Penulis besar Sayyid Qutb, telah menulis dalam sebuah makalah yang berjudul “Prinsip-prinsip Dunia Bebas” dalam nomor yang lalu dalam majalah Risalah, di mana dia berkata: “Sebahagian dari kita lebih suka untuk berkumpul di bawah panji-panji Arab. Saya tidak menentang ini, asal sahaja berkumpulnya kita seperti itu adalah untuk sementara waktu sahaja, sebagai jalan menuju suatu perkumpulan yang lebih besar. Antara nasionalisme Arab dan patrotisme Islam tidak terdapat suatu pertentangan yang mendasar, kalau kita memandang nasionalisme Arab itu sebagai suatu langkah dalam perjalanan yang lebih panjang.”
Tetapi apakah “orang-orang nasiónalis” memandang nasionalime itu merupakan suatu langkah dalam suatu perjalanan yang panjang, iaitu jalan persatuan “Islam” yang lebih besar? Inilah masalah yang hams kita arahkan kepada diri kita, suatu pokok masalah yang penting sekali.
Dalam kenyataannya, kaum nasionalis tidak memahami nasionalisme dalam bentuk seperti ini, dan tidak bekerja untuk nasionalisme atas dasar seperti ini, sewaktu mereka berusaha untuk menanamkan rasa nasionalisme itu di dalam pemikiran dan hati pemuda-pemuda, dan pada waktu berusaha untuk menjadikan nasionalisine itu sebagai suatu kekuatan politik yang menentukan masa depan negara-negara Arab.
Sati’ al-Husary, salah seorang pemikir nasionalisme Arab yang paling menonjol, menulis dalam bukunya yang berjudul “Arabisme antara Pendukung dan Pembangkangnya”, yang kira-kira berbunyi sebagai berikut:
(Kebetulan saya tidak mempunyai bukunya sekarang ini, sehingga tidak dapat memberikan teks aslinya):
“Yang menyebabkan Anton Sa’adeh4 benci terhadap Arabisme dan menganggapnya
sebagai suatu gerakan mundur kebelakang, kepada kehidupan padang pasir, kepada keprimitifan dan fanatisme kesukuan, adalah kerana dalam pemikirannya Arabisme itu berhubungan dengan Islam….. Seandainya ia sedar bahawa Arabisme itu adalah
4 Ia adalah pendiri Partai Nasional Syria, pembentuk prinsip-prinsipnya, yang antara lain
berbunyi: Syria adalah untuk orang-orang Syria. Orang-orang Syria adelah suatu bangsa penuh yang berdiri sendiri. Ertinya menurut pendapatnya, mereka bukan merupakan bahagian dari bangsa Arab. Jadi ia tidak menerima prinsip persatuna Arab. Ia menolak dan mengkritik keras apa yang mereka namakan “Arabisme”.
sesuatu yang terpisah dari Islam, tidak ada hubungan sama sekali dengannya, tentulah ia tidak akan mengadakan kampanye menentangnya sedemikian rupa, dan tentulah ía tidak akan menuduhnya dengan kemunduran, keprimitifan, keterbelakangan dan kefanatikan.”
Inilah kira-kira isi tulisan Sati’ al-Husary, walaupun bukan dalam bentuk teks aslinya.
Pendapat seperti ini menggambarkan kepercayaan kebanyakan orang- orang nasionalis. Sering sekali saya membaca tulisan beberapa pemimpin parti mereka yang mengatakan: “Islam telah dapat memenuhi keperluan bangsa Arab pada suatu tempat tertentu dan pada suatu jangka masa tertentu. Masa dan tempat itu sekarang telah berubah. Kita tidak boleh meñgurung “potensi” Arab dalam aqidah, nilai, lembaga yang memang cocok untuk penduduk Semenanjung Arabia dan daerah sekelilingnya lebih dan sepuluh abad yang lalu, ertinya sebelum manusia memperluas ruang dunia dengan penemuan-penemuan barunya, dan juga sebelum majunya manusia di bidang pemikiran, ilmu pengetahuan dan peradaban.”
