• Tidak ada hasil yang ditemukan

di Kota Malang Jawa Timur Oleh:

Afifuddin

Pendahuluan

Perspektif baru dalam administrasi negara telah membawa studi administrasi negara ke arah yang lebih humanis dibandingkan sebelumnya pada era New Public Management (NPM) ataupun di era Administrasi Publik klasik (Deindhart dan Deindhart, 2000). Tawaran berupa peran warga negara yang tidak dibeda-bedakan karena demokrasi dan prinsip kesamaan untuk mendapatkan pelayanan yang prima dari pemerintah, adalah bentuk baru dari pelayanan dan implementasi kebijakan publik.

Lingkungan pemerintahan Dinas Kesehatan Kota Malang adalah merupakan salah satu bentuk organisasi non profit, yaitu suatu organisasi yang produktivitas kerja pegawainya tidak diukur dari nilai finansial atau materi, tetapi sampai sejauh mana tugas-tugas yang ada dapat terselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam menghasilkan barang atau jasa yang memuaskan masyarakat (publik), dalam mendukung pencapaian tujuan pemerintah pada umumnya.

Suatu pekerjaan dikatakan produktif jika dapat dikerjakan dengan cara yang tepat oleh sumber daya manusia yang sedikit. Pekerjaan dikatakan tidak produktif apabila dikerjakan dengan cara yang keliru oleh lebih banyak sumber daya manusia. Demikian juga pekerjaan dikatakan produktif jika diselesaikan lebih cepat atau tepat waktu. Sebaliknya pekerjaan yang sama dikatakan tidak produktif, jika dikerjakan tidak tepat waktu. Oleh karena itu penambahan tenaga kerja sumber daya manusia dilihat dari segi produktivitasnya, hanya berguna jika mampu mempercepat penyelesaian pekerjaan, dengan hasil yang maksimal. (Hadari Nawawi, Hadari Martini, 1994)

Sehingga dapat dikatakan bahwa aparatur pemerintah yang produktif adalah aparat pemerintah yang mampu memanfaatkan waktu, dana, peralatan dan perlengkapan serta ketrampilan semaksimal mungkin sehingga diperoleh hasil yang sebesar-besarnya dari usaha yang dilakukan, baik dalam rangka penyelenggaraan pemerintah maupun dalam penyeleng- garaan berbagai kegiatan pembangunan nasional.

Dinas Kesehatan Kota Malang sebagai salah satu wilayah intansi pemerintah belum secara keseluruhan berjalan dengan maksimal, sehingga berdampak pada program pembangunan yang ada di wilayah Kota Malang. Kurang produktifnya Dinas Kesehatan Kota Malang lebih dititikberatkan pada sumberdaya aparatur pemerintah atau pejabat yang kurang maksimal dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan. Kondisi Dinas Kesehatan yang belum berjalan maksimal tersebut mengindikasikan bahwa konsep New Publik Service belum berjalan sebagai- mana mestinya.

Berdasarkan fenomena yang diperoleh dari survai pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota Malang Jawa Timur terdapat berbagai permasalahan yang cukup menonjol yang berhubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, dalam hal ini yang dimaksud adalah pegawai negeri sipil setempat, seperti: di Dinas Kesehatan, pelayanan kesehatan kurang maksimal, masih terdapat Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) bagi keluarga miskin belum tepat sasaran. Begitu juga ada perlakuan yang tidak sama antara pasien yang menggunakan JAMKESMAS dengan pasien yang biaya sendiri termasuk terdapat kelemahan dalam menentukan sasaran masyarakat miskin. Terdapat juga beberapa intervensi kelompok tertentu dalam penentuan warga masyarakat yang berhak mendapatkan JAMKESMAS.

Pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Malang belum sepenuhnya berjalan maksimal seperti dalam trasparansi penyelenggaraan tender subjektivitasnya masih tinggi, kemampuan menjalin kerjasama dengan rekanan lebih menitik beratkan pada faktor ekonomi dan politik, kurangnya daya inisiatif pegawai dalam menterjemahkan pembangunan daerah lebih bersifat pasif dan menyesuaikan dana yang sudah ada.

Kurang produktifnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dimungkinkan disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pemahaman terhadap konsep New Publik Service tidak di pahami secara kaffah / konprehensif, di samping pemerintah dalam pengambilan keputusan lebih berorientasi pada kepentingan politik.

