• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN PRAKTEK GOTONG ROYONG DALAM EKONOM

Dalam dokumen STRATEGI INTELEKTUALISASI DAN PROGESIFITAS M (Halaman 109-116)

Oleh:

Deny Syafrudin Dwi Darwanto Pascasarjana Universitas Negeri Malang

tersebut. Disamping itu pula, manusia merupakan makhluk yang tak pernah terpuaskan ke- inginannya (atau dengan kata lain kebutuhannya akan terus bertambah dari waktu-kewaktu tanpa ada batasnya). Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kelangkaan sumberdaya alam serta barang dan jasa.

Maka dari itu pendidikan berperan penting dalam mencetak generasi yang bijaksana dan berlandaskan gotong royong dalam berekonomi, hal ini sesuai dengan apa yang telah disam- paikan para founding father kita dalam konstitusi Indonesia, UUD 1945, tepatnya pada pasal 33 ayat 1. Pasal 33 yang berbunyi : “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan”. Hal inilah yang kiranya dijadikan landasan dalam kehidupan berekonomi pada masyarakat Indonesia. Jika pasal 33 ayat 1 dapat dijalankan dengan baik dan benar, maka bukanlah sebuah hal yang mustahil kemakmuran dan kesejahteraan tercipta merata di Indonesia. Hatta (2015:9) dalam sebuah tulisannya menyatakan:

“Sekarang ini faktanya kebutuhan setiap orang secara umum, dan terutama orang Barat yang karakternya sangat kuat berciri “selfish”, menunjukkan suatu konflik yang aneh (curious conflict), yang bermuara pada tindakan terorganisasi; jumlah kebutuhan yang tidak terbatas dihadapkan dengan jumlah sarana pemuas kebutuhan yang tidak mencukupi. Dalam pada itu pandangan hidup masyarakat di Timur pada umumnya, dirumuskan oleh seorang ekonom Inggris, Marshall, dengan tepat sekali, “a placid serenity is the highest ideal of life”, suatu ketentraman yang mengalir tenang adalah cita-cita hidup tertinggi.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwasannya pandangan tentang kelangkaan yang dianut oleh orang barat tidak sesuai dengan prinsip hidup masyarakat Timur, terutama bangsa Indonesia. Dimana pencapaian tertinggi dalam kehidupan adalah menggapai sebuah ketenangan dan ketentraman batin, dimana harta benda dan kekayaan bukan menjadi tujuan utama dalam kehidupan duniawi.

Maka dari itu pendidikan berperan penting dalam mencetak generasi yang bijaksana dan berlandaskan gotong royong dalam berekonomi, hal ini sesuai dengan apa yang telah disam- paikan para founding father kita dalam konstitusi Indonesia, UUD 1945, tepatnya pada pasal 33 ayat 1. Pasal 33 yang berbunyi : “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan”. Hal inilah yang kiranya dijadikan landasan dalam kehidupan berekonomi pada masyarakat Indonesia. Jika pasal 33 ayat 1 dapat dijalankan dengan baik dan benar, maka bukanlah sebuah hal yang mustahil kemakmuran dan kesejahteraan tercipta merata di Indonesia.

Salah satu cara untuk merubah pemikiran barat mengenai konsep kelangkaan yang tidak sesuai dengan pola hidup bangsa indonesia, maka perlu adanya perubahan dalam materi yang diajar- kan kepada siswa di sekolah. Karena jika tidak ada perubahan terhadap konsep kelangkaan, maka pemahaman ini akan mengarahkan pada sebuah pemikiran yang membenarkan tentang tindakan serakah seseorang dalam mencapai kesejahteraan ekonomi yang diinginkannya. Hal ini bukanlah merupakan sebuah pemikiran saja, akan tetapi dalam prakteknya telah terjadi penguasaan sumberdaya ekonomi dan manusia selama berabad-abad oleh bangsa eropa terhadap bangsa asia dan afrika, salah satunya adalah dikarenakan oleh prinsip kelangkaan yang diajarkan. Oleh karena itu pembelajaran konsep, prinsip, dan praktek gotong royong untuk kedepannya perlu dibentuk melalui doktrin-doktrin yang dapat dimasukkan dalam pembelajaran ekonomi disekolah. Khususnya tentang kehidupan berekonomi yang sejalan dengan tujuan hidup ekonomi Pancasila atau yang lebih dikenal dengan Ekonomi Kerakyatan, dimana didalamnya dilandasi oleh prinsip pemikiran ekonomi yang dituangkan dalam Pasal 33 ayat 1.

