Vatica Palaquium
DI TANAH PAPUA
A. Kepastian Kawasan
Papua selain memiliki potensi sumberdaya hutan yang cukup besar baik dipandang dari aspek luas maupun tipe hutannya, juga memiliki keragaman sosial budaya yang sangat besar walaupun jumlah penduduknya sangat kecil bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Masyarakat adat Papua memandang bahwa hutan dan segala isinya dalam wilayah hukum adatnya dimiliki dan dikuasai secara turun temurun baik perorangan maupun kelompok. Berdasarkan pandangan ini, maka seluruh kawasan hutan alam yang berada di Papua terbebani oleh hak masyarakat. Sebagian masyarakat terutama suku-suku di pegunungan Arfak, menganggap hutan sebagai ibu yang senantiasa dengan tulus menyediakan makan bagi kehidupan anak-anaknya. Sebagian suku ada yang mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari pohon jenis tertentu, sehingga keterikatan mereka terhadap hutan sangat erat sekali. Awang (2006) mengemukakan bahwa keterkaitan komunitas masyarakat pada sumberdaya hutan sangat erat dan bahkan di banyak etnik di belahan bumi ini kehidupan mereka sangat bergantung pada potensi yang ada dalam hutan.
Sehubungan dengan kepemilikan hak ulayat dan dengan adanya Perdasus tentang ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu oleh masyarakat hukum adat di Provinsi Papua akan menimbulkan konflik dalam pengelolaan hutan oleh IUPHHK karena tumpang tindihnya kepentingan kepemilikan. Kondisi ini mengakibatkan kendala dalam pengelolaannya karena adanya ambiguen (dualisme) dalam hal kepastian hukum. Di pihak Pemerintah, bahwa areal konsesi sah secara hukum setelah SK IUPHHK diterbitkan. Di pihak masyarakat, bahwa areal konsesi belum sah menurut hukum adat, karena belum ada pelepasan adat. Hal ini akan mengakibatkan perencanaan pengelolaan yang tidak baku dan selalu berubah-ubah. Sukaryanto (2005) mengemukakan bahwa kepastian kawasan unit pengelolaan sulit dilaksanakan karena adanya tumpang tindih ijin pengelolaan dan klaim dari masyarakat yang meyakini kawasan tersebut merupakan kawasan adat atau hak ulayat milik masyarakat.
Untuk itu perlu ada kepastian kawasan unit pengelolaan baik kepastian kawasan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat adat. Kuswandi, et al. (2007) dan Kuswandi (2009) mengemukakan bahwa perlu ditambahkan indikator kepemilikan hak ulayat dalam kriteria dan indikator pengelolaan hutan alam produksi lestari (PHAPL). Simon (1995) mengemukakan bahwa salah satu prasayat kelestarian pengelolaan hutan adalah adanya kepastian batas kawasan hutan yang diakui oleh semua pihak. Tanpa adanya kepastian kawasan yang diakui oleh semua pihak akan menyebabkan terjadinya dualisme kepemilikan yang dapat berakibat pada penurunan potensi tegakan. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi pemanenan berulang pada beberapa areal IUPHHK di Papua yaitu pemanenan oleh IUPHHK sebagai pengelola areal yang diakui oleh pemerintah dan pemanenan oleh masyarakat pemilik hak ulayat. Kondisi ini nampak pada areal IUPHHK yang dekat dengan akses perkotaan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kelestarian hutan baik kelestarian fungsi ekologi dan ekonomi tidak akan terwujud.
