• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan Satu Pintu

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 45-48)

DI lingkungan Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, 3 kilome-ter sebelah utara pusat kota Jombang, kebebasan afiliasi politik tak hanya dianut para santri. Bahkan pimpinan pesantrennya bebas memilih partai. KH Hasib Wahab, salah satu pengasuh, membuat kejutan dengan bergabung ke PDI Perjuangan dan terpilih sebagai anggota DPR pada pemilu 5 April lalu. Namun, karena kultur politik kaum nahdliyyin sudah bergeser pasca-kembali ke khitah, langkah KH Hasib tak menimbulkan daya kejut seperti KH Musta’in.

Hal itu juga bukan zig-zag politik pertama KH Hasib. Tahun 1997, ia pernah jadi caleg Golkar, tapi gagal. Sebelumnya, 1992, menjadi anggota DPRD Jombang dari PPP. Partai politik, bagi putra KH Wahab Chasbullah (seorang pendiri NU) ini, bukan barang sakral. “Dakwah bisa dilakukan di mana saja,” kata Hasib.

“Saya ikut seruan Nabi Yaqub pada anaknya, la tadkhulu min

babin wahid wadkhulu min abwabin mutafarriqah, jangan masuk satu

pintu, masuklah dari beragam pintu!” ia berdalil. Kakak Hasib, Mahfudhoh Ali Ubaid, jadi anggota DPR dari PPP. Keponakannya, Taufiqurrohman Fatah, jadi anggota DPRD Jombang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). “Kalau saya di PPP atau PKB, antrean

caleg-nya masih panjang,” kata Hasib sambil terbahak. Jadi, dengan bekal spirit NU, kata Gus Hasib, para santri dipersilakan memilih jalur politik mana saja, bahkan ibarat melalui seribu pintu.

Perbedaan afiliasi politik memang sempat menimbulkan persai-ngan antarelite Tambak Beras. “Perebutan pengaruh ada, tapi tidak vulgar. Kami mengemasnya sebagai kampanye yang santun,” kata Hasib. Tapi wilayah perebutan mereka bukan santri Tambak Beras yang berjumlah 3.000-an saja. Masing-masing mencari dukungan di luar pesantren, kare-na afiliasi politik santri Tambak Beras sendiri tidak bisa diarah-arahkan.

Lagi pula, kebanyakan santri yang punya hak pilih mencoblos di kampung masing-masing, sekalian bertemu keluarga. “Mereka kami izinkan pulang,” kata Fatkhullah, Sekretaris Yayasan Bahrul Ulum. Di Tambak Beras tidak tersedia TPS seperti di Rejoso. Sehingga suara penghuni pondok sulit ditebak. Namun, secara umum, di Desa Tambak Beras, pada pilpres putaran kedua, kemenangan telak diraih SBY dengan 2.547 suara (63,9%). Mega mendapat 947 suara (36,1%).

Ada satu lagi pesantren besar Jombang yang bersikap netral: Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, 2 kilometer sebelah barat pusat kota Jombang. “Pondok tidak menginstruksikan santri untuk memilih kandidat tertentu. Kami netral,” ujar KH Mujib Sohib, salah satu pengasuh pesantren dengan 2.500-an santri itu. Padahal Salahudin Wahid, seorang cawapres, adalah cucu pendiri Pesantren Denanyar, KH Bisri Syansuri, dari garis ibu.

Hanya saja, karena kedekatan emosional itu, para santri secara sukarela banyak mendukung Gus Solah pada pilpres putaran pertama. Pendamping Wiranto ini menang mutlak di 11 TPS sekitar pesantren de-ngan 1.229 suara (94%). SBY hanya memperoleh 50 suara (3,8%), Mega 15 suara (1,2%), Hamzah 7 suara (0,5%), dan Amien kebagian 2 suara (0,2%). Pada putaran kedua, se-Desa Denanyar, SBY unggul 70% (3.463 suara), Mega mendapat 30% (1.469 suara).

Pesantren Rejoso, yang sejak 1977 memberi dukungan formal ke Golkar, kini juga ikut arus netral. Desember 2003, KH As’ad Umar, pengasuh

Pesantren Rejoso, menyatakan keluar dari Golkar. Sepekan setelah keluar, pada 25 Desember, ia mengumpulkan ribuan santri, wali santri, dan jamaah tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di pondoknya. Meski dikemas dalam acara halalbihalal, kegiatan itu menjadi ajang deklarasi sikap politik sang kiai. KH As’ad berpidato dan mengingatkan ribuan jamaahnya agar tak salah memilih parpol. “Saya tidak membawa jamaah kepada salah satu parpol. Tapi saya perlu memberitahukan, Pemilu 2004 tidak sekadar men-coblos gambar partai, tapi memilih orang, baik sebagai anggota DPR maupun calon presiden,” katanya kepada pers usai acara.

