• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN KONTEKS

INDUSTRI DALAM RISALAH KENABIAN

B. KAJIAN KONTEKS

Memahami konteks historis dalam pengertian kajian diarahkan pada kompilasi dan rekonstruksi sejarah dari data mikro (konteks asbabul wurud secara eksplisit dan implisit serta konteks ketika hadits tersebut diunculkan) dengan merujuk pada kitab-kitab syarakh dan sejarah,

goal nya adalah menemukan ide dasar (hadharah ilmiy) C. KONTEKSTUALISASI

Menganalisa pemahaman teks-teks hadits dengan berbagai teori dan mengaitkan relevansinya dengan konteks saat ini atau kritik praktis (hadharah falsafi).

V. PEMBAHASAN A. KAJIAN TEKS

1. Hadits Tentang Pekerjaan Terbaik

“Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).”

2. Kajian Tematik Komprehensif

Ada beberapa hadits dengan tema sama berkaitan dengan profesi/pekerjaan yang paling baik menurut Rasulullah SAW, perbedaannya hanya bersifat redaksional tanpa merubah kesamaan tema kandungannya. Beberapa redaksi dari hadits tersebut adalah sebagai berikut:

Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.

4 Kazuo Shimogaki, Kiri Islam, terj. M Imam Azis dkk, Yogyakarta, Lkis, 1997, hlm. 43. 5 Ibid., hlm. 44.

6 Imam al-Baehaqiy, Sunan Baehaqiy al-Kubra, Maktabah Syumila NU, juz 5, hlm. 263. Hadits ini diriwyatkan oleh Syarik bin Abdullah al-Qadli, dalam periwayatannya beliau melakukan kesalahan di dua tempat, (1) keliru menyebutkan nama Jami’ bin ‘Umair, seharusnya adalah Sa’id b ‘Umair, (2) berkaitan dengan kemuthasilan sanad, bahwasanya yang meriwayatkan hadits tersebut dari Wa-il adalah perawi lain secara mursal. Dalam penjelasan kitab Al-Musnad, hadits ini dikategorikan sebagai Hasan Li-ghairihi, sedangkan Abu Hatim menilai beliau sebagai orang yang tsiqah, Imam Al-Bukhariy masih mempertimbangkanya (lihat Jami’ul Ahadits; Makatabah Syumila NU, juz V, hlm. 239.).

Sesungguhnya, pekerjaan yang paling baik adalah pekerjaan yang berasal dari hasil kerja keras tangan si pekerja di saat ia (mampu) menasehati (dirinya dari hasil pekerjaanya tersebut)”.

Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.”

Sedangkan hadits di bawah ini lebih menitik beratkan pada keutamaan dan peluang ekonomi sektor perdagangan, dibandingkan sektor usaha selainnya:

Sembilan dari sepuluh (pintu) rizqi itu terdapat dalam sektor perdagangan, sedangkan sisanya tersebar di beberapa sektor (selain sektor perdagangan).

Berlawanan dengan hadits mengenai jenis profesi terbaik, hadits berikut ini membicarakan tentang jenis-jenis pekerjaan yang dikategorikan sebagai pekerjaan terburuk:

8 Imam Ahmad b Hanbal, al-Musnad, Maktabah Syumila NU, bab musnad Abu Hurairah, juz II, hlm. 357. 9 Imam as-Suyuthi, Jami’ul Ahadits, Maktabah Syumila NU; Bab Hamzah ma’a Tho‘, juz V, hlm. 15.

10 Imam as-Suyuthi, Jam’ul Jawami’ aw al jami’ al-kabiir as-Suyuthiy , Maktabah Syumila NU, Juz I, Bab hurufta‘ al-mutsannah, hlm. 10929.

“Seburuk-buruknya pekerjaan itu ada tiga macam, (1) maharnya pelacur, (2) harga anjing, dan (3) pekerjaan tukang bekam.”

3. Kajian Linguistik

Kata merujuk kepada kondisi ideal (kata terjemah standarnya adalah baik), misal saat menyebut air yang tawar dan menyegarkan digunakan istilah (kadangkala kalimat ini diguakan untuk menyebut air yang suci), untuk menyebut makanan yang enak dan lezat digunakan istilah , untuk meyebut orang yang pandai bergaul digunakan istilah begitupun untuk menggambarkan sebuah negeri yang damai, subur makmur maka digunakan istilah .12 Dalam konteks pekerjaan, profesi ataupun mata pen-

caharian, kata bisa dimaknai dengan pekerjaan yang paling halal dan paling berkah.13 Dan perlu dicatat di sini adalah penggunaan kata dengan sighat tafdhil yang berarti yang paling .... atau yang ter..., di mana hal itu menunjuk pada sebuah kondisi ideal suatu profesi bagi umat Muhammad SAW.