Pada kenyataannya yang sering terjadi di lapangan dalam praktik pengajaran yang selama ini terjadi adalah guru selalu menjadi pusat dalam kegiatan pembelajaran (teacher centered) yang selalu mentransfer pengetahuan kepada siswa. Sementara siswa hanya berlaku pasif dan reseptif, dimana siswa hanya menerima apa yang diajarkan oleh guru tanpa ada timbal balik, pembe- lajaran seperti ini akan mematikan semangat demokratisasi dan kreativitas siswa. Tentunya fungsi dari studi ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai gotong royong dengan berlandaskan kepada Pancasila dan UUD 1945, tepatnya pada pasal 33 ayat 1tersebut, tidak akan tercapai.

KAJIAN LITERATUR Pasal 33 ayat 1 UUD 1945

Pasal 33 ayat tidak menerangkan secara eksplisit dasar perekonomian indonesia, namun ayat 1 mengamanatkan bahwa: “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Ayat tersebut mempunyai makna yang masih perlu untuk dijabarkan. Swasono (2012:154) memaknai “perekonomian” sebagai keseluruhan kegiatan ekonomi: formal, informal, ekonomi kerakyatan, BUMN, swasta dan koperasi. Pengertian perekonomian tidak hanya ter- batas pada itu perekonomian bisa juga di sebut sebagai segala sesuatu yang baik langsung maupun tidak langsung yang menyangkut kepentingan ekonomi ornag per orang maupun kelompok sebagai satu masyrakat luas dan itu harus disusun sebagai usaha bersama.

Disusun artinya adalah bahwa perekonomian tidak dibiarkan tersusun sendiri melalui mekanisme pasar, secara imperatif tidak boleh dibiarkan tersusun sendiri mengikuti kehendak dan selera pasar.

Usaha bersama adalah wujud paham mutualisme, suatu kehendak untuk senantiasa meng- utamakan semangat bekerjasama dalam kegotong royongan dalam kejemaahan dengan mengutamakan keserikatan tidak sendiri-sendiri. Sedangkan asas kekeluargaan adalah brother- hood atau ke ukhuwah an sebagai pernyataan adanya taggung jawab bersama untuk menjamin kepentingan bersama, kemajuan bersama dan kemakmuran bersama, layaknya maknabrotherhood

yang menggutamakan kerukunan dan solidaritas. Dalam negara yang pluralistik ini brother- hood adalah suatu ke ukhuwah an yang wathoniyah.

Pembelajaran Ekonomi

Istilah ekonomi berasal dari Bahasa yunani yaitu Oikonomia yang terdiri dari dua suku kata yaitu oikos dan nomos. Oikos bearti rumah tangga, sedangkan nomos bearti aturan, sehingga oikomonia mengandung arti aturan rumah tangga. Oikonomia merupakan arti aturan rumah tangga. Oikonomia mempunyai arti aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga. Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan muncullah ilmu yang disebut ilmu ekonomi. Menurut Paul A. Samuelson mengemukakan bahwa ilmu ekonomi sebagai: “Sebuah studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa alternative penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditas dan penyalurannya, baik saat ini maupun di masa depan kepada berbagai individu dan kelompok dalam suatu masyarakat”. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mata pelajaran ekonomi adalah bagian dari mata pelajaran di sekolah yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya yang tak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas jumlahnya. Mata pelajaran ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memenuhi sejumlah konsep ekonomi yang berkaitan dengan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di lingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara.

