• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1. Deskrpsi Data Hasil Penelitian

5.1.4. Informan utama II

Nama : Ibu Lia

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 40 Tahun

Agama : Islam

Suku : Melayu

Pendidikan Terakhir : SMP

Alamat : Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Usaha : Warung kelontong

Informan Utama II yang peneliti wawancarai tentang strategi keluarga nelayan dalam memberdayakan ekonomi rumah tangga melalui usaha adalah Ibu Lia, beliau adalah istri dari Bapak Faisal yang melakukan usaha dalam pemberdayaan ekonomi rumah tangga, Ibu Lia berusia 40 tahun dan beragama

islam. Beliau mengenyam pendidikan sampai pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ibu Lia mengatakan bahwa pekerjaan suami dari melaut tidak selalu lancar selalu ada hambatan yang sering dihadapi oleh para nelayan atau suami beliau untuk melaut adalah faktor cuaca yang tidak menentu, pasang mati dan kadang gelombang yang cukup besar menghentikan kegiatan melaut yang seharusnya dilakukan oleh para nelayan disini termasuk suami dari Ibu Lia.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Pekerjaan suami ibu tidak selalu lancar karena banyak hambatan yang dihadapi suami ibu, hambatannya faktor cuaca yang tidak menentu, gelombang yang cukup besar dan pasang mati.”

Ibu Lia mengatakan bahwa Penghasilan suami tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam sebulan untuk biaya pengeluaran perhari pendidikan anak, ongkos dan jajan menghabiskan Rp 15.000 setiap harinya.

Apabila penghasilan suami dari melaut lebih dari kebutuhan sehari maka Ibu Lia akan menyimpan sebagian penghasilannya dan memakainya apabila suami sedang tidak melaut dan tidak memiliki pendapatan, Ibu Lia selalu mengutamakan biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga dari kebutuhan lain-lain yang tidak harus dipenuhi. Sedangkan untuk biaya listrik biasanya dibayar oleh ibu Lia mencapai Rp 35.000/bln.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Penghasilan suami tidak dapat mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dalam sebulan karena sangat banyak pengeluaran dalam setiap bulan

anak-anak ibu untuk biaya listrik 35.000/bln kalau suami memiliki penghasilan lebih dari kebutuhan sehari-harinya maka ibu bisa menabung untuk keperluan kebutuhan hidup disaat suami ibu tidak pergi melaut.”

Ibu Lia mengatakan bahwa pada disaat keadaan keuangan keluarga Ibu Lia sedang dalam kesulitan Ibu Lia akan pinjam uang kepada ibunya atau kepada kakak kandungnya itu pun tidak terlalu dibiasakan kalau sudah ada pendapatan hasil dari laut dibawa suami maka hasil tersebut dibagi dua untuk kebutuhan sehari-hari dirumah dan untuk membayar hutang kepada orang tua atau kakak kandung.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Kalau keadaan keuangan ibu sedang sulit, ibu akan pinjam uang kepada orang tua ibu atau kakak kandung ibu itu pun tidak dibiasakan.

Kalau sudah ada pendapatan suami dari laut maka hasil itu dibagi dua untuk kebutuhan sehari-hari dirumah dan untuk bayar hutang kepada orang tua atau kakak kandung ibu dek”.

Ibu Lia mengatakan bahwa anak kedua beliau sedang mengenyam pendidikan yang duduk di bangku kelas 3 SMP dan anak ketiganya masih duduk dibangku 6 SD tidak pernah diminta untuk ikut bekerja baik dirumah maupun kelaut, mereka difokuskan untuk mengikuti pendidikan dengan serius. Anak pertama mereka sebelumnya tidak bisa melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi karena kendala ekonomi dan masih ada dua anak Ibu Lia yang harus didahulukan untuk sekolahkan sehingga anak pertama Ibu Lia harus mengalah demi adik-adiknya.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Anak kedua dan anak ketiga kami masih sekolah, yang laki-laki SMP dan anak ketiga perempuan masih SD dek sebelumnya anak pertama kami tidak bisa lanjut untuk kuliah karena pengaruh kondisi ekonomi yang sedang susah juga padahal sebenarnya besar harapan kami buat anak pertama kami itu jadi anak kami tersebut ngalah biar adeknya bisa sekolah sekarang kedua anak kami yang sedang sekolah inilah yang kami dorong supaya serius dan sungguh-sungguh belajarnya, makanya tidak pernah dibawa kelaut dan tidak dikasih bekerja.”