Penelitian ini akan memusatkan pada konsep-konsep New Public Service untuk diterapkan dalam program-program pelayanan kepada masyarakat terutama pelayanan kesehatan yang merupakan program unggulan pada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berupa program BPPJS, JAMKESKIN.

Salah satu pimpinan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyebutkan pelayanan kesehatan di wilayah kota Malang Raya belum merata. Sejumlah rumah sakit rujukan pertama maupun klinik mayoritas berada di wilayah Kota Malang. Masih terbatas, jumlah antara penduduk dengan layanan kesehatan belum seimbang.

BPJS Kesehatan Cabang Kota Malang berharap klinik kesehatan harus membuka cabang di beberapa wilayah pinggiran kota supaya pasien tidak menumpuk pada satu titik, dengan suatu harapan pelayanan kesehatan terutama yang menggunakan BPJS akan lebih merata dan fasilitas kesehatan tingkat pertama selalu antri, jika pelayanannya merata hingga ke daerah, maka antrian fasilitas kesehatan tingkat pertama bisa berkurang.

Hak Peserta BPJS sesuai dengan aturan pemerintah adalah

1. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan; 2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan

kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan; dan

4. Menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor BPJS Kesehatan

Sedangkan Kewajiban Peserta BPJS adalah ;

1. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku ;

2. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian, kematian, kelahi- ran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I;

3. Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak;

4. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

Penerapan BPJS di Indonesia merupakan salah satu pelayanan publik sebagai negara yang berdemokrasi. Diberlakukan konsep new public service di Indonesia merupakan salah isi penting yang dapat kita banggakan bahwa dunia ke administrasi negaraan di Indonesia sudah selangkah lebih maju dari negara-negara lain karena demokrasi sebagai salah satu pilar dari politik di Indonesia sudah dapat diterima oleh berbagai kalangan, walaupun masih perlu perbaikkan dimana-mana.

Kerangka Dasar Perspektif New Public Service

Perspektif yang dikembangkan oleh Deinhardt tentang berbagai pendangan dalam ilmu administrasi negara dirasakan perlu dipahami dahulu sebelum masuk kedalam analisa pendalaman tentang konsepsi pelayanan masyarakat. Pada tabel 1 di bawah terdapat perbedaan antara berbagai perspektif yang dapat dibandingkan menurut rangkaian perspektif. Diawali dengan perpektif Old Public Administration (OPA) sekitar tahun 1940-an sampai dengan 1970an yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya ilmu adminitrasi publik yang masih dipenuhi suasana politik dan sosial praktis, kemudian dilanjutkan dengan kritik yang keras dari New Public Management yang lebih banyak memperhatikan kepada proses dari ilmu administrasi publik itu sendiri yaitu organisasi dan manajemen, konsepsi ini dilahirkan pertama kali melalui jurnal yang diterbitkan oleh Lynn tentang konsep manajemen sektor publik. Kemudian yang terakhir coba ditawarkan oleh Deinhardt yaitu konsep New Public Service yang lebih mengedepankan objek dari ilmu administrasi itu sendiri yaitu masyarakat. Berbagai perspektif ini sangat menambah perbendaharaan ilmu administrasi negara sebagai ilmu yang kontemporer. Sebagaimana tulisan

ilmu politik/analisis kebijakan, sosiologi/studi kebudayaan serta Manajemen dan organisasi. Perpektif-perspektif tersebut berkembang didasari kritik-kritik akademik yang dilancarkan oleh Deinhardt tentang terlalu fokusnya perhatian adminitrasi negara terhadap proses bukan terhadap output dari administrasi negara itu yaitu masyarakat (citizen).

Tabel 1

Sumber: Robert B. Denhardt and Janet Vinzant Denhardt, Public Administration Review, Vol. 60, No. 6 (Nov. - Dec., 2000), Hal 554.

Tahap pembangunan keilmuan dari ketiga perspektif tersebut mendapat perhatian lebih dari penulis karena selama ini program-program pelayanan publik selalu bermasalah karena penyaluran dana bantuan untuk kesehatan oleh pemerintah mengalami berbagai macam kendala yang sifatnya lebih teknis terutama berkaitan dengan kemampuan manajerial dan organisatoris yang kurang profesional dengan standarisasi yang sangat lemah, belum lagi dengan transparansi dan akuntabelnya bantuan tersebut.

