• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Analisa Level Persepsi

B.3. Persepsi Strategi Secara Umum

B.3.5 Identitas Tak Stabil

Pada analisa level persepsi ditemukan satu idnetitas lagi, yaitu yang menunjukkan kekurangkonsistenan identitas yang akan ditampilkan. Dalam penelitian ini disebut dengan Identitas Tak Stabil. Identitas tak stabil yang dimaksudkan disini adalah kecederungan sering tampak beralih-alihnya identitas yang ditampilkan dari satu jenis identitas ke identitas yang lain. Disini ditemukan strategi tampilan identitas yang beralih diantara dua identitas yaitu secara umum Identitas Perempuan Lemah tapi kadang menampilkan Identitas Perempuan Perkasa dan sebaliknya.

1. Secara Umum Lemah Kadang Perkasa

Secara umum lemah kadang perkasa, merupakan kondisi tampilan identitas yang kebanyakan menampakkan kondisi identitas perempuan lemah namun terkadang bisa tampil pula sebagai perempuan yang perkasa dengan ketegasannya. Kurang konsisten disini terutama tampak pada pernyataan terkait alasan penulisan status, yang umumnya mengarah ke Identitas Perempuan Lemah namun sesekali juga menampilkan Identitas Perempuan Perkasa. Kondisi ini

commit to user 231

tampak pada narasumber Buk Ida dan Mitha Elycia. Hal ini tampak pada pernyataan narasumber berikut:

“nama selain karena sering dipanggil itu, juga karena saya udah nikah jadi udah layak gitu dipanggil Buk, dengan nyantumin Buk, ga perlu jelasin lagi status pernikahan saya..PP itu dipilih karena seneng mbak itu moment saya sama keluarga liburan bareng, untuk nunjukin juga saya punya keluarga bahagia…info diri di FB cukup lengkap, saya kerja dimana. saya udah nikah atau belum, saya sekolah dmn aja, tanggal lahir saya..kalo untuk status, saya ga pernah kasar mungkin bernada tegas iya kan yang namanya status itu dibaca orang jadi biasanya saya juga pertimbangin supaya enak dibaca, bisa diterima dengan baik, tidak menimbulkan salah paham, tegas tapi ga bikin orang marah” (sumber: wawancara narasumber Buk Ida, tanggal 23 Juli 2012)

“nama akun karena itu gabungan dr nama familyku. Mytha was my name,elycia my daughter…pakai pp foto diri supaya lebih gampang dikenali..informasi diri yang saya cantumkan beneran apa adanya dan lengkap. Tentunya gambarannya ga sedetail kalo ketemu dan kenal langsung...status itu bagi saya tempat curhat, kadang lebay juga sich, ya bisa juga buat fun fun aja..di status kadang juga bisa ngeluh, marah, ya pokoknya curahin perasaan. tar saling komentar, dapat perhatian teman bisa ngobrol. Kan gitu…tapi kalo pas ngungkapi marah ya marah..udah ga mikir kata kata lagi..hehe..kadang nyinyir ya biar..mau dimarahin orang juga ga takut, selama saya bener ya udah..” (Sumber: wawancara narasumber Mitha Elycia, tanggal 6 Juni 2012)

Pernyataan-pernyataan dari kedua narasumber diatas terutama pada gaya penulisan status, menampakkan kegamangan. Pada pernyataannya tentang penulisan status, mereka menunjukkan status mengarah ke identitas perempuan lemah, namun sesekali juga menunjukkan ketegasan sebagaimana ada pada identitas perempuan perkasa. Kedua narasumber secara umum menunjukkan bahwa dalam menulis status mempertimbangkan hubungan dengan orang lain dan menggunakannya untuk berkeluh kesah, namun sesekali mereka juga mengatakan dalam status juga tak ragu menunjukkan ketegasan dan emosi marah yang

commit to user 232

dimiliki. Disinilah menunjukkan kedua narasumber masuk pada Identitas Tak Stabil.

2. Secara Umum Perkasa Kadang Lemah

Secara umum perkasa kadang lemah, merupakan kondisi tampilan identitas yang kebanyakan menampakkan kondisi identitas perempuan perkasa namun terkadang bisa tampil pula sebagai perempuan yang lemah. Kurang konsisten disini terutama tampak pada pernyataan terkait alasan penulisan status, yang umumnya mengarah ke Identitas Perempuan Perkasa namun sesekali juga menampilkan Identitas Perempuan Lemah.Kondisi ini tampak pada narasumber Khaka Denka Chan dengan pernyataan narasumber sebagai berikut:

“untuk nama akun, khakha sama denka itu panggilan dri ponakanku, Chan it ter inspirasi dri komik yg aku baca dri judul Mary chan, Denka dri bude rika…untuk pp yang dipakai, itu aku pas dipoto cantik, kebanyakan hanya aku pas suka dan pengen pasang itu..untuk info diri di FB Semua palsu, karena hanya orang yg berkenan buat aku yg bisa mengenalku...kalau untuk nulis status, kadang memang sesuatu yg penting yg kutemui..Kadang iseng, kadang juga kisah temen, kadang nyindir temen..Jarang juga tpi pernah jg ungkapan perasaan…kalau statusku terkesan marah atau nyindir orang, biasanya krn udah terlalu...dan emang aku mancing biar dia kerasa, karena dah dibilangin alus g nyadar juga..dan aku dah prepare semua resikonya..krn itu unsur sengaja” (sumber: wawancara narasumber Khaka Denka Chan, tanggal 6 Juni 2012)

Pernyataan-pernyataan dari narasumber diatas terutama pada gaya penulisan status, menampakkan kegamangan akan identitas yang ditampilkan. Bahwa umumnya namun menunjukkan status mengarah ke identitas perempuan perkasa, yang tak ragu menampilkan ketegasan yang dimilikinya dengan segala resikonya, namun sesekali juga menyatakan menggunakan pula status sebagai

commit to user 233

media pencurahan perasaan sebagaimana ada pada identitas perempuan lemah. Disinilah menunjukkan narasumber masuk pada Identitas Tak Stabil.

