• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengumpulan Data dan Analisis

Dalam dokumen Ekspose Hasil-hasil Penelitian i (Halaman 52-56)

PAPUA BARAT

D. Pengumpulan Data dan Analisis

Dalam tahun anggaran 2010, data yang dikumpulkan adalah kondisi biofisik wilayah meliputi ; topografi/kelerengan, kondisi tanah, vegetasi, geologi, aspek tata air meliputi bulk density, infiltrasi, curah hujan. Data yang diperoleh ditabulasi, kemudian dianalisis secara deskriftif.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi biofisik lahan di daerah Gunung Botak sangat bervariasi yang meliputi unsur topografi/kelerengan, tanah, vegetasi dan aspek-aspek tata air. Hal-hal penting yang dapat disarikan dari hasil penelitian ini adalah :

1. Tanah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa assosiasi jenis tanah daerah ini tergolong dalam kelompok besar (great group) typic halpudult, order jenis oxisol yang telah membentuk horizon timbunan, tetapi belum memenuhi syarat argilik. Lahan ini telah tererosi berat dan yang tertinggal adalah bahan induk tanah dan batuan. Dari pengamatan singkapan batuan, jenis batuan yang ditemukan berupa batuan sedimen : batu pasir, batu lanau, dan batuan serpih. Bahan induk tanah berupa bahan induk sedimen berbahan hematite dan limonite. Bahan hematite dan limonite dapat dilihat pada Gambar.1. dan 2.

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 31

Gambar3.

Warna tanah coklat kekuningan, tidak lekat, tektur geluh pasiran, struktur gumpal membulat. Drainase lambat, infiltrasi lambat. Gambaran mengenai profil tanah Gunung Botak dapat di lihat pada Gambar. 2.

Gambar2. Gambaran profil tanah gunung botak

Tektur tanah merupakan satu salah sifat fisik tanah yang menggambarkan proporsi fraksi pasir, debu dan lempung dalam tanah. Tektur tanah berkaitan erat dengan kondisi porositas tanah. Tanah pasiran didominasi oleh pori makro sehingga mudah meloloskan air, sebaliknya pada tanah lempungan daya lolos air dalam tanah sangat lambat. Hasil pengamatan dengan metode pemijatan, tanah Gunung Botak digolongkan dalam kelas tektur geluh pasiran, maka sebagian curah hujan akan menjadi bagian dari run off.

2. Bulk Density

Bulk density atau kerapatan lindak atau berat volume tanah adalah massa tanah/satuan volume tanah. Tanah mineral rata-rata mempunyai kerapatan lindak 1,3 g/cc. Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa kerapatan lindak tanah Gunung Botak antara 1,04 - 1,18 g/cc. Ini berarti mendekati kerapatan lindak tanah mineral pada umumnya

3. Topografi

Topografi daerah penelitian bervariasi dari kategori bergelombang, berbukit sampai bergunung. Hampir 70 % wilayah Gunung Botak berada pada kelerengan 30-35 %. Tingkat kelerengan sebagian wilayah Gunung Botak disajikan pada gambar 3. dan 4.

Gambar 3 dan 4. Kondisi topografi Daeah gunung botak (lokasi sekitar kampung Yekwandi)

4. Vegetasi

Daerah ini hampir seluruhnya ditumbuhi oleh vegetasi dari famili Gramineae dan salah satu species vegetasi dari famili Gramineae yang mendominir daerah

32 -

BPK Manokwari

ini adalah Miscanthus floridulus Warb. Dijumpai pula jenis Nephentes sp. (kantong semar) yang merupakan indikator tanah agak masam dan terdapat pula beberapa individu jenis Melastoma polyanthum.

5. Geologi

Ditinjau dari aspek biogeofisik, Gunung Botak terbentuk oleh peristiwa tektonik lipatan (folding) yang menyebabkan terbentuknya formasi fisiografi pegunungan. Wilayah ini disebut Gunung Botak karena memang secara fisik sudah tampak gundul. Tanaman yang tumbuh hanya rumput-rumputan saja. Lapisan atas tanah (top soil) telah hilang dan yang tinggal hanya subsoil dan batuan induk yang miskin hara tanaman. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, wilayah ini sering terbakar, sehingga diasumsikan bahwa kondisi seperti ini terbentuk karena lahan sering terbuka ditunjang dengan lereng yang curam antara 30-45%, menyebabkan tanah tererosi berat. Bentuk-bentuk erosi berupa erosi parit (Gully erosion) dengan lebar sekitar 4-5 meter dan kedalaman 1-2 meter. Erosi berat ini menyebabkan semua lapisan atas tanah hanyut dan yang tertinggal hanya bahan induk dan batuan. Selanjutnya kondisi Gunung Botak dan formasi lipatan berturut-turut dapat dilihat pada Gambar 1. dan 2.

