EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
C. EVALUASI PROGRAM BK
Evaluasi merupakan proses manajemen yang menjadi faktor penentu untuk mengetahui pencapaian tujuan dan keberhasilan program BK. Secara konseptual evaluasi adalah jantung perubahan dan perkembangan suatu organisasi, program, kegiatan, atau institusi. Tanpa evaluasi yang baik, suatu kegiatan, program atau organisasi sulit diharapkan untuk berkembang secara kompetitif (Mashudi, 2015:9).
Menurut Suherman. AS (2013:79), evaluasi Bimbingan dan penyuluhan dipahami sebagai:
1. Suatu proses sistematis dalam mengumpulkan data dan kegiatan analisis untuk menentukan nilai dari suatu program dalam membantu pengelolaan, perencanaan program, latihan staf, dan meningkatkannya agar memperoleh pertimbangan yang sebaik-baiknya tentang usaha, efektivitas dan efisiensi tindakannya suatu program
mencapai tujuan sistem. Bagaimanapun dalam praktiknya bimbingan dan konseling tersebut memiliki tujuan, teknik, media dan evaluasi. Semua komponen tersebut harus ada dalam proses bimbingan dan konseling, termasuk bimbingan dan konseling terhadap siswa di sekolah (Nursalim, 2010:5).
Evaluasi program bimbingan dan konseling sampai saat ini masih merupakan masalah tersendiri bagi bidang bimbingan dan konseling. Hal itu tampak pada rendahnya presentasi guru BK dalam melakukan evaluasi. Ketiadaan evaluasi pada program bimbingan dan konseling membuat akuntabilitas program bimbingan dan konseling menjadi rendah baik di mata kepala sekolah, guru mata pelajaran, maupun siswa (Badrujaman, 2014:1).
Manajemen BK menjadi sangat penting dengan segala fungsinya untuk menjamin terlaksana dengan baik dan tercapainya tujuan layanan BK secara efektif dan efisien. Dengan demikian, evaluasi program BK merupakan hal yang menentukan, sebagai sarana untuk memastikan pencapaian tujuan layanan BK secara efektif dan efisien. Peran para manajer atau kepala sekolah, kepala unit layanan program BK, wali kelas dan guru BK atau konselor harus bersinergi alam pelaksanaan program BK dan sekaligus untuk memastikan pencapaian tujuan, maka evaluasi program BK merupakan kegiatan yang harus dilaksanakanj dengan berpedoman kepada rencana-rencana yang dibuat sebelumnya.
B. PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Pendidikan secara lembaga dan proses mencakup dimensi yang sangat luas. Dalam konteks ini, bimbingan merupakan proses bantuan kepada individu (konseli) sebagai bagian dari program pendidikan yang dilakukan oleh tenaga ahli (konselor) agar individu (konseli) mampu memahami dan mengembangkan potensinya secara optimal sesuai dengan tuntutan lingkungannya (Suherman AS, 2013:10).
Mendefinisikan bahwa konseling adalah satu jenis pelayanan merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan tiimbal balik antara dua individu, dimana yang seorang (yaitu konselor) berusaha membantu yang lain (yaitu konseli) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.
Dewa Ketut Sukardi (2008:5) konseling adalah suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka, antara konselor dan konseli yang berisi usaha yang laras unik dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang
Dengan perkataan lain evaluasi program bimbingan dan konseling dilakukan untuk mengetahui keberhasilan proses, pencapaian tujuan, juga untuk melakukan
follow up misalnya untuk perbaikan program BK, sehingga pada gilirannya akan
dapat meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan BK itu sendiri baik di sekolah maupun madrasah.