2) Menampilkan sikap ingin tahu dan terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi.

3) Membentuk sikap bijak, rasional, dan bertanggung jawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi.

4) Membuat keputusan yang bertanggung jawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional (Permen 22 tahun 2006 - Standar Isi/Standar Kompetensi Dasar)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran ekonomi bukan hanya bersifat hafalan, sehingga siswa harus diajarkan untuk berekonomi dengan mengedepan- kan kebersamaan dalam kegiatan ekonomi dengan mengutamakan kegiatan gotong royong dalam pelaksanaannya sesuai dengan konsep ekonomi kerakyatan yang diajarkan dalam ideologi pancasila yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1, dan dapat bertindak bijak, rasional,

dan bertanggung jawab dalam kehidupannya. Dimana pembelajaran ekonomi perlu melibatkan tidak hanya peran serta guru namun juga terutama melibatkan siswa di dalamnya pelaksanaannya. Kelangkaan (scarcity)

Konsep Kelangkaan

Dalam Buku History of Economic Thought, yang ditulis oleh Harry Landreth (2011:1-2), mengungkapkan tentang mesalah kelangkaan dalam paparan berikut:

Economics is a social science. It examines the problems that societies face because individuals desire to consume more goods and services than are available, creating a condition of relative scarcity. Perceived wants are generally unlimited and apparently insatiable, whereas resources (which are often subdivided into land, labor, capital, and entrepreneurship) are limited.

Regardless of what mechanism society uses to allocate resources, the harsh reality of scar- city requires that some wants remain unmet; thus, issues of equity, justice, and fairness are embedded in the problem of scarcity. Resource allocation mechanisms determine who gets, and who does not get, resources.”

Yang dapat dimaknai kurang lebih sebagai berikut: “Ekonomi adalah ilmu sosial. Mengkaji masalah-masalah yang dihadapi masyarakat karena individu ingin mengkonsumsi lebih banyak barang dan jasa daripada yang tersedia, menciptakan kondisi kelangkaan relatif. keinginan yang dirasakan umumnya tidak terbatas dan tampaknya tak pernah terpuaskan, sedangkan sumber daya (yang sering dibagi lagi menjadi tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan) terbatas”. “Terlepas dari apa yang mekanisme masyarakat gunakan untuk mengalokasikan sumber daya, kenyataan pahit tentang kelangkaan mengharuskan beberapa keinginan tetap terpenuhi; dengan demikian, persoalan tentang kesetaraan, keadilan, dan keadilan tertanam dalam masalah kelangkaan. Mekanisme alokasi sumber daya alam menentukan siapa yang mendapatkan, dan siapa yang tidak mendapatkan, sumber daya”.

Gotong Royong

Gotong royong berasal dari kata dalam Bahasa Jawa. Kata gotong dapat dipadankan dengan kata pikul atau angkat. Kata royong dapat dipadankan dengan bersama-sama. Jadi kata gotong royong secara sederhana berarti mengangkat sesuatu secara bersama-sama atau juga diartikan sebagai mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. (Rochmadi, 2012), Misalnya: membangun jembatan yang dilakukan secara bersama-sama, membersihkan taman yang dilakukan oleh warga se RT, bahu-membahu membantu korban bencana alam, dan lain sebagainya.

Gotong royong memiliki pengertian sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai tambah atau positif kepada setiap obyek, permasalahan atau kebutuhan orang banyak di sekelilingnya. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan.”Dalam desa Indonesia yang asli, semangat hidup berdasarkan cita-cita kolektivisme. Tanda-tanda kolektivisme itu terdapat pada sistem gotong royong, yaitu tolong menolong”, Hatta (2005).

