Hilyah Ashoumi, M.Pd.I
Universitas KH. Wahab Hasbullah, Jombang Email: [email protected]
satu guru agama di sekolah tersebut di penjara 6 bulan gara gara memukul siswanya. Aksi mogok mengajar dimaksudkan sebagai aksi protes agar oknum guru agama yang dipenjara/tahan di bebaskan.1
Bentuk radikalisme dalam pendidikan tidak semuanya berupa aksi kekerasan, tetapi juga dapat diwujukan dalam bentuk ucapan dan sikap yang berpotensi melahirkan kekerasan yang tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan. Sikap yang berpotensi melahirkan kekerasan tersebut berimplikasi kepada munculnya situasi dan kondisi sekolah yang tidak menyenangkan bagi siswa dalam belajar. Peran atau fungsi sekolah yang memiliki fitrah membimbing, meng- arahkan siswa, tempat bermain dan belajar anak anak sekarang sudah berubah atau bergeser menjadi lembaga yang menakutkan, mencemaskan, menegangkan, bahkan menyiksa lahir dan batin para siswa. Mengapa demikian? Karena orientasi pendidikan sudah berkurang yang awal- nya sebagai bagian dari proses penyadaran menjadi proses pemaksaan dalam mengetahui, mema- hami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Perubahan situasi dan lingkungan serta suasana pendidikan yang melahirkan perubahan orientasi tersebut bukanlah tanpa sebab. Justru perubahan atau pergeseran itu merupakan akibat dari perkembangan atau dinamika budaya yang menerpa masyarakat. Artinya masing masing elemen dalam pendidikan tidak mampu mengambil nilai nilai positif atau manfaat akibat per- kembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan. Mayoritas masyarakat justru meng- ambil makna negatif dari perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan.
Menanggapi hal tersebut menurut Malik Fadjar, kini, masyarakat melihat pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan terhadap perolehan pengetahuan dan ketrampilan dalam konteks waktu sekarang. Lebih dari itu, pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi, baik modal maupun manusia (human and capital investmen) untuk membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan produktif di masa depan yang diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya.2
Ahmad Watik Pratiknya, lebih jelas menggambarkan corak dan ciri-ciri masyarakat yang akan berkembang di masa sekarang dan masa yang akan datang. Pertama, terjadinya teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, kecenderungan perilaku masyarakat yang lebih fungsional, dimana hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata. Ketiga, masyarakat padat informasi. Dan Keempat, kehidupan yang makin sistemik dan terbuka, yakni masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open system). Sesuai dengan ciri masyarakat tersebut, maka pendidikan yang akan dipilih oleh masyarakat adalah pendidikan yang dapat memberikan kemampuan secara teknologis, fungsional, individual, informatif dan terbuka. Dan yang lebih penting lagi, kemampuan secara etik dan moral yang dapat dikembangkan melalui agama.3
Mengikuti paradigma organism yang menjadi salah satu paradigma berdirinya madrasah sebagaimana pemaparan Muhaimin, Paradigma ini mendudukkan nilai-nilai ilahi-agama (dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai fundamental/values) sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek-aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagai nilai-nilai insani yang mem- punyai relasi horizontal-lateral atau lateral sekwensial, tetapi harus berhubungan vertikal linear (dengan nilai ilahi/agama). Melalui paradigma ini, madrasah dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kematangan profesional, dan sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama.4
1 M. Saekan Muchith, Pendidikan Kontekstual (Semarang: Rasail, 2008.), 27. 2 Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia, 1999), 77. 3 Ibid.
4 Muhaimin, Potret Paradigma Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia, Jurnal, STAIN Malang,
1. Gambaran Umum Madrasah
Berawal dari rintisan Abdullah Ahmad dengan Madrasah Adabiyah-nya di Padang Panjang tahun 1909,5 sampai sekarang, madrasah telah menjalani polarisasi pengembangan seiring dengan tuntutan zamannya. Madrasah telah menjadi salah satu wujud entitas budaya bangsa Indonesia yang telah menjalani proses sosialisasi yang relatif intensif, dan dalam waktu yang cukup panjang itu telah memainkan peran tersendiri dalam panggung pembentukan peradaban bangsa.
