• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUMMYPemilihan Pendekatan/Orientasi Supervisi Pengajaran yang

Digunakan dalam Pembinaan Guru

Salah satu problem dalam kegiatan supervisi pengajaran yang langsung menyentuh dan sangat menentukan keberhas ilan supervisi pengajaran adalah memilih pendekatan yang digunakan. Hal ini disadari karena selama ini diakui dalam kenyataan praktik penyelenggaraan sekolah, supervisi pengajaran sudah sangat dikenal dan bahkan sudah sering dilakukan di sekolah-sekolah, tetapi belum menampakkan hasil yang optimal. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh karena pelaksanaannya sendiri belum didasarkan oleh suatu konsep dasar dan pendekatan/orientasi yang tepat. Dengan kata lain pelaksanaan supervisi pengajaran yang sering dilakukan belum mem perhitungkan situasi, kondisi dan tipe/karakteristik guru yang disupervisi, sehingga sering terjadi semua guru disupervisi dengan cara yang sama. Padahal seha rusnya cara dan orientasi supervisi pengajaran harus didasarkan pada karakteristik orang yang disupervisi, sebab dalam dunia ini tidak akan ada dua orang yang sama meskipun mereka saudara kembar (individual defer ences). Keadaan ini menumbuhkan pertanyaan seperti: Apakah seorang supervisor harus menggunakan pendekatan direktif, kolaboratif atau pendekatan non direktif dalam melakukan pembinaan terhadap guru.

Untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut berikut ini akan diuraikan macam pendekatan, perilaku supervisor dalam masing-masing pendekatan dan bagaimana memilih pendekatan yang paling cocok sesuai dengan karakteristik guru.

Menurut Glickman (l98l), perilaku supervisor dalam proses supervisi pengajaran pada dasarnya digolongkan ke dalam 10 perilaku yaitu: listening,

clarifying, encouraging, presenting, problem solving, negotiating, demonstrating, standardization, dan reinforcing. Ke sepuluh perilaku supervisor tersebut akan

dijelaskan masing-masing di bawah ini.

1. Mendengarkan (Listening), berarti supervisor mendengarkan segala apa yang diungkapkan oleh guru, baik masalah, kendala, kekuatan maupun kelemahan guru menurut penilaian mereka sendiri dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Untuk itu supervisor harus memiliki kemampuan untuk menyimak semua pembicaraan guru dan membuat rekaman tentang apa yang disampaikan guru tentang dirinya. Dalam hal ini supervisor jangan menginterupsi pembicaraan guru.

Supervisor memberikan kebebasan kepada guru untuk mengungkapkan segala sesuatu tentang dirinya dengan segala permasalahan yang dihadapinya khususnya permasalahan yang memengaruhi kinerjanya

DUMMY

sebagai guru. Bahkan apabila guru tidak dapat mengungkapkan tentang dirinya, supervisor harus dapat mendorong dan mengarahkan agar guru memiliki keberanian banyak bercerita menurut bahasa dan persepsinya sendiri secara bebas tanpa tekanan apalagi paksaan. Dengan demikian guru akan bercerita apa yang sebenarnya tentang dirinya.

Di sini diperlukan kemampuan supervisor dalam menggali informasi dan memicu munculnya informasi dari guru.

2. Mengklarifikasi (Clarifying), berarti supervisor mempertegas apa yang dikemukakan oleh guru tentang masalah yang dihadapinya dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Mempertegas kembali dalam hal ini adalah merumuskan apa sebenarnya masalah utama/pokok yang dihadapi guru, sebab ada kemungkinan guru tidak tahu atau tidak mengerti apa sebenarnya masalah pokok yang dihadapinya dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, misalnya dengan mengajukan pertanyaan “ Apa yang kamu maksudkan dengan sulit memotivasi siswa dalam belajar……?” atau apakah yang bapak/ibu maksudkan dengan kurang perhatian anak dalam belajar itu siswa banyak bicara dengan teman membuat keributan sendiri atau apa....?

