Vatica Palaquium
METODOLOGI PENELITIAN
C. Proses Penelitian
2. Kepemilikan Atas Tanah
Masalah penjaminan hak-hak dasar masyarakat papua atas tanah merupakan hal yang sangat penting mengingat tanah dan hutan identik dengan kehidupan masyarakat Papua. Kepemilikan atas tanah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku yakni:
a. UU No. 5, Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Undang-undang ini menjamin hak masyarat adat atas tanah selama hak itu masih ada dan diakui serta tidak bertentangan dengan kepentingan negara. Undang-undang inilah yang pertama kali menyebutkan mengenai “ hak ulayat “. Dalam kenyataannya hal ini sulit untuk diwujudkan karena konsep hutan negara yang membuat adanya konflik kepentingan antara negara dan masyarakat.
b. UU No. 5, Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi).
c. UU No. 23, Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU Lingkungan Hidup).
d. UU No. 41, Tahun 1999 tentang Kehutanan (UU Kehutanan)
e. UU No. 21, Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (UU Otsus).
f. UU No. 26, Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU Tata Ruang).
g. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan.
h. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan. i. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008.
j. Inpres No. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 129
l. Perdasus No. 23 Thn 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat danHak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat atas Tanah.
m. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 68/Menhut-II/2008 tentang Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan.
n. Kepmenhut No: P. 30/Menhut-II/2009 ttg Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD). (Mansai, 2009).
o. Perencanaan spasial pembangunan kehutanan dan pengelolaan sumber daya hutan Papua (Irian Jaya) pertama kali dilakukan dan dilaksanakan berdasarkan Peta TGHK Provinsi Irian Jaya Tahun 1982 seluas 41.006.000 Ha (SK Mentan No 820/Kpts/Um/II/ 1982) yang kemudian tahun 1999 ditinjau kembali dan dipaduserasikan dengan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Irian Jaya tahun 1999 dan keluarlah Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Irian Jaya seluas 42.224.840 Ha (SK Menhutbun No 891/Kpts-II/ 1999), dimana kawasan hutan Irian Jaya/Papua menurut peruntukan dan fungsinya terdiri dari Hutan Konservasi seluas 9.704.300 Ha, Hutan Lindung seluas 10.619.090 Ha, Hutan Produksi seluas 10.582.210 Ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 2.054.110 Ha, dan Hutan Produksi yang dapat di Konversi seluas 9.262.130 Ha (Kapisa, 2010). Peta kawasan hutan dan perairan yang telah dilepaskan di Propinsi Papua dan Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini:
Sumber : Kapisa, 2010
Gambar 1. Peta pelepasan kawasan hutan dan perairan di Propinsi Papua dan Papua Barat
Kepemilikan atas tanah sangat potensial dalam menyebabkan konflik karena dalam kawasan-kawasan yang ada telah dimiliki secara adat oleh kelompok masyarakat adat. Sebanyak 250 suku yang ada di Papua telah tersebar di dalam kawasan-kawasan yang ada dimiliki secara adat. Hal itu dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini:
130 -
BPK ManokwariSumber: Kapisa, 2010
Gambar 2. Peta tentang pemukiman yang berada di dalam kawasan hutan 3. Dukungan Adat-istiadat
Masyarakat Papua secara turun-temurun hidup di dalam dan di sekitar hutan. Kearifan lokal yang timbul sebagai upaya masyarakat untuk hidup berdampingan dengan hutan dan memanfaatkan hutan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dengan tetap menjaga agar kelestariannya tetap terjaga.
Dalam masyarakat pegunungan Arfak dikenal semboyan Igya ser hanjop
yang berarti hutan kita jaga. Hutan dibagi fungsinya menurut ciri dan manfaatnya yakni Bahamti, Nimahamti dan Susti.
Bahamti dicirikan dengan pohon-pohon yang berukuran besar dan berlumut. Kawasan ini merupakan hutan primer yang tidak boleh ditebang oleh manusia. Dengan demikian aktifitas berkebun tidak boleh ada di kawasan ini. Akan tetapi untuk alasan tertentu seperti kekurangan bahan dinding rumah yang sudah tidak ditemui di kawasan lain, dapat diambil di tempat ini dengan ijin dari
andigpoy.
Nimahamti adalah kawasan penyangga karena terdapat pada areal yang sangat berat topografinya. Masyarakat diperbolehkan untuk berburu dan meramu di tempat ini juga mereka dapat mengumpulkan rotan (Calamus sp) dan kulit kayu, akan tetapi tidak bisa untuk berkebun mengingat kondisi yang terjal serta suhunya yang sangat dingin. Kawasan ini sangat lembab dan lumutnya pun sangat tebal. Kegiatan pemanfaatan hasil hutan masih sangat terbatas dan tergantung ijin dari Andigpoy. Pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut memperoleh sanksi yang diputuskan oleh nekei melalui sidang adat.
