Luqman Hakim Arifin
“Apakah tidak ada lagi di dunia ini kebenaran dan kemuliaan sehingga manusia terpaksa bergelimang dengan najis dan kejahatan demokrasi?”
Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad At-Tamimi, pimpinan spiritual tertinggi Rufaqa.
petang. Ruko pertama dipakai untuk jual-beli perlengkapan ibadah — dulunya rumah makan— satunya lagi tempat menjual keperluan rumah tangga. Lokasi Bandar Rufaqa masuk ke Desa Babakan Madang, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Meski sudah hampir sembilan bulan, penduduk sekitar masih asing dengan Bandar Rufaqa. “Apa itu Rufaqa? Saya nggak tahu itu orga-nisasi apa?” kata A. Chatib Sarbini (lahir 1954) kepada Gatra, pertengahan Oktober 2004. “Seharusnya, kalau benar ada di sini, ada laporannya,” staf Urusan Pemerintahan Desa Babakan Madang, Sentul, itu menambahkan.
Pak Ukho’ —demikian pria itu disapa— mengaku sering main ke daerah cluster Victoria, tapi tidak pernah tahu keberadaan organisasi berna-ma Rufaqa’. “Mana sih tempatnya?” katanya penasaran.
Rufaqa merupakan metamorfosis Darul Arqam, organisasi yang di-nyatakan terlarang oleh Pemerintah Malaysia pada 1994. Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad at-Tamimi, pimpinan tertinggi spiritual Darul Arqam, dipaksa bertobat di depan Dewan Fatwa Malaysia. Nama Al-Arqam pun harus ditanggalkan. Organisasi ini, termasuk yang di Indonesia, pun bubar.
Meski Al-Arqam harus tutup buku, spirit anggotanya tetap menyala. Pada 1997, Abuya membangun komunitas baru dengan nama Rufaqa. Seperti Darul Arqam, Rufaqa tetap memelihara konsep Imam Mahdi. Di Indonesia, komunitas ini muncul dengan nama Hawariyun. Tahun 2000, Hawariyun di Indonesia dan Rufaqa Malaysia bergabung menjadi Zumala Group International. Dua tahun kemudian, 2002, berubah menjadi Rufaqa International.
Dulu anggota Darul Arqam sangat mudah dikenali. Laki-lakinya berjubah hitam dan berserban hijau. Sedangkan perempuannya bercadar, juga dengan jubah hitam. Kostum ini tak diteruskan oleh Rufaqa. Mereka kini tak berpakaian khusus. Barangkali, karena itulah, Rufaqa tak mudah dikenali. Yang juga berubah adalah perlakuan pada demokrasi. Darul Arqam, setidaknya terbaca pada tulisan Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad At-Tamimi dalam Meninjau Sistem Pemerintahan Islam,
terang-terangan mengharamkan demokrasi seperti kutipan di atas. Buku itu pertama kali di-launching pada 1994 dan dicetak ulang tahun 2004.
Rufaqa Indonesia sama sekali tak menampik pemilu sebagai urat nadi demokrasi. Abu Jabir, seorang aktivis Rufaqa Semarang, mengatakan tidak ada penolakan saat diadakannya pemilihan umum, baik ketika pemilu legislatif maupun presiden. “Pada prinsipnya, kami ikut apa yang diprogramkan pemerintah saja. Apa yang digariskan pemerintah, kami nggak ingin melanggarnya,” ujar Abu Jabir (lahir 1972).
Ia menyebutkan, anggota Rufaqa dibebaskan memilih. “Tidak ada perintah untuk nyoblos salah satu kandidat presiden. Jika ada yang mau golput, itu pun diperbolehkan. Ikut atau tidak ikut pemilu, diserahkan kepada masing-masing individu.” kata Abu Jibril kepada Mukhlison S. Widodo dari Gatra. Meski begitu, menurut dia, Rufaqa diharuskan ikut aturan pemerintah.
“Kalau pemerintah menyarankan menyukseskan pemilu, kita juga harus mengikuti pemilu,” Abu Jabir menambahkan. Di Semarang, komu-nitas Rufaqa beranggotakan sekitar 10 keluarga. Mengenai pilihannya saat pemilihan presiden kemarin, Abu tidak mau menjawabnya. “Itu kan raha-sia, jadi tidak boleh dikatakan,” Abu menegaskan.
Di Sentul, yang jadi pusat kegiatan Rufaqa Indonesia, pada putaran pertama disebut-sebut pilihan jatuh pada Wiranto, yang kabarnya difavoritkan Abuya. Jamaah Rufaqa yang sempat dihubungi Gatra membe-narkan hal itu. Berhubung Wiranto tak lolos, tak sedikit yang jadi golput. Salah satunya, Doktor Abdurrahman R. Effendy, Direktur Rufaqa Indonesia. “Saya masih di Malaysia ketika pencoblosan kedua,” katanya.
