• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membawa Syukur

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 51-55)

Anthony Djafar (Makassar)

Terseret ke kancah politik demi menyelamatkan pesantren. Memihak Golkar memantik perpecahan. Menjadi dua kelompok dengan pilihan berbeda.

PRO-DEMOKRASI

Duet Megawati-Hasyim Muzadi hanya mendulang sembilan suara. Hasil yang hampir sama juga terjadi di TPS 2, persis di belakang Pesantren DDI. Di sini SBY-Kalla mendapat 226 pendukung, sedangkan Mega-Hasyim cukup tiga suara.

Uniknya, dalam mencoblos tanda gambar, nyaris semua pemilih hanya menusuk wajah Jusuf Kalla. “Itu-itu tonji pilihan kita. Pasti mi Deng

Ucu,” kata Musnity, seorang warga setempat. Artinya, semua itu pilihan kita dan

pasti pilih Deng Ucu. Deng Ucu adalah logat Bugis untuk ucapan Daeng Jusuf. Berkibarnya Jusuf Kalla di kalangan warga DDI bukan hal aneh dan tidak pula terjadi tiba-tiba. Alasannya pun tidak semata-mata Deng Ucu kelahiran Sulawesi Selatan, melainkan juga sebagai kelanjutan sejarah. Sejak Pemilu 1977, pendiri dan Ketua Umum DDI kala itu, KH Abdul Rahman Ambo Dalle, memang lebih condong mendukung Golkar.

Ambo Dalle, begitu KH Abdul Rahman Ambo Dalle akrab dipang-gil, terbuka mendukung beringin. Padahal, ketika itu sebagian besar pengikut DDI alergi terhadap mesin politik Orde Baru ini. “Pilihan ke Golkar terpaksa dilakukan Ambo Dalle untuk menyelamatkan pesantren,” kata Dr. Mustari Bosra, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar, yang menulis disertasi tentang DDI.

Dalam sejarahnya, warga DDI lebih condong memihak partai Islam. Pilihannya pada Pemilu 1955 dan 1971 adalah Partai Syarikat Islam Indonesia. Setelah terjadi fusi partai politik menjelang Pemilu 1977, warga DDI lebih cenderung mendukung PPP.

Pilihan berbeda itu kemudian membuat DDI “pecah”. Tersebutlah KH Abduh Pa’bajjah, tokoh terkemuka DDI yang kemudian bergabung pada PPP. Tapi pilihan ini justru menaikkan “gengsi” DDI. Sebab tokoh-tokohnya berhasil duduk di parlemen lewat partai berbeda. “Dua pilihan itu justru patut disyukuri. Tujuan mereka sama, untuk menjaga eksistensi DDI,” kata Mustari.

Toh, Mustari tak memungkiri bahwa beda pilihan itu membuat DDI terbelah menjadi dua kubu. Yang satu mengusung nama DDI Anregurutta

Ambo Dalle, yang kerap disingkat DDI AD. Kelompok ini juga disebut DDI Mangkoso karena berlokasi di Desa Mangkoso, Kabupaten Barru, 120 kilome-ter sebelah utara Makassar. Kelompok lainnya disebut DDI Kaballangang di Pinrang, 170 kilometer utara Makassar (lihat: Niat Hidupkan Masjid).

Dalam pemilihan presiden putaran kedua lalu, DDI Mangkoso mendukung Jusuf Kalla, sedangkan DDI Kaballangang lebih condong pada pasangan Mega-Hasyim. DDI, organisasi Islam terbesar di Sulawesi Selatan ini, sejak berdiri memang tak pernah lepas dari singgungan dunia politik.

Seiring dengan makin bertambahnya anggota, tak pelak DDI diperebutkan sebagai tambang suara dalam setiap pelaksanaan pemilu. Pada era Orde Baru, seperti halnya hampir semua organisasi yang ada, DDI juga menjadi target Golkar. Toh, masih ada yang “berani” menyempal, seperti KH Abduh Pa’bajjah.

DDI termasuk organisasi Islam tradisionalis moderat yang pro-demokrasi dan ikut aktif dalam proses demokratisasi tanpa perdebatan. Tapi keterlibatan DDI dalam politik berbeda dengan Nahdlatul Ulama di Jawa. DDI berpolitik sebagai praktek para tokohnya secara individual, bukan organisasinya. Itu pun, kata mereka, bukan dengan pertimbangan mencari kekuasaan.

Seperti dikatakan Mustari Bosra, Ambo Dalle bergabung dengan Golkar di era Orde Baru untuk menyelamatkan pesantrennya. “Tak ada niat ingin terlibat dalam pemerintahan atau mencari kekuasaan,” katanya. Karena itu, dalam setiap pemilu, pengurus DDI tidak pernah mengarahkan warganya untuk memilih partai tertentu.

Tapi, seperti halnya organisasi keagamaan, pimpinan atau tokoh penggeraknya selalu jadi panutan. Bila tokoh yang jadi patronnya memilih Golkar, misalnya, para santrinya akan mengikuti. Pendukungnya akan lebih besar bila pilihan itu juga menjadi keinginan masyarakat secara umum.

