• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan bumi : Dan darah syahid Hasan Al Banna

Kasus darah yang suci ini masih berada di tangan para hakim. Saya tidak mempunyai komentar mengenai hal ini baik dalam hal pokok masalahnya maupun mengenai fakta-faktanya. Tetapi semua hal ini menimbulkan keprihatinan dalam diri. Pada waktu yang tepat nanti akan dikemukakan kenyataan-kenyataan, dan mengarahkan pandangan kita kepada hakikat keadilan bumi. Kerana itu mata mengarahkan pandangannya ke pada keadilan langit. Dengan demikian dapat dibuat perbezaan antara hukum yang dibuat oleh manusia dan syari’at yang dibuat oleh Tuhan. “Sesungguhnya dalam hal itu merupakan peringatan bagi orang yang mempunyai hati, atau melakukan pendengaran padahal ia menyaksikan sendiri.”

Jaksa mengatakan:

“Kerana kejadian ini, sebagaimana dijelaskan oleh pemeriksaan, dapat diringkaskan, bahawa Kolonel Mahmud Abdul Majid, telah meniatkan di dalam dirinya untuk membunuh Pemimpin Umum Jama’ah Ikhwan al- Muslimun, Almarhum Syeikh Hasan al-Bana, walaupun penyelidikan belum sampai kepada menetapkan apakah dalam hal ini ia mengadakan kerjasama dan bermufakat dengan pihak penguasa negara, yang terdapat di waktu itu, atau apakah ia melakukan tindakan ini sehingga ia mendapat penghargaan dan pihak penguasa di waktu itu, kerana ia percaya bahawa mereka itu menumpahkan darah orang yang korban kejahatan. Maka pelaksanaan pembunuhan ini tetap menjadi cita-cita yang mereka dambakan dan mereka harapkan akan terjadi.

Dan untuk melaksanakan apa yang telah ditekadkan oleh Kolonel Mahmud Abdul Majid, maka berdatanganlah kepadanya orang-orang yang terkenal dengan tindakan-tindakan kriminal mereka, dan orang-orang yang telah dipilihnya untuk merencanakan dan melaksanakannya. Mereka itu adalah Kapten Husin Kamil, Leftenan Abduh Armanius, Sarjan Ahmad Husin Jad, Kopral Muhammad Ismail, Sarjan Husin Muhammad bin Ramadhan, Kopral Muhammad Mahfuz Muhammad, Mustafa Muhammad Abul-Lail dan Yusuf Abu Gharib…. “ Dst., dst.

Pada akhirnya tuntutan yang diajukan menuntut hukuman mati terhadap orang-orang yang tertera dalam daftar tertuduh. Tetapi tuduhan itu tidak menuntut apa-apa terhadap pihak penguasa yang memerintah orang-

orang itu melakukan pembunuhan, kerana undang-undang bumi yang berada di tangannya tidak memberikan pertolongan kepadanya dan tidak memberikan pertolongan kepada keadilan untuk menuntut mereka sekurang- kurangnya dengan tuduhan menumpahkan darah siterbunuh, padahal mereka bertanggung jawab untuk menjaga darah yang tidak berdosa ini.

Perkara ini sekarang berada di tangan para hakim yang memeriksa perkara orang-orang yang tertuduh ini. Saya tidak akan memberikan komentar terhadap pokok persoalan perkaranya dan juga tidak mengenal peristiwa-peristiwanya. Tetapi marilah kita anggap penagadilan memutuskan sesuai dengan apa yang dituntut pihak kejaksaan, dan dijatuhi hukuman sesuai dengan tuntutan. Apakah ertinya hukuman terhadap orang-orang itu dibandingkan dengan nyawa Hasan al-Banna? Apakah ertinya darah mereka dibandingkan dengan darah suci yang telah ditumpahkan itu?

Alangkah lemahnya keadilan bumi ketika itu, dan alangkah tidak cukupnya dibandingkan dengan keadilan walaupun dalam pengertiannya yang paling sempit.

Kepala-kepala yang paling besar di masa pemerintahan yang penuh dosa itu adalah kepala pejabat-pejabat pemerintah itu, sebagaimana disebutkan dalam berita acara dengan penghinaan. Semua kepala—kepala ini dikumpulkan bersama-sama, tidak pantas untuk di letakkan di telapak kaki Syahid yang mulia itu. Tidak pantas untuk dijadikan pembalasan yang adil terhadap orde pemerintahan yang bejat dan semua orang yang merupakan wakil-wakil dan masa itu. Apalagi kalau di bandingkan dengan kepala- kepala kecil, di mana yang terbesar di antaranya adalah kepala Kolonel yang kecil itu?