Bagi penulis konsepsi yang ditawarkan oleh NPS sangat ideal agar semua fokus dari bentuk kebersamaan dan berbagi nilai-nilai yang sama serta memungkinkan pembangunan konsep kebersamaan antar warga, pemerintah dan lembaga non profit serta sektor swasta terwujud. Susunan dalam tulisan deinhardt inti dari pelaksanaan fungsi manajemen, Deinnhardt mengemuk- kan tulisan Gullick dan Urwick yang menciptakan fungsi POSDCORB (Planning Organising Directing Coordinating dan Budgeting) pada fungsi manajemen ini budgeting atau anggaran meru- pakan satu kesatuan dengan fungsi-fungsi lainnya dimana metoda yang dikembangkan menu- liskan bahwa pelayanan publik terutama pelayanan kesehatan dari pemerintah itu memerlukan kebijakan berbasis pada anggaran.

Penerapan JAMKESKIN membutuhkan energi yang cukup besar mengingat jumlah pen- duduk yang masuk dalam katagori miskin tidaklah sedikit. Seperti dikemukakan sebelumnya, kebijakan anggaran (Sulton Mawardi dan Sudarno Sumarto: 2002, 5) yang memihak kepada rakyat sebenarnya hanyalah salah satu saja dari sekian banyak kebijakan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan secara komprehensif. Mengingat kebijakan pro-poor budget merupakan kebijakan yang bersifat teknis operasional, maka supaya pemerintah (pusat dan daerah) mau menerapkan kebijakan yang lebih menjamin keberadaan rakyat pra sejahtera (JAMKESKIN) diperlukan beberapa pra-syarat kebijakan, antara lain :

1. Kehendak politik :

a) Adanya komitmen kuat dan tekad keras pihak-pihak yang secara langsung mempunyai kewenangan dan bertanggungjawab dalam penanggulangan kemiskinan;

b) Agenda pembangunan (pusat dan daerah) menempatkan penanggulangan kemiskinan pada skala prioritas utama;

c) Kemauan untuk secara jujur dan terbuka mengakui kelemahan dan kegagalan penang- gulangan kemiskinan di masa lalu, dan bertekad untuk memperbaikinya di masa mendatang.

2. Iklim yang mendukung

a) Ada kesadaran kolektif untuk menempatkan kemiskinan sebagai musuh bersama yang harus diperangi, kemudian diikuti dengan langkah-langkah kampanye sosial melalui berbagai saluran informasi untuk lebih meningkatkan kepedulian, kepekaan, dan partisipasi masyarakat.

b) Ada peraturan dan kebijakan daerah (Perda) yang mendukung penanggulangan kemiski- nan, misalnya yang berkaitan dengan usaha kecil, akses terhadap kredit, pedagang kaki lima, penghapusan pungutan terhadap hasil-hasil pertanian, dan sebagainya.

3. Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance)

Mengingat program pelayanan kesehatan bagi warga pra sejahtera atau rakyat miskin (JAMKESKIN) bersifat multidimensi, maka penanggulangannya tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendekatan ekonomi, melainkan memerlukan pula kebijakan dan program di bidang sosial, politik, hukum dan kelembagaan. Dengan kata lain diperlukan adanya tata pemerintahan yang baik (good governance) dari lembaga-lembaga pemerintahan, terutama birokrasi pemerintahan, legislatif, lembaga hukum dan pelayanan umum lainnya. Secara lebih spesifik hal ini antara lain ditandai dengan adanya keterbukaan, pertanggungjawaban publik, penegakan hukum, penghapusan birokrasi yang menyulitkan, penghapusan korupsi, dan koordinasi lintas lembaga dan pelaku yang baik.