Hal itulah yang bisa menjelaskan mengapa SBY-Jusuf Kalla bisa memang telak di Sulawesi Selatan. “Saya sudah lama kenal Jusuf Kalla,” kata KH M. Faried Wadjedy, Ketua DDI Mangkoso. Tak mengherankan, dalam

kampanye pemilihan presiden lalu, Faried secara terbuka mendukung pasa-ngan SBY-Jusuf Kalla, suatu hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Dukungan ini sejalan dengan aspirasi warga DDI dan masyarakat Sulawesi Selatan umumnya, sehingga tidak menimbulkan konflik internal. Apalagi, dengan sistem pemilihan langsung, partisipasi warga DDI makin tinggi. “Pemilihan ini harus dinikmati rakyat karena bisa langsung menen-tukan pilihan mereka,” kata KH Sanusi Baco, Ketua Majelis Mustasyhar DDI Mangkoso.

Sanusi Baco adalah seorang kiai yang punya pengaruh besar di Sulawesi Selatan. Tak salah bila tim sukses SBY-Jusuf Kalla menggan-dengnya. Sanusi menerima ajakan itu dengan tangan terbuka. Jusuf Kalla dikenal sangat dekat dengan ulama di daerah itu. Apalagi, keluarga Kalla adalah warga Nahdlatul Ulum di Sulawesi Selatan.

Pilihan DDI Mangkoso berseberangan dengan DDI Kaballangang yang dipimpin Prof. Dr. H. Muiz Qabry. “Kami tidak akan mendukung Jusuf Kalla,” katanya. Bahkan, ketika membuka Kongres Fatayat DDI di Pinrang, 11 September 2004, Muiz menyatakan dukungannya pada pasangan Mega-Hasyim. “Sesuai dengan hasil rapat pleno DDI, yang didukung adalah Ibu Presiden Megawati berpasangan dengan Hasyim Muzadi,” katanya lantang. Pernyataan itu ditentang oleh pengurus DDI Mangkoso. “Pernyataan itu tidak bisa mengatasnamakan seluruh warga DDI di Indonesia,” kata Abdul Rasyid, tokoh DDI Mangkoso. Apalagi, DDI Mangkoso tidak terlibat dalam Musyawarah Besar DDI, 20-24 Juli 2004. Menurut Muiz Qabry, dalam musyawarah yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Badar DDI Belalang, Pare-pare, itulah diputuskan mendukung Mega-Hasyim.

Perselisihan dua kubu DDI itu, dalam pandangan Mustari Bosra, tidak mengurangi partisipasi politik warga DDI. “Jalannya berbeda tapi tujuan sama, yaitu demi DDI,” katanya. Satu hal yang patut dicatat, kata Mustari, DDI sangat mendukung demokrasi. Tak mengherankan bila warga DDI antusias terlibat dalam proses pemilu. Sampai-sampai mereka mengikuti perjalanan kotak suara hingga ke kantor kecamatan.

SEPULANG dari Tanah Suci pada 1928, KH Muhammad As’ad dan muridnya yang sekaligus sahabatnya, KH Abdul Rahman Ambo Dalle, mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan. Pusat pendidikan Islam ini cepat menjadi terkenal dan menarik minat calon santri. Masjid, yang sebelumnya hanya ramai saat waktu salat, kini penuh kegiatan sepanjang hari.

Model pendidikan yang dikenalkan dua ulama itu rupanya menarik perhatian ulama-ulama lainnya. Pada 1938, sejumlah ulama besar di Sulawesi Selatan menggelar pertemuan akbar di Soppeng Riaja, sekarang Kabupaten Barru, yang kala itu dipimpin Andi Yusuf Andi Dagong Petta Soppeng. Dari pertemuan ini disepakati untuk “menghidupkan” masjid. Masjid bukan hanya untuk salat, melainkan juga pusat pen-didikan Islam.

Para pengurus masjid itu kemudian berhimpun ke dalam Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI). Ketua umum pertama DDI KH Abdul Rahman Ambo Dalle, dan wakilnya KH Daud Ismail Abdullah Pa’bajjah. DDI diresmikan pada 29 Syawal 1357 Hijriah atau Rabu 21 Desember 1939. Toh, nama MAI tetap lebih berkibar dan lebih dikenal masyarakat dibandingkan dengan DDI. Karena itu, pada 1947 diadakan “promosi”besar-besaran dan dipusatkan di pesantren yang ada di Desa Mangkoso.

Pada muktamar pertama 1949, pusat DDI dipindahkan ke Pare-pare. Saat muktamar berikutnya pada 1952 diputuskan Ambo Dalle sebagai ketua umum seumur hidup. Kala itu, Sekretaris Umum DDI adalah KH Ali Yafie. Perkembangan DDI sangat luar biasa, dan pengikutnya makin bertambah. Pada Pemilu 1955, Ambo Dalle yang punya pengaruh besar dan mampu menggerakkan massa menjadi incaran.

Dalam dokumen Hajatan Demokrasi (Halaman 51-55)