• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teoritis

2.1.4. Nelayan

2.1.4.1. Pengertian Nelayan

Menurut Imron, 2003 dalam Mulyadi mengatakan bahwa nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya, mereka pada umumnya tinggal dipinggiran pantai disebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya (Mulyadi, 2005:7).

Nelayan bukanlah suatu identitas tunggal mereka terdiri dari beberapa kelompok dilihat dari segi pemilikan alat tangkap nelayan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu nelayan buruh, nelayan juragan dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain sebaliknya nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain adapun nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain (Mulyadi, 2005:8).

2.1.4.2. Kemiskinan Nelayan

Kemiskinan nelayan cenderung dialami oleh nelayan perorangan (tradisional) dan buruh nelayan karena kedua jenis kelompok itu jumlahnya mayoritas cerita tentang kemiskinan melekat pada kehidupan nelayan dilihat dari lingkupnya seperti kemiskinan nelayan terdiri atas kemiskinan prasarana dan kemiskinan keluarga, kemiskinan prasarana dapat diindikasikan pada ketersediaan

seperti tidak tersedianya air bersih, jauh dari pasar, dan tidak adanya akses untuk mendapatkan bahan bakar yang sesuai dengan harga standar. Kemiskinan prasarana itu secara tidak langsung juga memiliki andil bagi munculnya kemiskinan keluarga misalnya tidak tersedianya air bersih akan memaksa keluarga untuk mengeluarkan uang untuk membeli air bersih yang berarti mengurangi pendapatan mereka (Mulyadi, 2007:196).

Kemiskinan prasarana juga dapat mengakibatkan keluarga yang berada pada garis kemiskinan bisa merosot kedalam kelompok keluarga miskin, sesungguhnya ada dua hal utama yang terkandung dalam kemiskinan yaitu kerentanan dan ketidak-berdayaan dengan kerentaan yang dialami orang miskin akan mengalami kesulitan untuk menghadapi situasi darurat ini dapat dilihat pada nelayan perorangan(tradisional) misalnya mengalami kesulitan untuk membeli peralatan untuk melaut berupa jaring dan pancing yang dibutuhkan nelayan hal ini disebabkan sebelumnya tidak ada hasil tangkapan yang bisa dijual dan tidak ada dana cadangan yang dapat digunakan untuk keperluan yang mendesak hal yang sama juga dialami oleh nelayan buruh mereka merasa tidak berdaya dihadapan para juragan yang telah memperkerjakannya meskipun bagi hasil yang diterimanya dirasakan tidak adil (Mulyadi, 2005:47-49).

Menurut Kusnadi strategi nelayan dalam menghadapi kemiskinan dapat dilakukan melalui:

1. Perlibatan anggota keluarga nelayan istri dan anak dalam pasar kerja upaya memenuhi kebutuhan dasar yang harus dilakukan oleh keluarga atau rumah tangga adalah bagaimana individu-individu yang ada didalamnya berusaha maksimal dan bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga

sehingga kelangsungan hidupnya terpelihara dan setiap anggota rumah tangga bisa memasuki beragam pekerjaan yang dapat diakses sehingga memperoleh penghasilan yang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup bersama.

2. Diversifikasi pekerjaan

Strategi adaptasi lain yang digunakan untuk menghadapi ketidak pastian penghasilan adalah mengkombinasikan pekerjaan, kegiatan penangkapan ikan selalu dikombinasikan dengan pekerjaan lain dan dilakukan secara bergantian.

3. Jaringan Sosial

melalui jaringan sosial individi-individu rumahtangga akan lebih efektif dan efesien untuk mencapai atau memperoleh akses terhadap sumber daya yang tersedia dilingkungannya, jaringan sosial itu berfungsi sebagai salah satu strategi adaptasi dalam konteks mengatasi kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari.

4. Migrasi

Migrasi dilakukan ketika didaerah nelayan tertentu tidak sedang musim ikan dan nelayan pergi untuk bergabung dengan unit penangkapan ikan yang ada didaerah tujuan yang sedang musim ikan (Sholihin, 2004:20).

