• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suara Langit Tutupi Mega

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 138-146)

Kholis Bahtiar Bakri, dan Mujib Rahman (Surabaya)

Pesantren Langitan termasuk basis penentang perempuan jadi presiden. Perseteruan para kiai Nahdlatul Ulama makin runcing. SBY-Kalla mendapat

yang dipilihnya. Sikap politik kiai sudah tersiar jauh-jauh hari. Hasilnya pun bisa ditebak. Suara untuk pasangan Mega-Hasyim jeblok di sekitar pesantren. Dari 13 TPS di kompleks Pesantren Langitan, suara untuk Susilo Bambang Yudhoyono mencapai 2.626. Mega cuma kebagian 109 suara. Pada pemilu sebelumnya, pasangan Wiranto-Gus Solah yang unggul. Calon lain cuma meraih tiga suara. Malah, untuk pasangan Amien-Siswono, tak ada satu pun yang nyoblos.

Sikap politik Kiai Faqih ini memang dinanti. Pilihannya akan di-ikuti oleh sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU). Tak mengherankan, men-jelang pemilihan umum presiden tahap pertama, Juli 2004, para kandidat sibuk menyambangi rumah Kiai Faqih. Wiranto dan Amien Rais datang ke rumah. Ketika ia terbaring sakit di Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo, Surabaya, Megawati dan Akbar Tandjung pun sempat menengoknya.

Restu Kiai Faqih begitu diperebutkan. Ulama karismatik yang dike-nal sebagai kiai khos ini selalu jadi rujukan, bukan hanya urusan agama, juga politik. Ketika KH Abdurrahman Wahid berniat mencalonkan diri sebagai presiden pada 1999, restu Kiai Faqih yang pertama kali diminta. Keputusannya sering disebut Gus Dur —begitu Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini biasa dipanggil— sebagai suara dari langit.

Pada saat menggelar jumpa pers di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Oktober 1999, Gus Dur mengaku sudah direstui Kiai Faqih. “Kiai Faqih mengatakan, kalau saya jadi calon persiden, beliau akan mendukung dengan doa-doa,” ungkapnya, kala itu.

Mulanya Kiai Faqih dan beberapa kiai kondang di Jawa Timur tak begitu setuju dengan keinginan Gus Dur. Namun para kiai yang tergabung dalam Forum Langitan tak bisa lepas tangan. Lewat forum inilah, mereka sering memberi masukan dan nasihat kepada presiden.

Selain KH Abdullah Faqih, yang sering terlibat dalam forum ini, antara lain, KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Abdullah Abbas (Cirebon), KH Zainal Abidin (Yogyakarta), KH Fachruddin Masturo (Sukabumi), KH Abdur-rahman Chudori (Magelang), dan sesekali KH Azis Masyhuri (Jombang),

yang juga Ketua Roabithoh Ma’ahid Islamy (Persatuan Pondok Pesantren). Berbagai kebijakan Gus Dur yang sering dianggap nyeleneh per-nah diingatkan Forum Langitan. Kata mereka, Gus Dur harus mengubah pola dan cara memimpin negara. Jangan disamakan seperti ketika menja-bat sebagai Ketua Umum PBNU. Lebih baik dikomunikasikan dengan Ketua MPR dan Ketua DPR. Contoh lain soal pembukaan hubungan dagang RI dengan Israel dan rencana penunjukan Lee Kuan Yew jadi penasihat ekonomi presiden.

Pertemuan pada kiai NU seringkali dilakukan, meski tak menggu-nakan wadah Forum Langitan. Misalnya, mereka bersua dalam acara “Bahtsul Masail Syuriah NU Kabupaten Pasuruan” di Pesantren Raudlatul Ulum, awal Juni 2004. Acara ini sebenarnya cuma diskusi para ustad pesantren lokal. Namun, karena dihadiri para kiai sepuh, termasuk KH Abdullah Faqih, hasilnya jadi bergema keras.

Dalam pertemuan tersebut diputuskan soal haramnya presiden perempun. Munculnya tausiah ini tentu membuat suhu politik kian panas. Kiai Faqih dituding ikut cawe-cawe dalam politik dengan menjegal Megawati, calon presiden dari PDI Perjuangan. Sejak awal, sikap politik kiai ini jelas, mendukung Wiranto yang berpasangan dengan Salahudin Wahid, adik kandung Gus Dur.

