semakin terkonsolidasi, kelompok-kelompok dengan beragam ideologi yang awalnya menolak demokrasi, sedikit demi sedikit menerima demokrasi sebagai “aturan main” dalam politik.

Jika demokratisasi semakin terkonsolidasi, kelompok-kelompok dengan beragam ideologi yang awalnya menolak demokrasi, sedikit demi sedikit menerima demokrasi sebagai “aturan main” dalam politik.

Apakah hal tersebut terjadi di Indonesia? Bagian ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat fenomena depolarisasi ideologi di Indonesia.

 Gejala depolarisasi ideologi

Temuan berbagai lembaga penelitian mengonfirmasikan kecenderungan yang terlihat di dalam hasil pemilu pasca- Reformasi. Suara partai-partai yang secara formal mengusung Islam mengalami kecenderungan menurun. Banyak yang kemudian melihat ini sebagai fenomena menurunnya pengaruh Islam dalam politik. Namun, jika kita melihat dengan lebih mendalam, partai-partai di kutub seberang partai-partai

Islam (Anies Baswedan menggunakan istilah “Secular-

exclusive”22) pun sekarang lebih terbuka terhadap simbol-simbol

keagamaan. Caleg-caleg PDIP pun banyak yang mengenakan jilbab. Dengan demikian, menurunnya suara partai-partai Islam bukanlah sebuah fenomena tunggal. Ini dapat dipahami sebagai bagian dari fenomena yang lebih besar: depolarisasi ideologi. Partai-partai bergeser ke tengah, yang tergambar dalam istilah khas Indonesia ‘nasionalis-religius.’ 

Dibanding dengan fenomena beberapa negara lain, depolarisasi ideologi di Indonesia dapat dipandang dengan kacamata positif. Di Mesir misalnya, polarisasi ideologi setelah Mubarak jatuh pada 2011 terlihat sangat nyata. Polarisasi antara kelompok agamis dengan kelompok sekuler membuat kepemimpinan politik Mesir tidak efektif menjalankan pemerintahan. Polarisasi tersebut juga masih terlihat di Turki sebagai sisa gerakan sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kamal Attaturk pada awal Abad 20.

Di Indonesia, memang ada kompetisi dan konflik di antara Islamisme dan sekularisme, namun sejarah revolusi Indonesia menunjukkan bahwa benih depolarisasi itu telah ada sejak sebelum kemerdekaan. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Islam, liberalisme, sosialisme dan nasionalisme bercampur baur, saling meminjam dan saling mempengaruhi, dalam menggerakkan

perlawanan terhadap kolonialisme.23 Pada masa penjajahan

Jepang, otoritas Jepang melihat bahwa kelompok-kelompok Islam adalah kekuatan penting di masyarakat dan kemudian mencoba mengendalikannya dengan mendirikan Majelis Syura Muslimin

Indonesia (Masyumi).24 Saat Republik Indonesia berdiri, laskar-

laskar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah dimasukkan ke dalam ketentaraan Republik.

Polarisasi ideologi terlihat kuat pada masa-masa awal kemerdekaan. Pada saat itu, terjadi perdebatan yang keras mengenai dasar negara dan posisi Islam di negara yang baru

saja berdiri itu.25 Polarisasi ini menghasilkan kebuntuan pada

Konstituante dan membukakan jalan bagi Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Pada masa kekuasaan Soeharto, negara melakukan deideologisasi secara sistematis sebagai bagian dari upaya konsolidasi kekuasaan dan menjaga stabilitas politik. Salah satu strateginya adalah dengan menekan kelompok-kelompok Islam Politik, sehingga pada1980-an para aktivis politik Islam merenungkan kembali orientasi dan strategi keterlibatan Islam dalam politik. Inilah yang menurut Bachtiar Effendy kemudian melahirkan “Intelektualisme Islam Baru” yang mencoba menjembatani antara

