• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORITIS

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 50-53)

Monday Effect dan Return Saham

Lakonishok dan Maberly (1990) melakukan penelitian tentang efek akhir pekan pada pola perdagangan investor individual dan institusional. Data yang digunakan adalah data harian volume perdagangan dan data harian penjualan dan pembelian. Data diperoleh dari Standard & Poor’s harga saham harian pada NYSE periode 1962-1986. Hasil empiris menemukan bahwa Senin adalah hari dengan volume perdagangan terendah. Pada hari Senin kecenderungan transaksi individu relatif lebih tinggi dibandingkan hari perdagangan lainnya sedangkan institusional lebih rendah. Kecenderungan individu menjual saham lebih tinggi dibandingkan kecenderungan untuk membeli saham menyebabkan harga saham pada hari Senin relatif lebih rendah dibandingkan dengan hari lain.

Choudry (2000) melakukan penelitian tentang efek hari dalam satu minggu yang muncul pada Bursa Asia yang merupakan bukti dari model GARCH. Penelitian ini merupakan studi empiris yang menggunakan model GARCH dan data return harian dari India, Indonesia, Malaysia, Philipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand dari Januari 1990 sampai Juni 1995. Hasil penelitian Choudry (2000) menemukan bahwa Monday effect signifikan negatif ditemukan pada Bursa Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Hasil ini juga membuktikan bahwa efek hari dalam satu minggu dan Monday effect tidak hanya pada Bursa Efek Amerika Serikat tetapi juga Negara berkembang lainnya.

Cahyaningdyah (2005) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh hari perdagangan terhadap return saham Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini mengambil sampel 73 saham yang aktif diperdagangkan di BEJ selama periode 1 Januari 2001 sampai 31 Desember 2003. Hasil penelitiannya membuktikan rata-rata return terendah terjadi pada hari Senin dan rata-rata return tertinggi terjadi pada hari perdagangan Jum’at. Penelitian Cahyaningdyah (2005) untuk tahun 2001 menemukan adanya Monday Effect, tahun 2002 menemukan adanya Monday Effect dan Weekend

Effect, sedangkan untuk tahun 2003 hanya menemukan adanya Weekend Effect.

Budileksmana (2005) melakukan penelitian tentang fenomena the Monday

Effect di Bursa Efek Jakarta. Data yang digunakan adalah Indeks Harga Saham

Gabungan (IHSG) harian dari tahun 1999 sampai dengan 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa return pasar di BEJ pada hari Senin adalah relatif dapat diprediksi akan mempunyai return yang negatif atau dengan kata lain, return pasar di BEJ dapat diprediksi berdasarkan pengaruh kalender tertentu. Anomali tersebut melanggar hipotesis mengenai efisiensi pasar bentuk lemah yang menyatakan bahwa informasi harga sekuritas masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang sehingga informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk mendapatkan

return yang tidak normal. Hal ini menyebabkan adanya return yang tidak random,

tetapi dapat diprediksi berdasarkan pengaruh kalender tertentu.

Budileksmana dan Hambayanti (2006) melakukan penelitian tentang stabilitas fenomena the Monday effect di Bursa Efek Jakarta. Data yang digunakan adalah IHSG harian dan indeks LQ45 harian dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat gejala the Monday Effect di BEJ pada IHSG dan indeks LQ45. Berdasarkan kajian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis pertama pada penelitian ini:

H1: Return saham hari Senin lebih rendah dari pada return saham hari-hari lainnya

Week Four Effect dan Return Saham

Abraham dan Ikenberry (1994) melakukan penelitian tentang investor individual dan efek akhir pekan. Penelitian ini menjelaskan tentang perilaku perdagangan investor individual dengan menggunakan data NYSE odd-lot trading dari tahun 1963-1991. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penjualan tertinggi terjadi pada hari Senin dengan rata-rata 0,5325% dari total volume NYSE diikuti dengan nilai terendah 0,3861% pada hari Jum’at. Penelitian juga membuktikan bahwa return Senin secara subtansial rendah diikuti lebih dahulu return terendah pada hari Jum’at. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan korelasi yang kuat antara Jum’at dan Senin.

Wang et.al (1997) melakukan penelitian tentang suatu pandangan baru pada

Monday effect. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan menggunakan

data indeks NYSE-AMEX periode 1962-1993 dan indeks Nasdaq periode 1973-1993. Hasil ini membuktikan bahwa rata-rata return Senin untuk dua minggu terakhir berkisar 0,1934% lebih rendah daripada tiga minggu pertama (t-statistik = 3,77) ketika indeks NYSE-AMEX digunakan selama periode 1962-1993. Untuk indeks Nasdaq, rata-rata return Senin untuk dua minggu terakhir adalah 0,2534% lebih

rendah daripada tiga minggu pertama (t-statistik = 4,26) selama periode 1973-1993. Dapat disimpulkan, hasil ini menunjukkan bahwa Monday effect disebabkan oleh besarnya Senin pada dua minggu terakhir yaitu minggu keempat dan kelima dalam sebulan. Artinya, return Senin pada tiga minggu pertama umumnya tidak signifikan berbeda dengan nol dan umumnya return Senin signifikan lebih tinggi pada dua minggu terakhir.

