Pertumbuhan dan Kontribusi PAD Kota Lhokseumawe Pertumbuhan PAD
Pertumbuhan PAD Kota Lhokseumawe mulai dari tahun 2002 sampai dengan 2008 menunjukkan peningkatan, hal ini dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:
∑ ∑ ∑ ∑ ∑ − − n X X n Y X XY n 2 − ∑ ∑ n X b n Y n
Tabel 1. Pertumbuhan PAD Kota Lhokseumawe Tahun 2002-2008 Tahun PAD (Rp) % 2002 3,853,108,054 2003 6,961,285,082 80,67 2004 9,396,753,771 34,98 2005 10,819,856,855 15,14 2006 18,350,445,016 69,60 2007 25,391,279,828 38,37 2008 25,404,571,421 5,23 Rata-rata 48,52
Dari tahun 2002 ke tahun 2003 pertumbuhannya sebesar 80,67% sekaligus pertumbuhan yang terbesar, tahun 2003 ke tahun 2004 pertumbuhannya sebesar 34,98%, pertumbuhan tahun 2004 ke tahun 2005 yaitu hanya sebesar 15,14%, dan pada tahun 2005 ke tahun 2006 pertumbuhannya sebesar 69,60%, tahun 2006 ke tahun 2007 pertumbuhannya sebesar 38,37%, dan pada tahun 2007-2008 pertumbuhannya sebesar 5,23% Jadi Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 rata-ratanya adalah 48,52%.
Pertumbuhan Pajak Daerah
Pertumbuhan Pajak Daerah Kota Lhokseumawe dari tahun 2002 – 2008 mengalami peningkatan, dari tabel 2 di bawah ini menunjukkan peningkatan yang besar terjadi pada tahun 2002 ke tahun 2003 yaitu sebesar 80,68%, sedangkan pada tahun 2003 ke tahun 2004 peningkatannya hanya sebesar 0,17%, namun pada tahun 2004 ke tahun 2005 terjadi peningkatan menjadi 15,84%, selanjutnya pada tahun 2005 ke tahun 2006 peningkatannya mengalami kenaikan yaitu sebesar 59,94%. Pada tahun 2006 ke tahun 2007 peningkatannya mengalami penurunan yaitu sebesar 13,89% dan pada tahun 2007 ke tahun 2008 peningkatannya sebesar 51,51% dengan rata-rata pertumbuhan Pajak Daerah Kota Lhokseumawe dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 sebesar 37,01%.
Tabel 2. Pertumbuhan Pajak Daerah Kota Lhokseumawe Tahun 2002 s.d 2008
Tahun Pajak Daerah %
2002 3,704,459,291 2003 6,693,327,612 80,68 2004 6,704,886,326 0,17 2005 7,767,063,191 15,84 2006 12,423,405,257 59,94 2007 14,149,458,908 13,89 2008 14,878,245,940 51,51 Rata-rata 37,01
Pertumbuhan Retribusi Daerah
Rata-rata peningkatan dari pertumbuhan Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 adalah sebesar 58,44%, hasil ini diperoleh dari pertumbuhan retribusi daerah dari tahun 2002 ke tahun 2003 sebesar 80,26%, tahun 2003 ke tahun 2004 didapatkan peningkatan hanya sebesar 28,27%, tahun 2004 ke tahun 2005 peningkatannya sebesar 119,05% yang juga mewakili pertumbuhan terbesar, sedangkan pada tahun 2005 ke tahun 2006 peningkatannya mengalami penurunan yaitu sebesar 42,40%, selanjutnya pada tahun 2006 ke tahun 2007 juga mengalami penurunan lagi sebesar 31,09% dan pada tahun 2007 ke tahun 2008 pertumbuhan mengalami peningkatan.
