• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Estimas

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 88-92)

Penelititan ini menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas yang digunakan untuk menganalisis hubungan faktor input terhadap output. Fungsi produksi yang digunakan merupakan fungsi produksi dengan dua faktor produksi, yaitu modal dan tenaga kerja. Penelitian ini hanya menggunakan data industri yang memiliki data lengkap untuk tahun 2005 sampai 2009 yaitu sebanyak 38 industri. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 190 sampel.

Setelah dilakukan estimasi untuk variabel modal, tenaga kerja dan produksi maka didapatkan hasil estimasi seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1. Hasil estimasi variabel modal dan tenaga kerja signifikan baik secara teori maupun secara

statistik. Sehingga hasil estimasi ini bisa digunakan untuk menguji fungsi produksi dan tingkat efisiensi input terhadap output.

Tabel 1 Hasil Estimasi Fungsi Produksi Cobb-Douglas

Variabel Koefisien Standard Error t-rasio p-value

Tenaga Kerja 3860,3 810,1 4,765 0.000

Modal 1,4646 0,1122 13,06 0.000

Konstanta 39887 0,2982 1,338 0,183

= 0.6866 =6832 F = 140,484 p-value = 0.0000 DW= 1,0124 Sumber: Hasil Estimasi, 2011.

Tabel 1 memperlihatkan tanda koefisien hasil estimasi modal dan tenaga kerja sesuai secara teori karena tanda koefisien modal dan tenaga kerja bernilai positif. Koefisien regresi variabel tenaga kerja sebesar 3860,3 mengandung pengertian bahwa apabila tenaga kerja mengalami kenaikan sebesar 1 orang maka tingkat output (Q) mengalami kenaikan sebesar 3860,3 rupiah dengan asumsi variabel lain dianggap konstan. Koefisien regresi variabel modal sebesar 1,4646 artinya apabila modal mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah maka tingkat output (Q) akan mengalami kenaikan sebesar 1,4646 rupiah dengan asumsi variabel lain dianggap konstan.

Koefisien regresi untuk variabel tenaga kerja jauh lebih besar dari koefisien regresi variabel modal. Dengan kata lain bahwa variabel tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap produksi dan industri kecil di Kota Banda Aceh lebih bersifat padat karya dari pada padat modal.

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh modal (K) dan tenaga kerja (L) secara parsial terhadap produksi (Q). Tabel 1 memperlihatkan bahwa nilai statistik uji t variabel modal (K) adalah 4,765 dengan nilai p-value sebesar 0,000. Oleh karena 0,000 < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan ditolak dan diterima. Artinya bahwa variabel modal secara parsial berpengaruh terhadap produksi (Q). Selanjutnya nilai statistik uji t variabel tenaga kerja (L) adalah 13,06 dengan nilai p-value sebesar 0,000. Oleh karena 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ditolak dan diterima, artinya bahwa variabel tenaga kerja secara parsial berpengaruh terhadap produksi (Q).

Uji F digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabel input yaitu modal (K) dan tenaga kerja (L) bersama-sama mempengarui produksi industri kecil di Kota Banda Aceh. Berdasarkan hasil estimasi didapat nilai F sebesar 140,484 dengan p- value 0.000. Penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi sebesar 5%. Dengan demikian sesuai persyaratan statistik p-value < 0,05 maka ditolak dan diterima. Dapat disimpulkan bahwa input modal dan tenaga kerja secara bersama-sama atau simultan berpengaruh terhadap produksi industri kecil di Kota Banda Aceh.

Uji Efisiensi Input

Sesuai dengan uji statistik dan teori terbukti signifikan sehingga model estimasi dapat digunakan sebagai alat analisis. Berdasarkan pada alasan tersebut maka uji

efisiensi input dan uji efisiensi proses produksi dapat dilakukan. Uji efisiensi input dilakukan dengan menggunakan uji Wald.

Berdasarkan hasil estimasi nilai statistik Wald sebesar 22,7144 dan dengan nilai p-value 0,000. Dengan demikian p.value < α atau 0,000 < 0,05 maka ditolak dan diterima. Maka dapat diambil kesimpulah bahwa industri kecil di Kota Banda Aceh belum mencapai efisiensi dalam penggunaan input atau faktor produksi yaitu modal dan tenaga kerja.

Uji Efisiensi Proses Produksi

Uji efisiensi proses produksi dilakukan dengan membandingkan jumlah sampel dengan jumlah perhitungan industri yang efisien, di mana setiap industri yang efisien bernilai sama dengan 1. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data 38 industri pertahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 dengan jumlah 190 sampel. Berdasarkan jumlah sampel tersebut efisiensi proses produksi industri tercapai jika jumlah perhitungan sama dengan 190.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh angka efisiensi proses produksi sebesar 111 yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah sampel yaitu 190 yang mencakup data industri kecil tahun 2005 sampai 2009. Dari hasil perhitungan didapatkan angka selisih yaitu sebesar 79. Ini menandakan bahwa dari tahun 2005 sampai 2009 ada sebanyak 79 sampel industri yang belum mencapai efisiensi proses produksi dengan menggunakan input modal dan tenaga kerja.