yang terus bergerak di bawah tanah, kelompok-kelompok Islam di Indonesia mulai masuk ke birokrasi dan bahkan masuk ke partai penguasa yaitu Golkar. Kecenderungan ini mendapatkan momentum dengan perkembangan politik pada akhir 1980-an yang membuat Soeharto mendekati kelompok-kelompok Islam. Bersamaan dengan meningkatnya keagamaan masyarakat sejak 1980-an, keterlibatan kelompok-kelompok Islam di dalam birokrasi dan partai penguasa membuka jalan bagi depolarisasi. Kelompok-kelompok Islam menyadari bahwa partai Islam bukan satu-satunya jalan untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam (sehingga mereka kemudian menyalurkannya ke berbagai jenis partai), sementara kelompok-kelompok sekuler kemudian memandang bahwa ternyata menjadi religius tidak selalu berarti mengkhianati komitmen kebangsaan.

 Berkah atau kutukan?

Apa dampak dari kecenderungan depolarisasi ideologi tersebut terhadap sistem politik Indonesia? Dalam hal ini, Islamis- Sekuler bukan satu-satunya peta spektrum ideologi. Namun, peta spektrum yang lain pun (liberal-kerakyatan, misalnya) mengalami depolarisasi yang serupa. Walaupun kita bersyukur bahwa kita tidak mengalami kutukan polarisasi seperti yang terjadi secara ekstrim di Mesir, kita juga tak dapat serta merta bergembira. Depolarisasi ideologi atau de-ideologisasi merupakan muara

dari dua sungai: rasionalisme dan pragmatisme.Semakin rasional seseorang, semakin mudah ia melepaskan diri dari postulat- postulat ideologis dalam melihat sebuah masalah, sehingga ia dapat lebih mudah berdiskusi dan berkompromi dengan

kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Demikian pula, semakin pragmatis seseorang, semakin mudah ia melampaui batasan-batasan ideologis, selama langkah tersebut dapat memberikan keuntungan. Jika depolarisasi ini lebih banyak diwarnai rasionalisme, kita dapat bergembira karena perdebatan tentang kebijakan publik dapat lebih hidup dan terukur, tidak lagi dibayang-bayangi sekat identitas ideologis. Namun, jika depolarisasi ideologi ini lebih banyak didorong pragmatisme, yang terjadi justru sebaliknya. Perdebatan tentang kebijakan publik akan jarang dan kalaupun terjadi kualitasnya tidak baik karena yang menjadi ukurannya adalah kepentingan dan keuntungan masing-masing aktor.

Aliran sungai manakah yang lebih mewarnai depolarisasi ideologi di Indonesia? Agaknya, pragmatisme lebih dominan. Hal ini terlihat misalnya dari proses legislasi yang sering tidak terarah di Dewan Perwakilan Rakyat. Stephen Sherlock dari Center for Democratic Institutions misalnya, menyimpulkan di dalam penelitiannya tentang cara kerja DPR RI bahwa banyak proses pengambilan keputusan di DPR yang dibuat dengan tidak sistematis. Tidak ada rancangan kebijakan yang jelas dari partai- partai mengenai berbagai permasalahan penting.

Dampak lain dari deideologisasi yang didorong oleh pragmatisme ini adalah melemahnya ikatan antara partai politik dengan masyarakat karena semua partai dianggap “sama saja.” Hal ini berdampak serius pada kualitas perekrutan politik di dalam sistem politik nasional. Karena ideologi dan platform tak lagi menarik, maka partai-partai ramai-ramai merekrut tokoh sebagai vote-getter tanpa terlalu memperhitungkan kapasitasnya.

Mencermati kecenderungan depolarisasi ideologi itu, bersamaan dengan kecenderungan tiadanya partai yang memenangkan suara secara dominan, maka terbangunnya ‘koalisi pelangi’ menjadi tak terhindarkan. Seperti pengalaman selama ini, pemerintahan dalam lingkungan politik ‘koalisi pelangi’ cenderung tidak efektif. Kebijakan lebih banyak ditentukan oleh negosiasi kepentingan daripada oleh kesepakatan tentang satu platform kebijakan tertentu. Sekali lagi,depolarisasi ideologi dan lemahnya institusionalisasi partai--yang terlihat dari lemahnya keterikatan masyarakat dengan partai politik--mewarnai kehidupan politik pasca- Pemilu 2014. Dengan keadaan seperti itu, faktor pribadi pemimpin nasional dan elite politik akan sangat penting dalam mempengaruhi efektivitas.