Pada putaran kedua di TPS 8, cluster Victoria yang jadi tempat memilih sebagian komunitas Rufaqa, SBY menang telak. Ia meraih 218 suara, sedangkan Mega hanya mendapat 63 suara. Apakah mereka memi-lih SBY? Wallahualam.
Yang pasti, SBY bukan sosok asing bagi Rufaqa Indonesia. Ia, mis-alnya, sempat memberi pengatar pada buku Jejak Sang Dutta yang
menceritakan kiprah Halilintar Muhammad Jundullah, yang sempat jadi orang nomor satu di komunitas tersebut, sebelum digantikan Doktor Abdurrahman R. Effendi.Harimi Abdullah, Asisten Direktur Rufaqa Sumatera Selatan, menyebutkan bahwa SBY cukup dekat dengan Rufaqa. Kedekatan ini, menurut dia, dibangun ketika SBY menjadi Pangdam II/Sriwijaya, 1996-1997. Rufaqa di Sumatera Selatan berdiri pada 1989 dengan nama Arqam.
Karena kedekatan itulah, menurut Harimi, Rufaqa sempat mem-berikan masukan kepada SBY sebelum maju dalam bursa pilpres. “Jika berniat baik, maju terus. Kalau akan membawa kepada keadaan yang lebih buruk, tak perlu dilakukan,” kata Harimi, mengutip pesan yang disam-paikan kepada SBY.
Sikap aneka warna Rufaqa dalam pemilu sangat bertolak belakang dengan “fatwa” Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad at-Tamimi. Bagi Abuya, sistem pemerintahan Islam jauh lebih bijaksana dan adil daripada berbagai sistem politik, ideologi, dan isme buatan akal manusia, termasuk demokrasi. “Islam memiliki tafsiran dan bentuk yang khusus dan istimewa tentang pemerintahan,” Abuya menambahkan.
Demokrasi, menurut Abuya, menyimpan banyak kelemahan. Dalam memilih pemimpin, misalnya, demokrasi dianggap Abuya mencip-takan kenyataan semu dalam bangunan sebuah pemerintahan. Ambil con-toh, tiga calon bertanding di kawasan yang pemilihnya 10.000 orang. Hasil perhitungan suara: A mendapatkan 3.300 suara, B memperoleh 3.300 suara, dan C meraup 3.400 suara.
Artinya, C menang dengan pendukung 3.400 suara, sedangkan penentangnya, kalau ditambahkan antara dua calon lain, adalah 6.600 suara. “Secara demokrasi, bagaimana dapat dipastikan bahwa dia (C) naik atas dukungan mayoritas? Karena penentangnya lebih banyak dari pendukung-nya?” tulis Abuya dalam buku Membangun Sistem Pemerintahan Islam.
Kelemahan lain pemilihan secara demokratis, menurut Abuya, adalah lebarnya kemungkinan untuk mendapatkan pemimpin yang keliru
dan jahat yang naik karena suara mayoritas. Asumsi Abuya, rakyat tidak semuanya pandai dan tahu tentang orang atau partai yang dipilih. “Pemerintah bukan wakil rakyat, tapi wakil Allah (khalifatullah) untuk menjalankan pemerintahan menurut cara yang ditentukan Allah,” ia menegaskan.
Seorang pemimpin, menurut Abuya, dipilih bukan dengan cara kampanye dan sejenisnya, melainkan dengan pemilihan oleh ahlul halli
wal ‘aqdi. Yaitu orang-orang yang dibenarkan untuk memilih seorang
pemimpin. Ketika pemilihan Abu Bakar as-Shiddiq sebagai amirul muk-min, ahlul halli wal ‘aqdi-nya adalah orang-orang seperti Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf, Abu Ubaidah, dan Sa’ad bin AbiWaqqas.
Ahlul halli wal’aqdi adalah kaidah yang ditunjuk dalam Al-Quran
untuk memilih seorang pemimpin. Orang-orangnya, antara lain, adalah pemimpin-pemimpin yang kata-katanya didengar oleh rakyat, meski bukan pemimpin resmi. Syaratnya: memiliki ilmu pengetahuan Islam yang cukup dan punya pengaruh dalam masyarakat.
Sayangnya, tidak dijelaskan oleh Abuya bagaimana memilih orang-orang yang disebut ahlull halli wal ‘aqdi itu sendiri. Apakah perlu ada pemilihan dari rakyat atau ditunjuk lagi? Kalau ditunjuk, siapa yang menunjuk?
Tentang syarat menjadi pemimpin, Abuya mencantumkan enam syarat: harus beragama Islam, lelaki, “perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, cuma boleh menjadi wakil pemimpin”, balig, akil, yakni berakal cerdik, merdeka, dan sempurna anggota tubuhnya.