Gambaran umum tentang madrasah tidak akan bisa lepas dari telaah pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Indonesia. Fase madrasah di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama, sejak mulai tumbuhnya pendidikan Islam pada awal masuknya Islam ke Indonesia sampai munculnya zaman pembaharuan di Indonesia. Fase Kedua, sejak masuknya ide-ide pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia, dan Fase Ketiga, sejak diundangkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 2 Tahun 1989 dan dilanjutkan dengan UU No. 20 Tahun 2003).6 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat skema sebagai berikut:
Gambar 5 : Skema Fase Madrasah di Indonesia.7
Fase Pertama adalah fase awal munculnya pendidikan informal yang di pentingkan pada tahap awal yaitu pengenalan nilai-nilai Islami, selanjutnya baru muncul lembaga-lembaga pendidikan Islam yang di awali dengan munculnya masjid-masjid dan pesantren-pesantren. Ciri yang paling menonjol pada fase ini adalah: a) materi pelajaran terkonsentrasi kepada pengem- bangan dan pendalaman ilmu-ilmu agama seperti tauhid, fiqh, tasawuf, akhlak, tafsir, hadits dan lain-lain yang sejenis itu pelajaran terkonsentrasi pada pembahasan kitab-kitab klasik yang berbahasa arab, b) metode sorogan, wetonan dan mudzakarah, dan c) sistem non klasikal yakni dengan sistem halaqah. Output-nya akan menjadi ulama’, kiyai, ustadz, guru agama, dan juga menduduki jabatan-jabatan penting keagamaan dari tingkat yang paling tinggi seperti mufti sampai tingkat pengurusan soal-soal yang berkenaan dengan fardhu kifayah ketika seorang meninggal dunia, di masyarakat Jawa dikenal peristilahan “modin”.
Fase Kedua adalah ketika masuknya ide-ide pembaharuan pemikiran Islam ke Indonesia. Sejak abad ke 19 M telah muncul ide-ide pembaharuan pemikiran Islam ke seluruh dunia Islam, dimulai dari gerakan pembaharuan di Mesir, Turki, Saudi Arabiyah dan juga Indonesia. Khusus untuk gerakan pembaharuan Islam ada beberapa nama tokoh yang terkenal diantaranya: Muhammad Ali Pasya, Muhammad Abduh di Mesir, Sultan Mahmud 2 di Turki, Said Akhmad Khan di India, Abdullah Ahmad di Indonesia. dan Inti dari gerakan pembaharuan itu adalah berupaya
5 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), 63. 6 Nur Ahid, Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia, (Kediri: STAIN Kediri Press, 2009), 56.
mengadopsi pemikiran pendidikan modern yang berkembang di dunia timur tengah dikem- bangkan di Indonesia, berupa madrasah.8
Pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia dalam bentuk madrasah, dilatar belakangi oleh dua faktor penting. a) faktor intern, yakni kondisi masyarakat muslim Indonesia yang terjajah dan terbelakang dalam dunia pendidikan mendorong semangat beberapa orang pemuka-pemuka masyarakat Indonesia untuk memulai gerakan pembaharuan pendidikan tersebut. b) faktor ekstern yakni sekembalinya pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu agama ke Timur Tengah, dan setelah mereka kembali ke Indonesia mereka memulai gerakan-gerakan pem- baharuan dalam bidang pendidikan.9
Gerakan pembaharuan yang pendidikan tersebut mengiringi kehadiran lembaga-lembaga pendidikan Barat dalam bentuk sekolah sekuler yang dikembangkan oleh penjajah di akhir abad 19. Sebagaimana pernyataan Steenbrink, Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan kemudian dibagi ke dalam dua kutub yang berbeda, yaitu; pendidikan kolonial dan pendidikan Islam Indonesia yang tradisional. Pendidikan kolonial ini sangat berbeda dengan pendidikan Islam Indonesia yang tradisional, bukan saja dari segi metode, tapi lebih khusus dari segi isi dan tujuannya. Pendidikan yang dikelola oleh pemerintah kolonial ini khususnya berpusat pada pengetahuan dan kete- rampilan duniawi yaitu pengetahuan umum. Sedangkan lembaga pendidikan Islam lebih ditekankan pada pengetahuan dan keterampilan berguna bagi penghayatan agama.10