Secara umum Moh. Surya dan Rachman Natawijaya (1986) evaluasi terhadap program BK bertujuan untuk memperoleh gambaran efektivitas dan efesiensi program BK secara keseluruhan. Sedangkan secara khusus evaluasi program BK adalah: (1) untuk mengetahui jenis-jenis layanan bimbingan apakah yang sudah diberikan kepada siswa di sekolah (madrasah). (2) untuk mengetahui efektivitas dan efesiensi layanan yang diberikan itu dalam fungsinya unutk memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua individu di sekolah (madrasah). (3) untuk mengetahui aspek-aspek lain apakah yang perlu dimasukkan ke dalam program bimbingan untuk perbaikan layanan yang diberikan. (4) untuk mengetahui bagaimanakah sumbangan program bimbingan terhadap program pendidikan secara keseluruhan di sekolah (madrash) yang bersangkutan. (5) untuk mengetahui apakah teknik-teknik atau program yang digunakan berjalan secara efektif dan mencapai tujuan-tujuan bimbingan (6) untuk membantu kepala sekolah (madrasah), guru-guru termasuk pembimbingan atau koselor dalam melakukan perbaikan tata kerja meraka dalam memahami dan memenuhi kebutuhan tiap-tipa siswa. (7) untuk mengetahui dalam bagian-bagian manakah dari program bimbingan yang perlu diadakan perbaikan-perbaikan. (8) untuk mendorong semua personel bimbingan agar bekerja lebih giat dalam mengembangkan program-program bimbingan. (9) menunjukkan sampai sejauh manakah sumber-sumber masyarakat telah digunakan atau diikutsertakan dalam program bimbingan untuk tujuan-tujuan pengembangan serta serta perbaikan program dan layanan bimbingan. Menurut Tohirin (2015:333) adapun langkah-langkah evaluasi program bimbingan adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan-tujuan secara jelas terinci dan terukur atau kompetensi dasar dan indikator kompetensi yang harus dimiliki oleh klien (siswa) 2. Mempertimbangkan petugas atau personel bimbingan yang ada di sekolah
dan madrasah yang bersangkutan
3. Mempertimbangkan fasilitas fisik dan teknis yang mendukung program atau pelayanan BK di sekolah dan madrasah bersangkutan
4. Meneliti data-data tentang siswa yang dapat digunakan dalam pelayanan BK 5. Meneliti catatan-catatan atau records tentang siswa
6. Mempertimbangkan sampai sejauh manakah telah dilakukan kerja sama dengan personel-personel sekolah dan madrasah yang lain, dan kesempatan-2. Suatu proses pengumpulan informasi untuk mengetahui efektivitas dan
efisiensi program bimbingan dan konseling dalam membantu para siswa-siswanya agar mereka dapat mengetahui dan memahami kebutuhan-kebutuhan, kemampuan dan kelemahannya serta kemungkinan-kemungkinan pengem-bangannya.
Dengan begitu dipahami bahwa evaluasi bimbingan adalah usaha untuk mengetahui mengarahkan perkembangan siswa atau menilai efisiensi dan efektivitas pelayanan bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan kualitas program bimbingan.
Sementara menurut Dewa Ketut Sukardi (1990:47), evaluasi program bimbingan adalah segala upaya tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
Dalam konteks ini sesungguhnya evaluasi dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling ialah usaha penelitian dengan cara mengumpulkan data secara sistematis, menarik kesimpulan atas data yang diperoleh secara objektif, mengadakan penafsiran, merencanakan langkah-langkah perbaikan, pengembangan, dan pengarahan staf untuk perbaikan dan pengembangan program BK pada masa selanjutnya.
Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian penilaian terhadap keberhargaan dan keberhasilan program BK yang dilaksanakan melalui pengumpulan data, pengolahan data serta analisis data yang dijadikan dasar membuat keputusan (Badrujaman, 2014:17).
Membuat keputusan tersebut adalah menentukan keberhasilan dan sekaligus menentukan umpan balik yang memberikan arah bagi perbaikan program kepada yang lebih baik. Jelasnya evaluasi juga bisa bermakna upaya menelaah atau menganalisis program layanan BK yang telah dan sedang dilaksanakan untuk mengembangkan dan memperbaiki program bimbingan secara khusus dan program pendidikan di sekolah (termasuk madrasah) secara umum secara lebih komprehensif. Hal ini dimaknai bahwa evaluasi program BK pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau nilai berdasarkan kriteria tertentu sehingga diketahui semua program dari layanan program BK sebagaimana dipraktikkan pada lembaga pendidikan.