Pertumbuhan Lain-lain PAD Yang Sah
Lain-lain PAD yang sah menyumbangkan sebesar 2,3 milyar rupiah pada tahun 2004 dan mengalami penurunan sebesar minus (4,19%) pada tahun 2005 dan pada tahun 2006 mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar minus (0,43%), sedangkan pada tahun 2007 pertumbuhannya mengalami peningkatan yang sangat signifikan selama kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu sebesar 622,37% , selanjutnya pada tahun 2008 pertumbuhannya minus (62,57%) dengan rata-rata pertumbuhan pada tahun 2004 sampai dengan 2008 sebesar 609,09% pertahun seperti terlihat pada tabel 4 pertumbuhan Lain-lain PAD yang sah pada tahun 2004 s.d 2008 sebagaimana tersebut di bawah ini:
Tabel 4. Pertumbuhan Lain-lain PAD yang sah Tahun 2004 s.d 2008
Tahun Lain-lain PAD yang sah (Rp) % 2004 2,348,144,590 2005 2,249,856,644 (4,37) 2006 2,240,098,065 53,66 2007 16,181,889,932 622,37 2008 6,057,329,431 (62,57) Rata-rata 609,09
Trend PAD Kota Lhokseumawe Tahun 2002 s.d 2012
Perkembangan realisasi dan target Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe dalam 11 (sebelas) tahun anggaran menunjukkan adanya suatu peningkatan secara terus-menerus. Dengan menggunakan rumusan kuadran terkecil (last squire method) maka realisasi PAD tahun 2002 sampai dengan tahun 2012 disimbolkan sebagai Y sementara trend (kecenderungan) PAD 2002 sampai dengan 2012 disimbolkan sebagai Y’, untuk melakukan penghitung trend dapat dilakukan dengan menggunakan rumusan kuadran terkecil sehingga akan didapati trend PAD pada tabel 7 berikut ini:
Tabel 7. Trend PAD Kota Lhokseumawe Tahun 2002 sd 2012 dengan metode least square method
TAHUN PAD(Y) X x2 XY Y' 2002 3.853.108.054 -5 25 (19.265.540.270) 2.475.178.128 2003 6.961.285.082 -4 16 (27.845.140.328) 6.420.466.373 2004 9.396.753.771 -3 9 (28.190.261.313) 10.365.754.617 2005 10.819.856.855 -2 4 (21.639.713.710) 14.311.042.861 2006 18.350.445.016 -1 1 (18.350.445.016) 18.256.331.105 2007 25.391.279.828 0 0 - 22.201.619.349 2008 25.404.571.421 1 1 25.404.571.421 26.146.907.595 2009 30.092.195.838 2 4 60.184.391.676 30.092.195.838 2010 34.037.484.082 3 9 102.112.452.246 34.037.484.082 2011 37.982.772.326 4 16 151.931.089.304 37.982.772.326 2012 41.928.060.570 5 25 209.640.302.850 41.928.060.570 ∑ 244.217.812.843 0 110 433.981.706.860 Persamaan: Y’ = a + b.X a = ∑ Y/n 22.201.619.349 b = ∑XY/∑X2 3.945.288.244
Data realisasi PAD 2002 sampai dengan 2007 dan data target 2008 dimasukkan pada diagram chart sebagai data asli, dengan menggunakan rumusan kuadran dihitung trend PAD Kota Lhokseumawe tahun 2002 sampai dengan tahun 2012. Data trend ini dimasukkan sebagai garis trend. Hal ini dapat dilihat di dalam
diagram chart trend PAD Kota Lhokseumawe Tahun 2002 sampai dengan 2012
sebagai berikut:
Trend Pajak Daerah Tahun 2002 sampai dengan Tahun 2012
Kenaikan sektor pajak daerah pada sebelas tahun ini sangat signifikan mencapai lebih dari 628% yang dimulai Rp 3,7 milyar pada tahun 2002, sepuluh tahun kemudian pada tahun 2012 mencapai Rp 23,28 milyar. Dengan menggunakan rumusan yang sama data realisasi pajak daerah disimbulkan sebagai Y atau terlihat
sebagai data asli pada diagram chart sementara Y’ sebagai trend pajak daerah. Cara menggunakannya sama seperti perhitungan pada PAD di atas, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8 sebagai berikut ini:
Tabel 8. Trend Pajak Daerah Kota Lhokseumawe 2002 s.d 2012 dengan metode least square
TAHUN PAJAK(Y) x x2 XY Y' 2002 3.704.459.291 -5 25 (18.522.296.455) 3.500.555.133 2003 6.693.327.612 -4 16 (26.773.310.448) 5.469.535.343 2004 6.704.886.326 -3 9 (20.114.658.978) 7.438.515.552 2005 7.767.063.191 -2 4 (15.534.126.382) 9.407.495.762 2006 12.423.405.257 -1 1 (12.423.405.257) 11.376.475.971 2007 14.149.458.908 0 0 - 13.345.456.180 2008 14.878.245.940 1 1 14.878.245.940 15.314.436.390 2009 17.210.426.856 2 4 34.420.853.712 17.283.416.599 2010 19.669.059.264 3 9 59.007.177.792 19.252.396.809 2011 21.311.604.675 4 16 85.246.418.700 21.311.604.675 2012 23.280.584.884 5 25 116.402.924.420 23.280.584.884 ∑ 147.792.522.204 0 110 216.587.823.044 Persamaan: Y’ = a + b.X a = ∑ Y/n 13.435.683.837 b = ∑XY/∑X 1.968.980.209
