• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORITIS

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 85-87)

Industri merupakan perusahaan yang menjalankan operasi dalam bidang kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan seperti itu antara lain adalah pabrik tekstil, pabrik perakit atau pembuat mobil dan pabrik pembuat minuman ringan. Dalam teori ekonomi istilah industri diartikan sebagai kumpulan firma-firma yang menghasilkan barang yang sama atau sangat bersamaan yang terdapat dalam suatu pasar. Industri bisa juga diartikan sebagai gabungan perusahaan yang menggunakan input yang sama, atau menghasilkan barang yang sama atau mempunyai proses produksi yang sama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan indsutri menjadi empat golongan, yaitu (i) Industri besar, apabila mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih; (ii) Industri sedang, apabila mempunyai tenaga kerja 20–99 orang; (iii) Industri kecil, apabila mempunyai tenaga kerja 5–19 orang; dan (iv) Industri rumah tangga, apabila memiliki tenaga kerja 1–4 orang. Golongan atau jenis industri berdasarkan besar kecil modal digolongkan menjadi dua jenis industri, yaitu (i) Industri padat modal, yaitu industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya; dan (ii) Industri padat karya, yaitu industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.

Untuk keperluan perencanaan anggaran negara dan analisis pembangunan, pemerintah membagi sektor industri pengolahan menjadi tiga subsektor, yaitu (i) Subsektor industri pengolahan non migas; (ii) Subsektor pengilangan minyak bumi; dan (iii) Subsektor pengolahan gas alam cair. Sedangkan untuk keperluan pengembangan sektor industri itu sendiri serta berkaitan dengan administrasi

Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, digolongkan atas hubungan arus produk, yaitu pertama industri hulu, yang terdiri dari (a) Industri kimia dasar; dan (b) Industri mesin, logam dasar dan elektronika. Kedua, industri hilir, yang terdiri dari (a) aneka industri; dan (b) industri kecil.

Menurut BPS, industri kecil merupakan sebuah usaha rumah tangga yang melakukan kegiatan mengolah barang dasar menjadi barang jadi atau setengah jadi, barang setengah jadi menjadi barang jadi atau dari yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dengan maksud untuk dijual, dengan jumlah pekerja paling sedikit 5 orang dan paling banyak 19 orang termasuk pengusaha dan pemilik. Selanjutnya, Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan, industri kecil adalah kelompok usaha yang dimiliki penduduk Indonesia dengan jumlah asset kurang dari Rp.600 juta di luar tanah dan bangunan yang digunakan.

Selanjutnya industri kecil menurut Anoraga (2007:46) yaitu unit produksi yang memiliki karakteristik (i) sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standar; (ii) margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang tinggi; dan (iii) modal terbatas.

Faktor produksi modal dan tenaga merupakan salah satu aspek penting dalam proses produksi yang dilakukan oleh industri termasuk didalamnya industri kecil. Faktor produksi ini sangat mempengaruhi terhadap efisiensi baik efisiensi input maupun efisiensi proses produksi pada industri kecil di Kota Banda Aceh. Suatu unit produksi dinyatakan efisien jika mampu menghasilkan produksi optimal dan produktivitas input berada pada tingkat constant return to scale (CRTS).

Menurut Case & Fair (2007:470), modal adalah barang yang dihasilkan oleh sistem ekonomi, dan digunakan sebagai masukan (input) untuk memproduksi barang dan jasa lain dimasa yang akan datang. Selanjutnya menurut BPS, pengertian dari tenaga kerja (manpower) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Menurut Undang- undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Input modal dan tenaga kerja merupakan faktor penting yang memperngaruhi kegiatan produksi. Menurut Sugiarto et.al. (2002) produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa dinyatakan dalam fungsi produksi. Analisis terhadap kegiatan produksi perusahaan dikatakan berada dalam jangka pendek apabila sebagian dari faktor produksi dianggap tetap jumlahnya (fixed input) sedangkan dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat mengalami perubahan yang artinya bahwa setiap faktor produksi dapat ditambah jumlahnya kalau memang diperlukan.

Faktor produksi dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi disebut sebagai output. Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam bentuk rumus (fungsi Cobb-

Douglas) seperti berikut (Sukirno, 2005:192) :

Q = f (K, L, R,T) (1)

di mana K adalah jumlah stok modal; L adalah jumlah tenaga kerja, meliputi berbagai jenis tenaga kerja dan keahlian keusahawanan; R adalah kekayaan alam; T adalah tingkat teknologi yang digunakan; Q adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh

berbagai jenis faktor-faktor produksi, yaitu secara bersama digunakan untuk memproduksi barang yang sedang dianalisis sifat produksinya.

Faktor produksi yang telah melalui proses produksi dapat dilihat karakteristik produksinya yaitu efisien dan tidak efisien. Menurut beberapa pakar ekonomi, konsep efisiensi lebih ditekankan pada biaya termasuk dalam penggunaan modal dan tenaga kerja dalam menghasilkan output. Suatu kegiatan produksi dianggap efisien bilamana dengan input yang lebih sedikit akan menghasilkan output yang sama.

Secara empiris, efisiensi input dan efisiensi produksi dapat diuji dengan menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya dengan pendekatan stokastik. Pengujian ini sudah dilakukan oleh Aliasuddin (2009) mengenai Efisiensi Industri Kecil di Banda Aceh : Pendekatan Data Pool 2006-2007. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini yaitu hasil estimasi memperlihatkan bahwa industri kecil sudah mencapai efisiensi penggunaan input tetapi belum mencapai efisiensi proses produksi. Selanjutnya efisiensi proses produksi belum tercapai diduga sebagai akibat dari potensi pasar yang relatif terbatas sehingga industri kecil harus menyesuaikan produksinya sesuai dengan permintaan pasar. Model yang digunakan Aliasuddin (2009) adalah model Pooled Data. Agar penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, maka pendekatan yang digunakan adalah Panel Data. Beberapa studi lainnya sudah dilakukan dengan modal dan pendekatan yang berbeda, misalnya, Aliasuddin (2002a; 2002b; dan 2003).

Selanjutnya penelitian mengenai efisiensi telah dilakukan oleh Sari (2010) mengenai Pengujian Efisiensi Industri Kecil Formal Sektor Logam di Kota Banda Aceh: Pendekatan Fungsi Produksi Ray-Homothetic. Kesimpulan dari penelitian ini secara keseluruhan semua kelompok industri sektor logam tidak efisien karena tidak semua sektor logam mencapai produksi output yang optimal, tetapi jika dilihat secara individu dapat dikatakan bahwa ada sektor logam yang mencapai tingkat optimal dan efisien. Industri formal menurut sektor logam belum dapat bersaing dari segi penggunaan input.

Dalam dokumen Vol.12 No.3 Oktober 2011 (Halaman 85-87)