Dari upaya dan usaha kolonial Belanda inilah, kemudian beredar pemahaman di kalangan masyarakat tentang adanya dualisme pendidikan, yaitu lembaga pendidikan yang disebut sekolah umum dan lembaga pendidikan yang disebut madrasah atau perguruan agama, ter- masuk di dalam kelompok perguruan agama adalah pondok pesantren.11
Usaha memadukan kedua sistem warisan budaya bangsa yang bersifat dualistis tersebut menjadi satu sistem pendidikan yang bersifat nasional terus disosialisasikan dengan jalan: men- sosialisasikan sekolah-sekolah modern warisan Belanda dengan berusaha memasukkan materi agama, demikian juga berusaha memberikan bantuan dan tuntunan kepada pesantren dan madrasah agar meningkatkan mutu pendidikannya dan peranannya sebagai alat dan sumber pendidikan kecerdasan bangsa. Oleh sebab itu madrasah harus diselenggarakan secara modern setaraf dengan sekolah-sekolah umum.
Upaya untuk menyatukan kedua sistem pendidikan dan menghilangkan dualisme sistem pendidikan tersebut, bukanlah merupakan hal yang mudah, usaha integrasi tersebut memer- lukan waktu yang cukup panjang serta hambatan dan tantangan terutama dari kelompok sekuler dan anti agama serta umat Islam sendiri yang cenderung bersikap tradisional. Namun setelah di- sadari akan pentingnya kedudukan dan fungsi agama sebagai pembangunan dan pembinaan kepribadian bangsa, maka diaturlah penyelengggaraan satu sistem pendidikan dan pengajaran nasional.
Fase Ketiga, adalah fase masuknya madrasah dalam sistem pendidikan nasional, dimana madrasah menjadi bagian pendidikan pendidikan nasional, sehingga pemerintah ikut memperhatikan tumbuh kembangnya madrasah di Indonesia. Sehingga keberadaan madrasah semakin jelas dan mendapatkan statusnya sampai sekarang ini, diawali dengan momentum diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, yaitu; Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebu- dayaan, dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 24 maret 1975 yang menegaskan bahwa kedudukan madrasah adalah sama dan sejajar dengan sekolah formal lain. Dengan demikian siswa lulusan madrasah dapat memasuki jenjang sekolah umum lain yang lebih tinggi, atau bisa pindah ke sekolah umum dan begitu juga sebaliknya.12
8 Ibid, 58.
9 Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos, 1999), 82.
10 Karel A Steenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah: Pendidikan Islam dalam kurun waktu Modern, (Jakarta:
LP3ES, 1984), 24.
11 Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 1-2.
Menurut SKB tahun 1975, madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30% di samping mata pelajaran umum. Selain itu, dari segi jenisnya, madrasah dibagi menjadi tiga, yaitu; Madrasah Diniyah, Madrasah SKB 3 Menteri, dan Madrasah Pesantren.13
Madrasah Diniyah adalah suatu bentuk madrasah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama (diniyah). Madrasah ini terbagi kepada tiga jenjang pendidikan: Madrasah Diniyah Awaliyah untuk siswa-siswi Sekolah Dasar 4 tahun, Madrasah Diniyah Wustho untuk siswa-siswi Sekolah Lanjutan Pertama 3 tahun, dan Madrasah Diniyah ‘Ulya untuk siswa-siswi Sekolah Lanjutan Atas 3 tahun.
