• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.2. Pembahasan Penelitian

5.2.1. Strategi Keluarga Nelayan di Kampung Nelayan Seberang

Kemampuan untuk bertahan hidup didalam suatu kondisi atau keadaan itulah yang dilakukan oleh semua orang pada umumnya, bertahan hidup juga dapat diartikan sebagai taktik, cara atau langkah dalam menghadapi berbagai persoalan terhadap kondisi yang membahayakan kelangsungan hidup yang terjadi dialam terbuka dengan mempergunakan peralatan nelayan yang sangat sederhana dan masih tradisional bias dikatakan jauh dari kata aman.

Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang dilakukannya, strategi bertahan hidup hakikatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku sesuai tuntutan lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal dan tuntutan itu tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, masalah ekonomi merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap manusia karena permasalahan ekonomi merupakan problema yang menyangkut pada kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak, pendapatan yang diterima nelayan tidak menentu tiap harinya bahkan nelayan bisa tidak mendapatkan penghasilan sama sekali disaat musim barat kering (paceklik) tiba (Suharto, 2009:29)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diketahui bahwa keluarga nelayan yang memiliki pekerjaan sampingan di Kampung Nelayan Seberang

dua strategi bertahan hidup sekaligus untuk tetap bisa bertahan hidup disaat terjadinya musim barat kering (paceklik) dengan keterbatasan yang mereka miliki, strategi tersebut adalah strategi aktif dan strategi jaringan hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suharto yang menyatakan bahwa startegi bertahan hidup dalam mengatasi goncangan dan tekanan ekonomi dapat dilakukan dengan berbagai strategi, strategi bertahan hidup dapat digolongkan menjadi tiga kategori yaitu strategi aktif, strategi pasif dan strategi jaringan di Kampung Nelayan Seberang Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan.

5.2.1.1. Strategi Aktif

Strategi Aktif merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki misalnya dengan mengoptimalkan segala potensi keluarga (melakukan aktivitas sendiri, memperpanjang jam kerja dan melakukan apapun demi menambahpenghasilanya), jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan strategi aktif adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan seseorang atau keluarga dengan cara memaksimalkan sumber daya dan potensi yang dimiliki keluarga mereka (Suharto 2009 : 30).

Strategi aktif yang dilakukan keluarga nelayan di Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Kelurahan Belawan I dalam mempertahankan hidupnya dimusim barat kering (paceklik) yaitu menambah kerja sampingan, Pekerjaan sampingan tersebut berbeda-beda. Peneliti melihat bahwa kegiatan kerja sampingan yang dilakukan keluarga nelayan selain mengolah hasil tangkapan dari laut untuk menambah penghasilan ekonomi didalam keluarga. Keluarga nelayan memiliki pekerjaan sampingan berupa usaha warung kelontong kecil-kecilan seperti makanan, minuman dan kebutuhan dapur kegiatan usaha ini dilakukan

informan utama II dan VI sedangkan kegiatan usaha lainnya yaitu kegiatan usaha alat-alat bangunan seperti tang, obeng, martil dan alat bangunan lainnya yang dilakukan Keluarga Nelayan informan IV. Kegiatan Usaha yang dilakukan informan utama II, IV,VI ini untuk membantu suami dalam meningkatkan perekonomian rumah tangganya maka uang dari hasil kegiatan usaha tersebut mereka buat tabungan untuk kebutuhan keluarganya pada saat musim paceklik tiba, pasang mati dan tidak memiliki pendapatan dimana suaminya tidak melaut untuk pendidikan anaknya agar tidak putus sekolah, membayar hutang yang mereka pinjam untuk buat usaha keluarga nelayan yang ada di Kampung Nelayan Seberang lingkungan XII Kelurahan Belawan I, pendapatan keluarga nelayan dari pekerjaan sampingan atau kegiatan usaha tersebut sebesar Rp. 1.500.000.-1.700.000/bln hal ini terungkap dari pernyataan setiap informan selain itu ada juga informan yang tidak melaut disaat musim barat kering karena tidak adanya hasil tangkap dimusim itu jadi disaat musim barat kering beliau hanya melakukan kerja sampingan yaitu menjaga usaha yang dimiliki keluarga nelayan secara bergantian saat ini hal tersebut terungkap dari informanyang mengatakan yaitu informan utama I, III, V hal ini juga diperkuat dengan informan Kunci I dan II serta informan tambahan I dan II menyatakan bahwa dengan adanya strategi aktif yang dilakukan keluarga nelayan dengan menambah pekerjaan sampingan melalui kegiatan usaha dalam meningkatkan penghasilan ekonomi keluarga untuk dapat bertahan hidup disaat musim barat kering (paceklik), pasang surut tiba, pekerjaan sampingan melalui kegiatan usaha ini membuat keluarga nelayan tidak tergantung dengan orang lain lagi dan kehidupan nelayan agar lebih baik lagi dikemudian