3. Mendorong (Encouraging), berarti supervisor mendorong guru agar bersedia kembali mengemukakan masalahnya apabila dirasa tidak jelas. Dalam hal ini supervisor dapat mengemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan agar guru mengungkapkan masalahnya secara terbuka. Guru sering mengungkapkan permasalahan yang sifatnya hanya kulit luar dari permasalahan, sehingga bukan masalah sebenarnya. Untuk itu diperlukan kemampuan teknik bertanya dari seorang supervisor. 4. Mempresentasikan (Presenting), berarti supervisor menyajikan atau

menyampaikan dan mengemukakan pemikiran-pemikirannya tentang strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah atau upaya yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya, sehingga dapat meningkatkan mutu hasil belajar siswa.

Dalam kaitan ini diperlukan kemampuan supervisor menyajikan gagasan secara menarik, mudah dipahami, mudah dicerna dan menumbuhkan motivasi bagi guru untuk mengetahui lebih dalam.

5. Memecahkan masalah (Problem Solving), berarti supervisor berupaya memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru bersama-sama dengan guru. Peran supervisor lebih diutamakan sebagai pemancing lahirnya alternatif-alternatif pola pemecahan masalah oleh guru sendiri.

DUMMY

Dalam perilaku ini supervisor dituntut untuk dapat bekerja bersama guru merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang strategis dalam mengatasi masalah proses pembelajaran di dalam kelas. Meskipun demikian supervisor tidak boleh memaksakan salah satu alternatif untuk wajib digunakan guru, tetapi semua diserahkan kepada guru untuk memilih strategi alternatif terbaik menurut kemampuan dirinya. Oleh karena itu, guru dan supervisor sebenarnya adalah team work dalam memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah.

6. Bernegosiasi (Negotiating), berarti supervisor membuat kesepakatan pembagian tugas bersama guru, tentang apa dan bagaimana upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah. Kemampuan bernegosiasi memerlukan kemampuan seorang supervisor dalam berbagi peran dalam menjalankan alternatif yang telah disepakati sebelumnya. Dengan demikian, akan jelas apa yang harus dilakukan guru dan apa yang harus dilakukan supervisor dalam memperbaiki proses pembelajaran.

7. Mendemonstrasikan (demonstrating), berarti supervisor mendemon-strasikan/menunjukkan atau memberi contoh tentang performansi tertentu yang seharusnya dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Banyak guru yang paham tentang prosedur mengajar yang baik, tetapi sering pada saat melaksanakannya menjadi masalah. Oleh sebab itu supervisor harus mampu memberi contoh langsung tentang bagaimana melakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan, model, strategi atau metode yang kreatif dan inovatif. Di sini menuntut kemampuan dan keterampilan guru memberikan contoh mengajar yang baik dengan berbagai strategi pembelajarannya.

8. Mengarahkan (Directing), berarti supervisor memberikan arah secara pasti tentang apa dan bagaimana seharusnya guru. Sebagai tindak lanjut dari contoh langsung selanjutnya supervisor dapat meminta guru untuk melakukan seperti yang dicontohkan oleh supervsior, sementara supervisor melakukan pengamatan dan memberi arahan untuk menyempurnakan penampilan guru yang mencoba melakukan sebagaimana dicontohkan oleh supervisor.

9. Membuat standar (Standardization), berarti supervisor membuat standar tertentu yang sebaiknya dilakukan dalam proses belajar mengajar atau mengadakan penyesuaian bentuk pengajaran bersama-sama guru. Misalnya sesuai kesepakatan kita hari ini, maka minggu depan saya ingin

DUMMY

melihat bapak/ibu dalam mengajar minimal menggunakan alat bantu pengajaran yang dibuat oleh guru dari barang bekas. Atau supervisor minta kepada guru minggu depan saya ingin melihat bapak/ibu mengajar menggunakan 3 (tiga) model gabungan pendekatan kolaboratif yang dapat memicu kreativitas dan inovasi siswa.

10. Memberi penguatan (Reinforcing) kepada orang yang disupervisi. Ini berarti supervisor menggambarkan kondisi-kondisi yang menguntungkan bagi guru kalau dia dapat melaksanakan proses pembelajaran secara baik, atau memberikan pujian-pujian, harapan promosi dan sebagainya. Supervisor dalam memberikan penguatan harus berdasarkan kenyataan, bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk menyenangkan hati guru.