Diagram chart pajak daerah Kota Lhokseumawe tahun 2002 – 2012 dapat ditampilkan berikut ini:
Trend retribusi daerah tahun 2002 sampai dengan 2012
Trend retribusi untuk tahun 2002 sampai dengan 2012 juga mengalami peningkatan. Trend dan realisasi retribusi dari tahun 2002 sampai dengan 2007 terus meningkat. Kemudian target untuk tahun 2008 juga mengalami peningkatan. Untuk melihat peningkatan trend untuk tahun 2002 sampai dengan 2012 dapat dilihat di dalam tabel 9 berikut ini:
Tabel 9. Trend Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe 2002 sd 2012 TAHUN Retribusi Daerah (y) X x2 XY Y' 2002 148.648.763 -5 25 (743.243.815) (101.935.458) 2003 267.957.470 -4 16 (1.071.829.880) 228.237.408 2004 343.722.855 -3 9 (1.031.168.565) 558.410.275 2005 752.937.020 -2 4 (1.505.874.040) 888.583.141 2006 1.072.203.465 -1 1 (1.072.203.465) 1.218.756.008 2007 1.405.616.365 0 0 - 1.548.928.874 2008 2.228.996.050 1 1 2.228.996.050 1.879.101.741 2009 2.209.274.607 2 4 4.418.549.214 2.209.274.607 2010 2.539.447.473 3 9 7.618.342.419 2.539.447.473 2011 2.869.620.340 4 16 11.478.481.360 2.869.620.340 2012 3.199.793.206 5 25 15.998.966.030 3.199.793.206 ∑ 17.038.217.614 0 110 36.319.015.308 Persamaan: Y’ = a + b.X a = ∑ Y/n 1.548.928.874 b = ∑XY/∑X 330.172.866
Dari data realisasi dan trend diatas dapat dibuat diagram chart trend retribusi daerah dari tahun 2002 sampai dengan 2012 sebagai berikut:
Trend Lain-lain PAD Yang Sah tahun 2002 sampai dengan 2012
Trend Lain-lain PAD yang sah untuk tahun 2002 sampai dengan 2012 dapat dilihat pada tabel 10. Lain-lain PAD yang sah terdiri dari hasil penjualan barang milik daerah, penerimaan jasa giro, angsuran/cicilan rumah dinas, penerimaan penjualan/penyewaan kapling dan penerimaan lain-lain. Usaha lain untuk meningkatkan lain-lain PAD yang sah yang ditempuh oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe adalah dengan Idle Cash Management yaitu memenej dana menganggur yang mengendap di kas daerah pada bank dengan imbalan jasa giro.
Tabel 10. Trend Lain-lain PAD yang sah Daerah Kota Lhokseumawe 2002 sd 2012 TAHUN PAD lain- lain(Y) x x2 XY Y' 2004 2.348.144.590 -4 16 (9.392.578.360) 1.620.330.784 2005 2.249.856.644 -3 9 (6.749.569.932) 3.542.087.137 2006 4.854.836.294 -2 4 (9.709.672.588) 5.463.843.490 2007 9.569.050.492 -1 1 (9.569.050.492) 11.229.112.548 2008 8.297.329.431 0 0 - 9.307.356.196 2009 11.229.112.549 1 1 11.229.112.549 11.229.112.549 2010 13.150.868.902 2 4 26.301.737.804 13.150.868.902 2011 15.072.625.255 3 9 45.217.875.765 15.072.625.255 2012 16.994.381.608 4 16 67.977.526.432 16.994.381.608 ∑ 83.766.205.765 0 60 115.305.381.178 Persamaan: Y’ = a + b.X a = ∑ Y/n 9.307.356.196 b = ∑XY/∑X 1.921.756.353
Dari data realisasi dan trend diatas dapat dibuat diagram chart trend lain-lain PAD yang sah Kota Lhokseumawe dari tahun 2004 sampai dengan 2012 sebagai berikut:
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Lhokseumawe untuk tahun 2008 yang belum maksimal digali adalah pada sektor pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, retribusi pelayanan parkir, retribusi pelayanan pasar, retribusi terminal.
2. Trend Pendapatan Asli Daerah (PAD), pajak daerah dan retribusi daerah Pemerintahan Kota Lhokseumawe untuk Tahun 2002 sampai dengan 2012 mengalami peningkatan.
Saran
1. Pemerintah Kota Lhokseumawe harus menyadari bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya penerimaan PAD antara lain adalah banyak sumber pendapatan di kabupaten/kota yang besar, tetapi digali oleh instansi yang lebih tinggi, misalnya pajak kendaraan bermotor (PKB), dan pajak bumi dan bangunan (PBB), kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, retribusi, dan pungutan lainnya, adanya kebocoran-kebocoran, biaya pungut yang masih tinggi, banyak Peraturan Daerah yang perlu disesuaikan dan disempurnakan, kemampuan masyarakat untuk membayar pajak yang masih rendah.