Secara fungsional, gotong royong dapat didefinisikan sebagai: sebuah kegiatan yang ber- landaskan semangat kebersamaanuntuk mengikat semua energi yang ada dalam sebuah kegiatan agar menjadi lebih intensif, serta kesepahaman bersama untuk kemudian menuju kesepakatan tentang apa yang akan disepakati, yang meliputi: cara menempatkan posisi (meliputi pembagian tugas dan beban), dan cara mengangkat sesuatu (menerima dengan penuh tanggung jawab beban tugas masing-masing yang harus dilaksanakan), dimana di dalamnya terdapat pula kesepahaman tentang siapa yang memberi perintah, dalam bentuk seperti apa perintah tersebut, dan bagai- mana cara melaksanakan perintah tersebut, serta dalam pelaksanaannya harus disertai dengan kekompakan dan kebersamaan.

Kebersamaan tadi dilaksanakan guna mencapai tujuan tertentu yang sudah disepakati pada awal kegiatan tentang sesuatu hal yang akan digotong royongkan. Dalam perjalanannya untuk mencapai hasil akhir gotong royong yang diharapkan maka perlu adanya kesinambungan langkah

dan keselarasan gerak antar individu dalam sebuah kelompok, guna mengawal kegiatan tersebut sehingga tercapai tujuan ideal yang sesuai dengan keinginan di awal.

Gotong royong sebagai pendidikan karakter dalam pendidikan ekonomi

Dalam kegiatan pembelajaran ekonomi tentunya penting untuk diajarkan kepada peserta didik tentang makna dan kemanfaatan dari gotong royong. Dimana keberadaan karakter ekonomi gotong royong perlu untuk dipupuk dalam sanubari peserta didik. Dan sebagai pendidik tentu- nya perlu mengemukakan gotong royong yang bagaimanakah yang dikehendaki dalam pere- konomian Pancasila/Ekonomi kerakyatan, apakah konsep gotong royong yang semakna dengan tolong menolong, ataukah gotong royong yang sejalan dengan kegiatan kerja bakti/untuk kegiatan yang bersifat umum.

Cooperative Learning

Model pembelajaran kooperatif merupakan sebuah rangkaian kegiatan belajar yang dilaku- kan oleh peserta didik dalam kelompok-kelompok tertentu dengan anggota kelompok dua orang atau lebih dengan cara bekerja sama, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumus- kan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gillies dalam tulisannya, dimana dia mengungkapkan bahwa:

“Cooperative learning involves students working together in small groups to accomplish shared goals.” (Gillies, R., 2007).

Yang kurang lebih berarti sebagi berikut: “Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa yang bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama.” (Gillies, R., 2007) METODE PENELITIAN

Pengembangan pembelajaran konsep, prinsip, dan praktek gotong royong dalam ekonomi, menggunakan jenis penelitian pengembangan Design Based Research (DBR), yaitu seluruh penelitian pengembangan produk berdasarkan kebutuhan yang dibutuhkan.

Langkah-langkah utama di dalam penelitian desain pengembangan adalah sebagai berikut: (1)identifikasi masalah, (2) merumuskan produk pengembangan, (3) desain dan pengembangan produk, (4) uji coba produk, (5) evaluasi, (6) mengkomunikasikan hasil. Dalam riset desain dan pengembangan Design Based Researchyang berlandaskan konsep, prinsip, dan praktek gotong royong serta berpedoman pada ideologi Pancasila yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 disebut juga artefak produk pengembangan seperti yang diidentikasi oleh Hevner et.al dan Rechey & Klein (dalam Witjaksono, 2010:10). Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIMTs. Mu’allimin NU Malang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dengan produk pengembangan berupa skenario pembelajaram serta bahan ajaryang berlandaskan konsep, prinsip, dan praktek gotong royong serta berpedoman pada ideologi Pancasila yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang diterapkan pada kelas VII MTs. Mu’allimin NU Malang,hasil penelitian ini dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada siswa baik secara personal maupun kelompok. Secarapersonal maupun kelompok siswa mampu mengalami perubahan cara bersikap dalam pembelajaran. Perubahan diri siswa dapat dilihat dari bagaimana siswa menganalisis permasalahan yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran. Hasil dari kegiatan ini adalah: 1).Munculnya situasi pembelajaran yang berlandaskan konsep, prinsip, dan praktek gotong royong serta berpedoman pada ideologi Pancasila yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran ekonomi,2).Timbul- nya pembiasaan pada diri siswa tentang kepekaan terhadap permasalahan dan situasi yang ada di sekitarnya, serta solusi pemecahan-nya dengan mengutamakan gotong royong, dan 4). Munculnya budaya kebersamaan dan asas kekeluargaan dalam pembelajaran,siswa menjadi terbiasa belajar secara kooperatif dalam memecahkan setiap permasalahan.