Kesepuluh perilaku tersebut selanjutnya digolong-golongkan sehingga dipe roleh 3 (tiga) macam orientasi perilaku/pendekatan dalam supervisi pengajaran, yaitu:

1. Orientasi/Pendekatan Directive

Dalam orientasi ini seorang supervisor apabila melihat guru menghadapi masalah, maka dia langsung memberikan arahan kepada permasalahan yang dihadapi oleh guru. Beberapa supervisor merasa dan menganggap pera nannya sebagai pemberi arahan secara jelas dan konkret tentang materi, isi dan teknik serta strate gi belajar mengajar kepada guru-guru tanpa membeda kan karakter guru dan kematangannya. Supervisor yang demikian beranggapan bahwa guru adalah orang yang belajar dan dalam proses pertumbuhan profesi nya. Dengan demikian, guru memerlukan berbagai infor masi, pengetahuan dan lain-lain tentang tugasnya dalam melaksanakan proses belajar mengajar dari orang lain (dalam hal ini supervisor). Asumsi ini mendasari keyakinan supervisor bahwa guru tidak akan berkembang dan tumbuh pengetahuannya apabila tidak diberi secara langsung informasi yang terkait dengan tugasnya (asumsi ini mirip dengan teori X yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya malas, karena itu harus dipacu langsung untuk dapat bertumbuh. Dengan asumsi inilah maka perilaku supervisor menggunakan pendekatan direktif, ditunjukkan dengan indikator perlaku yang ditunjukkannya dalam supervisi adalah: klarifikasi (menjelaskan), menyajikan (presenting), mengarahkan (directing), mendemonstrasikan (demonstrating), menstandardisasi dan penguatan (reinforcing).

Apabila supervisor menggunakan orientasi ini dalam melaksanakan supervisi pengajaran, maka aplikasinya adalah sebagai berikut:

DUMMY

a. Pada saat pertemuan awal supervisor mengklarifikasi masalah-masalah yang dihadapi guru sambil bertanya kepada guru untuk mengonfirmasi dan revisi. Di samping itu, supervisor mempresentasikan gagasannya serta pemikirannya tentang permasala han.

b. Supervisor mengadakan pengamatan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan untuk memperoleh data-data.

c. Setelah data terkumpul dan dianalisis, supervisor mendemonstrasikan perilaku pengajaran yang tepat. Pada saat ini juga supervisor menetapkan standar pencapaian serta penguatan baik dalam bentuk insentif maupun sosial.

2. Orientasi Collaborative

Seperti diuraikan pada bagian terdahulu bahwa pendekatan kolaboratif merupakan pendekatan moderat yang berada di tengah-tengah perilaku direktif dengan pendekatan non direktif. Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah keyakinan bahwa guru dan supervisor memiliki peran penting dalam memecahkan masalah dan guru pada dasarnya memiliki potensi untuk memecahkan masalahnya secara mandiri apabila dibantu bersama-sama dengan orang lain dalam hal ini supervisor. Seorang supervisor yang menggunakan pendekatan ini dapat dilihat dari perilakunya sebagai berikut: mendengarkan (listening), mempresentasikan (present ing), pemecahan masalah (problem solving) dan nego siasi (negotiating).

Hasil akhir dari proses super visi dalam pendekatan ini adalah kontrak kerja antara supervisor dengan guru (orang yang disupervisi).

Dalam aplikasinya orientasi ini tampak sekali bahwa peranan supervisor dan guru sama kuat. Seti daknya ada empat perilaku yang menonjol: a. Supervisor mendengarkan masalah-masalah yang dikemukakan oleh

guru, sehingga dapat dipahami secara utuh semua permasalahan beserta aspek-aspek masalahnya oleh supervisor.

b. Supervisor mempresentasikan alternatif-alternatif pemecahan masalah untuk dipadukan dengan alterna tif-alternatif pemecahan masalah menurut perspek tif guru itu sendiri.

c. Guru dan supervisor memecahkan masalah secara bersama-sama. Dalam hal ini supervisor dan guru membahas bersama alternatif pemecahan masalah dan menentukan alternatif yang terbaik.