Turkewitz (2001) melalui studi empirisnya di beberapa negara menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara regim pemerintahan dengan berbagai aspek pembangunan. Kesim- pulan dari studi ini antara lain adalah :

a. Makin efektif suatu pemerintahan, makin rendah tingkat kematian bayi.

b. Makin rendah tingkat korupsi di birokrasi pemerintahan, makin tinggi tingkat melek huruf orang dewasa.

c. Makin baik kondisi penegakan hukum suatu negara, makin rendah tingkat kematian bayi. d. Makin sedikit regulasi yang diciptakan pemerintah, makin tinggi tingkat pendapatan per kapita. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka jelas bahwa untuk mencapai terciptanya kebijakan pro-poor budget diperlukan adanya kebijakan awal seperti pro-poor policy (kebijakan umum yang memihak pada orang miskin), pro-poor institutions (adanya institusi -institusi –khususnya institusi pemerintah - yang memihak orang miskin), dan yang lebih penting lagi adalah adanya pro-poor government (pemerintahan yang memihak orang miskin). Tanpa adanya pra-syarat kebijakan seperti ini, sulit mengharapkan pemerintah (pusat dan daerah) untuk mempunyai kebijakan pro-poor budget sebagaimana diharapkan.

Konsep Kemiskinan di Indonesia

Kemiskinan memiliki dimensi yang luas. Konsep kemiskinan memiliki wayuh arti, ter- gantung dari perspektif yang digunakan: apakah bermatra sosio-kultural, ekonomi, psikologi, atau politik. Seringkali kemiskinan diartikan dengan merujuk pada faktor-faktor yang menyebabkannya. Misalnya, pada konsep mengenai kemiskinan kebudayaan dan kemiskinan struktural. Yang pertama melihat budaya kemiskinan seperti malas, apatis, kurang berjiwa wiraswasta sebagai penyebab seseorang miskin. Yang kedua menilai bahwa struktur sosial yang tidak adil, korup, paternalistik sebagai penyebab kemiskinan. Sejalan dengan pendekatan ini, operasionalisasi kemiskinan biasanya dirumuskan berdasarkan indikator-indikator masukan (input indicators).

Pendekatan lainnya, melihat kemiskinan dari indikator keluaran (output indicators). Di sini, kemiskinan dilihat dari gejala atau hasil (outcome) yang ditimbulkannya. Seseorang dikatakan miskin, misalnya, kalau memiliki pendapatan rendah, rumah tidak layak huni, atau buta hurup. Pendekatan ini menghasilkan dua cara dalam mengukur kemiskinan. Cara pertama adalah dengan menyusun indikator tunggal, seperti pendapatan atau pengeluaran yang kemudian dibakukan menjadi “garis kemiskinan” (poverty line). Garis kemiskinan yang sering dijadikan rujukan internasional antara lain sebesar $1 atau $2 AS per hari per kapita. Bank Dunia adalah badan internasional yang seringkali menggunakan cara ini. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) biasanya mengeluarkan garis kemiskinan yang disesuaikan dengan wilayah pedesaan dan perkotaan serta kabupaten/kota di Indonesia. Saat ini, garis kemiskinan yang bisa dipakai secara luas adalah Rp.100.000 per kapita per bulan, tanpa memperhatikan perbedaan wilayah. Cara kedua adalah dengan menyusun indikator komposit. Selain pendapatan atau penge- luaran, indikator komposit biasanya terdiri dari angka melek hurup, angka harapan hidup, atau akses kepada air bersih. Badan dunia yang menggunakan cara kedua adalah UNDP (United Na- tions Development Programme). Produk UNDP yang dikenal luas untuk mengukur kemajuan dan kemiskinan adalah HDI (Human Development Index) dan HPI (Human Poverty Index). Pada cara pertama mengukur kemiskinan hanya dari aspek ekonomi, cara kedua melibatkan aspek pendidikan dan kesehatan. Meskipun kedua cara memiliki keunggulan dan kelemahan, cara kedua dapat dipandang sebagai pendekatan yang lebih baik, karena dapat menggambarkan kemiskinan lebih tepat dan akurat (lihat Suharto, 2003).

Analogi “Umpan dan Kail”

Penanggulangan kemiskinan dapat diibaratkan dengan analogi ikan dan kail. Sering dikatakan bahwa memberi ikan kepada si miskin tidak dapat menyelesaikan masalah. Si miskin akan menjadi tergantung. Kemudian, banyak orang percaya memberi kail akan lebih baik. Si miskin akan lebih mandiri. Benarkah?

