• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORITIS Otonomi Daerah

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 61-65)

Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, sekalipun dalam perkembangannya dari periode ke periode terlihat adanya perbedaan dalam intensitasnya.

Daerah otonom muncul sebagai akibat dari pelaksanaan tugas desentralisasi. Mula-mula otonom berarti “mempunyai sendiri” atau mempunyai hak, kekuasaan/wewenang mengatur untuk membuat peraturan sendiri dalam batas-batas tertentu. Kemudian daerah otonom berkembang menjadi “pemerintah sendiri”, dengan demikian daerah otonom dapat diartikan sebagai daerah yang berhak dan berkewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (Kaho, 1991:14). Yang diatur dan diurus ialah tugas-tugas atau urusan-urusan tertentu yang diserahkan pemerintah pusat kepada daerah.

Pamuji (1991 : 1) berpendapat bahwa, pemberian otonomi daerah akan mengarah kepada kemandirian daerah dan meningkatkan partisipasi politik rakyat serta membuka peluang bagi daerah membangun wilayahnya secara intensif. Seterusnya Kaho (1992 : 11) mengatakan maksud dan tujuan diadakan pemerintah daerah adalah untuk mencapai efektifitas pemerintahan dan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan akan menjadi lebih demokratis.

Agar tercapainya prinsip efisiensi dan efektifitas pemerintahan, perlu adanya kriteria yang diperlukan untuk menetapkan tugas dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Pamuji (1991 : 61-62) menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberi pelayanan dan pembangunan. Keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata

Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Sumber pendapatan daerah tidak saja Pendapatan Asli Daerah (PAD), akan tetapi termasuk pula sumber pendapatan daerah yang berasal dari penerimaan pemerintah pusat, yang dalam realisasi dapat saja berbentuk bagi hasil penerimaan Pajak dari pusat atau lainnya yang berbentuk subsidi atau sokongan keperluan pembangunan daerah dan sebagainya.

Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan Undang- undang Nomor 33 Tahun 2004 terdiri dari :

a. Hasil pajak daerah ; b. Hasil retribusi daerah ;

c. Hasil perusahaan milik daerah pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan d. Lain-lain hasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.

Keberadaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) diarahkan untuk terciptanya kemandirian Daerah, hal ini secara jelas disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Bab II Pasal 3 ayat 1 sebagai berikut : “ Pendapatan Asli Daerah (PAD) bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi-potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.

Pajak Daerah

Ada banyak pilihan bagi pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan, diantaranya lewat pajak daerah. Dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat yang lebih merata, pemerintah daerah hendaknya terus meningkatkan

usaha-usaha pembangunan yang salah satu sumber pembiayaannya adalah pajak daerah.

Pajak Daerah merupakan peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public

investment ( Kaho, 2001:56 ). Selain itu Davey (1995:33) mengemukakan

pendapatnya tentang Pajak Daerah yaitu :

1. Pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dengan peraturan daerah sendiri 2. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan nasional tapi pendapatan tarifnya

dilakukan oleh Pemda.

3. Pajak yang dipungut atau yang ditetapkan oleh Pemda.

4. Pajak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat tetapi pungutan kepada, dibagi hasilkan dengan atau dibebani pungutan tambahan (opsen) oleh Pemda.

Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 disebutkan bahwa Pajak Daerah merupakan iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung dan seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah.

Dengan demikian Pajak Daerah merupakan pungutan atau pengalihan kekayaan dari rakyat kepada Kas Negara guna membiayai pengeluaran daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan.

Retribusi Daerah

Retribusi Daerah itu sendiri berdasarkan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah disebutkan bahwa Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Sedangkan menurut Nasrun (2001:129 ) Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran pemakai atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemakai jasa atau karena mendapatkan jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah bagi yang berkepentingan orang pribadi atau badan karena jasa yang diberikan oleh daerah.

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Dalam usaha menggali sumber pendapatan daerah dapat dilakukukan dengan berbagai cara selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus adalah Perusahaan Daerah.

Di dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa yag dimaksud dengan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan antara lain bagian laba dari BUMD (Perusahaan Daerah), hasil kerja sama dengan pihak ketiga. Dalam usaha menggali sumber pendapatan daerah dapat dilakukan dengan berbagai cara selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus adalah perusahaan daerah.

Lain-lain PAD yang Sah

Sumber-sumber penerimaan daerah yang juga tidak dapat digolongkan sebagai penerimaan pajak, retribusi, penerimaan perusahaan daerah maupun penerimaan dinas-dinas adalah penerimaan lain dari hasil usaha daerah yang sah. Contohnya penerimaan dari sewa rumah dinas milik daerah serta hasil penjualan barang-barang daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa yang termasuk dalam Lain-lain PAD yang sah yaitu :

a. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan b. Jasa giro

c. Pendapatan bunga

d. Keuntungan selisish nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, dan

e. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

METODOLOGI PENELITIAN

Data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data posisi dan potensi pendapatan asli daerah tahun 2002 sampai dengan 2008, trend pendapatan asli daerah tahun 2008 sampai dengan 2012, dan upaya peningkatan pendapatan asli daerah serta penggalian sumber-sumber yang dapat memperbesar Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe.

Data sekunder yang akan diteliti meliputi jenis-jenis penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe yang bersumber dari berbagai instansi lain antara lain :

1. Kantor Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Lhokseumawe 2. Bagian keuangan Setwilda Kota Lhokseumawe

3. Bappeda, dinas-dinas terkait dan Kantor Statistik Kota Lhokseumawe 4. Kecamatan dan Kelurahan di Kota Lhokseumawe

5. Sumber-sumber lain yang ada hubungannya dengan penelitian ini

Di samping itu diadakan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan baik secara normatif maupun secara kualitatif, dengan mengadakan pengkajian buku-buku, website, jurnal, artikel dan peraturan-peraturan serta undang-undang yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Cara analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara kualitatif deskriptif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif adalah dengan menggunakan penjelasan-penjelasan yang berkaitan dengan penelitian. Sedangkan analisis kuantitatif adalah dengan menggunakan perhitungan trend dengan menggunakan metode least square. Metode ini digunakan karena berdasarkan analisis awal bahwa metode ini lebih tepat hasilnya daripada metode moment dan metode kuadrat. Data sekunder yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe dari tahun 2002 sampai dengan 2007, sedangkan untuk data tahun 2008 menggunakan data target Pendapatan Asli Daerah, hal ini dikarenakan penelitian ini dilakukan pada Bulan September dan belum diperolehnya data realisasi Pendapatan Asli Daerah sampai dengan Bulan Desember 2008.

Sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dikemukakan terdahulu untuk menghitung pertumbuhan dan kontribusi digunakan rumus sebagai berikut:

a. Pertumbuhan (Shift) Pertumbuhan (∆Y) = 100% 1 1 0 x t t t Dimana : (∆Y) = laju pertumbuhan 0 t = tahun tertentu 1 −

t = satu tahun sebelumnya

b. Kontribusi (KvPAD) = x100% V V APBD PAD Dimana :

(KvPAD) = kontribusi variabel PAD VPAD = variabel PAD, dan

VAPBD = variabel komponen APBD

Untuk trend pendapatan asli daerah digunakan rumus sebagai berikut. Y=a+bX

b = a =

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 61-65)