Hal tersebut menjadi pembelajaran bagi mereka untuk membatasi anak ketiga yang masih sekolah untuk tidak ikut melaut, Kedua anak mereka yang masih sekolah menjadi harapan mereka untuk dapat memperbaiki status sosial keluarganya, Ibu Lia juga memiliki harapan agar anak-anaknya dapat sekolah sampai tingkat tinggi Ibu Lia juga berharap kelak anaknya tidak lagi menjadi nelayan karena beliau mengungkapkan bahwa menjadi nelayan tidaklah mudah karena keluarga dalam keadaan yang bergantung pada penghasilan dari laut yang tidak pernah menentu penghasilannya.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu membatasi anak-anak ibu yang masih sekolah pergi ikut melaut, karena kedua anak kami itu menjadi harapan kami untuk memperbaiki status sosial keluarga kami dan ibu berharap bahwa anak kami kelak tidak akan menjadi nelayan karena nelayan itu tidaklah mudah karena bergantung kepada penghasilan yang tidak menentu dek.”

Ibu Lia mengatakan bahwa beliau bergabung dengan kelompok jula-jula

jula-jula akan dilakukan satu kali setiap 10 hari. program yang diikuti keluarga Ibu Lia yaitu Program Keluarga Harapan (PKH), program yang diberikan pemerintah kepada keluarga beliau sangat membantu kebutuhan perekonomian rumah tangga.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu ikut arisan dengan beberapa ibu rumah tangga diKampung Nelayan Seberang ini, yang dibentuk oleh 20 orang dengan bayaran perminggunya RP.20.000. Penarikannya akan dilakukan setia 10 hari sekali Keluarga ibu juga mengikuti program dari pemerintah Program Keluarga Harapan (PKH) dek.”

Ibu Lia mengatakan bahwa kebutuhan hidup keluarga beliau tidak akan tercukupi jika hanya mengandalkan penghasilan suami saja hal inilah yang mendorong Ibu Lia untuk ikut bekerja juga demi membantu suami beliau dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka, selain mengurus anak, suami, dan mengurus rumah, beliau mengungkapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ibu Lia memiliki pekerjaan sampingan membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan yang menjual makanan seperti gorengan, minuman dan jajanan anak-anak. Istri Bapak Faisal ini juga mempunyai pekerjaan sampingan lainnya, yaitu mengolah hasil tangkapan dari laut seperti terasi dan ikan asin, hasil tangkapan dari laut tersebut diperoleh oleh bapak faisal yang kemudian diolah oleh Ibu Lia tetapi tidak setiap hari ibu Lia mengolah hasil tangkapan dari laut tersebut dikarenakan cuaca yang selalu tidak menentu untuk Bapak Faisal saat melaut.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Kalau cuma mengandalkan penghasilan suami tidak akan tercukupi jadi ibu ikut mmebantu suami dalam bekerja demi membantu suami ibu dan memenuhi kebutuhan kelaurga ibu selain mengurus suami, anak dan mengurus rumah untuk membantu perekonomian keluarga ibu, ibu memiliki pekerjaan sampingan membuka warung kelontong kecil-kecilan yang menjual makanan seperti gorengan, minuman, dan jajanan anak-anak dan mengolah hasil tangkapan dari laut seperti terasi dan ikan asin lalu ibu olah, ibu bukan setiap hari mengolah hasil tangkapan dari laut dikarenakan cuaca yang selalu tidak baik.”

Ibu Lia mengatakan bahwa untuk membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan keluarga beliau harus memiliki modal usaha, modal usaha untuk membuat warung kelontong keluarga dipinjam dari saudara kandungnya beliau. Ibu Lia menambahkan bahwa modal usaha yang dipinjam dari saudara kandungnya sebesar Rp.3.000.000 tidak memiliki proses dan syarat karena saudara kandung beliau.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu meminjam uang dari saudara ibu Rp.2.000.000 untuk modal usaha warung kelontong kecil-kecilan yang keluarga ibu buat dan uang yang ibu pinjam tidak mempunyai syarat dan proses karena saudara kandung ibu dek.”