Susti merupakan kawasan yang dapat dimanfaatkan secara bebas baik untuk berkebun, berburu dan meramu. Kawasan ini umumnya adalah kawasan kebun berpindah (gilir balik) yang dibiarkan menjadi hutan kembali (hutan
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 131
sekunder). Semua anggota masyarakat dapat memanfaatkan kawasan ini termasuk perempuan dan anak-anak.Sementara itu dalam masyarakat Wamena juga dikenal pembagian fungsi hutan menurut jenis pangan yang terdapat di dalamnya. Pembagian ini sangat menguntungkan bila saat pemanenan tiba, masyarakat tidak membuang banyak waktu di perjalanan namun langsung menuju ke tempat sumber pangan. Adapun pembagian wilayah sumber pangan adalah sebagai berikut:
1. Tomoba yang merupakan kawasan yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gunung.
2. Wiramokama; tempat kelapa hutan yakni kelapa hutan yang berukuran kecil (wiramo).
3. Sakalimo; tidak ada kayu namun tumbuhan yang tumbuh adalah jenis rumput yang berukuran kecil.
4. Dimekama; berasal dari kata dim yang artinya kelapa hutan yang berukuran besar.
5. Pilikhila; Tempat yang paling sudut yang merupakan tempat/lokasi untuk berburu babi hutan.
6. Hawisekama; belum lewat weremokama di mana terdapat pohon-pohon besar, yang dapat diambil sebagai kayu produksi dan kayu pertukangan.
7. Ikewa/bidiba (puncak trikora); yang berupa vegetasi Alpin.
8. Hasuba; tempat dimana tidak ada manusia maupun babi hutan 4. Adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim
Sumber: Mujiyanto, 2010
Adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim lebih didasarkan pada pengetahuan lokal dan kebiasaan yang telah lama ada. Hal ini berjalan sesuai dengan perubahan yang terjadi sehingga tidak dapat dipastikan menurut waktu yang jelas.
Skema di atas menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam kehidupannya yang dipengaruhi oleh berbagai hal seperti lingkungan hidup, sosial budaya, mata pencaharian, sumberdaya alam dan hal-hal lain yang berkaitan.
132 -
BPK ManokwariPerubahan iklim yang terjadi merupakan proses yang telah terjadi selama waktu yang panjang akibat adanya peningkatan suhu bumi (global warming) sebagai peningkatan jumlah emisi karbon di udara. Pemerintah menghimbau pelaksanaan pembangunan yang rendah karbon dan ekonomi yang berwawasan lingkungan (green economy). Salah satu penyebab peningkatan emisi karbon dari sektor kehutanan adalah deforestasi dan degradasi hutan. Pada kedua propinsi di Papua yakni Propinsi Papua dan Papua Barat, luas daerah yang telah mengalami deforestasi dan degradasi hutan sejak tahun 2000-2005serta emisi CO2 dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 berikut ini:
Tabel 2. Luas daerah terdampak deforestasi dan degradasi hutan 2000-2005
Wilayah
Dry Land Forest (ha)
Konservasi Konversi APL Hutan Produksi Perlindungan Total
Non-Papua
Barat 1,846 11,012 43 1,588 10,626 1,224 26,339
Papua Barat
Kepulauan 43 623 - - 386 236 1,288
Wilayah Peatswampi (ha)
Konservasi Konversi APL
Non-Hutan Produksi Perlindungan Total
Papua Barat 902 2,125 - 193 2,576 43 5,839 Papua Barat Kepulauan - 773 - - 43 - 816 Sumber: IFCA (2008) dalam Taskforce Papua Barat (2010)
Tabel 3. Rataan dan standar deviasi emisi CO2 dari deforestasi dan degradasi hutan pada 2000-2005 (x 1000 ton)
wilayah Konservasi Konversi APL total
Mean Stdev* Mean Stdev* Mean Stdev*
Papua Barat 2,134 244 10,264 1,350 34 5 14,031 Papua Barat Kepulauan 33 6 1,151 117 - - 1,307
Wilayah Non-Hutan Produksi Perlindungan Total
Mean Stdev* Mean Stdev* Mean Stdev*
Papua Barat 1,332 187 10,592 1,278 945 143 14,477 Papua Barat Kepulauan - - 307 49 117 30 503 APL: Areal Penggunaan Lain
Sumber: IFCA (2008) dalam Taskforce Papua Barat (2010)
Di Papua perubahan cuaca secara mikro telah dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan jumlah hujan yang relatif sama sepanjang tahun. Keterbatasan dalam data curah hujan dalam jangka waktu yang panjang serta minimnya stasiun meteorologi yang dapat menjangkau daerah penelitian menyebabkan kurangnya data yang diperoleh secara lengkap.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 133
KESIMPULAN DAN SARANA. Kesimpulan
1. Masyarakat Papua merupakan masyarakat yang umumnya hidup bergantung pada hutan. Hutan merupakan pemberi kehidupan bagi masyarakat.
