• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESA BORAI SERUI

Dalam dokumen Ekspose Hasil-hasil Penelitian i (Halaman 167-175)

Vatica Palaquium

DESA BORAI SERUI

Oleh:

Freddy Jontara Hutapea, Batseba Suripatty, Relawan Kuswandi, Rifky El Halim

Balai Penelitian Kehutanan Manokwari

Jalan Inamberi – Susweni, Manokwari 98131, Papua Barat Telp. (0986)-213437 / 213440 ; Fax. (0986)-213441 / 213437

Abstrak

Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu tanaman sejenis palem yang keberadaannya di Provinsi Papua masih sangat melimpah. Di Desa Borai, Distrik Angkaisera, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua, keberadaan nipah memberikan dampak yang sangat baik bagi kehidupan masyarakat. Bagian nipah yang memberikan manfaat secara finansial bagi masyarakat adalah bagian nira. Pemanfaatan nira oleh masyrakat masih sampai dalam tahap pembuatan minuman lokal yang biasa disebut “Bobo”. Bagian daun nipah dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pembuatan atap, dinding rumah, dan ketupat untuk sagu. Bagian kulit pelepah nipah digunakan sebagai bahan penjepit atap.

146 -

BPK Manokwari

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nipah (Nypa fruticans Wurmb) merupakan tanaman sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang surut dekat tepi laut. Pemanfaatan nipah telah dilakukan oleh masyarakat sejak dahulu. Daun nipah dapat digunakan sebagai bahan untuk atap rumah, dinding rumah, kerajinan topi, tas, tikar, dan berbagai aneka kerajinan lainnya, sementara tangkai dan pelepah daun dapat digunakan sebagai bahan bakar. Nira yang dihasilkan oleh nipah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan gula nira, bahan minuman lokal, dan pembuatan bio ethanol yang sedang dikaji sebagai bahan pengganti bahan bakar fosil yang keberadaannya semakin memprihatinkan.

Desa Borai merupakan salah satu desa yang berada di Distrik Angkaisera, Kabupaten Yapen Provinsi Papua yang memiliki hutan nipah. Sebagai sebuah elemen yang tidak terpisahkan daripada hutan, masyarakat memanfaatkan dan mengelola hutan nipah yang terdapat di daerah ini. Pengelolaan hutan nipah disini menyangkut permudaan hutan nipah. Keberadaan hutan nipah di daerah ini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, terutama manfaat ekonomi. B. Tujuan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan informasi mengenai pemanfaatan nipah oleh masyakat Desa Borai Distrik Angkaisera Kabupaten Yapen, Provinsi Papua.

C. Manfaat

1. Memberikan informasi mengenai pemanfaatan nipah oleh masyarakat Desa Borai, Distrik Angkaisera, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. 2. Memberikan informasi mengenai pengolahan nira nipah oleh

masyarakat Desa Borai, Kabupaten Angkaisera, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua.

3. Memberikan informasi mengenai peluang pengembangan wawasan masyarakat terhadap pemanfaatan nipah ke hal-hal yang memiliki prospek meningkatkan kesejahteraan yang lebih tinggi.

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 147

II. METODOLOGI

A. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam karya tulis ini adalah observasi lapang yang meliputi wawancara terhadap penduduk setempat, dan studi literatur (literature view) di internet yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

B. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, dimana metode analisis deskriptif kualitatif adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data kedalam bentuk penyajian yang sesuai.

III. TINJAUAN PUSTAKA

A. Nipah

Nipah adalah salah satu pohon anggota famili arecaceae (palem) yang umumnya tumbuh di daerah rawa yang berair payau atau daerah pasang surut di daerah pantai. Batang nipah banyak menjalar di tanah, membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur, hanya roset daunnya yang muncul di atas tanah, sehingga nipah terlihat seolah-olah tidak memiliki batang. Nipah memiliki akar serabut yang dapat memiliki panjang hingga 13 m. Daun-daun majemuk menyirip khas palma muncul dari rimpang nipah, tegak atau hampir tegak, menjulang hingga 9 m di atas tanah. Panjang tangkainya berkisar antara 1-1,5 m, dengan kulit yang mengkilap dan keras. Tangkai nipah berwarna hijau pada tanaman yang muda dan berangsur menjadi cokelat sampai cokelat tua sesuai perkembangan umurnya. Bagian dalam nipah lunak seperti gabus. Anak daun berbentuk pita memanjang dan meruncing di bagian ujung, memiliki tulang daun yang di sebut lidi (seperti pada daun kelapa). Panjang anak daun dapat mencapai 100 cm dan lebar daun berkisar antara 4-7 cm. Daun nipah yang sudah tua memiliki daun berwarna hijau, sedangkan yang masih muda berwarna kuning, menyerupai janur kelapa. Tiap ental anak daun mencapai 25-100 helai. (Wikipedia, 2011).