Ibu Lia mengatakan bahwa dari membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan, pendapatan yang didapatkan tersebut tidak menentu sebesar RP. 50.000 – Rp.70.000/hari kalau dihitung-hitung dalam sebulan satu (1) bulan bisa dikatakan

pendapatannya bisa untuk membantu menigkatkan perekonomian keluarga dan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Hasil dari membuka warung kelontong kecil-kecilan itu pendapatan yang ibu dapat tidak menentu hasilnya Rp.50.000 – Rp.70.000/harinya dek, kalau dihitung-hitung dalam sebulan bisa dikatakan pendapatan Ibu 1.500.000/bulannya dek dan ibu juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu dengan mengolah hasil tangkapan suami dari laut seperti terasi dan ikan asin, bisalah membantu perekonomian keluarga ibu dan membantu suami dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga keluarga dek”.

Ibu Lia mengatakan bahwa sebelum adanya usaha warung kelontong tersebut pendapatan suami dari melaut kurang mencukupi untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dan keluarga beliau juga harus menutupi hutang kepada orang tua atau kakak kandungnya sangat sulit karena pendapatan suami dari melaut sedikit harus dibagi dua untuk melunasi hutang dan kebutuhan ekonomi sehari-hari dirumah. Beliau menambahkan bahwa pendapatan dari melaut tersebut tidak bisa menabung untuk kebutuhan dikemudian hari sesudah ada usaha warung kelontong tersebut maka ekonomi keluarga Ibu Lia terbantu dalam kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan untuk membayar uang sekolah anak dan membayar hutang-hutang kesanak saudara juga modal usaha yang dipinjam kepada saudara kandung beliau dan sebagian lagi uang tersebut ditabung untuk kebutuhan dikemudian hari.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Sebelum ada usaha warung kelontong ini pendapatan suami dari melaut kurang mencukupi untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dan ibu juga harus bayar hutang ibu sama ibu atau kakak ibu dek sangat

sulitlah dek karena pendapatan suami dari melaut sedikit dan harus dibagi dua untuk kebutuhan ekonomi sehari-hari dirumah dan membayar pinjaman kepada orangtua atau kakak kandung ibu dek dan pendapatan dari hasil elaut tidak bisa menabung untuk keperluan kebutuhan ekonomi saat suami ibu tidak melaut karena cuaca dari laut buruk dek, sesudah ada usaha warung kelontong ibu ini maka ekonomi keluarga ibu terbantu dan bisa bayar hutang-hutang kesanak saudara ibu dan bisa menutupi pinjaman untuk modal usaha kesaudara kandung ibu, ibu juga bisa menabung untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dikemudian hari.”

Ibu Lia mengatakan bahwa dalam membuat usaha harus ada keuntungan dan kerugiannya akan tetapi kalau untuk keluarga Ibu Lia adanya usaha warung kelontong tersebut sangat membantu dalam perekonomian rumah tangga, tujuan untuk membantu meningkatkan perekonomian rumah tangga dan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dari membuka warung kelontong tersebut telah berhasil dan tidak harus meminjam uang kesanak saudara lagi karena sudah ada tabungan keluarga Ibu Lia disimpan untuk kebutuhan dikemudian hari.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Untung rugi dalam membuat usaha itu memang ada tetapi dengan adanya usaha yang keluarga ibu lakukan membuat perekonomian kami sangat terbantu dan tujuan dari membuka warung kelontong tersebut bagi keluarga kami telah berhasil dek.”

Ibu Lia mengatakan bahwa di Kampung Nelayan Seberang ini terdapat pemberdayaan ekonomi yang diberikan pemerintah kepada keluarga nelayan dalam memberdayakan ekonomi rumah tangga yaitu Program CSR yang

melakukan gotong royong, membantu tetangga yang sedang mengadakan acara besar atau pesta nelayan juga ikut membantu tetangga yang sedang mengalami musibah atau berdukacita.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama II yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“di Kampung Nelayan Seberang ada pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga yang diberikan pertamina dalam program CSR melalui Posyandu Anak Sehat dan Ibu Sehati di Kampung Nelayan ini masih adanya budaya gotong royong dan saling membantu satu sama lain.”

Ibu Lia menambahkan bahwa keluarga beliau memiliki interaksi yang baik antara suami dengan istri dan antara anak dengan orang tua di masyarakat juga terdapat interaksi yang cukup baik antara keluarga Ibu Lia dengan tetangga sekitar, keluarga Ibu Lia hampir tidak mengalami konflik yang serius dengan para tetangga. Harapan ibu Lia kepada anaknya agar mendapatkan pendidikan lebih tinggi dari beliau dan usaha warung kelontong keluarga Ibu Lia semakin berkembang dan tidak terjebak dalam kemiskinan lagi semoga kampung nelayan seberang semakin berkembang keyang lebih baik lagi.

5.1.5. Informan Utama III