• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1. Deskrpsi Data Hasil Penelitian

5.1.5. Informan Utama III

A. Suami

Nama : Abdul Halim

Jenis Kelamin : laki-laki

Usia : 69 tahun

Agama : islam

Suku : Melayu Pendidikan : SD Pekerjaan : Nelayan

Usaha : Alat Bangunan

Informan utama III yang peneliti wawancarai tentang strategi keluarga nelayan dalam memberdayakan ekonomi rumah tangga adalah Bapak Abdul Halim bekerja sebagai seorang nelayan di Kampung Nelayan Seberang beliau berusia 69 tahun. Bapak Abdul Halim hanya mengenyam pendidikan sampai tamat SD dan merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengerjakan hal lain, keluarga bapak Abdul Halim sudah tinggal di Kampung Nelayan Seberang selama 44 tahun, beliau bekerja sebagai nelayan selama 52 Tahun (sejak tahun 1968).

Bapak Abdul Halim tinggal bersama istri dan anaknya, beliau memiliki 4 orang anak yaitu anak pertama berumur 30 tahun yang sudah menikah dan tidak tinggal lagi dengan Bapak Abdul Halim dan anak yang kedua berumur 26 tahun sudah menikah dan tinggal serumah bersama beliau sedangkan anak ketiga berumur 24 tahun bekerja sebagai nelayan dan anak keempat berumur 22 tahun bekerja sebagai nelayan dan kuli bangunan dan belum menikah.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama III yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Bapak bekerja sebagai nelayan di kampung nelayan seberang ini sudah lama dek ada sekitar 44 tahunan bapak bekerja sebagai nelayan disini dek”.

Dalam sehari bapak Abdul Halim biasanya melaut selama rata-rata 6 jam

ditotal maka pendapatan yang diperoleh bapak Abdul Halim dari hasil melaut yaitu Rp.1.350.000/bulan.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama III yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Sebetulnya kalau pendapatan dari melaut ini tidak menentu dek, tergantung pada musim dan kondisi laut. Kalau pendapatan bapak dalam sehari itu paling sedikit Rp.30.000 dan paling banyak 50.000 dek.

Kalau dihitung-hitung dalam 1 bulan bisa dikatakan pendapatan bapak Rp. 1.350.000/bulannya dek”.

Menurut Bapak Abdul Halim bahwa pendapatan yang beliau terima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka karena bahan-bahan pokok semakin mahal untuk menambah pendapatan demi memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya Bapak Abdul Halim juga mengikut sertakan istri dan anaknya untuk turut membantu dalam memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Terkadang ketika Bapak Abdul Halim mengalami kesulitan keuangan dalam rumah tangganya dimana pendapatannya benar-benar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka atau terdapat pengeluaran yang cukup besar. Bapak Abdul Halim biasanya melakukan peminjaman uang kepada tauke ikan mereka, beliau juga mengungkapkan bahwa dalam melakukan pinjaman ketauke ikan mereka tidak memliki proses dan syarat.

Berikut hasil adalah hasil wawancara dengan informan utama III yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Pendapatan yang bapak terima belum cukup dek untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga Bapak karena bahan pokokkan semakin mahal jadi istri dan anak bapak ikut membantu dalam memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga dek, kalau bapak mengalami kesulitan keuangan dalam rumah tangga dan pengeluaran

bapak cukup besar bapak melakukan pinjaman kepada tauke ikan.

Dalam peminjaman tersebut tidak ada memiliki proses dan sayarat karena bapak kalau mendapatkan hasil laut dan bapak sering jual ketauke ikan yang ada dikampung nelayan seberang ini dek kalau bisa dibilang langganan bapak dek.”

Dalam memenuhi kebutuhan akan pakaian Bapak Abdul Halim dan keluarga sesekali membeli pakaian bekas layak pakai yang dijual dipasar atau sering disebut dengan istilah “monja” mereka hanya membeli pakaian baru pada saat hari raya idul fitri hal itu juga mereka lakukan ketika pendapatan mereka dirasa cukup untuk membeli pakaian baru untuk keluarga mereka selain membeli pakaian keluarga Bapak Abdul Halim juga mendapat pemberian pakaian bekas layak pakai dari sanak saudara mereka.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama III yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“kami bisa beli pakaian baru kalau mau lebaran aja dek kalau ada rezeki lebih tapi kalau pas-pasan ya di tahan-tahan belinya tahun depan ajalah dek.”

Rumah tempat tinggal Bapak Abdul Halim dan keluarganya bisa dikatakan kurang layak dan keadaan bangunan rumah yang mereka tempati tergolong tidak layak huni, rumah tersebut masih berdindingkan papan dan triplek ukuran rumah yang sempit dipengaruhi lagi dengan penyusunan barang-barang yang tidak rapi serta kamar mandi yang kecil dan bersebelahan dengan dapur tempat memasak yang langsung berhadapan dengan pintu rumah dan kamar tidur menunjukkan kondisi yang tidak kondusif dari rumah tempat tinggal Bapak Abdul Halim dan keluarga.

Rumah yang ditempati keluarga Bapak Abdul Halim diKampung Nelayan Seberang memang dibangun oleh keluarga Bapak Abdul Halim tetapi bukanlah rumah milik keluarga mereka sendiri karena kawasan pemukiman di Kampung Nelayan Seberang sendiri berada dalam kawasan Negara yang masih hak penguasaannya dimiliki oleh PT. Pelindo I sebagai otoritas yang mengelola Pelabuhan Belawan, rumah tersebut sudah ditempati keluarga Bapak Abdul Halim sejak 44 tahun yang lalu.

Berikut adalah hasil wawancara dengan informan utama III yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Beginilah keadaan rumah kami terbuat dari kayu-kayu, Keadaan bangunan rumah yang kami tempati kurang layak. Rumah bapak masih berdidingkan papan dan triplek dek ukuran rumah bapak juga sempit dan penyusunan barang-barang yang berantakan serta kamar mandi yang kecil bersebelahan dengan dapur tempat memasak yang langsung berhadapan dengan pintu rumah dan kamar tidur bapak dek.”

Kelurga Bapak Abdul Halim mengikuti program dari pemerintah yaitu program jaminan kesehatan nasional (JKN), program posyandu untuk lansia (PUL), bapak Abdul Halim menambahkan bahwa keluarga beliau memiliki interaksi yang baik antara Istri dengan Suami, Anak dengan Orang Tua, dimasyarakat juga terdapat interaksi yang cukup baik antara keluarga Bapak Abdul Halim dengan tetangga sekitar. Keluarga Bapak Abdul Halim hampir tidak mengalami konflik yag serius dengan para tetangga mereka juga sering teribat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang ada di kampung nelayan seberang seperti melakukan gotong royong, membantu tetangga yang sedang mengadakan acara besar atau pesta juga ikut membantu tetangga yang sedang mengalami musibah atau berdukacita.

Bapak Abdul Halim mengatakan bahwa menjadi nelayan tidak ada hal yang perlu disombongkan kepada tetangga lain apalagi yang sesama nelayan jadi menurut beliau penting sekali untuk berbaur dengan tetangga sekitar dan berpartisipasi didalam kegiatan yang ada di Kampung Nelayan Seberang tersebut.

Harapan Bapak Abdul Halim untuk perekonomiannya semakin baik kedepannya, harapan untuk kampung nelayan seberang ini semoga makin berkembang dan untuk pemerintah semoga semakin memperhatikan kondisi nelayan yang ada dikampung nelayan seberang ini.

5.1.6. Informan utama IV