Madrasah SKB 3 Menteri adalah madrasah yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah setara dan sama dengan sekolah umum dalam bidang pelajaran. Untuk itu, ijazah dan lulusan madrasah mempunyai nilai dan kedudukan yang sama dengan sekolah umum, serta siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat. Hal itu karena materi umum di Madrasah Ibtidaiyah sama dengan materi umum di Sekolah Dasar, materi umum di Madrasah Tsanawiyah sama dengan materi umum di Sekolah Menengah Pertama, dan Materi umum di Madrasah Aliyah sama dengan di Sekolah Menengah Atas.
Sedangkan Madrasah Pesantren, madrasah ini adalah madrasah yang memakai sistem pondok pesantren, di mana siswa tinggal bersama kyai di pondok, hidup dalam suasana belajar selama 24 jam sehari semalam. Unsur-unsur pesantren seperti kyai, santri, pondok, masjid dan pengajaran ilmu-ilmu agama diutamakan. Bila ditinjau dari segi kurikulumnya, madrasah pesantren ini dapat dibagi menjadi dua macam: Pertama, seluruh kurikulumnya diprogramkan dan diatur oleh pondok pesantren sendiri, seperti di Pondok Modern Gontor. Kedua, mata pelajaran umum sesuai dengan kurikulum madrasah SKB 3 Menteri, sedangkan mata pelajaran agama diprogramkan dan diatur oleh pondok, dengan tetap memperhatikan kurikulum madrasah SKB 3 Menteri. Karena itu mereka diikutkan Ujian Negara, seperti pondok pesantren Tebuireng.14 Selanjutnya, berakaitan dengan Madrasah Aliyah dalam Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0489/U/1992 tentang sekolah menengah umum pada pasal 1 ayat (6) ditegaskan bahwa madrasah Aliyah adalah sekolah menengah umum berciri khas agama Islam yang diselenggarakan oleh Departemen Agama (sekarang Kementrian Agama).15 Sementara itu, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan, kemudian pen- didikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Mengengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.16
Demikianlah gambaran tentang madrasah dan perkembangannya sampai dewasa ini, deskripsi diatas dimaksudkan untuk mengetahui geneologi madrasah dan dinamikanya untuk dijadikan sebagai landasan dan kerangka berfikir dalam penelitian ini, bahwa keberadaan madrasah sekarang ini adalah merupakan hasil dari sebuah perjalanan dan perjuangan yang amat panjang dan cukup melelahkan. Oleh sebab itu menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk menjaga dan selalu melakukan upaya-upaya pengembangan terhadap institusi pendidikan Islam yang bernama madrasah ini.
Inovasi dan pengembangan terhadap lembaga madrasah ini penting, mengingat jumlah madrasah yang sangat signifikan, yaitu sebanyak 72.650 buah, sementara lembaga pendidikan madrasah sebagai sub sistem pendidikan nasional mempunyai peran yang sama dengan lembaga pendidikan lain, yakni berusaha meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Sebab itu perlu diupayakan reposisi pendidikan madrasah agar sesuai dengan paradigma baru tuntutan dan harapan masyarakat dan pembangunan bangsa.17