Berdasarkan hasil perhitungan dapat dijelaskan bahwa ada 21 industri dalam rentang waktu 2005 sampai 2009 yang tidak pernah mencapai kriteria efisiensi. Industri tersebut antara lain industri mie, tempe, kerupuk udang, kue basah/bolu, nata de coco, ukiran kayu, sablon, dan industri lainnya. Tidak tercapainya posisi efisiensi ini bisa dikaitkan dengan skala usaha industri yang masih kecil sehingga sangat sulit dalam mengoptimalkan kombinasi input yaitu modal dan tenaga kerja. Selain itu juga karena industri kecil di Kota Banda Aceh belum bisa menyesuaikan jumlah produksi sesuai dengan potensi pasar yang ada.

Industri yang telah mencapai posisi efisiensi untuk tahun 2005 sampai 2009 antara lain industri es krim, penjahit kupiah, meubel besi dan tukang las. Pencapaian efisiensi ini bisa dikaitkan adanya pemanfaatan yang maksimal dalam mengkombinasikan input modal dan tenaga kerja dalam menghasilkan produksi yang efisien. Hal lain yang sangat berpengaruh yaitu tingginya permintaan masyarakat terhadap produk industri ini. Permintaan ini tidak hanya di dalam Kota Banda Aceh tetapi juga permintaan di luar Kota Banda Aceh dan di luar Provinsi Aceh.

Selanjutnya terdapat industri yang mengalami peningkatan dari tidak efisien menjadi efisien dalam waktu tahun 2005 sampai 2009. Industri tersebut yaitu industri perabot alumunium. Industri ini mengalami kendala seperti mahalnya input termasuk harga bahan baku dan menurunnya permintaan masyarakat sehingga posisi efisien sulit tercapai. Kemudian industri ini mencapai kondisi efisien ketika mampu mengkombinasikan input modal dan tenaga kerja dalam menghasilkan produksi yang optimal. Dengan demikian secara keseluruhan industri kecil di Kota Banda Aceh belum mencapai posisi efisiensi proses produksi.

PENUTUP

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa secara keseluruhan industri kecil di Kota Banda Aceh belum mencapai efisiensi dalam penggunaan input yaitu input modal dan tenaga kerja. Selanjutnya hasil perhitungan uji efisiensi proses produksi memperlihatkan bahwa industri yang telah berproduksi secara efisien yaitu industri es krim, penjahit kupiah, meubel besi dan tukang las. Selanjutnya industri yang terjadi peningkatan dari berproduksi secara tidak efisien menjadi efisien yaitu industri perabot alumunium. Sedangkan industri yang belum berproduksi secara efisien yaitu industri mie, tempe, kerupuk udang, kue basah/bolu, nata de coco, ukiran kayu, sablon, dan industri lainnya. Berdasarkan pada hasil ini maka industri yang belum mencapai efisiensi dapat mengupayakan pemanfaatan modal pemberdayaan tenaga kerja secara maksimal sehingga posisi efisiensi tercapai dan industri mampu bersaing dalam melakukan proses produksi.

REFERENSI

Aigner, D., C.A. Knox, and P.Schmidt. 1977. Formulation and estimation of stochastic frontier production function models. Journal of Econometrics, 6, 21-37.

Aliasuddin. 2002a. Perbandingan Efisiensi Industri di Indonesia. Jurnal Manajemen dan Pembangunan, Vol. 1, No. 2, ha 22–31.

Aliasuddin. 2002b. Produksi Optimal dan RTS: Industri Sedang dan Besar di Provinsi Aceh. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen, Vol. 2, No. 2, 2002, hal. 1–7.

Aliasuddin. 2009. Efisiensi Industri Kecil di Banda Aceh : Pendekatan Data Pool 2006-2007. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 8(2), hal 128-138.

Badan Pusat Statistik. 2010. Banda Aceh Dalam Angka 2010. Banda Aceh : BPS Case, and Fair, 2005. Prinsip-prinsip Ekonomi Mikro. Edisi ketujuh, Jakarta: PT.

Indeks Kelompok Gramedia.

Nicholson, W. 2002. Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions. Eighth Edition. International Edition. Singapore: Thomson–South Western. Sukirno, Sadono. 2005. Pengantar Teori Ekonomi Mikro, Jakarta : PT Grafindo

Persada.

Sugiarto, T. Herlambang, Brastoro, R. Sudjana dan S. Kelana. 2002. Ekonomi Mikro: Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

PENGARUH PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 88-92)