Kubu Mega-Hasyim kebakaran jenggot. KH Hasyim Muzadi, yang saat itu tengah ber-istighotsah di Palembang, langsung berkomentar. “Fatwa itu tidak konsisten, kenapa tidak diputuskan dari dulu,” katanya. Soalnya, keputusan itu bertentangan dengan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama NU pada 1997 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Muktamar NU 1999, yang tidak lagi mempersoalkan presiden perempuan. Karena itu, kata Hasyim, mestinya bantuan yang diberikan Megawati ke berbagai pondok juga dinyatakan haram.

Ungkapan keras pun dinyatakan berbagai kalangan, seperti Ketua Komisi Pemilihan Umum Nazaruddin Syamsuddin. Tapi tak pernah ditanggapi langsung oleh KH Abdullah Faqih. Seperti biasa, ia irit bicara.

Dalam klarifikasi tertulis yang disampaikan ke sebuah koran di Jawa Timur disebutkan bahwa ia hanya menjawab pertanyaan wartawan.

KH Anwar Iskandar, Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jawa Timur, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, memperjelas duduk perkaranya. Menurut dia, dalam acara itu tak ada agenda untuk mengelu-arkan fatwa. Tapi, di sela-sela perbincangan, beberapa kiai membuka-buka kitab dan mengemukakan bahwa haramnya presiden perempuan bukan

khilafiah, melainkan sudah ijma (kesepakatan final).

Namun pernyataan itu dengan telak disanggah oleh tuan rumah pertemuan tersebut, KH Muhammad Subadar, pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Besuk, Pasuruan. “Kami memang memfat-wakan presiden perempuan haram,” katanya. Keputusan lain adalah men-dukung Wiranto-Gus Solah, yang disebarluaskan sebagai rekomendasi untuk para pengurus PKB.

Sikap Kiai Faqih tentang presiden perempuan sebenarnya sudah jelas. Ia mengharamkannya. “Untuk urusan agama, sikap Kiai tak pernah berubah,” ungkap KH Ubaidillah Faqih, putra tertua KH Abdullah Faqih. Namun pendapat itu tak ada kaitannya dengan motif politik.

Ketika Wiranto-Gus Solah kalah, kemudian beralih mendukung SBY-Kalla, pun tak pernah diiming-imingi kepentingan politik. “Setiap putusan selalu didasari istikharah,” kata Gus Ubaid (lahir 1959) — demikian Ubaidillah Faqih biasa dipanggil.

Kiai Faqih tak pernah bicara langsung ke publik. Sikapnya biasa di-sampaikan oleh Gus Ubaid. Ia jadi juru bicara pribadi sekaligus pesantren. Langitan termasuk salah satu pondok tertua di Indonesia, berdiri pada 1852. Cikal bakalnya berupa sebuah surau kecil yang didirikan oleh KH Muhammad Nur pada masa penjajahan Belanda. Di masa kepemimpinan Abdullah Faqih —generasi kelima— banyak terjadi perubahan fisik.

Namun surau peninggalan KH Muhammad Nur masih diperta-hankan keasliannya. Pesantren Langitan terletak di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kecamatan Widang, Tuban, Jawa Timur. Lokasinya tepat di

sisi daerah aliran Sungai Bengawan Solo. Luasnya 7 hektare, termasuk rumah kiai. Posisinya 30 kilometer sebelah selatan ibu kota Kabupaten Tuban, dilewati jalur utama pantai utara (pantura) Semarang-Surabaya.

Dusun Mandungan, Desa Widang, merupakan kota kecamatan yang ramai karena menjadi persimpangan Bojonegoro, Jombang, dan Surabaya. Meski terletak di desa, nama Langitan lebih dikenal ketimbang Widang. Langitan merupakan nama kuno daerah ini yang diambil dari kata plangitan atau plang wetan, yang berarti “papan timur”. Langitan merupakan batas pal-ing timur Kabupaten Tuban, berbatasan dengan Kabupaten Lamongan.

Santrinya berjumlah sekitar 5.500 orang dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Malaysia. Sebagai pesantren salafiyah, Langitan lebih mengedepankan karya-karya ulama Timur Tengah tradisionalis — dikenal pula dengan kitab kuning, seperti kitab Al-jurumiyah, Al-fiyah, dan Hadits Arbainnawawiyah. Sistemnya hafalan. Namun tetap mengikuti perkembangan dengan menyerap sistem Departemen Agama, mulai taman pendidikan Al-Quran, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, hingga madrasah aliyah.