Baharuddin dan Taskirawati (2009) mengatakan bahwa nipah tergolong tanaman dataran rendah yang menyukai iklim pantai dan tumbuh liar pada ketinggian 0 – 10 m dari permukaan laut, oleh sebab itu nipah hanya tumbuh subur di sepanjang daerah pasang surut dekat dengan pantai dan ditepi muara sungai atau rawa-rawa yang berair payau. Derajat keasaman (pH) yang sesuai untuk pertumbuhan nipah berkisar antara 6 – 6,5, dengan kadar salinitas berkisar antara 50 – 100 mmosh/cm3. Kadar salinitas yang tinggi akan menyebabkan tanaman kerdil, serta produksi malai dan buahnya menjadi sangat

148 -

BPK Manokwari

rendah. Kondisi lingkungan yang cocok berkisar antara 20 – 250C. Suhu rendah sangat mempengaruhi pertumbuhan nipah karena nipah sangat toleran terhadap suhu lingkungan.

Nipah banyak dikenal dengan nama lain seperti: daon, daonan, nipah, bhunjok, lipa, buyuk (Sunda, Jawa, Bali), bhunyok (Madura), bobo (Manado, Ternate, Tidore), boboro (Halmahera), palean, palenei, pelene, pulene, puleanu, pulenu, puleno, pureno, parinan, parenga (Seram, Ambon, dan sekitarnya) (Wikipedia, 2011).

B. Pemanfaatan Nipah

Wikipedia (2011) menyatakan bahwa daun nipah dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat atap rumah, membuat dinding rumah yang disebut kajang, kerajinan tangan (tikar, tas, topi, dan aneka keranjang anyaman). Tangkai nipah dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar yang baik. Lidi nipah dapat dimanfaatkan sebagai sapu, bahan anyaman, dan tali. Sari nipah dapat disadap sebagai bahan untuk membuat gula nira (palm sugar). Nira nipah dapat digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan ethanol dengan jumlah sekitar 11.000 l/ha/thn.

Baharuddin dan Taskirawati (2009) mengatakan bahwa daun nipah yang tua banyak digunakan untuk pembuatan atap rumah yang daya tahannya dapat mencapai 3 -5 tahun. Daun yang masih muda dapat dianyam untuk membuat dinding rumah yang disebut “kajang”, tikar, tas, dan klobot untuk pembungkus rokok. Bagian lidinya dapat digunakan untuk pembuatan sapu, bahan anyam-anyaman, dan tali. Pelepah daun nipah dapat digunakan sebagai bahan baku

particle board yang berkualitas baik karena warnanya sangat khas dan menarik. Buah nipah yang masih muda yang disebut tembatuk, dapat dijadikan kolang- kaling, sedangkan buah nipah yang sudah tua dapat ditumbuk dan dijadikan tepung roti. Di kalimantan arang dari akar nipah digunakan untuk obat sakit gigi, dan sakit kepala.

IV. PEMBAHASAN

A. Hubungan Masyarakat Desa Borai dengan Nipah

Masyarakat Desa Borai merupakan sekelompok masyarakat di Distrik Angkaisera Kabupaten Yapen Provinsi Papua, yang juga merupakan sekumpulan masyarakat yang dihuni oleh beberapa marga adat. Marga-marga yang terdapat dalam desa tersebut adalah: Wondiwoy, Merani, Tobuawen, Kaui, Waroi, Imbiri, Kandipi, Wona, dan Bonai. Mata pencaharian pokok masyarakat Desa Borai pada umumnya adalah dari tokok sagu dan berkebun.

Hubungan antara masyarakat Desa Borai dengan nipah telah terbina sejak dahulu. Hubungan itu tetap terpelihara sampai sekarang. Masyarakat Desa Borai memanfaatkan nipah sebagai sumber mata pencaharian sampingan. Dari taksiran sekitar 70 kepala keluarga (KK) yang mendiami desa ini, 40 KK diantaranya

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 149

adalah masyarakat pengelola nipah.

Masyarakat Desa Borai merupakan masyarakat yang menyadari pentingnya keberadaan hutan nipah bagi keberlangsungan hidup mereka. Hal ini terlihat dari kepedulian masyarakat dalam mengelola hutan nipah milik mereka. Mereka melakukan penanaman nipah pada kawasan milik mereka dengan cara mengumpulkan bibit yang tumbuh secara alami dari bawah tegakan nipah. B. Pemanfaatan dan Pengolahan Nipah

Umumnya nipah dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Borai untuk berbagai keperluan. Daun nipah digunakan sebagai bahan pembuatan atap rumah dan bahan pembuatan dinding rumah, serta pembuatan ketupat untuk sagu. Kulit luar dari pelepah dimanfaatkan sebagai penjepit atap yang terbuat dari daun. Bagian buah nipah belum dimanfaatkan oleh masyarakat, sementara nira nipah disadap oleh masyarakat. Bagian yang paling dimanfaatkan oleh masyrakat Desa Borai adalah air nira nipah.