Gambar 1. Kondisi topografi gunung botak Gambar 2. Formasi lipatan (folding)

6. Curah Hujan

Tipe curah hujan daerah sekitar Gunung Botak menurut kriteria Schmid and Fergusson, (1951) adalah tipe “B” dengan curah hujan rata-rata tahunan 1582 mm. Awal musim hujan rata-rata jatuh pada bulan Nopember sampai Januari dan berakhir pada bulan Juni.

7. Infiltrasi

Kapasitas infiltasi adalah laju tertinggi dimana air dapat diserap oleh tanah. Air yang terinfiltrasi ke dalam tanah berperan penting dalam kontribusi air bumi dan sumber air yang dibutuhkan oleh mahluk hidup. (Asdak, 2002) menyatakan bahwa informasi menyangkut infiltrasi sangat penting artinya dalam hubungannya dengan run off pada kondisi dimana terdapat vegetasi penutup tanah. Hasil pengamatan infiltrasi pada lahan terdegradasi di Gunung Botak rata-rata 0,038 mm/menit dengan persamaan Y = 0,035 x2 – 0,607 x + 3,428 dengan R2= 0,875.

Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011

- 33

Hasil pengukuran di lapangan menunjukkan bahwa laju masuknya air ke dalam tanah tergolong sedang sampai lambat yakni yang terendah 0,0019 dan yang tertinggi 0,050 cm/detik atau 6,84 cm/jam dan 180 cm/jam. Dari beberapa kali pengukuran diperoleh pola infiltrasi seperti pada gambar berikut.

Pada dasarnya tiga blok pengukuran menunjukkan pola yang sama dan mulai konstan pada pengukuran ke 4 dan ke 5 yang berarti pada saat itu tanah sudah mulai jenuh dengan air yaitu pada menit ke empat dan ke lima dan pada saat itu bila curah hujan melebih kapasitas infiltrasi maka sebagian curah hujan akan menjadi bagian dari run off.

8. Permiabilitas tanah

Permiabilitas tanah adalah kemampuan tanah meloloskan air atau daya lolos air dalam tanah (Arsyad, 1989, Calder, 2004). Hasil pengukuran permiabilitas tanah Gunung Botak berkisisar antara 0,0013-0,008 cm/detik atau sama dengan 4,68-28,8 cc/jam, tergolong lambat sampai sedang.

9. Erosi

Erosi yang terjadi di Gunung Botak sudah digolongkan berat, hampir semua

top soil sudah hilang dan tinggal bahan induk dan batuan, yang banyak tersingkap di atas permukaan tanah. Bentuk-bentuk erosi yang teramati adalah erosi parit (gully erosion) dengan lebar sekitar 4-6 meter dengan kedalaman antara 1-3 meter. 0.0030 0.0027 0.0023 0.0019 y = 0.0031x-0.3216 R2 = 0.8907 0.0000 0.0005 0.0010 0.0015 0.0020 0.0025 0.0030 0.0035 0 1 2 3 4 5

Wak tu Pe nguk uran Ke

In fi lt ra si c m /s ec 0.0094 0.0046 0.0055 0.0043 0.0034 0.0052 y = 0.0078x-0.3906 R2 = 0.532 0.0000 0.0010 0.0020 0.0030 0.0040 0.0050 0.0060 0.0070 0.0080 0.0090 0.0100 0 2 4 6 8 Pengukuran Ke In fil tra si (c m /s ec ) 0.050 0.038 0.035 0.030 0.026 0.025 0.025 y = 0.0008x2 - 0.0107x + 0.0585 R2 = 0.978 0.000 0.010 0.020 0.030 0.040 0.050 0.060 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu Pengukura Ke In fi lt ra s i (c m /s e c )

34 -

BPK Manokwari

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Kondisi biofisik lahan terdegradasi Gunung Botak beragam. Lahan Gunung Botak tergolong tanah marginal, miskin hara, agak masam, jenis tanah ultisol, bahan induk hematite, dan limonite.

2. Infiltrasi rendah, bulk density sedang, permiabilitas tergolong lambat sampai sedang dengan tipe curah hujan tergolong tipe B (schmid & fergusson), awal musim hujan rata-rata jatuh pada bulan Desember-Januari. Topografi secara umum tergolong topografi berat. Vegetasi pada lahan terdegradasi didominir oleh famili Gramineae dengan jenis dominan Miscanthus floridulus Warb.

B. Saran

1. Lahan terdegradasi Gunung Botak perlu di rehabilitir (reforestasi)

dengan penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan tata air dengan jenis yang memiliki evapotranspirasi rendah, intersepsi rendah,dan dapat beradaptasi pada suhu tinggi.

2. Kajian dan riset berbagai aspek antara lain kesesuaian jenis-jenis vegetasi terutama jenis-jenis andalan Papua dan pola partisipatif yang lebih mendalam perlu dilakukan.

Dalam dokumen Ekspose Hasil-hasil Penelitian i (Halaman 52-56)