 Dampak pada demokratisasi

Dalam perspektif jangka panjang, apa kaitan antara fenomena depolarisasi ideologi tersebut dan demokratisasi? Secara sederhana, kita dapat melihat kaitannya dengan memahami depolarisasi sebagai proses moderasi ideolog, baik karena rasionalisasi maupun pragmatisasi. Karena aktor politik mengalami moderasi ideologi, ada perubahan cara pandang terhadap berbagai aspek dalam politik, termasuk dalam sikap mereka terhadap demokrasi. Dengan demikian, “depolarisasi ideologi” secara umum membawa kecenderungan positif bagi konsolidasi demokrasi karena aktor-aktor politik mengalami moderasi dalam sikap mereka terhadap demokrasi. Artinya, kelompok-kelompok yang menolak demokrasi, dengan terjadinya depolarisasi ideologi, dapat mengalami perubahan pandangan dan sikap terhadap demokrasi.

Depolarisasi ideologi, diasumsikan dapat memperluas aktor- aktor yang menerima demokrasi sebagai aturan main satu- satunya di dalam politik karena membuat mereka yang secara ideologis menolak demokrasi menjadi semakin moderat. Karena pandangan mereka semakin moderat, mereka dapat memiliki pandangan baru tentang demokrasi. Jika digambarkan ke dalam lingkaran-lingkaran yang menggambarkan tingkat penerimaan pada demokrasi, depolarisasi ideologi dapat mendorong meluasnya lingkaran aktor yang menerima “demokrasi sebagai alat” dan “demokrasi sebagai komitmen.” Aktor-aktor yang “menolak demokrasi” dapat diserap ke dalam lingkaran mereka yang menerima demokrasi sebagai komitmen instrumental. Saat ini, depolarisasi membuat partai-partai Islamis semakin

mendekati lingkaran aktor yang menerima demokrasi sebagai komitmen, atau setidaknya menerima demokrasi sebagai instrumen yang dapat diterima untuk memperjuangkan ideologinya. Meskipun demikian, kita juga melihat, masih ada kelompok-kelompok di lingkaran terluar, yaitu mereka yang menolak demokrasi. Di lingkaran terluar ini, ada kelompok Islamis radikal yang menolak demokrasi karena dianggap sebagai sebuah sistem yang berasal dari luar Islam. Selain itu, ada juga kelompok yang dalam tulisan ini disebut sebagai “ultranasionalis,” yaitu kelompok yang melihat bahwa demokrasi telah melemahkan posisi negara. Untuk mewujudkan konsolidasi demokrasi, kedua tipologi kelompok ini harus dapat diserap ke dalam lingkaran aktor yang menerima demokrasi, setidaknya sebagai komitmen yang bersifat instrumental.

Bagan 2. Lingkaran Sikap Aktor terhadap Demokrasi Partai Islamis Islamis radikal Ultranasionalis Demokrasi sebagai “Komitmen” Demokrasi sebagai “instrumen” Menolak demokrasi Islam-insklusif

Dalam konteks ini, depolarisasi juga memunculkan tantangan tersendiri untuk mendorong kelompok-kelompok yang menolak demokrasi merevisi sikap dan pandangan mereka. Depolarisasi yang diwarnai pragmatisme dan dicemari berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh partai-partai dari beragam spektrum ideologi dapat menggerus kepercayaan terhadap demokrasi. Jika depolarisasi tidak dibarengi dengan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan dijangkiti oleh korupsi, lingkaran aktor yang menerima demokrasi semakin mengecil. Tentu, hal ini berarti bahwa konsolidasi demokrasi akan terhambat dan Indonesia terancam menuju ‘democratic reversal’.

Dalam dokumen MENYONGSONG 2014 2019 MEMPERKUAT INDONES (Halaman 129-136)