13 Ibid, 95. 14 Ibid, 95-99.
15 Nur Ahid, Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia, 61.
2. Gambaran Umum tentang Radikalisasi
Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya. Bilamana perlu meng- gunakan cara-cara kekerasan. Radikalisme menginginkan adanya perubahan secara total terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat. Kaum radikal menganggap bahwa rencana- rencana yang digunakan adalah rencana yang paling ideal. Tentu saja melakukan perubahan (pem- baruan) merupakan hal yang wajar dilakukan bahkan harus dilakukan demi menuju masa depan yang lebih baik. Namun, perubahan yang sifatnya revolusioner seringkali “memakan korban” lebih banyak sementara keberhasilannya tidak sebanding. Oleh sebab itu, sebagian ilmuwan sosial menyarankan perubahan dilakukan secara perlahan-lahan tetapi kontinyu dan sistematik, ketimbang revolusioner tetapi tergesa-gesa.18
Dari perspektif bahasa, sebenarnya radikal jauh berbeda dengan teroris. Sebab, radikal adalah proses secara sungguh-sungguh untuk melatih keberhasilan atau cita-cita yang dilakukan dengan cara-cara yang positif. Sementara itu, terorisme berasal dari kata teror yang bermakna menakut- nakuti pihak lain. Oleh sebab itu, teror selalu dilakukan dengan cara-cara negatif dan menakutkan pihak lain. Seiring dengan dinamika dan pola gerakan kelompok-kelompok di masyarakat, akhirnya antara radikal dan terror menjadi satu makna, yaitu radikal merupakan embrio dari gerakan teror. Jika memiliki pola pikir radikal, maka berpeluang besar untuk melahirkan aksi teror. Banyak peristiwa di Indonesia dimana terorisme dan radikal menjadi satu sehingga masyarakat umum tidak usah repot-repot membedakan antara radikalisme dan terorisme.19
Setidaknya, radikalisme bisa dibedakan ke dalam dua level, yaitu level pemikiran dan level aksi atau tindakan. Pada level pemikiran, radikalisme masih berupa wacana, konsep dan gagasan yang masih diperbincangkan, yang intinya mendukung penggunaan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan. Adapun pada level aksi atau tindakan, radikalisme bisa berada pada ranah sosial-politik dan agama. Pada ranah politik, faham ini tampak tercermin dari adanya tindakan memaksakan pendapatnya dengan cara-cara yang inkonstitusional, bahkan bisa berupa tindakan mobilisasi masa untuk kepentingan politik tertentu dan berujung pada konflik sosial. Dalam bidang keagamaan, fenomena radikalisme agama tercermin dari tindakan-tindakan destruktif-anarkis atas nama agama dari sekelompok orang terhadap kelompok pemeluk agama lain (eksternal) atau kelompok seagama (internal) yang berbeda dan dianggap sesat. Termasuk dalam tindakan radikalisme agama adalah aktifitas untuk memaksakan pendapat, keinginan, dan cita-cita keagamaan dengan jalan kekerasan. Radikalisme agama bisa menjangkiti semua pemeluk agama, tidak terkecuali di kalangan pemeluk Islam.
Lebih detil, Rubaidi menguraikan lima ciri gerakan radikalisme. Pertama, menjadikan Islam sebagai ideologi final dalam mengatur kehidupan individual dan juga politik ketata negaraan. Kedua, nilai-nilai Islam yang dianut mengadopsi sumbernya di Timur Tengah secara apa adanya tanpa mempertimbangkan perkembangan sosial dan politik ketika Al-Quran dan hadits hadir di muka bumi ini, dengan realitas lokal kekinian. Ketiga, karena perhatian lebih terfokus pada teks Al-Qur’an dan hadist, maka purifikasi ini sangat berhati-hati untuk menerima segala budaya non asal Islam (budaya Timur Tengah) termasuk berhati-hati menerima tradisi lokal karena khawatir mencampuri Islam dengan bid’ah. Keempat, menolak ideologi Non-Timur Tengah termasuk ideologi Barat, seperti demokrasi, sekularisme dan liberalisme. Sekali lagi, segala per- aturan yang ditetapkan harus merujuk pada Al-Qur’an dan hadist. Kelima, gerakan kelompok ini sering berseberangan dengan masyarakat luas termasuk pemerintah. Oleh karena itu, ter- kadang terjadi gesekan ideologis bahkan fisik dengan kelompok lain, termasuk pemerintah.20
