• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN KETERBATASAN DAN SARAN Kesimpulan

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 144-148)

Kesimpulan

1. Penilaian kemampuan keuangan daerah berdasarkan rasio kemandirian keuangan menunnjukkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Pemerintah Aceh berada pada katagori rendah sekali dengan pola hubungan antara pemerintah pusat dan daerah termasuk dalam pola instruktif. Artinya, peranan pemerintah pusat lebih dominan daripada pemerintah daerah.

2. Penilaian kemampuan keuangan daerah berdasarkan rasio derajat desentralisasi fiskal menunjukkan bahwa hanya Pemerintah Aceh yang termasuk pada kualifikasi kurang, sedangkan kabupaten/kota lainnya termasuk kualifikasi sangat kurang.

3. Penilaian kemampuan keuangan daerah berdasarkan indeks kemampuan keuangan rutin menunjukkan bahwa masih sangat kurangnya pendapatan asli daerah dalam membiayai keperluan rutin sehingga ketergantungan terhadap dana transfer pemerintah pusat masih sangat besar.

4. Penilaian kemampuan keuangan daerah berdasarkan rasio keserasian menunjukkan bahwa pengelolaan persentase antara belanja langsung dan tidak langsung sudah didominasi oleh belanja langsung. Namun demikian, demikian persentase belanja pegawai yang terdapai pada klasifikasi belanja tidak langsung

mencapai 55% sampai dengan 75%. Pengalokasian belanja pegawai termasuk katagori tinggi dan banyak digunakan pada hal-hal yang tidak tepat.

5. Penilaian kemampuan keuangan berdasarkan rasio pertumbuhan terutama pada item Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, belanja langsung, dan belanja tidak langsung menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan PAD masih sangat lambat dibandingkan dengan dana Perimbangan, sedangkan peningkatan belanja baik secara langsung maupun belanja tidak langsung cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa lambatnya pertumbuhan pendapatan asli daerah masih belum dapat men-cover besarnya jumlah belanja yang terus meningkat setiap tahun, sehingga ketergantungan terhadap dana transfer masih menjadi hal utama dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah di Pemerintah Aceh.

Saran

1. Peningkatan PAD menjadi tumpuan untuk meningkatkan rasio kemandirian keuangan, rasio derajat desentralisasi fiskal, indeks kemampuan rutin, dan rasio pertumbuhan PAD itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkrit untuk meningkatkan nilai PAD, diantaranya :

a. Mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki (intensifikasi) melalui :

Memperbaharui database wajib pajak yang ada di daerah.

• Melakukan penilaian tingkat hunian hotel pada daerah yang memiliki potensi yang tinggi dalam hal hunian hotel apabila setoran pajak pada hotel tersebut tidak sebanding dengan tingkat hunian hotel.

• Mengeluarkan kebijakan penetapan tarif diawal secara proporsional untuk daerah yang potensi hunian hotel termasuk rendah.

• Mengadopsi system retribusi langganan parkir, khususnya bagi daerah yang potensial dengan banyaknya kendaraan bermotor.

• Meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan bidang yang dibutuhkan dan melakukan studi banding ke daerah lain yang telah mampu mengoptimalkan pencapaian pendapatan asli daerahnya.

• Melakukan pengawasan secara dadakan maupun berkala terhadap wajib pajak dan menerapkan sanksi pasti kepada wajib pajak yang lalai dalam menyelesaikan tanggung jawabnya.

• Meningkatkan efesiensi administrasi terutama dalam hal retribusi daerah melalui system bendahara penerimaan tunggal.

b. Mengeksplorasi sumber-sumber pendapatan baru yang masih potensial (ekstensifikasi) melalui :

• Mengelola potensi daerah yang berbatasan dengan pantai barat, sehingga dapat diminati oleh pengunjung.

• Memanfaatkan lahan kosong menjadi fungsional dan produktif dengan mengembangkan agrobisnis.

2. Berkaitan dengan derajat desentralisasi fiskal yang menunjukkan masih sangat kurangnya kemampuan PAD dalam membiayai kegiatan pemerintahan, memberikan dampak terhadap besarnya nilai dana perimbangan yang diperoleh.

Dengan adanya dana peimbangan ini diharapkan dapat mengoptimalkan pelayanan prima terhadap publik (public service) maupun penyediaan barang publik (public good) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

3. Merelokasi belanja pegawai yang terdapat pada belanja tidak langsung yang digunakan tidak semestinya ke dana bergulir untuk meningkatkan perekonomian rakyat melalui kredit lunak. Sehingga dengan berkembangnya perekonomian rakyat juga akan berdapak pada peningkatan pendapatan asli daerah.