5.2.1.2. Strategi Pasif

Strategi pasif merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminimalisir pengeluaran keluarga sebagaimana pendapat Suharto yang menyatakan bahwa strategi pasif adalah strategi bertahan hidup dengan cara mengurangi pengeluaran keluarga misalnya biaya untuk sandang, pangan, pendidikan, dan sebagainya. Strategi pasif yang biasa dilakukan oleh nelayan adalah dengan membiasakan hidup hemat dan cermat dalam membelanjakan uang berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud strategi pasif adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara selektif, tidak boros dalam mengatur pengeluaran keluarga (Suharto, 2009:31).

Strategi pasif yang dilakukan oleh keluarga nelayan di Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Kelurahan Belawan I pada musim terang bulan, musim pasang mati dan disaat pendapatan tidak ada sama sekali maka yaitu tidak boros dalam mengatur pengeluaran keluarga dikehidupan sehari-hari maka pemanfaatan strategi pasif ini terlihat jelas ketika terjadi pada saat nelayan dan keluarganya tidak memiliki penghasilan dikarenakan musim terang bulan dan musim pasang mati atau dimana nelayan tidak memiliki pendapatan sama sekali maka nelayan melakukan hidup hemat dan tidak boros. Kondisi ini menunjukkan bahwa yang dilakukan keluarga nelayan dengan mengubah pola konsumsi keluarga dan melakukan pengiritan seperti mengurangi uang jajan sekolah anak-anaknya untuk hidup hemat dimusim pasang mati dan terang bulan dari pernyataan Informan Utama I,II,III,IV,V,VI mengatakan bahwa informan utama hidup hemat yang keluarga nelayan terapkan seperti mengubah pola konsumsi yang dimana pada hari biasa mereka makan 3x sehari, dimusim barat kering keluarga nelayan hanya

makan 2x sehari, makanan yang mereka konsumsi dimusim tersebut seperti ikan,tahu dan sayur terkadang ikan dengan nasi saja hal itu dikarenakan uang yang mereka punya dimusim barat kering hanya cukup untuk membeli bahan pangan tersebut dan disaat musim itu tiba keluarga nelayan sama sekali tidak membeli baju atau barang-barang lainnya karena menurut keluarga nelayan dengan penghasilan yang minim tidak akan cukup buat beli barang-barang yang memang tidak terlalu dibutuhkan, lebih baik uangnya digunakan buat beli bahan-bahan pokok makanan.

Informan Kunci I dan II yang mengatakan bahwa hidup hemat dan tidak boros yang dilakukan keluarga nelayan yang ada diKampung Nelayan Seberang ini merupakan salah satu strategi yang dimana musim terang bulan, musim pasang mati terjadi dan tidak memiliki pendapatan sama sekali maka keluarga nelayan mengubah pola konsumsi keluarga dan melakukan pengiritan seperti mengurangi uang jajan sekolah anak-anaknya untuk hidup hemat dimusim pasang mati dan terang bulan terjadi serta Informan Tambahan I dan II mengatakan bahwa disaat musim terang bulan dan musim pasang mati terjadi maka keluarga nelayan melakukan strategi pasif dengan mengubah pola konsumsi yang dimana makan 3 x sehari menjadi 2 x sehari disebabkan karena berkurangnya pendapatan kelaurga nelayan pada musim pasang mati tersebut.

5.2.1.3. Strategi Jaringan

Menurut Suharto Strategi jaringan adalah menjalin relasi, baik formal maupun dengan lingkungan sosialnya dan lingkungan kelembagaan (misalnya meminjam uang kepada tetangga, menghutang diwarung, memanfaatkan program

dilakukan oleh nelayan tardisional untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari saat musim ikan yang tidak menentu dan pasang mati terjadi (Suharto, 2009 : 31).

