Pengangguran merupakan salah satu masalah ketenagakerjaan yang disebabkan adanya ketimpangan antara perkembangan angkatan kerja yang jauh lebih pesat dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja itu sendiri. Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan (Sukirno, 2000:474). Untuk dapat menggolongkan dan mengelompokan masing-masing dari pengangguran tersebut harus memperhatikan beberapa dimensi yang erat kaitannya dengan pengangguran itu sendiri, Arsyad (1992:246) yaitu :
1. Dimensi waktu, banyak di antara mereka atau pekerja ingin bekerja lebih lama. 2. Intensitas pekerjaan dalam hal ini dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi para
pekerja.
3. Produktivitas yang rendah disebabkan oleh tidak cukupnya sumber daya komplementer.
Jenis Pengangguran:
1. Pengangguran Friksional/ normal (frictional unemployment) adalah pengangguran sebanyak dua atau tiga persen dari jumlah tenaga kerja, pengangguran ini disebabkan oleh suatu tindakan seseorang yang bekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. 2. Pengangguran Siklikal adalah pengangguran yang terjadi karena menurunnya
permintaan agregat yang mengakibatkan turunnya tingkat produksi perusahaan- perusahaan dan akan mengurangi pekerja atau menutup perusahaannnya, maka pengangguran akan bertambah.
3. Pengangguran Struktural (structur unemployment) adalah suatu jenis pengangguran yang terjadi karena perubahan struktur kegiatan ekonomi yang semakin merosot. Kemajuan teknologi yang mengakibatkan menurunnya permintaan terhadap barang tersebut, biaya pengeluaran sudah sangat tinggi dan tidak mampu bersaing, ekspor produksi yang menurun karena tidak mampu bersaing dengan negara pengekspor lain. Kemerosotan tersebut akan mengurangi kegiatan produksi dalam industri tersebut dan sebagian pekerja terpaksa diberhentikan sehingga menambah pengangguran.
4. Pengangguran Teknologi
Pengangguran ini terjadi karena penggantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia dari kemajuan teknologi.
Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah sebuah keseimbangan dinamis antara kekuatan penambah dan kekuatan pengurang. Pertambahan penduduk meningkat disebabkan oleh bertambahnya kelahiran, tetapi secara bersamaan jumlah penduduk dikurangi oleh kematian orang-orang pada berbagai usia. Sementara pada situasi yang sama juga terjadi pada migrasi. Pertambahan penduduk terjadi karena jumlah migran yang masuk lebih besar dari pada jumlah migran yang keluar. Penduduk merupakan pendorong perekonomian karena perkembangan penduduk memungkinkan pertumbuhan jumlah tenaga kerja dari masa ke masa. Selanjutnya, pertambahan penduduk dan pemberian pendidikan kepada mereka sebelum menjadi tenaga kerja, memungkinkan suatu masyarakat memperoleh bukan saja tenaga ahli, akan tetapi juga tenaga kerja terampil, terdidik dan entrepreneur yang berpendidikan. (Sukirno, 2006 : 98)
Tingkat pertumbuhan penduduk di negara berkembang umumnya lebih tinggi dari pada di negara maju, demikian juga tingkat pertumbuhan penduduk di daerah pedesaan lebih tinggi dari pada di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor physikologies yang mana mereka punya anggapan bahwa dengan mempunyai banyak anak akan membawa pada peroleh rezeki yang lebih besar.
Pertumbuhan Ekonomi
Pada umumnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi semakin meningkat. Sebagai implikasi dari perkembangan ini diharapkan kesempatan kerja semakin bertambah, tingkat pendapatan meningkat, dan kemakmuran masyarakat semakin tinggi (Sukirno,2006:9)
Menurut Arsyad (2005 : 7) “Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan PDB/PNB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak”. Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila tingkat kegiatan ekonomi meningkat dari satu periode ke periode berikutnya, berarti jumlah barang dan jasa yang dihasilkan bertambah besar pada tahun berikutnya yang berarti bahwa produktivitas dari faktor-faktor yang dimasukkan dalam produksi yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi meningkat.