Pemanfaatan nira nipah oleh masyarakat Desa Borai masih sampai dalam tahap pembuatan minuman lokal yang biasa disebut “Bobo”. Nira nipah yang telah mereka kumpulkan tidak dimanfaatkan untuk membuat produk lain misalnya gula nira, dan penyulingan bio etanol, karena permintaan pasar masih hanya untuk “Bobo” saja.

Tahapan pengolahan “Bobo” dimulai dengan tahapan persiapan dilapangan yang dimulai dengan perlakuan pendahuluan terhadap tandan nipah, pengumpulan nira nipah dan pencampuran nira nipah dengan ramuan lain sebelum dipasarkan.

1. Perlakuan Pendahuluan terhadap Tandan Nipah

Sebelum melakukan pemanenan terhadap nira nipah, masyarakat melakukan perlakuan pendahuluan terhadap tandan nipah yang telah layak untuk dipanen air niranya. Tandan nipah yang telah layak untuk dipanen dibersihkan dari pelepah-pelepah penutupnya, diurut – urut, digoyang-goyang kemudian tandan tersebut diganjal dengan kayu selama seminggu. Setelah seminggu tandan dilepas selama 1 – 2 minggu, kemudian digoyang-goyang lagi. Masyarakat meyakini bahwa dengan melakukan perlakuan pendahuluan ini maka air nira yang dihasilkan akan lebih banyak. Perlakuan ini terus dilakukan sampai tandan terasa lentur, dan setelah disayat pada jarak sekitar 10 – 15 cm dari buah, ada air yang keluar .

2. Penyadapan Nira Nipah

Setelah disayat pada jarak 10 – 15 cm dari buah, dan terdapat air, maka buah langsung dipotong, dan pada ujung tandan dipasang lidah penyalur nira nipah yang mengalirkan nira keluar ke penampung nipah. Lidah penyalur air nira nipah ini dibuat dari kaleng minuman kaleng, sementara penampung nipah sebaiknya digunakan dari bambu, namun penggunaan dari bahan lain seperti botol air minum juga dapat dilakukan, namun menurut masyarakat air nira yang dihasilkan dari bambu lebih baik daripada penggunaan penampung berbahan

150 -

BPK Manokwari

plastik seperti botol air minum mineral.

Hasil sadapan pada hari pertama biasanya tidak terlalu banyak, hanya berkisar ½ gelas. Setelah 2-3 hari, hasil sadapan yang diperoleh berkisar antara 1 – 2 gelas per hari. Setelah melakukan pengumpulan hasil sadapan dari nipah, masyarakat melakukan pengirisan pada ujung tandan. Pengirisan dilakukan dengan mengiris tipis ujung tandan dengan jumlah maksimal irisan sebanyak 6 irisan, kemudian memasang kembali penampung nira nipah. Proses ini dilakukan berulang-ulang sampai nira yang dihasilkan benar-benar sudah habis, yang ditandai dengan nira tidak mengalir lagi dari tandan. Proses penyadapan nira nipah per pohon dapat berlangsung sampai 6 bulan.

Banyaknya nira yang dapat disadap setiap hari dipengaruhi oleh musim. Pada saat musim hujan, nira yang dapat dihasilkan bisa mencapai 2 gelas per hari, sementara bila musim kemarau, nira yang dapat dihasilkan setiap hari hanya berkisar 1 gelas per hari.

3. Pencampuran Nira Nipah dengan Ramuan Lain

Sebelum dipasarkan, nira nipah yang telah dikumpulkan dicampur terlebih dahulu dengan menggunakan campuran akar, buah, atau pucuk bakau. Menurut informasi dari masyarakat, pencampuran ramuan ini kedalam air nira nipah akan membuat nira nipah terasa sepat, mengawetkan nira nipah (kurang lebih selama 3 hari), dan membuat nira memabukkan. Umumnya kombinasi yang digunakan oleh masyarakat adalah untuk 1 ember nira nipah dicampurkan dengan kombinasi 3 buah bakau dengan 2 pucuk bakau.