“Keluarga kami tidak sama dalam menyalurkan aspirasi politik,” Zulfikar As’ad melengkapi. Ia sendiri tetap di Golkar. “Ada yang ke PKS, Golkar, PKB, PAN, dan PDI Perjuangan.” Sebagai kiai-politikus, langkah As’ad Umar meninggalkan Golkar bukan tanpa kalkulasi. Dua kali pemilu pasca-reformasi, pamor Golkar di Jombang makin suram. Pada Pemilu 1999, kursi DPRD Jombang terbesar disabet PDI Perjuangan (16) dan PKB (12). Golkar hanya 4 kursi. Pemilu 2004, Golkar malah dikagetkan oleh kehadiran Demokrat yang sama-sama meraih enam kursi. Jatah terbanyak diraih PKB (15) dan PDI Perjuangan (12).

Toleransi politik yang dikembangkan pimpinan Rejoso juga berimbas ke masyarakat sekitar pondok. Begitulah pengakuan Winarsih, 47 tahun, penjual soto dan rawon di dekat pesantren. “Kiai sini tidak per-nah mempengaruhi pilihan politik masyarakat sekitar,” katanya. Kalaupun kiai berkunjung, paling-paling menanyakan keadaan penduduk. Ketika KH As’ad Umar mampir ke warung Winarsih, selain beli rawon, juga bertanya, “Sekarang masak apa, Bu Win? Laris tidak?”

Dulu, ketika menyeberang ke Golkar, KH Musta’in juga memberi to-leransi pada istrinya yang tetap menjadi pendukung kuat PPP. Bahkan sejum-lah jamaah tarekatnya masih banyak yang ke PPP, dan KH Musta’in meng-izinkan. Pimpinan Rejoso juga tidak memasalahkan pemimpin perempuan. Meski jadi pilar kaum tradisional, pesantren-pesantren terkemuka Jombang menunjukkan akselerasi kesadaran politik modern yang mengesankan.

JOMBANG identik dengan NU. Banyak pendiri dan tokoh besar NU berasal dari kota di bagian tengah Jawa Timur ini. Puluhan pesantren bertebaran di sana. Ada empat yang terbesar dan menorehkan peran penting dalam sejarah NU. Lokasinya seo-lah membentengi pusat kota Jombang.

Sebelah utara: Pesantren Tambak Beras (Bahrul Ulum). Di selatan: Pesantren Tebuireng. Sebelah timur: Pesantren Rejoso (Darul Ulum). Sebelah barat: Pesantren Denanyar (Mambaul Ma’arif ). Selama lebih dari setengah abad, NU dipimpin tokoh asal pesantren-pesantren Jombang itu.

KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng) menjadi Rais Akbar NU sejak berdiri (1926) sampai dia meninggal (1947). Diteruskan KH Wahab Chasbullah (Tambak Beras), saudara mindo (sepupu dua kali) KH Hasyim, sebagai Rais Aam Syuriyah (1947-1972). Disambung KH Bisri Syansuri (Denanyar), adik ipar KH Wahab dan besan KH Hasyim (1972-1980).Empat tahun setelah itu, KH Abdurrahman Wahid (cucu KH Bisri dan KH Hasyim) menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (1984-1999). Praktis, baru sejak 1999 posisi ter-tinggi Syuriyah dan Tanfidziyah NU tak diduduki orang Jombang.

Para kiai Jombang sejak awal kemerdekaan terlibat aktif dalam proses politik dan demokrasi, sebagai pemimpin partai, anggota parlemen, maupun kabinet. Mungkin karena pengalaman panjangnya dalam politik, pada musim Pemilu 2004, Jombang menunjukkan kematangan lebih ketimbang kantong NU lainnya dalam tole-ransi dan kebebasan politik.

Saat basis NU yang lain terbelah antara memilih Hasyim Muzadi (di-back-up tokoh NU struktural) atau Salahudin Wahid (didukung Gus Dur, PKB, dan jaringan kiai

PRO-DEMOKRASI

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 45-48)