3. Peluang Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Alternatif Dalam Menghadapi Radikalisasi Pendidikan.
Nur Syam (2009) dalam buku Tantangan Multikulturalisme Indonesia memiliki analisis pan- dangan NU yang cukup menarik terkait tentang radikalisasi yang kini sedang marak terjadi di
18 Pior Stompka, Sosiologi Perubahan Sosial (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), 223.
masyarakat sebagai akibat dari masyarakat yang memaknai kebebasan yang kebablasan, Nur Syam menyatakan bahwa untuk melahirkan cara pandang yang tepat perlu belajar dari ideologi ahlussumah wal jamaah atau NU yang dicirikan dengan empat hal; Pertama, tawasuth (moderat). Doktrin ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk melaksanakan suatu aktivitas tetapi sebebas apapun manusia masih dibatasi oleh kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Artinya dapam meraih kesuksesan, manusia wajib ihtiyar secara optimal tetapi jangan lupa bahwa Allah swt juga ikut menentukan keberhasilan. Setelah berusaha manusia wajib berdoa dan pasrah kepada Allah swt. Kedua, tawazun ( keseimbangan). Doktrin ini mengajarkan bahwa manusia dalam memandang suatu realitas tidak boleh bersifat ektrem baik kekiri atupun ke kanan. Artinya manusia yang baik tidak terlalu berlebihan pada saat senang atau benci kepada sesuatu. Hal ini didasarkan asumsi bahwa sebaik baik menurut pandangan manusia belum tentu baik menurut Allah swt, sebaliknya sejelek jelek dalam pandangan manusia juga belum tentu jelek menurut Allah swt. Ketiga, i’tidal (keadilan). Doktrin ini mengajarkan bahwa diantara sesama manusia harus saling memebrikan kepercayaan dan kepercayaan yang dibangun harus memberikan persn secara proporsional. Dunia akan cepat hancur jika masing-masing elemen tidak memiliki kesadaran untuk melaksanakan peran masing masing secara proporsional. Keempat, tatharruf (universalisme). Doktrin ini mengajarkan setiap manusia agar lebih mengedepankan pemahaman Islam yang bersifat universal (global). Kebenaran Islam dilihat dari norma norma yang bersifat umum seperti keadilan, kemanusiaan, keselamatan dan kesejahteraan.21
Secara tehnis regulatif, untuk membendung gerakan radikalisme pendidikan dapat dilaku- kan dengan cara mengoptimalkan atau melaksanakan secara sungguh-sungguh amanah undang- undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen khususnya pasal tentang perlindungan. Sebagai salah satu profesi, guru dalam menjalankan tugasnya harus diberikan tiga jenis perlin- dungan seperti yang tercantum dalam pasal 39 ayat 1-5 sehingga guru dalam menjalankan tugasnya merasa nyaman dan aman. Jika pasal tersebut diberlakukan maka pihak-pihak lain tidak bisa serta merta melakukan penyelesaian melalui peradilan pidana umum. Apabila guru melakukan hal-hal yang dianggap kurang tepat dalam waktu menjalankan tugas profesi atau di dalam proses pembelajaran dan pendidikan maka harus diselesaikan melalui undang undang profesi yang ditegakkan oleh dewan kehormatan etika profesi.22
Sedangkan secara historis-sosioligis, paradigma organisme merupakan paradigma yang sesuai untuk mengeliminir lebih meningkatnya gerakan radikalisme dalam pendidikan, Paradigma ini bertolak dari pandangan bahwa pendidikan Islam adalah kesatuan atau sebagai sistem (yang terdiri atas komponen-komponen yang rumit) yang berusaha mengembangkan pandangan atau semangat hidup (weltanschaung) Islam, yang dimanifestasikan dalam sikap hidup dan ketram- pilan hidup yang Islami. Paradigma ini mendudukkan nilai-nilai ilahi-agama (dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai fundamental/values) sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek- aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagi nilai-nilai insani yang mempunyai relasi hori- zontal-lateral atau lateral sekwensial, tetapi harus berhubungan vertikal linear (dengan nilai ilahi/agama). Melalui upaya semacam itu, maka sistem pendidikan Islam diharapkan dapat meng- integrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kematangan profesional, dan sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama. Model paradigma organism dianggap sebagai paradigm yang ideal yang sekarang ini nampaknya mulai dirintis dan dikembangkan dalam sistem pendidikan Islam di madrasah.23
Aplikasi dari paradigma ini adalah dengan cara memperkuat pola jaringan kerjasama in- ternal madrasah dan jaringan eksternal antara madrasah dengan masyarakat dan orang tua siswa.