3. Secara material perkasa namun pada penulisan status lemah

Secara material perkasa namun pada penulisan stuatus lemah, merupakan kondisi tampilan identitas perempuan yang secara tampilan material facebook cendering mengarah ke identitas perempuan perkasa namun pada penulisan status umumnya menunjukkan identitas perempuan lemah. Kondisi ini tampak pada narasumber Cleopatra Salindri Pramundari. Hal ini tampak pada pernyataan narasumber berikut:

“untuk pemilihan nama akun, saya kerja pakai nama itu. Facebook juga saya gunakan untuk membangun jaringan saya. Kerja saya kan di finance. Jadi saya pakai nama asli saya. Biar mudah dikenali. Simple…untuk profile picture, itu saya pakai karena saya suka..kalau soal informasi diri, bagi saya facebook kan untuk memperluas jariangan kerja juga, jadi ya sebisa mungkin apa yang ada disana bisa menunjukkan siapa saya. Di informasi diri saya cantumin lengkap hal mendasar yang gambarin diri saya sekarang. Jujur, ga neko neko…kalau nulis status, saya itu bikin status ya tempat luapin perasaan, tekanan, pikiran. Seringnya buat sharing, cari teman yang menguatkan. Kadang juga luapin emosi yang ga bisa diungkapin di dunia nyata.” (sumber: wawancara narasumber Cleopatra Salindri Pramundari, tanggal 24 Juli 2012)

Pada pernyataan narasumber diatas, tampak pada material facebook, narasumber menunjukkan ketetapan hati yang kuat bagaimana dia ingin menampilkan dirinya, ketegasan dalam menentukan pilihan. Sehingga pada material facebook tampak jelas identitas perempuan perkasa. Namun demikian pada penulisan status ternyata pernyataan narasumber menunjukkan identotas yang berbeda. Narasumber cenderung menggunakan status untuk meluapkan perasaannya, mencari penguatan dari teman facebooknya. Pernyataan akan

commit to user 234

penulisan status oleh narasumber ini menunjukkan identitas perempuan lemah. Sehingga antara material dan status tidak menunjukkan identitas yang sama. Disinilah menunjukkan narasumber masuk pada Identitas Tak Stabil.

Secara keseluruhan terlihat baik pada analisa level teks maupun ketika dilakukan wawancara, bahwa tiap tiap perempuan pemilik akun memiliki strategi umum tampilan identitas diri sendiri sendiri. Dikatakan strategi umum, karena terkadang strategi yang digunakan bisa berubah sesuai kebutuhan dan keinginan pemilik akun, namun secara umum tiap pemilik akun menggunakan salah satu strategi. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan Goffman dalam teorinya tentang Dramaturgi bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, maka manusia akan mengelola pesan yang muncul dari dirinya, agar penerimaan orang lain yang melihatnya sesuai dengan apa yang diharapkannya. Seseorang akan mengelola bagaimana tampilannya identitas dirinya didepan orang lain, mengasumsikan bagaimana penilaian orang lain atas tampilan yang disajikannya, serta juga akan mengembangkan sikap atas penilaian yang diasumsikan akan muncul tersebut. (Santoso & Setiansah, 2010: 52-53).

Apa yang tampak pada para narasumber ini, serta adanya teori dramaturgi oleh Goffman tersebut sejalan dengan pernyataan dua ahli yang turut diwawancara peneliti guna mendapatkan data pendukung. Kedua ahli yang diwawancara tersebut mengatakan bahwa orang menampilkan identitas sesuai dengan apa yang diinginkannya. Keinginan ini muncul bisa karena didorong tuntutan lingkungan sosial, kondisi psikologis diri, budaya, norma, etika. Namun demikian memang perlu dipahami bahwa tuntutan maupun batasan yang dimiliki

commit to user 235

tiap orang berbeda-beda sehingga tidak bisa semua aturan disamaratakan. Berikut pernyataan yang didapat dari dua narasumber ahli yang berhasil dihimpun:

“di blog misalnya, kita bisa ngomong aaaaapa aja…ketidaksetujuan, ketidaksukaan thdp sesuatu. dsb dsb dsb…tapi di sisi lain, karena semua orang punya akses ke internet, ya tetep hrs ati2 juga..dan masing2 orang punya pagar yg tingginya beda2...” (sumber: wawancara narasumber Venus/ Driana Rini, tanggal 4 Juni 2012)

“Ya sebenarnya bukan cuma perempuan, semua orang akan menampilkan identitas di dunia online sesuai dengan apa yang diinginkannya.. Nah kalo kenapanya? Banyak sebabnya..bisa lingkungan sosialnya yang nuntut gitu..kondisi psikologis dalam diri..budaya..norma dan etika.. Yang pasti lingkungan sosial kita akan mempengaruhi norma dan etika yang perlu kita pegang kan..” (sumber: wawancara narasumber Gita Aprinta, tanggal 7 Juni 2012)

Sehingga bisa diinterpretasikan bahwa strategi penampilan identitas tiap orang bisa berbeda-beda. Karena tuntuan pada tiap orang berbeda, dan batasan yang dimiliki tiap orang juga berbeda. Bagaimana strategi penampilan identitas tiap orang, adalah murni keinginan orang yang bersangkutan dengan berbagai pertimbangan yang dimiliki tiap individu itu sendiri. Satu yang jelas bahwa benar memang ada berbagai tampilan identitas perempuan dalam media sosial.

C. Pembahasan