REFERENSI

Adi, Priyo Hari. 2007. Kemampuan Keuangan Daerah Dalam Era Otonomi dan

Relevansinya dengan Pertumbuhan Ekonomi (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa – Bali) . The 1st Accounting Conference, Universitas Indonesia. Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Edisi Pertama.

Yogyakarta: BPFE, UGM.

Barus, Sabari. 2004. Eksistensi Peraturan Daerah Dalam Pencapaian Tujuan

Otonomi Daerah. Thesis Abstrak, 1 : 1-2 (abstrak)

Devas, Nick, dkk. 1989, Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia, (Terjemahan Masri Maris), Jakarta : UI-Press.

Domai, Tjahjanulin, 2002, Reinventing Keuangan Daerah (Studi tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah), Jurnal Administrasi Negara, Vol. II, No. 2,

Maret 2002.

Dwiranda, A.A.N.B. 2007. Efektivitas dan Kemandirian Keuangan Daerah Otonom

Kabupaten/Kota di Propinsi Bali Tahun 2002-2006. Jurnal Akuntansi

Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.

Halim, Abdul. 2001. Bunga Rampai : Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.

_____ . 2008. Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta : Salemba Empat.

Harian Serambi Indonesia, Usulan Eksekutif dalam RAPBA 2010 Belanja Aparatur Boros, 21 Januari 2010.

Harian Serambi Indonesia, Realisasi PAD Aceh Tenggara 2009 Tak Capai Target, 5 Februari 2010.

Harian Serambi Indonesia, Target PAD Aceh Besar Tak Tercapai, 5 Februari 2010. Haris, Syamsudin. 2005. Desentralisasi dan Otonomi Daerah (Desentralisasi,

Demokratisasi & Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Jakarta : LIPI Press.

Kamaluddin, Rustian. 2000. Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam

Rangka Otonomi Daerah. Naskah No. 20, Juni – Juli 2000.

Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 29 tahun 2002 Tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Keputusan Presiden No. 33 tahun 1969 Tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1969/1970.

Kuncoro, Mudrajat. 1995. Desentralisasi Fiskal di Indonesia : Dilema Otonomi dan

Ketergantungan. Prisma, No 4, 3 - 17

Kuncoro, Mudrajat. 1997. Otonomi Daerah Dalam Transisi. Temu Alumni dan Seminar Nasional Manajemen Keuangan Daerah Dalam Era Global. KKD – FE UGM, 12 April 1997, Yogyakarta.

Mahmudi.2007. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.

Mardiasmo.2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 Tentang Pengolahan Dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

Reksohadiprodjo, Sukanto. 2001. Ekonomika Publik. Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta.

Satija, dkk., Kapasitas Keuangan Daerah Kabupaten Sleman, Jurnal Sosiosains, Juli 2006, UGM.

Setiaji, Wirawan. Adi, Priyo Hari. 2007. Peta Kemampuan Keuangan Daerah

sesudah otonomi daerah : Apakah Mengalami Pergeseran? (Studi Pada Kabupaten/Kota Se Jawa – Bali). Simposiun Nasional Akuntansi X. Makasar

: Universitas Hasanuddin.

Sidik, Machfud, DR, M.Sc. 2002. Optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Dalam

Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah. Disampaikan dalam

orasi ilmiah pada Acara Wisuda STIA LAN Bandung. April 2002.

Sugiyanto, Catur, Dr., MA. 2003. Tantangan Kapasitas Dalam Pelaksanaan

Desentralisasi Fiskal di Indonesia, Jurnal Sosiosains Edisi 9/IX/2003, UGM.

Sumardi. 2008. PAD dan Peta Kemampuan Keuangan Daerah. Disampaikan pada workshop DPRD Kabupaten Nganjuk, Semarang. April 2008

Tangkilisan, H.N.S. 2005. Manajemen Publik. Jakarta : PT. Grasindo

Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik, 2007,

Analisis Laporan Keuangan Daerah, STAN.

Triastuti, Maria RH., dkk, Analisis Kemandirian Keuangan Daerah Kota Yogyakarta (Studi tentang Desentralisasi dan Otonomi Fiskal Daerah). Jurnal Sosiosains, April 2005, UGM.

Tumilar, R.L.H. 1997. Otonomi Daerah dan Ekonomi Daerah Tingkat II di Propinsi Sulawesi Utara. Tesis Pasca Sarjana IESP UGM, Yogyakarta, (tidak dipublikasikan).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara pusat dan daerah.

Wulandari, Anita. 2001. Kemampuan Keuangan Daerah di Kota Jambi Dalam

Melaksanakan Otonomi Daerah. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik,

ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN USAHA KECIL

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 144-148)