Pertumbuhan Ekonomi sering diukur dengan menggunakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB/PDRB). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Di samping itu, Todaro (1999 :137) mengemukakan ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, ketiganya adalah :
1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, perekatan fisik, modal atau sumber daya manusia.
2. Pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya akan memperbanyak jumlah angkatan kerja.
3. Kemampuan teknologi. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu metode dalam penelitian suatu objek, suatu sistem pemikiran yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Nasir, 1998:63). Objek dalam penelitian ini adalah pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi yang diukur berdasarkan PDRB dalam harga konstan dan jumlah pengangguran di Provinsi Aceh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun 1990-2008.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), kantor Dinas Tenaga Kerja dan Kependudukan provinsi Aceh. Selain itu penulis juga menggunakan penelitian kepustakaan untuk mendukung dan melengkapi penelitian ini. Adapun model atau peralatan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda untuk melihat hubungan antara pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran yang dapat dilihat sebagai berikut (Supranto,2001:236):
Yi= βo+ β1 X1i+ β2X2i+ …. + βk Xki + ei
Di mana :
Yi = Variabel Dependent
βo = Konstanta
X1,2,i = Koefesien Variabel Independent
β1,2,k = Koefesien Variabel Independent
ei = Error Term
i = Jumlah data dari 1-n
kemudian akan coba diformulasikan ke dalam model berikut ini : Ui= β0+ β1 Pd+ β2 G + ei
Di mana :
Ui = Besarnya tingkat pengangguran
Pd = Tingkat Pertumbuhan Penduduk
G = Tingkat pertumbuhan Ekonomi β0 = Konstanta
β1 = Koefisien regresi untuk pertumbuhan penduduk
β2 = Koefisien regresi untuk pertumbuhan ekonomi (PDRB)
e = Error Term
i = jumlah data dari 1 sampai dengan N HASIL PEMBAHASAN DAN ANALISA
Perkembangan Penduduk Provinsi Aceh
Tahun 1991 jumlah penduduk di Provinsi Aceh sebesar 3.598.671 jiwa dan meningkat menjadi 4.293.900 pada tahun 2008. Jadi selama 17 tahun pembangunan
tersebut telah terjadi peningkatan penduduk sebesar 567.366 jiwa atau setiap tahunnya bertambah 38.623 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk dilihat dari persentasenya menunjukkan angka yang menggembirakan, karena berada di bawah 5 persen setiap tahunnya. Angka pertumbuhan penduduk tertinggi selama tahun 1991- 2008 terjadi pada tahun 2006 sebesar 2,92 persen. Tingginya pertumbuhan penduduk tersebut disebabkan oleh membaiknya kondisi ekonomi masyarakat. Namun, jika pertumbuhan penduduk tersebut terjadi setiap tahunnya dengan tingkat pertumbuhan yang relatif sama seperti pada tahun 2006 maka fenomena tersebut justru akan membuat pemerintah sulit untuk merumuskan kebijakan karena segalanya harus diarahkan pada peningkatan kesejahteraan rakyat melalui perluasan kesempatan kerja.
Untuk dapat melihat perkembangan pertumbuhan penduduk secara lebih jelas maka penulis menyajikan dalam bentuk trend dalam grafik IV-1. Dari grafik IV-1 dapat dilihat secara linear rata-rata pertumbuhan penduduk mengalami penurunan sebesar 0,052 persen setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena terjadi bencana tsunami yang menimpa Aceh pada tahun 2004 yang cukup banyak menelan korban jiwa hingga mengurangi 3,33 persen dari total penduduk Aceh.
Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh
Dalam pertumbuhan ekonomi terdapat proses produksi yang melibatkan berbagai faktor produksi guna menyerap sumber daya yang ada untuk tujuan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dihitung dari perkembangan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) non migas dalam harga konstan. Perkembangan pertumbuhan ekonomi provinsi Aceh dalam kurun waktu 1991-2008 terus mengalami perbaikan. Untuk dapat melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi secara lebih jelas maka penulis menyajikan dalam bentuk gambar di bawah ini.