DUMMY

d. Supervisor bersama-sama guru bernegosiasi untuk bagi tugas dalam rangka mengimplimentasikan alternatif pemecahan masalah yang terpilih.

3. Orientasi Non Directive

Asumsi yang mendasari orientasi ini adalah psikologi humanistik, yaitu belajar itu merupakan keinginan individu untuk menemukan rasionalitas. Oleh sebab itu, guru-guru diasumsikan mampu mengana lisis dan memecahkan masalahnya sendiri dalam proses belajar mengajar. Peran supervisor di sini hanya sebagai fasilitator dengan sedikit memberikan penga rahan kepada guru-guru. Oleh karena itu, supervisor harus tahu kedudukannya secara informal. Ia harus mengurangi cara-cara yang bersifat struktural dan birokratis. Supervisor dalam hal ini berasumsi bahwa peranannya sebagai pelayan dan pembantu guru untuk mengajar lebih efektif beranggapan bahwa guru-guru lebih dewasa dan mampu menganalisis segala permasalahan yang dihadapinya dalam proses belajar mengajar. Supervisor dalam sisi ini mempunyai asumsi bahwa:

a. Pengawasan terhadap situasi tergantung pada tuntutan dari problem. b. Keahlian adalah fungsi dari pengetahuan dan pengalaman bukan

karena kedudukan/posisi dalam organisasi.

c. Produk dari pekerjaan guru dapat dievaluasi secara baik dengan menggunakan alat pengukuran performansi.

d. Seorang dapat belajar dengan baik apabila dihadapkan dengan situasi tertentu dan dengan bantuan seperlunya, mereka menemukan sendiri pemecahannya.

e. Guru sangat memerlukan perasaan untuk didengarkan dan dipahami pendapat dan perasaan, serta masalah dan keluhannya.

f. Pengajaran adalah proses yang kompleks dan pekerjaan yang baik untuk seseorang belum tentu baik bagi yang lain, oleh sebab itu diperlukan gambaran sendiri oleh guru tentang problem dan solusinya. (Oliva, 1984).

Hal tersebut di atas tidak berarti supervisor harus pasif dan guru mempunyai hak yang tanpa batas dalam melaksanakan proses pembelajaran, tetapi supervisor juga memiliki peran penting dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru. Keaktifan supervisor tampak dari perilaku-perilaku sebagai berikut:

DUMMY

1. Supervisor mendengarkan problema yang dihadapi guru dan menunjukkan empati kepada guru melalui senyuman, anggukan kepala, pernyataan yang mendu kung dan lain-lain.

2. Supervisor mendorong (encourages) dan memberanikan guru-guru untuk menganalisis problema-problemanya. Misalnya dengan kata-kata silakan, apalagi, teruskan ceritanya, bagus, oh ya dan sebagainya.

3. Supervisor menjelaskan (clarifies) problem guru tersebut melalui uraian bagian-bagian dan perta nyaan, misalnya: Menurut pendapat Anda apakah rendahnya hasil belajar murid disebabkan mereka bosan dalam belajar?, atau karena motivasi belajar rendah atau kurang gizi dan lain pertanyaan yang bertujuan untuk memperjelas apa sebenarnya akar permasalahan yang dihadapi guru, berdasarkan ungkapan-ungkapan guru.

4. Bila guru bertanya tentang alternatif maka supervisor memberikan saran dengan alternatif. Ini berarti supervisor menyajikan gagasan pemikiran nya (presenting).

5. Supervisor menanyakan kepada guru tentang rencana yang perlu dilakukan untuk mengatasi problemanya dalam proses belajar mengajar, misalnya:  Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi masalah yang Anda

hadapi….?

 Apa yang dapat saya laksanakan untuk membantu anda?. Atau apa yang dapat saya bantu untuk mengatasi masalah anda?

Demikian beberapa orientasi/pendekatan dan perilaku supervisor pada masing-masing pendekatan. Pertanyaan yang muncul setelah kita mempelajari dan menghayati masing-masing pendekatan tersebut adalah: pendekatan/ orientasi mana yang paling tepat diguna kan dalam proses supervisi pengajaran. Untuk menja wab hal ini berikut ini akan dikemukakan beberapa kriteria dalam memilih pendekatan yang tepat.