Di sini kelihatan bahawa keadilan bumi amat terbatas. Perundang- undangan bumi kelihatan menertawakan. Orang-orang yang membuat undang-undang bumi tampak kerdil-kerdil.

Di sini jelas jarak yang lebar sekali yang terdapat antara undang- undang Allah untuk manusia dan undang-undang yang dibuat manusia.

Apakah balasan pihak penguasa yang telah menumpahkan darah yang tidak berdosa?

Bagaimanakah penclapat keadilan bumi tentang yang telah disebutkan berita acara dalam bentuk yang pasti?

Barangkali ada kekebalan bohong untuk pihak penguasa yang menyebabkan penuntut, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Kebodohan bentuk apakah yang dilakukan undang-undang dasar yang memberikan perlindungan kepada orang-orang kriminal, sehingga mereka dapat diangkat di atas keadilan dan di atas hukum? Alangkah lemahnya semua keadilan bumi dan alangkah tidak berdayanya!

Keadilan bumi ini melarang pengadilan bandingan dalam banyak hal untuk memutuskan batalnya putusan yang tidak adil, apabila ia tidak

mendapat kesempatan untuk membantah hukum itu dan segi bentuknya. Kalau bentuk luar dan suatu perkara semuanya telah benar dan lengkap, maka Pengadilan Bandingan tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk ikut serta dalam perkara itu, walaupun untuk menyatakan kebenaran yang dilihatnya sendiri. Ia tidak dapat menghilangkan ketidakadilan yang dipercayainya terdapat dalam perkara itu.

Walaupun Pengadilan Bandingan itu mendapat alasan untuk ikut serta berdasarkan formal yang ada, maka ia juga tidak dapat berbuat apa-apa kalau ia tidak menemukan kesalahan dalam pelaksanaan hukum positif, bagaimana pun tidak adilnya keputusan yang dijatuhkan itu.

Hakim Abdul Aziz Fahmi telah mengambil pendirian seperti ini dalam perkara al-Badari. Ia tidak mendapatkan cara untuk menghilangkan ketidakadilan dan merealisasikan keadilan, kecuali jeritan yang terdapat dalam hati nuraninya, jeritan dalam menghadapi undang-undang bumi yang berdiri kaku diikat ôleh proses-prosesnya.

Pengadilan itu sendiri melakukan kesalahan. Kesalahan ini baru ketahuan setelah vonnisnya dijatuhkan. Ketika itu ia tidak dapat kembali lagi kepada yang benar. Setelah keluar vonnisnya itu, persoalan tidak lagi berada dalam tangannya.

Aduh! Demikianlah pengadilan bumi yang melihat kebenaran dengan mata kepalanya sendiri, tetapi ia tidak sanggup untuk kembali kepada kebeñaran itu, kerana perkaranya telah keluar dari tangannya, demi untuk menjaga tata cara proses hukum.

Sedangkan keadilan langit berkata: Kembali kepada yang benar itu adalah suatu sifat yang terpuji. Keadilan langit tidak melarang seorang hakim yang telah menjatuhkan vonnisnya, tetapi setelah itu ia melihat kebenaran dan ternyata ia telah menjatuhkan hukuman dalam bentuk yang salah, untuk kembali kepada kebenaran, dengan jalan membatalkan putusan yang telah dijatuhkan. Ia kembali kepada kebenaran, kerana kebenaran itu lebih pantas untuk diikut.

Tentu sahaja pengadilan lain mempunyai hak pula untuk kembali kepada kebenaran, kalau kebenaran itu telah tampak jelas baginya. Ia tidak perlu merasa terikat dengan tatacara proses yang telah lebih dipentingkan oleh pengadilan bumi, lebih penting dan keadilan itu sendiri. Pengadilan bumi menjaga tata cara proses ini, walaupun untuk itu perlu ditumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa.

Pada waktu kita menuntut agar Islam yang memerintah, pada waktu kita menuntut agar syari’at Islam menjadi sumber perundangan, sesungguhnya kita menuntut adanya suatu bentuk perundangan yang lebih tinggi, dengan tata cara prosedural yang lebih teliti, dan suatu keadilan yang lebili sempurna.