Sedangkan menurut Tohirin (2015:328) evaluasi program bimbingan konseling juga dilakukan untuk mengetahui apakah program Bk yang dirumuskan telah membawa dampak atau hasil-hasil tertentu terhadap klien atau belum.
e. Hubungan antara kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling dengan kegiatan luar sekolah
f. Metode dan teknik layanan bimbingan dan konseling g. Sarana pelayanan bimbingan dan konseling
h. Evaluasi dan penelitian pelayanan bimbingan dan konseling
3. Evaluasi Proses
Untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan dalam program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, dituntut proses pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mengarah pada tujuan yang diharapkan. Dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah banyak faktor yang terlibat yang perlu dievaluasi, terutama yang bersangkut paut dengan pengelolaan pelayanan bimbingan dan konseling. Faktor pengelolaan yang perlu dievaluasi, diantaranya meliputi:
a. Organisasi dan administrasi program pelayanan bimbingan dan konseling. b. Petugas pelaksana atau personel (tenaga professional) dan bukan professional c. Fasilitas dan perlengkapan
- Fasilitas teknis, seperti tes, inventori, format-format, dan sebagainya - Fasilitas fisik seperti: ruang kerja konselor, ruang konseling, ruang
isntrumen, ruang penyimpanan data
- Perlengkapan, seperti: meja, kursi filling cabinet, files, lemari dan sebagainya d. Anggaran biaya, anggaran biaya yang perlu dipersiapkan adalah untuk adalah untuk pos-pos seperti: honorarium pelaksana, pengadaan dan pemiliharaan sarana fisik dan perlengkapan, biaya operasional (perjalanan dan kunjungan rumah, dan penilaian dan penelitian).
4. Evaluasi Hasil
Untuk memperoleh gambaran tentang keberhasilan dari pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dapat dilihat dari hasil yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran tentang hasil dari pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah harus dilihat dalam diri siswa yang memperoleh bimbingan dan konseling itu sendiri. aspek-aspek yang bisa dilihat terutama: (1) pandangan para lulusan tentang program pendidikan yang telah ditempuhnya, (2) kualitas prestasi bagi para lulusan, (3) pekerjaan, jabatan atau karier yang dijalaninya, dan (4) proporsi lulusan yang bekerja dan belum bekerja.
kesempatan manakah yang telah digunakan oleh siswa untuk mengadakan pembicaraan dan kontak-kontak pribadi dengan para personel bimbingan tersebut untuk memperoleh bantuan atau pelayan bimbingan
7. Membuat pertimbangan terhadap pencapaian tujuan-tujuan program bimbingan yang telah dilaksanakan dengan indikator-indikator seperti: semakin berkurang atau menurunnya kasus-kasus yang berhubungan dengan disiplin dan ketertiban di sekolah dan madrasah, berkurangnya kegagalan-kegagalan yang dialami siswa secara perorangan, dan penyesuaian sosial yang baik, keberhasilan di jenjang pendidikan lanjutan, keberhasilan dalam lapangan karier, kepuasan dalam pekerjaan dan lain sebagainya.
Menurut Dewa Ketut dan Nila Kusmawati (2008:97) lingkup evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah mencakup empat komponen yaitu: (1) komponen peserta didik (input), (2) komponen program, (3) komponen proses pelaksanaan bimbingan dan konseling, dan (4) komponen hasil pelaksanaan program (output).
1. Evaluasi Peserta Didik
Untuk mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling maka pemahaman terhadap peserta didik (konseli) yang mendapat bimbingan dan konseling penting dan perlu. Pemahaman mengenai raw-input (peserta didik) perlu dilakukan sedini mungkin dengan pemahaman terhadap raw-input dapat dipakai mempertimbangkan hasil pelaksanaan program bimbingan dan konseling bila dibandingkan dengan produk yang dicapai. Evaluasi raw-input dimulai dari pelayanan himpunan data pada saar peserta didik (konseli) diterima di sekolah bersangkutan.
