• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1. Deskrpsi Data Hasil Penelitian

5.1.8. Informan Utama VI

Nama : Ibu Rika

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 30 Tahun

Agama : Islam

Suku : Melayu

Pendidikan Terakhir : SD

Alamat : Kampung Nelayan Seberang Lingkungan XII Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Usaha : Usaha warung kelontong

Informan Utama VI yang peneliti wawancarai tentang strategi keluarga nelayan dalam memberdayakan ekonomi rumah tangga melalui usaha keluarga adalah Ibu Rika, beliau adalah istri dari bapak Putra. Ibu Rika berusia 30 tahun dan beragama Islam, Ibu Rika mengenyam pendidikan sampai pada tingkat SD.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu kurang tau apa itu strategi keluarga nelayan dalam memberdayakan ekonomi rumah tangga karena ibu hanya tamatanSD nak.”

Penghasilan suami tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam sebulan karena untuk biaya pengeluaran per-hari pendidikan anak, ongkos dan jajan menghabiskan Rp10.000 apabila penghasilan suami dalam sehari lebih dari maka Ibu Rika akan akan disimpan dan dipakai apabila suami sedang tidak memiliki pendapatan. Ibu Rika selalu mengutamakan biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga dari kebutuhan lain-lain yang tidak harus dipenuhi

sedangkan untuk biaya listrik biasanya dibayar Ibu Rika mencapai Rp.40.000.

Kedua anak Ibu Rika yang sedang duduk dibangku SMP dan anak keduanya masih duduk di bangku SD tidak pernah diminta untuk ikut bekerja baik dirumah maupun kelaut, mereka difokuskan untuk mengikuti pendidikan dengan serius.

Keluarga Ibu Rika juga memiliki harapan agar anak-anaknya dapat disekolahkan sampai sekolah tinggi supaya anaknya tidak lagi menjadi nelayan karena nelayan tidaklah mudah sebab keadaan ekonominya yang bergantung pada penghasilan dari laut yang tidak pernah menentu apabila keadaan keuangan sedang sulit Ibu Rika akan pinjam uang kepada sanak saudaranya.

Berikut hasil adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Pendapatan suami saya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga soalnya anak-anak ibu masih dalam pendidikan, anak pertama dan keuda kami masih sekolah yang anak pertama laki-laki SMP dan anak kedua perempuan masih SD dek sekarang kedua anak kami yang sedang sekolah inilah yang kami dorong supaya serius dan sungguh-sungguh belajarnya makanya tidak pernah dibawa kelaut dan tidak dikasih bekerja dan untuk biaya listrik Rp.40.000 kalau keuangan ibu sedang sulit ibu akan pinjam uang sanak saudara”.

Ibu Rika mengatakan bahwa selain mengurus anak, suami dan memasak untuk membantu prekonomian keluarga Ibu Rika memiliki pekerjaan sampingan, pekerjaan sampingan yang ibu lakukan adalah membuat usaha warung kecil-kecilan yang menjual makanan seperti gorengan, mie goreng dan jajanan anak-anak. Modal yang digunakan keluarga Ibu Rika tersebut dengan meminjam

meminjam uang kepada tauke akan tetapi cara pengembalian pinjaman kepada tauke yaitu mengangsur dengan potong penghasilan suami beliau dari laut dan dalam pengembalian pinjaman tidak ada jangka waktunya karena tauke telah mengerti bagaimana kondisi perekonomian rumah tangga nelayan.

Berikut hasil adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“pekerjaan sampingan ibu selain mengurus anak yaitu membuat usaha warung kecil-kecilan yang ibu jual hanya makanan seperti gorengan, mie goreng dan jajanan anak-anak dan modal yang digunakan keluarga ibu yaitu meminjam dari tauke, uang yang ibu pinjam dari tauke sebesar Rp.2.000.000 dalam peminjaman tersebut tidak ada proses dan syaratnya cuma kalau suami memiliki pendapatan dari laut maka pendapatannya dibagi dua kepada tauke dan pinjaman tersebut tidak dipaksa kapan harus dikembalikan karena toke tau gimana kondisi keluarga nelayan disini dek”

Ibu Rika mengatakan bahwa dari membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan. Pendapatan yang didapatkan dari hasil tersebut tidak menentu sebesar RP.80.000-Rp.100.000/hari kalau dihitung-hitung dalam sebulan satu bulan bisa dikatakan pendapatan Ibu Rika Rp.1.700.000/bln selain usaha keluarga beliau mengolah hasil tangkapan suami dari laut seperti terasi dan ikan asin.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Dari membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan itu pendapatan yang Ibu dapat tidak menentu hasilnya Rp.80.000–Rp100.000/harinya nak, kalau dihitung-hitung dalam sebulan bisa dikatakan pendapatan Ibu Rp.1.700.000/bln selain usaha keluarga ibu mengolah hasil tangkapan suami dari laut seperti terasi dan ikan asin.”