Jadi orang-orang nasionalis tidak memahami Nasionalisme Arab sesuai dengan pengertian yang telah dikemukakan penulis besar kita. Jadi nasionalisme menurut pengertian mereka tidak dapat hanya dianggap sebagai suatu langkah dalam perjalanan yang lebih panjang.
Sayyid Qutb berkata: “Seluruh Dunia Arab itu adalah bahagian dari Dunia Islam. Kalau kita telah berhasil membebaskan Dunia Arab maka berarti kita telah berhasil membebaskan sebahagian dari Dunia Islam, yang dapat kita pergunakan untuk membebaskan seluruh tubuh tanah air Islam kita yang besar.”
Perkataan seperti ini hanya benar kalau kita membebaskan Tanah Air Arab atas nama Islam, dan kalau kita membangun di atasnya berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang berjiwa pembangunan itu. Tetapi apabila kita membebaskannya atas nama nasionalisme, dan di atasnya kita dirikan bangunan yang bukan berdasarkan Islam, tetapi atas dasar kekafiran (kalau kekafiran itu dapat membangun), dan atas dasar berbagai teori yang didatangkan dari luar sebagaimana yang diserukan orang-orang sekarang ini, maka di waktu itü kita sama sekali tidak membebaskan “sebahagian dari Dunia Islam yang dapat kita pergunakan untuk membebas seluruh tubuh tanah air Islam kita yang besar,” tetapi kita telah memilih sendiri jalan pembebasan ini. Kita telah memulainya dengan pendahuluan-pendahuluan yang hasilnya akan menjadi sebaliknya dari apa yang dituju.
Kerana itu kefahaman kita semenjak dari mula tentang tujuan yang akan kita tuju itu haruslah “sempurna”, agar dengan itu maka jalan yang kita tempuh itu lurus lempang, dan kita tidak menyimpang dan tidak tersesat daripadanya.
Ketika kita berusaha mewujudkan Persatuan Arab, dalam hati sanubari kita harus selalu terdapat Persatuan Islam, sedangkan Persatuan Arab itu hanya merupakan suatu langkah sahaja di jalan yang panjang.
Ketika kita berusaha untuk mewujudkan Persatuan Arab dan Persatuan Islam itu, baik sebelumnya mahupun sesudahnya, harus selalu terbayang dalam hati kecil kita, menjuruskan pandangan kita dan menguasai pemikiran kita serta menguasai atas tindakan-tindakan kita, tujuan kita yang terjauh, iaitu “mendalamkan akar risalah keIslaman kita.” Dengan itulah kita dapat memberikan sumbangan kebaikan kepada manusia di atas dunia dan dengan itulah kita meminta agar untuk sèluruh umat manusia itu diturunkan rahmat dan langit.
Mohammad ‘Ashim
TANPA KOMENTAR
Teks yang dipindahkan Saudara Muhammad ‘Ashim dari kata-kata Sati’ al-Husary untuk menggambarkan pendapat para penyeru nasionalisme Arab, walaupun dalam teks aslinya, tidak memerlukan komentar apapun. Hal itu menyingkapkan kebodohan yang keterlaluan tentang segala sesuatunya, baik tentang Islam mahupun tentang Arabisme. Tidak ada gunanya kita berdiskusi dalam suatu tingkat kebodohan seperti ini. Orang- orang yang mengerti prinsip-prinsip dasar Islam dan Arabisme akan berpendapat, sebagaimana saya pendapat, bahawa umat Arab itu tidak lebih dari bahagian tubuh dari Tanah Air Islam yang besar. Ia tidak pernah lebih dari itu dalam masa manapun juga, walaupun terdapat tiap sebentar kata- kata kosong seperti yang di kemukakannya itu.