Dari grafik 2 di atas dapat dilihat rata-rata pertumbuhan ekonomi dengan non migas itu positif, hal ini terjadi karena produksi non migas yang selalu meningkat dari tahun ke tahunnya sehingga menyumbang kontribusi yang positif bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh. Pertumbuhan ekonomi dengan non migas provinsi Aceh tertinggi adalah tahun 1994 dimana terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 9,70 persen dan pada tahun 1998 marupakan pertumbuhan ekonomi terendah sebesar -5,78 persen hal ini dikarenakan krisis moneter yang melanda Indonesia dan Provinsi Aceh khususnya, konflik yang terjadi di Provinsi Aceh juga ikut menghambat pertumbuhan PDRB terutama pada sektor pertanian, industri, pengolahan dan jasa transportasi. Tentu hal ini berakibat terhadap terpuruknya sektor-sektor ekonomi terutama sektor riil. Hingga pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi kembali meningkat menjadi 7,352,149.88 miliyar atau 9.18 persen. Hingga tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh mencapai angka 8,052,189.32 miliyar atau 1,89 persen dan rata-rata petumbuhan ekonomi selama kurun waktu tahun 1992-2008 adalah 4,11 persen. Jumlah Pengangguran di Povinsi Aceh
Salah satu permasalahan dalam pembangunan ekonomi adalah pengangguran, apabila pembangunan ekonomi tidak mampu menyerap atau menyediakan lapangan pekerjaan untuk sejumlah angkatan kerja yang belum mendapat pekerjaan (menganggur) maka masalah penganguran akan mengakibatkan masalah-masalah lainnya seperti masalah sosial yang dapat menghambat pembangunan ekonomi. Pada tahun 2002 dan 2003 jumlah pengangguran berkurang sebesar 24,13 dan 5,24 persen. Pada tahun 2004 dan 2005 jumlah pengangguran bertambah meningkat sebesar 10,48 persen dan 15,22 persen. Jumlah pengangguran mengalami jumlah penurunan setelah tahun ini hingga tahun 2008, sebagai akibat dari aktifnya kegitan rekontruksi pembangunan pasca tsunami yang melibatkan banyak tenaga kerja.
Untuk dapat melihat perkembangan tingkat pengangguran secara lebih jelas maka penulis menyajikan dalam bentuk gambar di bawah ini.
Dari grafik 3 di atas dapat di lihat bahwa trend persentase pengangguran rata- rata setiap tahunnya selama periode tahun 1992-2008 menurun dan tidak linear, angka pengangguran tertinggi terjadi pada tahun 1998 dimana mencapai angka 83,01 persen, hal ini akaibat krisis ekonomi yang sangat parah di Indonesia yang juga berdampak pada ketenagakerjaan di Aceh.
Pengaruh Pertumbuhan Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Pengangguran di Provinsi Aceh.
Jika dilihat dari perkembangannya maka dapat diketahui pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Privinsi Aceh setiap tahunnya sangat berfluktuasi, Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi pada persamaan ini merupakan variabel bebas (independent variable) sedangkan pengangguran adalah variabel tak bebas (dependent variable).
Tabel 4. Hasil Analisa Regresi
Variable Est. Coef Std. T-ratio Std. Elasticity Error P-Value Coef
Pd -0.063480 3.706 -0.01713 0.987 -0.0038 -0.0127
G -3.1210 1.184 -2.635 0.020 -0.5852 -2.3054 Constant 18.476 7.506 2.462 0.027 0.0000 3.3181 R Square 0.3435 Adjusted R Square 0.2497
Fhitung 2.866 Ttabel -0.8766
DW 1.6539
Sumber : Hasil Penelitian (lampiran 1)
Dari tabel 4 di atas dapat diketahui persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Ui = 18.476–0.063480Pd –3.1210G + ei Di mana :
Ui = Besarnya tingkat pengangguran
Pd = Tingkat Pertumbuhan Penduduk
Persamaan tersebut tidak menunjukkan angka yang signifikan pada 0,05 pada variabel Pd (X1i) dan menunjukkan angka yang signifikan pada α = 0,05 pada G
(X2i). Adapun interpretasi dari persamaan di atas adalah :
1. β0 = 18.476
Nilai konstanta sebesar 18,476 menunjukkan bahwa apabila tidak ada Tingkat pertumbuhan penduduk (variabel Pd ) dan G(Tingkat pertumbuhan ekonomi) atau (β1 dan β2 = 0), maka besarnya tingkat pengangguran rata-rata adalah sebesar 18,476
persen.