Keluarga Ibu Rika mengatakan sebelum adanya usaha warung kelontong kecil-kecilan tersebut pendapatan suami dari melaut kurang mencukupi untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dan keluarga beliau juga harus menutupi hutang kepada sanak dan saudaranya sangat sulit karena pendapatan suami dari melaut sedikit harus dibagi dua untuk melunasi hutang dan kebutuhan ekonomi sehari-hari dirumah. Beliau menambahkan bahwa pendapatan dari melaut tersebut tidak bisa menabung untuk kebutuhan dikemudian hari sesudah ada usaha warung kelontong tersebut maka ekonomi keluarga Ibu Rika terbantu dan stabil dalam kebutuhan sehari-hari, kebutuhan untuk membayar uang listrik dan membayar hutang-hutang kesanak saudara dan tauke bisa tertutupi sebagian lagi uang tersebut ditabung untuk kebutuhan dikemudian hari.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“sebelum ada usaha alat bangunan ini pendapatan suami dari melaut kurang mencukupi untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dan ibu juga harus bayar hutang ibu kesanak saudara dan toke ikan sangat sulitlah nak karena pendapatan suami dari melaut sedikit dan harus dibagi dua untuk kebutuhan ekonomi sehari-hari dirumah dan membayar pinjaman kepada sanak saudara nak dan pendapatan dari hasil melaut tidak bisa menabung untuk keperluan kebutuhan ekonomi saat suami ibu tidak melaut karena cuaca dari laut buruk nak sesudah ada usaha alat-alat bangunan keluarga ibu ini maka ekonomi keluarga ibu terbantu bisa dibilang stabil nak dan bisa bayar hutang-hutang kesanak saudara ibu dan bisa menutupi pinjaman untuk modal usaha ketauke ibu juga bisa menabung untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dikemudian hari”.

Ibu Rika mengatakan bahwa dalam membuat usaha harus ada keuntungan

perekonomian rumah tangga keluarga beliau sangat terbantu tujuan dari usaha membuka warung kelontong kecil-kecilan hanya untuk meningkatkan pendapatan perekonomian rumah tangga menjadi lebih baik lagi kedepannya dan tujuan telah berhasil dan tidak harus meminjam uang kesanak saudara lagi karena sudah ada tabungan keluarga Ibu Rika disimpan untuk kebutuhan dikemudian hari.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“kalau membuat usaha harus ada untung ruginya tetapi sesudah ada usaha warung kelontong kecil-kecilan keluarga ini membuat ekonomi ibu sangat terbantu dan tujuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga yang lebih baik lagi.”

Melihat situasi dimana Istri dari Bapak Putra ikut bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga, beliau menyebutkan bahwa ibu Rika tetap menjalankan perannya sebagai Istri dan juga ibu rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak-anak dan lain sebagainya, setelah Ibu Rika bekerja beliau mengaku bahwa perekonomian mereka cukup terbantu meskipun keluarga mereka masih hidup sederhana dan serba kecukupan namun kebutuhan hidup keluarga mereka bisa terpenuhi dengan penghasilan yang diperoleh dari usaha warung kelontong kecil-kecilan keluarga Bapak Putra.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Walaupun ada usaha warung kelontong kecil-kecilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga ibu tidak pernah lupa dengan peran ibu untuk mengurus suami,anak-anak dan rumah dengan keluarga ibu yang masih sederhana dan serba kecukupan dan kebutuhan ekonomi keluarga bisa terpenuhi dengan adanya usaha keluarga.”

Ibu Rika mengatakan bahwa pemberdayaan ekonomi yang ada dikampung nelayan ini dalam meningkatkan ekonomi keluarga nelayan yaitu program yang diberikan Pertamina dengan empat (4) keramba dan meningkat menjadi enam (6) keramba dan beliau adalah salah satu anggota dari keramba ikan tersebut namun setelah adanya usaha keluarga Ibu Rika berhenti menjadi anggota keramba ikan, program yang diberikan pemerintah dan fokus dengan usaha keluarga.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama VI yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Dalam meningkatkan ekonomi rumah tangga Pemerintah Pertamina memberikan Program CSR kepada keluarga nelayan disini untuk menambah perekonomian keluarga dek, ibu salah satu anggotanya tetapi ketika ibu sudah memiliki usaha keluarga, ibu berhenti dari program pemerintah itu dan fokus kepada usaha keluarga ibu”.

Ibu Rika mengungkapkan bahwa di Kampung Nelayan Seberang ini yaitu Keluarga nelayan sering terlibat dalam kegiatan kegiatan sosial yang ada seperti melakukan gotong royong, membantu tetangga yang sedang mengadakan acara besar atau pesta, nelayan juga ikut membantu tetangga yang sedang mengalami musibah atau berdukacita. Ibu Rika menambahkan bahwa keluarga beliau memiliki interaksi yang baik antara suami dengan istri dan anak dengan orang tua, dimasyarakat juga terdapat interaksi yang cukup baik antara keluarga Ibu Rika dengan tetangga sekitar. Keluarga Ibu Rika hampir tidak mengalami konflik yag serius dengan para tetangga, harapan Ibu Rika untuk usaha yang keluarga beliau buat semakin berkembang dan kebutuhan ekonomi keluarganya dalam kehidupan sehari-hari semakin stabil, untuk kampung nelayan ini semakin maju dan