Analogi ini perlu diperluas. Memberi kail saja ternyata tidak cukup. Meskipun orang punya kail, kalau ia tidak memiliki cara mengail ikan tentunya tidak akan memperoleh ikan. Pemberian keterampilan (capacity building) kemudian menjadi kata kunci dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Setelah orang punya kail dan memiliki keterampilan mengkail, tidak dengan serta merta ia dapat mengumpulkan ikan, jikalau lautan, sungai dan kolam dikuasai kelompok “elit”. Karena- nya, penanganan kemiskinan memerlukan pendekatan makro kelembagaan. Perumusan kebija- kan sosial adalah salah satu piranti penciptaan keadilan yang sangat penting dalam mengatasi kemiskinan.

Demokrasi, Reformasi Birokrasi dan Pengentasan Kemiskinan

Dalam pembangunan di Indonesia terkenal dengan konsep pembangunan ekonomi dengan semangat demokrasi. Kadar demokrasi di Indonesia sudah pada jalur yang benar namun pem- bangunan ekonomi mengalami hambatan terutama dalam sektor dukungan dari birokrasi peme- rintah yang kuat Dan efisien. Pencapaian pembangunan birokrasi yang efisien ini melalui reformasi di bidang ketatalaksanaan, kelembagaan dan sumber daya manusia dari birokrasi itu sendiri, sebagaimana peraturan menteri pemberdayaan aparatur negara No 15 tahun 2007 tentang reformasi birokrasi, semangat reformasi birokrasi ini masih memerlukan perhatian yang men- dalam karena target utama dari reformasi birokrasi ini adalah pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Balada kemiskinan di Indonesia diiringi oleh praktek KKN yang masih sangat tinggi. KKN ini banyak menimpa masyarakat kurang mampu yang justru masih memerlukan uluran bantuan pemerintah. Peran serta masyarakat dalam pengentasan kemiskinan justru menambah rumit kerja pemerintah. Sebagai contoh adalah penolakan beberapa kabupaten dan kota dalam beberapa program Pemerintah Pusat, seperti Program Bantuan Langsung Tunai yang jelas-jelas berbaukan politik lokal yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin, penolakan ini lebih disebabkan karena pemerintah daerah itu sendiri kurang siap untuk mendata dan memberikan sosialisasi kepada

Reformasi birokrasi juga tidak menempatkan sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan masyarakat miskin. Pembangunan birokrasi yang kuat masih banyak dilakukan di sektor-sektor keuangan dan ekonomi makro. Ini menyebabkan timpangnya departemen-depatemen teknis yang berkaitan dengan program-program pengentasan kemiskinan. PNPM perkotaan yang menjadi andalan pemerintah pusat tidak menyentuh masyarakat miskin di perkotaan. Kemis- kinan perkotaan menjadi isu yang sangat dilematis, karena masyarakat miskin perkotaan sangat rentan dengan masalah sosial yang memberikan dampak buruk juga terhadap keamanan, keindahan dan kebersihan suatu kota. Pengentasan kemiskinan perkotaan seakan-akan menjadi isu yang terlupakan dengan semakin perhatiannya pemerintah pusat dan daerah terhadap kondisi politik dan birokrasi. Dalam reformasi birokrasi yang diluncurkan oleh kementerian PAN sangat sedikit yang menyinggung konsepsi tentang mencegah budaya korupsi di pemerintahan. Konsepsi awal hanya berkisar kepada pembangunan fisik luaran dari pemerintah seperti mana- jemen, SDM, kelembagaan dan ketatalaksanaan. Namun pembentukan karakter pemerintah yang jujur, tulus dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati masih kurang tersentuh. Rakyat miskin diperkotaan perlu didalami kemiskinannya dengan mengetahui apa yang dikehendaki dan apa yang diinginkan.

Program-program pengentasan kemiskinan di perkotaan memerlukan para pejabat publik yang memiliki satu kesatuan dengan komunitas miskin tersebut (Deinhart, V, 2000: 6). Pejabat publik dipilih melalui lembaga formal yang dimiliki oleh komunitas miskin kota, sehingga pertanggung jawabkan dan kepercayaan akan didapat dari masyarakat miskin kota. Di era demokrasi seperti saat ini kepercayaan publik dirasakan sangat penting karena keinginan dan kehendak publik adalah keharusan yang harus dilakukan.