Setengah jam setelah pencampuran ini, nira nipah “Bobo” sudah dapat diminum dan dijual ke masyarakat. Jika tiga hari nira nipah “Bobo” belum terjual, pencampuran harus dilakukan kembali agar nira nipah awet kembali (tidak menjadi asam). Menurut masyarakat jika pencampuran ini semakin sering dilakukan maka minuman itu terasa semakin keras (semakin memabukkan). Diduga bila semakin sering dilakukan pencampuran antara akar/buah bakau dengan nira tersebut maka kandungan alkohol yang terdapat dalam minuman tersebut akan semakin tinggi.

4. Pemasaran “Bobo”

Seperti dijelaskan diatas, pemasaran nipah di Kabupaten Yapen ini masih hanya sampai pada tingkatan minuman lokal yang biasa disebut “Bobo”. Pemasaran minuman lokal ini tidak menyalahi aturan di daerah tersebut sebab tidak terdapat peraturan daerah (perda) yang melarang penjualan minuman keras.

“Bobo” ini dipasarkan dengan harga Rp. 20.000/l. Dalam melakukan pemasaran, masyarakat Desa Borai hanya memajang minuman tersebut didepan rumah, dan masyarakat dari daerah lain datang ke Desa Borai ini untuk mencari minuman ini.

C. Manfaat Ekonomi Nipah Bagi Masyarakat

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 151

kehadiran nipah ditengah-tengah peradaban mereka adalah manfaat ekonomi. Dengan pengolahan nira nipah menjadi “Bobo”, keuntungan finansial yang dapat diperoleh oleh masyarakat sekitar Rp. 100.000/ hari.

Manfaat nira nipah ini semakin besar bagi masyarakat karena pengolahan nira nipah menjadi minuman “Bobo” sangat mudah (tidak sulit). Proses yang diperlukan merupakan proses yang sangat sederhana dan membutuhkan waktu yang sangat singkat. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan minuman “Bobo” yakni akar, pucuk, dan buah bakau masih berlimpah disekitar wilayah mereka tinggal, sehingga tidak memerlukan biaya lain untuk membeli bahan penunjang dalam mengolah nira nipah menjadi “Bobo”.

D. Prospek Pemanfaatan Nira Nipah Menjadi Produk Lain

Peluang pengembangan dan pemanfaatan nipah di Desa Borai, Distrik Angkaisera, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua masih sangat terbuka. Masyarakat masih belum memanfaatkan bagian-bagian nipah yang lain secara optimal. Sebagai contoh, bagian buah nipah sama sekali belum dimanfaatkan, sementara menurut Baharuddin dan Taskirawati (2009), buah nipah yang masih muda yang disebut tembatuk, dapat dijadikan kolang-kaling, sedangkan buah nipah yang sudah tua dapat ditumbuk dan dijadikan tepung roti.

Prospek pengembangan nira nipah dari “Bobo” menjadi produk lain seperti gula nipah dan bio etanol masih sangat terbuka. Khusus untuk bio etanol, masyarakat setempat belum memahami tentang peluang pemanfaatan nira nipah menjadi bio etanol dan cara mengolah nira nipah menjadi bio etanol, sehingga untuk membuka wawasan masyarakat, diperlukan peran dari Dinas Kehutanan setempat untuk melakukan sosialisasi seputar bio etanol dan proses menghasilkan bio etanol.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat jika ingin mengubah paradigma masyarakat dalam mengolah nira nipah dari “Bobo” menjadi produk lain seperti bio etanol, adalah sebagai berikut:

1. Manfaat ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat bila mengolah nira nipah menjadi produk lain harus lebih besar daripada manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat bila mengolah nira nipah menjadi “Bobo”. 2. Proses pemasaran produk tersebut harus lancar.

3. Ketersediaan bahan penunjang untuk mengolah nira nipah menjadi produk selain “Bobo” harus mudah didapat.

152 -

BPK Manokwari

V. KESIMPULAN

Nipah merupakan tanaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Borai. Bagian-bagian nipah yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah bagian daun nipah yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan atap rumah, dinding rumah, dan pembuatan ketupat untuk sagu, sementara bagian kulit pelepah nipah digunakan sebagai penjepit atap yang terbuat dari daun. Pemanfaatan nira nipah oleh masyarakat Desa Borai, Distrik Angkaisera Kabupaten Yapen masih sampai dalam tahapan menghasilkan produk minuman lokal yang biasa disebut “Bobo”.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, I. Taskirawati. 2009. Hasil Hutan Bukan Kayu. Buku Ajar. Universitas Hasanuddin.

Wikipedia. 2011. Nipah. http://id.wikipedia.org/wiki/Nipah. Diakses tanggal 12 Mei 2011.

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 153

ZAT EKSTRAKTIF KAYU SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PENGAWET

Dalam dokumen Ekspose Hasil-hasil Penelitian i (Halaman 167-175)