Sistem campuran klasik dan modern sudah lama diterapkan. Selain sistem kelas, metode mengaji kuno dengan cara bandongan dan

sorogan tetap dipertahankan. Bandongan adalah cara mengaji dengan

mendengarkan penjelasan guru. Sedangkan pada sorogan, siswa memba-ca kitab kuning, lalu dikoreksi oleh guru. Yang telah menamatkan semua tingkatan berhak masuk kelompok kelas musyawirin. Ia memperdalam penguasaan kitab kuning, langsung dibimbing oleh kiai.

Pendalaman ditempuh pula dengan diskusi, yang dikenal sebagai

bahtsul masail. Para santri membentuk formasi melingkar di aula untuk

membahas suatu masalah hukum. Mereka berdebat dengan membawa rujukan kitab kuning yang telah dipelajari. Ini kegiatan rutin setiap malam, kecuali malam Rabu dan Jumat.

Kehidupan santri punya warna budaya sendiri. Bila menemui kiai, santri merundukkan badan dan mencium tangan kiai. Tak boleh

dang wajahnya. Etika itu masih dipraktekkan santri hingga kini. “Ini meru-pakan cara kami menghormati kiai,” kata Nurul Hidayat (lahir 1977), Ketua Pondok Pesantren Langitan. Dengan begitu, santri berharap bisa mendapat berkah dari ilmu dan kesalehannya.

Selama pengajian, para santri harus duduk bersila dan tak boleh mengajukan pertanyaan kepada gurunya. Sungkan. Malah santri tak berani melintas di depan rumah kiai, lebih baik melalui jalur lain. “Ada kesepakatan tak tertulis sebagai wujud penghormatan,” ujar Hidayat.

Meskipun berwajah pesantren tradisional, Langitan juga mem-praktekkan cara-cara demokrasi modern. Khususnya untuk pemilihan jabatan di kalangan santri. Misalnya, untuk bursa pemilihan ketua pondok dijaring dari perwakilan kamar atau disebut anwab. Setiap anwab —yang terdiri dari sekitar 40 santri— mengirim satu utusan. Ada 10 anwab. Utusan itu menjadi bagian dari Majelis Perwakilan Santri. Ini merupakan majelis tertinggi di kalangan santri.

Majelis bersidang untuk memeras calon dari anwab hingga mengerucut jadi empat orang. Melalui voting, ketua pondok dipilih. “Inilah pesta demokrasi santri yang digelar tiga tahun sekali,” ujar Hidayat. Tak ubahnya parlemen, majelis ini menggodok berbagai aturan pondok. Tapi hasilnya bisa dianulir oleh kiai.

Laiknya sebuah negara modern, dibentuk pula lembaga eksekutif, disebut “majelis idarotil am”. Sedangkan lembaga yudikatif disebut “majelis

amnil’am” dan hakim-hakimnya disebut “majelis tahkim”. Untuk

menjem-batani kepentingan antara santri dan kiai, dibentuk “majelis a’wan” —seba-gai pembantu kiai, yang berjumlah 12 orang dari anggota keluarga.

Pondok Pesantren Langitan tidak dinaungi oleh sebuah yayasan berbadan hukum resmi. Cukup dengan nama Pesantren Langitan. Ada tiga bagian besar yang menjalankan roda pesantren, yaitu pengasuh pondok atau kiai yang disebut hadlaratus syaikh, kepala madrasah, dan departe-man perekonomian yang mengurusi perluasan pondok serta aset-asetnya. Semuanya tunduk pada KH Abdullah Faqih sebagai hadlaratus syaikh.

ABO

W

AL-HIDAYAHPANDEGLANG

Kontra Presiden Perempuan

LIMA pria berkopiah kongko-kongko di warung. Memakai sarung sembari nyeruput kopi panas, mereka “cuci mata” di pinggir jalan. Tidak telihat tanda-tanda ada pondok pesantren. Maklum, papan nama kosong. Warga sekitar pun memakai “seragam” serupa. Tapi, siapa sangka, di Kampung Cisantri yang dihuni 160 kepala keluarga itu ada Pondok Pesantren Al-Hidayah pimpinan KH Bustomi. “Aroma” pondok baru terci-um saat masuk ke tengah kampung di Kecamatan Cimanuk, Pandeglang, Banten, itu.

Ngaji

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 138-146)