2. β1 = -0.063480
Koefesien pertumbuhan penduduk ini menunjukkan tidak signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Aceh pada level signifikan 5 persen.
3. β2 = -3.1210
Koeffisien Pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh (-) dan signifikan terhadap
tingkat pengangguran pada level signifikan 5 persen dengan nilai koefisien -3.1210 persen yang berarti apabila pertumbuhan ekonomi meningkat 1 persen, maka akan
mengurangi pengangguran sebesar 3.1210 persen dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap (Ceteris Paribus).
4. R-Square = 0.3435
Nilai Koefesien Determinasi (R-Square) sebesar 0,3435 menunjukan derajat pengaruh antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran sebesar 34,35 persen. Sementara 65,65 persen lainnya dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
5. R- Square Adj = 0.2497
Nilai R- Square Adj diperoleh sebesar 0,2497 yang berarti 24,97 persen variabel pengangguran dapat dijelaskan bersama-sama oleh variabel pertumbuhan penduduk dan variabel pertumbuhan ekonomi, sementara 75,03 persen lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini seperti kesempatan kerja diberbagai sektor, tingkat inflasi, maupun APBD.
Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji t dan uji F, maka diperoleh nilai thitung untuk β1 sebesar 0.01713 sedangkan ttabel sebesar -0.8766. Berdasarkan
hasil perbandingan dengan ttabel diperoleh hasil bahwa nilai thitung >ttabel , tetapi
nilai parsial korelasi sangat rendah yaitu sebesar 0.005. Hal ini berarti bahwa secara parsial variabel jumlah penduduk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Aceh dan juga tidak konsisten secara teori. Dalam hipotesis dan secara teori pertambahan jumlah penduduk akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran. Hal ini memungkinkan bahwa di Provinsi Aceh pengangguran lebih besar dipengaruhi oleh faktor-faktor selain jumlah penduduk seperti tingkat kesempatan kerja diberbagai sektor, kurangnya informasi yang didapat oleh pencari kerja, tingkat pendidikan yang masih rendah, kecakapan dan kemampuan yang kurang memadai, ditambah lagi dengan krisis ekonomi yang tidak juga berakhir berakibat pada peningkatan jumlah pengangguran setiap tahunnya.
Sedangkan nilai thitung untuk β2 sebesar -2.635 dan ttabel sebesar -0,8766. Berdasarkan
hasil perbandingan dengan ttabel diperoleh hasil bahwa nilai thitung -2.635 > ttabel -0,8766
pada tingkat keyakinan (level of significant) 95 persen dengan tingkat signifikansi sebesar 0,020. Nilai korelasi parsialpun sedang yaitu sebesar 0,589. Maka hal ini berarti bahwa secara parsial variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara negatif dan nyata signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Aceh dan konsisten secara teori.
Uji F menunjukkan bahwa Fhitung sebesar 2.866 dan uji Ftabel sebesar dengan
demikian maka nilai Fhitung 2.866>0,7685 Ftabel dengan tingkat signifikansi 0,074 atau
berada pada taraf signifikan 7,5 persen, hal ini berarti bahwa kedua variabel bebas (β1
dan β2) secara simultan berpengaruh terhadap pengangguran di Provinsi Aceh.
KESIMPULAN DAN SARAN