Distribusi program pengentasan kemiskinan perkotaan perlu dilakukan secara merata dengan melibatkan pembangunan-pembangunan yang bersifat melibatkan peran aktif masyarakat miskin kota. Peran aktif dalam era demokrasi dapat dilakukan dengan menggunakan asas partisipatif aktif dimana masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama-sama dengan pemimpin formal yang diangkat oleh masyarakat miskin kota. Partisipasi aktif ini dapat melibatkan peran masyarakat miskin kota sebagai bagian panitia program, pelibatan ini juga perlu diikuti dengan penagawasan yang ketat dari aparat pemerintah dalam hal ini adalah penegak hukum. Demokrasi dan reformasi birokrasi dapat terwujud disini dimana pelibatan aparat pemerintah dan masyarakat dirasakan penting sebagaiman yang dituliskan di jurnal Public Administration Review oleh Robert B. Denhardt dan Janet Vinzant Denhardt di Vol. 60, No 6 (Nov-Des., 2000) (554) tentang pelayan publik harus hadir dalam hukum, nilai-nilai komunitas, norma politik standar profesional dan kepentingan warga. Konsepsi tersebut menuntut pelayan publik harus mampu hidup di multi fase. Undang-undang No 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik yang baru saja di luncurkan oleh pemerintah dan disetujui oleh dewan merupakan undang- undang yang menuntut peran pelayan publik untuk memiliki standar pelayanan publik yang profesional dalam melayani kepentingan umum.

Undang-undang ini di nilai cukup demokratis dan memihak kepentingan warga miskin, seperti memberi kejelasan dan pengaturan mengenai pelayanan publik yang ada di point penjelasan dimana ada peran masyarakat seperti bagian kedua dalam pasal 4 tentang penyelenggaraan pela- yanan publik yang berasakan kepentingan umum, kepastian hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, keprofesionalitasan, pertisipatif, persamaan perlakuan/ tidak diskriminatif, keterbukaan, akuntabilitas, fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, ketepatan waktu Dan kecepatan, kemudahan serta keterjangkauan. Beberapa point seperti kepentingan umum, kesamaan hak, partisipatif, persamaan perlakuan ini merupakan point-point demokrasi yang diterapkan dalam asas pelayanan publik. Sedangkan akuntabilitas, fasilitas, keterbukaan, fasilitas dan perlakuan kelompok rentan, merupakan point penting dimana pelayan publik perlu mendahulukan kelompok-kelompok minoritas atau kelompok-kelompok yang marjinal baik di kota ataupun di desa. Kelompok termarjinal di kota besar adalah masyarakat miskin yang ditiap kota itu sendiri memiliki perbedaan pandangan tentang kemiskinan kota ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan publik itu tidak maksimal karena pelayan publik dan masyarakat sendiri memiliki karakteristik “budaya sungkan atau budaya tidak enak”

(Eko Prasojo; 2009, 53) karakteristik ini disebabkan oleh faktor-faktor budaya, individu dan organisasi dan manajemen publik serta faktor historis dari birokrasi di Indonesia. Oleh karena reformasi birokrasi dianggap awal dari perjalanan dari perbaikan kesejahteraan bangsa ini. Output dari reformasi birokrasi ini adalah kesejahteraan rakyat termasuk masyarakat miskin kota yang sudah termarjinalkan. Masyarakat miskin kota bukan masyarakat yang harus “dibuang dan diasingkan” (Edi Suharto; 2006, 2) tetapi diberdayakan. Pelayan Publik harus mampu mena- warkan (Brokering) (Deinhardt dan Deinhardt; 2004, 18) beberapa alternatif untuk keluar dari kemiskinan kota. Alternatif-alternatif perbaikan struktur dan fungsi-fungsi pelayanan publik harus sering dilakukan agar masyarakat miskin kota dapat memulai keberlangsungan hidupnya dengan lebih sejahtera.

Publik yang diindetikkan sebagai citizen (masyarakat) yang demokratis harus menjadi subyek yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang dimulai dengan melibatkan semua warga. Model pelibatan pengambilan keputusan ini perlu diambil jangan dengan prinsip keterwakilan dari wakil-wakil masyarakat miskin. Target akhir dari program- program kesehatan masyarakat ini harus benar-benar dirasakan oleh warga sebagai perwujudan dari pemberi kedaulatan, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Pelayanan Kesehatan Publik Khusus bagi Warga Miskin

Dengan sudah dikarakteristikkannya kemiskinan di tiap-tiap daerah, warga miskin ini perlu