2. Beberapa upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah adalah pemerintah daerah dengan segala daya upayanya harus terus menggali dan mengembangkan potensi daerah dengan sungguh-sungguh, baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya alamnya. Menciptakan sistem informasi pendapatan, melakukan penyuluhan secara intensif, terpadu dan berkesinambungan, membangkit kembali usaha strategis berbasis ekonomi kerakyatan.
3. Kebijakan yang dapat ditempuh oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk meningkatkan PAD adalah Memperluas basis pajak dan retribusi daerah, memperkuat proses pemungutan, meningkatkan mutu pengawasan, meningkatkan efisiensi administrasi untuk mengurangi biaya pemungutan, mendirikan perusahaan daerah yang profesional, menjalin kerjasama dengan pihak lain.
4. Potensi sumberdaya alam kelautan yang belum dioptimalkan menjadi sumber pendapatan asli daerah Kota Lhokseumawe dimana selama ini sumberdaya tersebut telah diambil secara tidak sah oleh para nelayan asing (bukan nelayan yang berdomisili di Kota Lhokseumawe) khususnya para nelayan dari negara asing seperti negara Thailand.
REFERENSI
Anonymous,Kota Lhokseumawe Dalam Angka, Badan Pusat Statistik Kota Lhokseumawe, Sigli
---, UNDANG-UNDANG No. 33 Tahun 1999 ---, UNDANG-UNDANG No. 34 Tahun 2000 ---, UNDANG-UNDANG No. 18 Tahun 1997 ---, UNDANG-UNDANG No. 22 Tahun 1999 ---, UNDANG-UNDANG No. 25 Tahun 1999 ---, Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1997 ---, Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2001 ---, Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2001
Budiono., (1995). Ekonomi Mikro, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.I, Edisi ke dua, BPFE, Yogyakarta.
Davey, K. J,. (1988). Pembiayaan Pemerintah Daerah, terjemahan Amanullah, dkk, Cetakan pertama UI Press, Jakarta.
Devas, N., (1989). Keuangan Pemerintah Daerah Indonesia, (terjemahan), UI Press, Jakarta.
Fred W. Riggs. (1986). Administrasi Pembangunan, Batas-batas Strategi Pembangunan Kebijakan dan Pembaharuan Adminstrasi, penerbit Rajawali, Jakarta
Kaho, Yosef, R,. (1991). Otonomi Daerah Yang Nyata dan Bertanggung jawab, Laporan penelitian proyek kerja sama FISIPOL UGM - Balitbang Depdagri, Jakarta.
Kothler, Philip,. (1990). Manajemen Pemasaran : Analisis perencanaan dan
Pengendalian, terjemahan Gunawan Hutabarat, edisi I, Erlangga, Jakarta.
Kristiadi , J. B., (1985). Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah, Prisma, LP3ES, Jakarta. No. 12, h. 35-43
Ichsan, Chairul, dan Rustam Effendi. (1995). Strategi Pengembangan PAD, Laporan Penelitian Kerja sama FE-Unsyiah dengan Fakulti Ekonomi dan Fakulti Kepengurusan Perniagaan UKM-Malaysia.
Ismail, Djakfar (2000). Laporan Pelaksanaan Tugas BupatiKota Lhokseumawe, Sekretariat Daerah Kota Lhokseumawe, Sigli
Mirtadirejda, Y,. (1993). Retribusi Daerah, Pendapatan Dinas dan Penerimaan Lain- lain, Bahan kursus keuangan daerah, LPEM-FE UI, Jakarta.
Muslim, A. (1978). Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah, penerbit Alumni, Bandung.
Nasir, M. (1999). Metode Penelitian, Cetakan ke empat, Percetakan Galia Indonesia, Jakarta.
Pamuji, S. (1990). Makna daerah Tingkat II Sebagai Titik Berat Pelaksanaan Otonomi Daerah, Analisis CSIS, Tahun XIX, No. 3 hal. 211-225.
Pamuji, S. (1991). Otonomi, Prisma, LP3ES, No. 8 tahun XX hal. 1
Susiyanti B. Hirawan, (1992). Pembiayaan Pembangunan Daerah : Dalam Prospek Ekonomi Indonesia Jangka Pendek dan Sumber Pembiayaan Pembangunan, kerja sama FEUI dan PT. Gramedia, Jakarta.
PENGGUNAAN APLIKASI ENTERPRISE (ENTERPRISE APPLICATION)