Kata berarti mencari rizki,14 mata pencaharian,15 memperoleh harta / laba, mencari nafkah16 bisa juga diartikan sebagai segala bentuk aktivitas ekonomi.

Kata berarti pekerjaan/profesi yang menitik beratkan pada penggunaan anggota badan (terutama tangan) untuk menghasilkan sebuah “produk” yang akan dijual. Para ulama memasukkan beberapa pekerjaan yang bisa include dalam cakupannya, yaitu bisa bertani, bisa berdagang, bisa juru tulis, bisa seorang tukang (kayu/batu) dan setiap jual beli yang mabrur.17Khusus mengenai pertanian, Imam Nawawi berargumentasi bahwasanya pertanian paling mendekati level tawakkal di antara profesi yang lain. Imam Nawawi menambahkan bahwasanya sektor pertanian juga memiliki manfaat yang luas baik bagi manusia, mamalia, burung, dan sebagainya, karena itulah bertani merupakan profesi yang paling ideal.18

Sedangkan yang dimaksud dengan perdagangan yang (yang diberkahi) adalah per- dagangan yang terhindar dari penipuan, kebohongan, serta berbagai bentuk kecurangan, baik terkait dengan harga, timbangan maupun aspek lainnya.19 Secara praktis, ia adalah

seorang penjual yang memiliki kesalehan pribadi sebagai seorang muslim serta kesalehan sosial sebagai seorang pedagang, sebagaimana dalam hadits berikut:

12 Imam Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, Maktabah Syumila NU, bab ,juz I, hlm. 563

13 Ali Al-Qariy , Muraqatul Mafatih Syarkh Misykatul Misbah, Maktabah Syumila NU,Babul Kasbi, juz IX. Hlm. 271. 14 Al-Azhariy, Tahdzibul Lughah, Maktabah Syumila NU ; bab tentang , Juz 3, hlm. 332.

15 Waliyuddin Abi Abdillah Muhammad b Abdulah al-Khatib al-Umariy at-Tabrizy, Misykatul Masabih ‘Alaa Syarkhihi Mura’atul Mafaatih, Maktabah Syumila NU, pasal I , juz 1, hlm. 360.

16 KH Warson Munawir., Kamus Al-Munawwir, Yogyakarta, Yogyakarta, tnp., hlm. 1206.

17 Ali Al-Qariy, Muraqatul Mafatih Syarkh Misykatul Misbah, Maktabah Syumila NU,Babul Kasbi, juz IX. Hlm. 271. 18 Ibid.

19 Muhammad b Ismail al Amir al-Kahlaniy as-Shan’aniy, Subulussalam, Maktabah Syumila NU, juz III, hlm. 4.

Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.”

4. Kajian Konfirmatif

Dalam al-Qur‘an, di antara ayat yang mengangkat tema mengenai profesi / pekerjaan yang halal dan baik dalam rangka mencari rizki adalah sebagai berikut:

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15)

Dalam ayat ini, al-Baghawi tidak memberikan kriteria khusus berkenaan dengan tawaran Allah kepada manusia untuk bisa memanfaatkan segala karunia Allah yang dianugerahkan kepada manusia sebagai rizki yang harus disyukuri.21

“Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik, dari sebagian yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian nafkahkan sebagian daripadanya, padahal kalian sendiri tidak maumengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Ayat ini lebih menyoroti pengelolaan harta di mana sebagai muslim memiliki kewajiban untuk selalu menafkahkan rizki hasil jerih payahnya. Ayat ini menggaris bawahi bahwasanya ikhtiyar dalam mencari rizki harus dai sumber yang baik, sebab ketika hendak diinfakkan, Allah hanya akan menerima sedekah/infak yang berasal dari harta yang halal.22

20 Imam As-Suyuthi, Jami’ul Ahadits, Maktabah Syumila NU; Bab Hamzah ma’a Tho‘, juz V, hlm. 15. 21 Imam Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, Maktabah Syumila NU, surat al-Mulk: 15, hlm. 563.