KESIMPULAN

Bertolak dari temuan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:Penerapan konsep, prinsip, dan praktek gotong royongdalam pembelajaran ekonomi menjadi sesuatu yang urgent dan sangat relevan ditengah-tengah arus deras globalisasi dengan penguasaan sektor ekonomi oleh aliran mainstream (neoliberalisme dan kapitalisme) yang mendominasi dan merambah hingga kesektor pendidikan. Hal ini menjadikan pembelajaran pendidikan, terutama di bidang pendidikan ekonomi, materi yang diajarkan tidak jauh dari aliran ekonomi kapitalisme dan neoliberalisme yang mendominasi materi ajar ekonomi di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi. Sehingga yang terjadi peserta didik lebih paham kepada kompetitivisme dibandingkan kooperativisme. Pembelajaranyang berlandaskan konsep, prinsip, dan praktek gotong royong serta berpedoman pada ideologi Pancasila yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 mampu menjadikan pendidikan ekonomi kembali kepada ekonomi Pancasila sebagai ekonomi yang sesuai dengan karakter dasar bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Sa’dun. 2016. Optimalisasi Peran Sekolah dalam Pembangunan Karakter. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Optimalisasi Peran Keluarga dan Sekolah dalam Pembangunan Karakter Anak, FE UM, Malang, 1 September.

Akbar, S dan Sriwiyani, H. 2011. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Cipta Media.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, S. 2012. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, Sean M. Flynn. 2009. Economics: Principles, Problems, and Policies18th Ed, New York: The McGraw-Hill Companies.

CEE. 2010, Voluntary National Content Standards in Economics 2nd Edition, New York: Council For Economic Education.

Dewantoro, Ki Hajar. 1961. Bagian I: Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa.

Gillies, R. M. (2007). Cooperative learning: Integrating theory and practice. Los Angeles: Sage. Hamzah B.Uno. 2008. Teori Motivasi dan pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta:

Bumi Aksara.

Hatta, Moh. 2015. Mohammad Hatta Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Hatta, Mohammad. 2005. Masalah Politik Perekonomian bagi Indonesia: Dalam Hadi Soesastro & Aida Budiman (Eds.) Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir Buku 2 (1959-1966) Ekonomi Terpimpin (hlm: 81-87). Jakarta: Kanisius dalam kerjasama dengan ISEI.

Karl E. Case, Ray C. Fair, Sharon M. Oster. 2012. Principles of Macroeconomics10th Ed, Boston: Pearson Education.

Koentjaraningrat. 1983. Ciri-Ciri Kehidupan Masyarakat Pedesaan di Indonesia. Dalam Sajogyo dan Sajogyo, Pudjiwati. Sosiologi Pedesaan. Jilid 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Krugman, Paul. Wells, Robin. 2013. Economics Third Edition, New York: Worth Publishers. Landreth, Harry.Colander, David C. 2011. History of Economic ThoughtFourth Edition, Boston

Toronto: Houghton Mifflin Company.

Lickona, Thomas. 1992. Character and Value Education. New York: Bantam Book. Marshall, Alfred. 1890. Principles of Economics 8th ed,London: Macmillan and Co.

MPR RI, 2016. Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Jakarta: Sekretariat Jendral MPR RI Mustika, Yana. 2015.Bung Hatta Adalah Kita(http://portal.malutpost.co.id/ en/opini/ item/2181-

Mubyarto, dkk. 2014. Ekonomi Kerakyatan. Jakarta. Lembaga Suluh Nusantara.