Apakah anda ingin kita mundur kembali ke belakang kepada empat belas abad yang lalu?

Alangkah sombongnya! Alangkah bodohnya! Undang-undang kamulah yang lemah tidák berdaya. Perundangan kamulah yang terkebelakang dan kaku.

Syari’at kami yang kami menyeru kamu kepadanya, tidak pernah membelenggu tangan seorang hakim untuk kembali kepada kebenaran, di waktu mana pun juga, di tingkat pengadilan mana pun juga, walaupun setelah putusan pengadilan telah dijatuhkan, Dalam semua keadaan seorang hakim berhak untuk kembali kepada kebenaran yang diyakinmya.

Syari’at kami tidak berdiri kaku dengan tangan terbelenggu dalam menghadapi ketidakadilan yang terjadi atau keadilan yang hilang, hanya untuk menjaga kehebatan prosedural, tanpa mengindahkan kehormatan keadilan, kebenaran dan pengadilan.

Syari’at kami tidak berdiri lemah di depan seorang raja sekalipun, atau di depan seorang presiden republik, atau seorang perdana menteri, atau seorang menteri atau seorang pembesar. Di mana sahaja terdapat tindakan kriminal, syari’at kami ada di sana untuk menghukum orang yang bersalah, apapun juga pangkat dan jabatannya.

Seorang pembunuh, atau seorang yang menyuruh orang lain untuk membunuh, tidak akan disebut oleh syari’at kami: Paduka Yang Mulia, tidak akan diberinya suatu kekebalan, dan juga tidak akan meletakkannya di atas hukum.

Syari’at kami tidak akan membiarkan para pejabat menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa, lalu setelah itu mereka dapat pergi bebas demikian sahaja, tidak dapat dicapai oleh undang-undang yang buntung dan tidak bersenjata.

Kerana itulah kami menyeru anda agar menjadikan syari’at Islam itulah yang berkuasa, kerana syari’at Islam itu adalah suatu perundang- undangan yang lebih maju, lebih luas horizonnya dan lebih luwes. Kami melakukan seruan ini kerana undang-undang bumi anda lemah, kaku, terkebelakang, tidak sesuai dengan tuntutan zaman, dan tidak menuntut balas kepada darah tidak berdosa yang telah tertumpah.

Pemikiran-pemikiran seperti ini berganti-gantian timbul dalam jiwaku, ketika aku membaca tuduhan jaksa, dan ketika itu saya melihat bahawa tangan keadilan bumi itu pendek, lemah dan terpotong. Dan aku memandang kepada keadilan langit, maka saya lihat ia menjulang tinggi, tinggi, mengatasi segala-galanya dan agung.

Saya berkata: Kenapa Tuhan tidak membukakan jalan kepada seluruh ummat manusia ini, sehingga mereka bisa keluar dan kesempitan bumi kepada lapangnya langit? Kenapa Tuhan tidak membukakan pandangan manusia, sehingga mereka tidak dapat melihat cahaya sehingga mereka tidak perlu terlunta-lunta dalam kegelapan dunia?

Suatu hal yang amat menimbulkan ketawa yang pahit adalah tokoh- tokoh hukum kita. Mereka menganggap bahawa perundangan mereka itu moden dan maju, dan mereka anggap bahawa syari’at Allah itu kolot dan reaksioner.

Mereka tidak memberikan kesempatan kepada diri mereka untuk memandang secara mendalam kepada syari’at mereka dan syari’at Allah. Kalau mereka melakukannya tentulah mereka akan tahu bahawa mentaliti perundangan yang ada pada mereka itu adalah beku dan lemah, terutama kalau dibandingkan dengan syari’at Allah yang toleransi, bebas, teliti dan adil.

Mereka itu sebetulnya adalah orang-orang yang bodoh yang menganggap diri mereka bebas merdeka. “Jika dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu berbuat binasa di atas bumi! Mereka berkata: Kami ini adalah orang-orang yang memperbaiki! Ketahuilah bahawa mereka itu adalah orang yang berbuat binasa tetapi mereka tidak ingat.”

Mudah-mudahan Tuhan mengampuni mereka, dan menunjuki mereka kepada kebenaran. Kebenaran itu berada amat dekat sekali dengan mereka.