Strategi pemanfatan relasi atau jaringan sosial merupakan salah satu upaya yang ditempuh oleh keluarga nelayan diKampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Kelurahan Belawan I dalam masalah mengatasi keuangan keluarga dimusim paceklik, pemanfaatan jaringan ini terlihat jelas ketika terjadi permasalahan ekonomi menurunnya pendapatan maka nelayan memanfaatkan relasi untuk memecahkan solusi keuangan keluarga misalnya meminjam uang kepada tetangga atau kepada tauke maupun kerabat dekat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa diantara mereka memiliki solidaritas yang kuat dan saling percaya hal ini terungkap dari pernyataan Informan Utama I, II, III, IV, V, VI mengatakan bahwa informan utama melakukan peminjaman uang kepada sanak saudara dan tauke ikan disaat angin kencang, gelombang besar dan arus laut yang kuat sehingga proses penangkapan ikan tidak dapat berlangsung sepanjang tahun keadaan seperti ini seringkali disebut dengan musim barat kering (paceklik) yaitu suatu musim dimana nelayan tidak beraktivitas sama sekali membuat rendahnya pendapatan dari hasil melaut yang mereka terima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka karena bahan-bahan pokok yang semakin mahal dan dipengaruhi dengan kondisi alam pada saat tertentu nelayan melakukan pinjaman tersebut.

Pinjaman yang dilakukan nelayan tradisional biasanya digunakan untuk biaya kebutuhan sekolah anak serta biaya kebutuhan hidup sehari-hari saat pasang mati, musim ikan tidak ada dan pengeluaran yang cukup besar dalam

meningkatkan ekonomi rumah tangganya sehari-hari diKampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Kelurahan Belawan I keluarga nelayan sebagian menggunakan uang pinjaman tersebut dijadikan modal untuk kegiatan usaha keluarga nelayan tersebut hal ini diperkuat Informan Kunci I dan II yang menyatakan bahwa setiap nelayan dan keluarganya pernah berhutang kepada sanak saudara dan tauke ikan yang ada disekitar Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Kelurahan Belawan I.

Menghutang itu sudah suatu hal biasa bagi para nelayan dan keluarganya pada saat pendapatan kurang dan musim pasang mati yang membuat para nelayan tidak bisa melaut dan tidak dapat memenuhi kebutuhan Pendidikan anak-anak dan Kebutuhan ekonomi sehari-hari keluarganya. Informan Kunci I dan II yang mengatakan bahwa penghasilan nelayan yang ada diKampung Nelayan Seberang ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dalam sehari-hari maka nelayan memberdayakan istri dan anaknya untuk meningkatkan derajat perekonomian keluarganya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lewat usaha kecil-kecilan keluarganya serta Informan Tambahan I dan II mengatakan bahwa disaat nelayan mengalami pengeluaran yang cukup besar maka nelayan melakukan peminjaman kepada tauke dan sanak saudara yang disekitar Kampung Nelayan Seberang Ligkungan XII ini.

Informan Tambahan I dan II mengatakan uang pinjaman tersebut digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak dan memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari dalam keluarganya selain itu uang pinjaman tersebut digunakan untuk pekerjaan sampingan keluarganya seperti usaha warung kelontong dan juga kios

Nelayan Seberang untuk meningkat derajat perekonomian keluarga nelayan pinjaman yang dilakukan keluarga nelayan akan dikembalikan pada saat nelayan telah mendapatkkan hasil dari laut.

Berdasarkan Hasil Penelitian mengenai Strategi Keluarga Nelayan dalam Memberdayakan Ekonomi melalui Usaha Keluarga yang dilakukan diKampung Nelayan Seberang Lingkungan XII menunjukkan bahwa disini dilihat terdapat pola fikir mereka ternyata nelayan dan keluarganya tidak ingin bergantung lagi seperti para leluhurnya yang selalu berhutang dan berhutang dari teori patron klien ini selalu memberikan hutang kepada mereka dan mereka menjadi ketergantungan.

5.2.2. Pemberdayaaan Ekonomi Keluarga Nelayan di Kampung Nelayan