2. Evaluasi Program
Evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah harus disesuaikan dengan pola dasar pedoman operasional pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan operasional dari masing-masing pelayanan hendaknya disusun dalam sistematika yang rinci, diantaranya:
a. Tujuan khusus pelayanan bimbingan dan konseling b. Kriteria keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling c. Lingkup pelayanan bimbingan dan konseling
c. Mengetahui jenis layanan yang sudah atau belum dilaksanakan atau perlu diadakan perbaikan dan pengembangan
d. Mengetahui sampai sejauh mana keterlibatan semua pihak dalam usaha menunjang keberhasilan pelaksanaan program bimbingan dan konseling e. Memperoleh gambaran sampai sejauh mana peranan masyarakat terhadap
pelaksanaan program bimbingan dan konseling
f. Mengetahui sejauh mana kontribusi program bimbingan dan konseling terhadap pencapaian tujuan pendidikan pada umunya TIK dan TIU pada khususnya
g. Mendapatkan informasi yang adekot dalam rangka perencanaan langkah-langkah pengembangan program bimbingan dan konseling selanjutnya h. Membantu mengembangkan kurikulum sekolah kesesuaian dengan kebutuhan Sedangkan menurut Dewa Ketut Sukardi (2008:96) evaluasi dalam program bimbingan dan konseling di sekolah ialah berupaya untuk menelaah program pelayanan bimbingan dan konseling yang telah dan sedang dilaksanakan untuk mengembangkan dan memperbaiki program bimbingan dan konseling di sekolah bersangkutan. Dengan demikian, penilaian layanan bimbingan dan koseling di sekolah bertujuan (1) membantu mengembangtumbuhkan kurikulum sekolah kearah kesesuaian dan kebutuhan siswa, (2) membantu guru-guru memperbaiki cara mengajar di kelas, dan (3) memungkinkan program bimbingan dan konseling berfungsi lebih efektif.
Menurut Rahayu Ginintasasi (2016:31) kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan. Pada akhirnya, evaluasi terhadap suatu program konseling dapat menjadi sarana untuk:
a) Memberikan umpan balik (feedback) kepada guru pembimbing (guru BK) untuk mengembangkan serta memperbaiki program layanan bimbingan dan konseling, dan
b) Memberikan informasi tentang perkembangan siswa kepada pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan orang tua sehingga pihak-pihak tersebut dapat saling bersenergi dan berkolaborasi dalam rangka meningkatkan kualitas implementasi program bimbingan konseling.
Pendapat di atas menegaskan bahwa evaluasi layanan program bimbingan dan konseling sangat bermanfaat dalam rangka mengetahui hasil yang dicapai Menurut Rahayu Ginintasasi (2016:32) jika dilihat dari sifatnya, evaluasi
program bimbingan dan konseling yang lebih bersifat “proses” maka proses evaluasi ini dapat dilakukan dengan cara berikut:
(a) Mengetahui parsitipasi dan aktivitas siswa dalam proses kegiatan layanan bimbingan dan konseling
(b) Mengungkapkan pemahaman siswa tentang bahan-bahan yang disajikan atau pemahaman siswa menngenai masalah yang dihadapinya
(c) Mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa sebagai hasil dari partisipasi atau kegiatannya dalam proses layanan bimbingan dan konseling
(d) Mengungkapkan lebih lanjut tentang minat siswa terhadap perlunya pemberian bimbingan dan konseling
(e) Mengobservasi dan memonitor perkembangan siswa khususnya pada pelayanan bimbingan konseling berkelanjutan, serta
(f) Mengevaluasi jalannya proses pelayanan bimbingan dan konseling Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses evaluasi bimbingan dan konseling memang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai prosedur yang ditetapkan. Hal ini penting menjadi pedoman kegiatan dari konselor, atau keoordinator unit bimbingan dan konseling dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah.