• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suara Abu Cukup Didengar

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 152-158)

Erwin Y. Salim, dan Ibrahim Pase (Banda Aceh)

Lembaga pendidikan Islam yang dipimpin ulama karismatik ini memilih apolitis. Tapi pada pemilu lalu menyeru tak mendukung

nya memberi bambu dan rumbia untuk atap. Mereka yang tak punya apa-apa cukup menyumbangkan tenaga untuk membantu mendirikan bangun-an sederhbangun-ana di atas tbangun-anah wakaf itu. Jadilah bbangun-angunbangun-an darurat Pesbangun-antren Darul Huda Lueng Angen.

Peristiwa tahun 1972 itu masih erat melekat di benak para tetua Jambo Aye. Betapa tidak. Hanya dalam waktu tiga dekade, wajah bangu-nan darurat yang hanya dapat menampung 25 santri itu sudah berubah total. Sebuah bangunan berlantai tiga menggantikan bangunan kayu itu. Dan, di bangunan mentereng itulah kini sekitar 1.800 santri mem-perdalam ilmu-ilmu Islam. “Kami bangga, ini semua merupakan swadaya masyarakat,” ujar Tgk. Muhammad Daud Ahmady, pemimpin pesantren tersebut.

Lelaki kelahiran tahun 1949 yang akrab disapa Abu Daud itu sejak awal memang sudah mengasuh pesantren itu. Setelah bangunan darurat untuk pesantren itu berdiri pada 1972, ia dijemput oleh tokoh-tokoh masyarakat Tanah Jambo Aye dari Pesantren Samalanga di Kabupaten Bireun. Kala itu, ia diminta mengelola pesantren baru di Tanah Jambo Aye ini. Lalu ia pun memutuskan meninggalkan tanah Bireun.

Abu Daud pantas bangga, memang. Bukan saja karena turut me-rintis pendidikan di sana, juga bila mengingat perkembangan yang dicapai para lulusannya. Sejumlah anak asuhnya berhasil mendirikan 12 pesantren cabang di wilayah Aceh Utara. Sejumlah lainnya membangun sekitar 17 pesantren cabang di wilayah Aceh Timur. “Ada lagi yang membina di wilayah Bireun,” katanya.

Lebih jauh lagi, ia bersama masyarakat setempat pun berhasil mempertahankan independensi pesantren swadaya tersebut. Sejak berdiri, katanya, pesantren ini tak pernah berafiliasi pada partai apa pun, termasuk Golkar semasa masih berkuasa dahulu. “Kami memang menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik praktis,” ujarnya.

Independensi itu diperlihatkannya lewat pemilu. Untuk penye-lenggaraan pesta demokrasi rakyat itu, Abu Daud tidak memperkenankan

adanya TPS di dalam kompleks pesantrennya. Katanya, pesantren bukan-lah untuk panggung politik seperti itu. Ia menyerukan kepada santrinya yang punya hak pilih untuk mencoblos di beberapa TPS terdekat di Desa Pante Gaki Bale, yang hanya berjarak 400 meter di luar lingkungan pesantren. “Seperti saya, mereka juga mencoblos di sana,” katanya.

Abu Daud punya alasan tersendiri. Ia menilai, politik praktis tidak cocok bagi kehidupan di lingkungan pesantren. Lembaga pendidikan ini, katanya, adalah tempat orang mempelajari ilmu agama Islam sebagai bekal untuk akhirat. “Biarlah orang-orang yang belajar di sekolah umum yang berpolitik,” tuturnya.

Walau demikian, ia memberi kebebasan kepada para anak didiknya untuk mencoblos partai yang sesuai dengan aspirasinya. Tetapi, ketika pemilu presiden silam, ia hanya berpesan agar mereka tidak memi-lih calon perempuan. “Tidak suksesnya suatu bangsa apabila segala urusan diserahkan kepada seorang perempuan,” katanya. Ia menyitir salah satu hadis sahih yang penafsirannya masih mengundang perdebatan itu.

Pemimpin pesantren yang disegani warga Tanah Jambo Aye ini punya sederet argumentasi untuk menolak perempuan sebagai pemimpin. Ia membeberkan tarikh Islam dan juga pengalaman sejarah Aceh sendiri. Ia mencontohkan, bagaimanapun pandainya dan eloknya Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, toh tidak pernah diangkat menjadi pemimpin. Ia hanya diberi gelar “Ummirul Mukminin”, ibu kaum mukmin.

Selain itu, Aceh pernah punya pengalaman kelam dengan kepemimpinan perempuan. Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Aceh di-pimpin anak perempuan sang sultan, Ratu Safiatuddin. Selama kepemimpinan ratu itu, sejumlah daerah seperti Deli, Langkat, dan Riau memisahkan diri dari kesultanan. Padahal, sebelumnya daerah-daerah itu takluk di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. “Itu contoh kegagalan perempuan sebagai pemimpin,” katanya lagi.

Sikapnya itu diamini oleh masyarakat beberapa desa di sekitar pesantren. Dalam pemilu presiden itu, banyak warga yang datang

kepadanya meminta nasihat. Sarannya tetap, pilih pemimpin yang mana saja asalkan jangan yang perempuan. “Walhasil, kami semua ikut kata Abu yang melarang memilih presiden perempuan,” ujar Kepala Mukim Jambu Aye Selatan, Tgk. Kamaluddin Basyir (lahir 1954). “Ulama merupakan pemberi pedoman hidup,” kata Kamaludin.

Suara politik Abu Daud di lingkungan sekitar pesantren memang cukup didengar warga sekitar. Terbukti, dalam pemilu presiden pada 20 September 2004, pasangan SBY-Kalla memperoleh suara jauh di atas Mega-Hasyim. Di kota Panton Labu saja, wilayah terdekat dengan pesantren, pasangan SBY-Kalla memperoleh 82,4 % (1.116 suara), sedangkan Mega-Hasyim meraih 17,6% (238 suara). Ini menggambarkan hasil perolehan di Kecamatan Tanah Jambo Aye secara keseluruhan: SBY-Kalla meraih 81,6% (13.466 suara) dan Mega-Hasyim merebut 18,4% (3.037 suara).

Ihwal politik, Abu Daud mengaku berkali-kali sudah didekati tokoh-tokoh partai. Malah dulu sempat ada pengajar di pesantren ini aktif di PPP karena mereka menganggap partai itu sesuai dengan aspirasi mere-ka. Tapi Abu Daud terus menolak secara halus ajakan untuk berafiliasi yang ditawarkan para tokoh itu. Ia ingin tetap independen. “Akhirnya mereka seperti bosan sendiri mendekati kami,” ujarnya.

Lingkungan di dalam pesantren, di mata Abu, harus bersih dari politik. Tetapi ia tidak melarang santri dan 110 ustadnya berpolitik di luar. Begitu kembali ke pesantren, “baju politik” wajib ditanggalkan. “Di lingkungan pesantren hanya boleh bicara akidah dan ilmu Islam,” katanya. Abu Daud pun mengaku kerap “diganggu” oleh pemimpin kelom-pok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka datang ke Pesantren Darul Huda dan meminta kiai karismatis ini berceramah untuk anggota GAM ihwal ideologi mereka. Abu Daud menolak permintaan itu karena ia meni-lai, bila itu dilakukan, ia sudah memasuki wilayah politik praktis. Ia me-nyatakan kesanggupannya hanya berceramah agama, bukan ceramah poli-tik-ideologis. “Akhirnya mereka memahaminya. Mereka kembali ke hutan tanpa menaruh dendam kepada saya,” ungkapnya.

ABO

W

PERSIS

Kontra Presiden Perempuan

JALAN Pajagalan, Bandung, dikenal sebagai basis Persatuan Islam (Persis), organisasi massa Islam terbesar di Jawa Barat. Sehari-hari, jalanan yang terletak persis di pusat kota Bandung ini diwarnai aktivitas kegiatan santri menuntut ilmu. Saat Pemilihan Umum 2004 berlangsung, sebagian lokasi pesantren Persis di Pajagalan itu dijadikan tempat pemu-ngutan suara (TPS).

Soliditas organisasi ini tidak diragukan lagi. Jauh sebelum kiai Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan fatwa haram memilih presiden

Menjauh

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 152-158)