2. Kepemilikan atas tanah dan hutan merupakan hak dasar masyarakat adat Papua. Perundang-undangan baik dalam skala nasional maupun daerah belum menyebutkan secara jelas mengakui hak ulayat selain tanah milik negara yang dikenai hak adat.
3. Masyarakat Papua secara turun-temurun memiliki nilai-nilai adat yang bernilai konservasi sehingga hutan dan alam dapat terjaga kelestariannya.
4. Dengan nilai-nilai tradisional yang dimiliki, masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi. Faktor-faktor yang rentan terhadap dampak perubahan iklim meliputi faktor biofisik areal desa, lahan pertanian dan lingkungan karena posisi wilayah yang berada pada topografi yang berat dan rawan erosi.
B. Saran
1. Perlu ada penjelasan yang memadai mengenai program-program yang menyangkut perubahan iklim secara jelas kepada masyarakat.
2. Perlu ada keikutsertaan masyarakat dalam implementasi program pemerintah.
3. Sinkronisasi antara pengetahuan adat yang telah dimiliki masyarakat dengan program konservasi yang akan dilakukan pemerintah sehingga konflik dapat dihindarkan.
134 -
BPK ManokwariDAFTAR PUSTAKA
Handoko, I., Sugiarto, Y., & Syaukat, Y. 2008. Keterkaitan Perubahan Iklim dan Produksi Pangan Strategis: Telaah Kebijakan Independen dalam Bidang Perdagangan dan Pembangunan. Seameo Biotrop for Kemitraan (Partnership). Bogor.
Kapissa, N. 2008. Balai Pementapan Kawasan Hutan Wilayah X Papua: Integrasi Kesatuan Pengelolaan Hutan Dalam Kebijakan Pengelolaan Hutan berkelanjutan di Papua. Makalah Dalam Seminar Forum Komunikasi Multi Pihak di Tanah Papua-Swiss_Belhotel, 28 Juli 2008. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari.
Kapisa, N. 2010. Intergrasi Kesatuan Pengelolaan Hutan Dalam Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Papua (Integration of the Forest Management Unit within Sustainable Forest Management Policy in Papua.
Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X Papua.
Mansai, A. 2009. Kebijakan Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat di Kawasan Hutan.
Mujiyanto. 2010. Adaptasi Masyarakat Adat Terhadap Perubahan Iklim. Direktur Eksekutif PERDU. Bahan Sharing Dalam Kegiatan Forum Multi Pihak dan Gelar Teknologi-Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Hotel Aston Niu-Manokwari, 25-26 Agustus 2010.
Salosa, S. 2008. Changing Pattern of Plant Use in South Sorong, West Irian Jaya (Papua). Master Thesis. University of Hawaii at Manoa. Manoa. (tidak dipublikasikan)
Taskforce Papua Barat. 2010. Rencana Pembangunan Ekonomi Rendah Karbon Propinsi Papua Barat: Proposal disampaikan kepada Tim Satuan Tugas REDD Plus Republik Indonesia. Manokwari.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 135
MAKALAH PENUNJANG
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2011
- 137
BIO ETHANOL DARI NIPAH(Nypa fruticans Wurmb)
Oleh:
Freddy Jontara Hutapea
Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
Jalan Inamberi – Susweni , Manokwari 98131, Papua Barat Telp. (0986)-213437 / 213440 ; Fax. (0986)-213441 / 213437
Abstrak
Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu tanaman potensial untuk dikembangkan menjadi sumber energi alternatif pengganti energi fosil. Keberadaan tanaman ini sebagai tanaman penghasil energi alternatif memiliki prospek pengembangan yang sangat cerah, disamping karena potensinya yang sangat besar (diperkirakan 1.150.000 ha), prospek pengembangan nipah sebagai tanaman penghasil energi alternatif juga tidak menyebabkan konflik kepentingan seperti penggunaan tanaman pangan sebagai sumber energi alternatif pada umumnya. Bio ethanol merupakan salah satu energi alternatif yang dihasilkan dari bahan baku alami seperti tumbuhan berpati, bergula, dan berselulosa. Proses penyulingan bio ethanol dari nipah terdiri dari persiapan bahan baku, proses fermentasi nipah, dan proses pemurnian ethanol (destilasi).
138 -
BPK ManokwariI. PENDAHULUAN