100 -
BPK ManokwariB. Kepastian Usaha
Pemberian hak pengelolaan hutan (IPHHK) merupakan pelimpahan wewenang pengelolaan hutan kepada pemegang IUPHHK. Pemindahan hak ada yang bersifat sementara atau yang bersifat permanen (dualisme). Areal/lahan hutan mengikuti kaidah pemindahan hak sementara, mengingat (a) masa konsesi HPH (20 tahun) yang diberikan lebih singkat dibanding rotasi tebang yang ditetapkan (35 tahun), dan (b) hutan bukan merupakan asset perusahaan, melainkan tetap milik negara, dan harus kembali kepada negara setelah masa konsesi berakhir. Namun berbeda dengan areal/lahan hutan, tegakan/pohon yang berdiri di atas lahan tersebut dipindahkan haknya secara permanen. Begitu ijin produksi diberikan dan pohon ditebang, maka pemerintah tidak akan mendapatkan kembali pohon tersebut, sebagai kompensasinya pemerintah mengenakan pungutan-pungutan. Dengan demikian, secara faktual tegakan/pohon telah “dijual” kepada pemegang HPH yaitu seharga pungutan-pungutan (IHPH, PSDH, DR dan nilai tegakan untuk IPK) yang dikenakan (Bramasto, 2001).
Implikasi lain dari pengalihan hak sementara atas lahan hutan menyebabkan pemegang IUPHHK hanya dapat menegakkan hak kepemilikannya sebagai seolah-olah hak milik (quasi private property right) tanpa dapat membuatnya sebagai hak kepemilikan yang tegas (strictly private property right). Ketiadaan hak kepemilikan yang tegas tersebut akan menghilangkan insentif bagi pemegang IUPHHK untuk melakukan investasi jangka panjang. Terutama untuk investasi jangka panjang yang bersifat endogenous, dimana pengamanan hutan, dan pembinaan hutan bekas tebangan menjadi begitu penting.
Seperti diketahui bahwa pengusahaan dibidang kehutanan merupakan usaha jangka panjang, yang dihubungkan dengan waktu (time preference) sehingga sudah barang tentu akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain itu resiko finansial cukup tinggi dalam usaha dibidang kehutanan. Untuk itu diperlukan kepastian usaha dalam waktu jangka panjang.
Dalam pengelolaan hutan alam, kepastian usaha dapat dihubungkan dengan rotasi atau daur. Berdasarkan Permenhut No. 11 tahun 2009 disebutkan bahwa daur atau siklus tebang untuk hutan alam tanah kering adalah 30 tahun untuk diameter tebang ≥ 40 cm pada hutan produksi tetap (HP) dan ≥ 50 cm pada hutan produksi terbatas (HPT). Ijin kelola ini dapat diperpanjang dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah cq Kementerian Kehutanan. Selain itu dalam setiap SK IUPHHK disebutkan jangka waktu konsesi selama 20 tahun untuk rotasi/daur 35 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak ada kepastian usaha untuk jangka panjang.
Dengan keterbatasan jangka waktu pengelolaan mengakibatkan kegiatan pembinaan tegakan hutan alam sebagai salah satu upaya peningkatan produktivitas tegakan seringkali diabaikan. Pengelolaan hutan lebih banyak mengarah pada timber extraction di bandingkan dengan timber management
atau sustainable forest management. Simon (2005) menyebutkan ada 5 kegiatan dalam timber management yang sudah mengarah pada pengelolaan hutan secara lestari yaitu (1) Pembangunan atau penanaman hutan (forest establishment); (2) Pemeliharaan, penjagaan dan peningkatan kualitas tanaman
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 101
hutan (forest culture); (3) Pemanenan (harvesting); (4) Pengolahan hasil hutan (processing) dan (5) Pemasaran hasil hutan (marketing). Dalam prakteknya kegiatan 1 dan 2 jarang dilakukan oleh setiap unit pengelolaan dan apabila dilaksanakanpun hanya sekedar memenuhi ketentuan yang ada yang sudah barang tentu kelestarian hutan tidak akan terwujud.Penanaman hutan membutuhkan waktu yang lama sampai ke masa pemanenan. Untuk pengelolaan hutan alam umumnya bertujuan memenuhi kebutuhan akan kayu pertukangan. Untuk menanam sampai memanen umumnya dibutuhkan waktu antara 20 – 60 tahun. Ironisnya, jangka waktu konsesi hutan alam (IUPHHK-HA) hanya terbatas (20 tahun) dibandingkan dengan jangka waktu konsesi untuk hutan tanaman industri (IUPHHK-HTI) yang notabene daur tanaman sangat singkat antara 5 – 8 tahun. Kondisi ini mengakibatkan pengelolaan hutan lebih banyak kearah timber extraction di bandingkan dengan
timber management atau sustainable forest management. Oleh sebab itu diharapkan ada perubahan jangka waktu konsesi untuk IUPHHK-HA minimal 2 kali umur/daur tanaman jenis kayu pertukangan sehingga kepastian usaha dapat terjamin.