Penelitian Sun dan Tong (2002) dalam Cahyaningdyah (2005) menggunakan CRSP value weighted return dan equal weighted return series menemukan bahwa

return Senin yang negative terkonsentrasi pada minggu keempat setiap bulan yaitu

antara tanggal 18-26, hal ini berkaitan dengan tuntutan likuiditas investor individu. Mereka menyebut fenoemena ini sebagai week four effect. Penelitian ini juga menemukan bahwa negatif return yang terkonsentrasi antara tanggal 18-26 dapat dijelaskan secara statistik oleh negatif return yang terjadi pada Jum’at sebelumnya.

Iramani dan Mahdi (2006) melakukan penelitian tentang studi tentang pengaruh hari perdagangan terhadap return saham pada BEJ. Data yang digunakan adalah IHSG penutupan harian dalam LQ45 selama periode Januari sampai Desember 2005 di BEJ. Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata return hari Senin pada akhir bulan adalah negatif signifikan. Sedangkan rata-rata return Senin pada awal bulan tidak signifikan atau tidak berbeda dengan nol. Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis kedua dalam penelitian ini: H2 : Return saham hari Senin minggu keempat lebih rendah dari pada return

saham hari Senin pada minggu lainnya Rogalski Effect dan Return Saham

Rogalski effect bisa diartikan sebagai suatu fenomena dimana return negatif

yang biasa terjadi pada hari senin (Monday effect) menghilang pada bulan tertentu. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan return yang lebih tinggi pada bulan tersebut dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya (Iramani dan Mahdi, 2006).

Fama (1991) menyimpulkan bahwa pada periode 1941-1981, return di bulan Januari lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, dan perbedaan yang lebih besar terjadi pada saham yang nilai kapitalisasi pasarnya kecil. Sedangkan untuk periode sampai dengan Januari 1991, Fama juga menemukan hal yang sama, tetapi perbedaan return di bulan Januari untuk small stock dan larger stock tidak terlalu besar. Return abnormal di bulan Januari untuk small stock umumnya relatif tinggi pada hari-hari awal bulan.

Rogalski (1984) melakukan penelitian tentang keterkaitan antara hari Senin, bulan Januari, dan ukuran perusahaan. Data yang digunakan adalah saham harian CRSP untuk 20 tahun selama periode 1963-1982. Sampel terdiri dari semua perusahaan yang terdaftar pada NYSE atau ASE. Data tersebut dikelompokkan menjadi 3 bagian yang terdiri dari panel A, B, dan C. Panel A menggunakan semua bulan membuktikan bahwa portofolio kecil mempunyai return Senin positif selama periode 1963-1982. Panel B menggunakan hanya bulan Januari membuktikan bahwa pada bulan Januari rata-rata return Senin pada semua ukuran portofolio positif.

Return Senin pada bulan Januari berhubungan langsung dengan ukuran perusahaan.

Januari dibandingkan perusahaan besar. Sedangkan panel C menggunakan semua bulan kecuali bulan Januari membuktikan bahwa rata-rata return Senin negatif.

Di pasar modal Indonesia, khususnya Bursa Efek Jakarta, January effect adalah fenomena yang tidak relevan. Hasil penelitian Puspitasari (2002) dalam Cahyaningdyah (2005) menunjukkan bahwa January effect tidak terjadi di BEJ. Diduga Monday effect menghilang pada bulan April berkaitan dengan earnings

management yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik yang menyampaikan

laporan keuangan mereka.

Cahyaningdyah (2005) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh hari perdagangan terhadap return saham : pengujian week four effect dan rogalski effect di BEJ. Hasil penelitian menemukan bahwa return April cenderung lebih tinggi disbanding return di bulan lain (non April), hal ini berkaitan dengan sistem pelaporan keuangan yang ada di BEJ dimana perusahaan publik wajib melaporkan laporan keuangan mereka maksimal 120 hari setelah tanggal tutup buku yang jatuh pada bulan April dan berkaitan dengan praktek manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan publik yang menimbulkan sentimen positif pada pasar yang kemudian dapat menaikkan harga saham. Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis ketiga dalam penelitian ini:

H3 : Return saham hari Senin pada bulan April lebih tinggi dari pada return saham hari Senin pada bulan lainnya

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 50-53)