2.1.4.3. Kehidupan Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang tinggal dan hidup diwilayah pesisiran, wilayah ini adalah wilayah transisi yang menandai tempat perpindahan antara wilayah daratan dan laut atau sebaliknya diwilayah ini sebagian besar masyarakatnya hidup dari mengelola sumber daya pesisir juga laut baik secara

masyarakat pesisir tersusun dari kelompok-kelompok masyarakat yang beragam seperti nelayan, petambak, pedagang ikan, pemilik toko serta pelaku industri kecil dan menengah pengolahan hasil tangkap (Dahuri dkk. 2001:5).

Masyarakat pesisir dinusantara sejak awal mula telah mengembangkan pola-pola adaptasi terhadap lingkungan pesisir secara lambat pasti kebudayaan-kebudayaan tersebut mengalami perkembangan baik karena kepekaan penduduk memahami umpan balik dengan perekayasaan setempat ataupun karena rangsangan pengaruh kebudayaan asing, kearifan tradisional masyarakat adalah hasil rekayasa dan rintangan menimpa kehidupan masyarakat(Kusnadi, 2009:152).

Kawasan pesisiran yang sebagian besar penduduknya bekerja menangkap ikan mempunyai peran yang besar dalam mendorong kegiatan ekonomi wilayah dan pembentukan struktur sosial budaya masyarakat pesisir sekalipun masyarakat nelayan memiliki peran sosial yang penting dan kelompok masyarakat yang lain juga mendukung aktivitas sosial ekonomi masyarakat (Kusnadi, 2003:102).

Tingkat produktivitas perikanan tidak hanya menentukan fluktuasi kegiatan ekonomi perdagangan desa-desa pesisir juga mempengaruhi pola-pola konsumsi penduduknya pada saat tingkat penghasilan besar gaya hidup nelayan cenderung boros dan sebaliknya ketika musim paceklik tiba mereka akan mengencangkan ikat pinggang bahkan tidak jarang barang-barang yang dimilikinya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari(Kusnadi, 2006:15-20).

Sektor kelautan merupakan sumber kehidupan yang dimanfaatkan masyarakat pesisir dari sektor ini mata pencaharian masyarakat pesisir diantaranya nelayan, petani garam dan sektor wisata seperti yang kita ketahui nelayan terdiri

atas beberapa kelompok bila dilihat dari segi pemilikan alat tangkap dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: nelayan buruh, nelayan juragan dan nelayan tradisional/mandiri. Kemiskinan cenderung dialami oleh nelayan perorangan dan buruh nelayan rendahnya penghasilan nelayan tradisional dan juga buruh nelayan merupakan masalah yang telah lama tetapi persoalan ini masih belum dapat diselesaikan sampai sekarang sebab terlalu kompleks, kemiskinan masyarakat pesisir ditengarai oleh tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat antara lain kebutuhan akan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, infrastruktur disamping itu kurangnya kesempatan berusaha, kurangnya akses terhadap informasi, teknologi, permodalan dan gaya hidup yang cenderung boros yang menyebabkan masyarakat miskin semakin lemah sehingga mereka terjerat dalam hutang (Lenni, 2017:6).

Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakteristik masyarakat agraris, masyarakat agraris yang direpresentasi oleh kaum tani menghadapi sumber daya yang terkontrol yakni pengelolaan lahan untuk produksi suatu komoditas dengan hasil yang relatif bisa diprediksi sifat produksi yang demikian memungkinkan tetapnya lokasi produksi ini menyebabkan mobilitas usaha yang relatif rendah dan elemen risiko pun tidak besar sedangkan nelayan menghadapi sumber daya yang hingga saat ini masih bersifat akses terbuka (open access), karakteristik sumber daya seperti ini menyebabkan nelayan mesti berpindah pindah untuk memperoleh hasil maksimal yaitu dengan demikian elemen resiko menjadi sangat tinggi kondisi sumber daya yang beresiko tersebut menyebabkan nelayan memiliki karakter keras, tegas dan terbuka (Satria, 2015 :7).