III. SISTEM PENGELOLAAN HUTAN A. Sistem silvikultur
Dalam pengelolaan hutan, agar dapat tercapai tujuan pengelolaannya maka diperlukan suatu sistem pengelolaan yang dikenal dengan sistem silvikultur. Sistem Silvikultur adalah sistem pemanenan sesuai tapak/tempat tumbuh berdasarkan formasi terbentuknya hutan yaitu proses klimatis dan edaphis dan tipe-tipe hutan yang terbentuk dalam rangka pengelolaan hutan lestari atau sistem teknik bercocok tanaman hutan mulai dari memilih benih atau bibit, menyemai, menanam, memelihara tanaman dan memanen (Dephut, 2009)
Dewasa ini sistem silvikultur yang dikenal dalam pengelolaan hutan di Indonesia sesuai dengan Permenhut No. 11 tahun 2009 adalah sistem silvikultur berdasarkan umur tegakan dan sistem pemanenan (Dephut, 2009). Dalam penerapannya, sebagian besar IUPHHK menggunakan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), dimana salah satu ketentuan utama dalam sistem ini adalah limit diameter pohon yang dapat ditebang. Ditentukan bahwa untuk tipe hutan tanah kering, limit diameter pohon yang boleh ditebang adalah 40 cm pada hutan produksi (HP) dan 50 cm pada hutan produksi terbatas (HPT). Dengan adanya potensi dan struktur tegakan yang bersifat site-spesific, maka pemberlakuan ketentuan-ketentuan tersebut secara seragam untuk semua kondisi hutan akan menimbulkan permasalahan di lapangan. Pada kondisi hutan produksi yang potensinya sangat besar, penerapan ketentuan tersebut akan memberikan peluang terjadinya pengurasan sumberdaya hutan secara besar-besaran. Sedang pada kondisi hutan produksi yang potensinya sangat kecil dimana diameter pohonnya relatif kecil-kecil akan mengakibatkan permasalahan terhadap kesehatan perusahaan secara finansial yang diakibatkan oleh jumlah pohon yang ditebang sedikit. Oleh sebab itu, penerapan limit diameter pohon
102 -
BPK Manokwariyang boleh ditebang tidak ditentukan secara seragam untuk semua tempat, melainkan perlu disesuaikan dengan potensi dan struktur tegakan setempat
Implementasi penerapan sistem silvikultur sesuai Permenhut tersebut diatas masih mengalami banyak kendala dan perlu ada kajian yang lebih komprehensif. Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikultur dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi terdapat beberapa hal yang kotradiktif dengan hasil diatas. Pada pasal 8 disebutkan bahwa limit diameter tebang diturunkan menjadi ≥ 40 cm pada hutan produksi tetap dengan daur atau rotasi diperpendek menjadi 30 tahun. Kondisi ini dikhawatirkan menyebabkan pengelolaan hutan lestari akan semakin sulit terwujud karena penentuan tebangan tidak berdasarkan kemampuan riap kayu dari seluruh kawasan hutan atau over cutting. Disisi lain pada pasal 11 disebutkan bahwa perubahan daur dan atau siklus tebang dan atau diameter tebang dapat dimohon kepada Menteri, dan Menteri menugaskan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan untuk melakukan kajian. Hal ini dapat menyebabkan ambiguen dan kesulitan dalam penerapan di lapangan baik oleh pihak pengelola (IUPHHK) maupun instansi teknis sebagai pembina dan pengawas.