Dan katakanlah kamu:”Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Menethaui akan yang ghaib dan nyata, lalu diberikannya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Apabila telah kamu tunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10) B. ANALISA KONTEKS

1. Analisa Realitas Historis

Islam lahir dari rahim agrarianat,23 sebuah istilah yang digunakan oleh Marshal G S Hodgson untuk menggambarkan sebuah format komunitas yang sangat bergantung pada sumber pertanian sebagai basis dasar pemenuhan kebutuhan hidup. Ketergantungan ini sangat berpengaruh terhadap dinamika masyarakat baik dalam bentuk aspirasi politik maupun dalam aktifitas perekonomian masyarakat. Hal ini berbeda pada masyarakat yang berbasis industri (atau masa teknik) di mana pertanian hanya menjadi semacam “industri” di antara sektor usaha lainnya, ketimbang sebagai sumber utama kekayaan.24 Dalam paparanya itu, ia membagi model masyarakat dalam dua periode, yaitu periode agraris (10.000 SM-1.800 M), dan periode teknik-industri (1800-sekarang).25 Dengan pembagian seperti ini, aktivitas-aktivitas perdagangan yang dilakukan pada rentang waktu masa tersebut merupakan sub saja dari masyarakat agraris, sedang para pelakunya tetap dikategorikan sebagai bagian integral dari budaya masyarakat yang berbasis agraris, tak terkecuali bangsa Arab di mana risalah nubuwwah

diturunkan. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan ketika sebagian besar ulama klasik, di antaranya adalah Imam Nawawi, melakuan kategorisasi terhadap pertanian sebagai jenis profesi yang bersifat karena dari tangan para petani ini dihasilkan berbagai sumber makanan, sebuah proses penciptaan produk, dari tak ada menjadi ada, untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat lewat aktivitas perdagangan.

2. Analisa Generalisasi (Menemuka Ide Dasar)

Dalam kajian terhadap hadits-hadits yang bertemakan profesi ideal dalam sub bab sebelum- nya, ditemukan dua jenis profesi yaitu (1) pekerjaan yang bertumpu pada ketrampilan (tangan) dan (2) berdagang/berniaga yang mabrur. Dari dua kategori profesi yang tersurat dalam redaksi hadits, mayoritas ulama sepakat bahwa pekerjaan/profesi yang paling ideal menurut Rasulullah SAW adalah jenis profesi yang pertama dengan beberapa alasan sebagaimana yang telah dibahas pada sub bab kajian linguistik tentang pemaknaan kata di mana pertanian masuk di dalamnya dengan dua pertimbangan, yaitu (1) membutuhkan sikap tawakkal, (2) mempertimbangkan kemanfaatanya terhadap umat manusia.

Problem yang muncul kemudian adalah melakukan reaktualisasi pemaknaan kontemporer terhadap profesi tersebut seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, sehingga batasan 23 Biasanya masyrakat agraris dipahami sebagai kebiasaan sekelompok individu yang menetap disuatu daerah dan menggantungkan kehidupannya pada bercocok tanam atau bertani baik di sawah atau di kebun. Sektor lain semisal berternak masuk dalam kategori agraris.

24 Marshal G S Hodgson, The Venture of Islam, terj, Dr. Mulyadi Kartanegara, Jakarta; Paramadina, 1999, hlm. 151.

profesi ideal sebagaimana disebutkan dalam redaksi hadits tersebut bisa kita persepsikan sesuai dengan konteks kontemporer. Jika merujuk pada pendapat Imam Mawardi, salah seorang sarjana klasik Islam, beliau menuturkan bahwasanya urutan-proses evolusi ragam pekerjaan / profesi adalah bertani kemudian berdagang dan akhirnya berproduksi,26 kemudian dipadukan dengan dua pertimbangan kenapa pertanian bisa masuk dalam kategori maka

bisa dipahami sebagai pekerjaan yang bertumpu pada kreativitas mencipta sebuah produk (sektor produksi) apapun bentuknya, di mana dalam rantai bisnis, maka produksi berada di posisi paling hulu, kenapa? Sebab jika tak ada produksi maka tak aka ada bahan-bahan / produk yang akan dijual, persisi seperti sektor pertanian, di mana jika tak ada yang bertani maka tak akan ada yang bisa makan, tak ada yang bisa jual beli makan begitu seterusnya. Selain itu produksi memiliki resiko lebih tinggi, dituntuk untuk memiliki kemam- puan berkreasi yang tinggi, menyedot banyak tenaga kerja, mampu menciptakan trend baik di pasar, mampu mengontrol pasar, dibandingkan dengan jual beli (hampir sama dengan karakter sektor pertanian).

C. PENDEKATAN MASYARAKAT AGRARIS-INDUSTRI ALA HODGSON (SEBUAH