Plomp, Tj. & Nieveen,N. 2010. An Introduction to Educational Design Research, SLO - Netherlands institute for curriculum development.

Pranadji, Tri. 2009. Penguatan Kelembagaan Gotong Royong dalam Perspektif Sosio Budaya Bangsa. Bogor. Jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi, IPB. Volume 27 No. 1, Juli 2009. (http:// pse.litbang.pertanian.go.id/ ind/pdffiles/FAE27-1f.pdf), diakses 28 september 2016.

Rochmadi, Nurhadi. 2012 Menjadikan Gotong Royong Sebagai Common Identity. (http:// library.um.ac.id/images/stories/artikel_dosen/menjadikan%20gotong%20royong% 20sebagai%20common%20identity%20-%20nurhadi.pdf), diakses 28 september 2016. Suryohadiprojo, Sayidiman. 2016. Budaya Gotong Royong dan Masa Depan Bangsa. Jakarta: Penerbit

Buku Kompas.

Wang F. Hanafin, M.J. 2011. Design Based Research and Technology Enhanced Learning Environments. Educational Technology Research & Development (ETR&D) Vol.53, No.4, pp.5-23.

Curriculum Vitae

Deny Syafrudin adalah pengajar tetap pada Madrasah Aliyah Mu’allimin NU Malang.

Menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan sedang menyelesaikan Magister Pendidikan Ekonomi pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Mengampu mata pelajaran Ekonomi, Geografi, serta Pendidikan Kewarganegaraan. Email:[email protected].

Abstrak

Pendekatan cognitive behavioral therapy mampu mengatasi berbagai permasalahan (seperti

low self-esteem, prokrastinasi, depresi, kecemasan, anoreksia dan sebagainya) yang dialami dari berbagai umur (anak, remaja, dan dewasa). Perihal tersebut telah dikaji secara teoritis

dan praktis. Menjadi pengkajian yang urgen di mana pendekatan cognitive behavioral therapy

dimodifikasi melalui pendekatan manualized. Sebuah pendekatan yang mengintegrasikan

unsur religious dan spiritual di dalam intervensi konseling. Terdapat berbagai keuntungan

dalam mengintegrasikan unsur religious dan spiritual ke dalam cognitive behavioral therapy

melalui pendekatan manualized. Sehingga, penanganan dan perkembangan konseli diharap-

kan lebih efektif dan efisien. Artikel ini mencoba menjelaskan integrasi religious dan spiri-

tual ke dalam cognitive behavioral therapy melalui pendekatan manualized tanpa mengabaikan

unsur budaya di dalam implementasinya.

Kata kunci:religious, spiritual, manualize approach, cognitive behavioral therapy

PENDAHULUAN

Pendekatan konseling yang mampu diterapkan untuk mengatasi berbagai permasalahan

anak, remaja, dewasa dan lansia adalah cognitive behavioral therapy. Cognitive behavioral therapy, yang

biasa dikenal dengan CBT, mampu mengatasi kecemasan, low self-esteem, low self-concept,

prokrastinasi, depresi, anoreksia dan sebagainya (Saputra, 2015; Indri, 2016; Wilding dan Aileen Milne, 2010; McManus, 2009; Pearce et al., 2015; Good, 2010; Naqiyah, 2015; Selvia, 2016; Erfantini, 2016). Melalui CBT, individu ditingkatkan kesadaran pemikiran disfungsionalnya sehingga dapat ditantang dan diubah menjadi lebih akurat, adaptif dan realistis (Beck, 1976, dalam Binder, 2000).

Pada dasarnya, pendekatan cognitive behaviour therapy adalah peleburan antara pendekatan

kognitif dan perilaku (Foreman & Pollard, 2011). Kata cognitive-behavior mencerminkan urgensi

kedua pendekatan kognitif dan perilaku untuk memahami dan membantu manusia. Menurut

Dalam dokumen STRATEGI INTELEKTUALISASI DAN PROGESIFITAS M (Halaman 109-116)