• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan dan Rekomendasi Dari hasil temuan di atas dapat disimpulkan bahwa:

Studi Model Pengembangan PAUD HI; Didorong oleh Masyarakat vs. Didorong

4.4 Kesimpulan dan Rekomendasi Dari hasil temuan di atas dapat disimpulkan bahwa:

• Secara umum, PAUD berbasis institusi (World Bank, CSR, Child Fund) terikat oleh capaian target dan waktu. Hal ini menyebabkan proses pendirian lembaga PAUD terikat oleh aturan/kebijakan donor dengan jangka waktu program yang relativ ebih singkat. Dengan demikian diperlukan pemikiran dan upaya yang lebih untuk menjamin kualitas dan keberlangsungan dari PAUD.

• Sebaliknya, PAUD berbasis komunitas (Taman Posyandu, PAUD mandiri) tidak terikat oleh

pencapaian target dan waktu, karena itu perkembangannya relatif lebih lambat. Namun model ini dapat bertahan walaupun bantuan pihak luar minimal, bahkan mampu mereplikasikan diri. Akan tetapi yang terjadi di lapangan adalah bantuan/perhatian besar ditujukan hanya untuk mendirikan PAUD baru, sementara PAUD yang sudah berdiri kurang mendapatkan perhatian, walaupun pada kenyataannya pos tersebut masih memerlukan bantuan untuk meningkatkan kualitas. Hal ini sering menimbulkan “kecemburuan” bagi tutor/kader dan pengelola PAUD yang didirikan berdasarkan keinginan dan kebutuhan masyarakat; juga menyebabkan terjadi ketegangan diantara tutor/kader PAUD.

• Selain memastikan cakupan target dan kualitas, isu keberlanjutan harus juga dipertimbangkan. Hal ini tidak dicakup pada PAUD Bank Dunia, di mana sebagian besar PAUD sangat bergantung pada kelanjutan dukungan atau pendanaan eksternal. Ketika anggaran pemerintah saja tidak dapat memastikan dukungan tersebut, exit strategy yang tepat atau model integrasi pembangunan ekonomi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Selama konsultasi draft laporan ini, diskusi dengan tim Bank Dunia mengungkapkan pendekatan mereka terhadap masalah ini, dan beberapa faktor kontekstual yang mempengaruhi hasil - termasuk secara spesifi k memberikan dukungan selama tiga tahun untuk program enam tahun agar masyarakat lebih terlibat, dan kesulitan yang dihadapi dalam memastikan komitmen yang diakibatkan oleh tokoh-tokoh politik lokal yang keluar dipelihara oleh individu politis yang masuk.

• Pendidikan tutor/kader bukan merupakan syarat utama untuk pemberian besarnya insentif.

Insentif sebagai “penghargaan” seharusnya juga diberikan bagi mereka yang telah menunjukkan dedikasinya. Pelajaran dari program bidan desa menunjukkan betapa kebanyakan bidan desa yang memiliki kualifi kasi akademik tinggi cenderung meninggalkan posisinya pada akhir masa kontrak. Demikian juga dengan tutor yang memiliki kualifi kasi akademik tinggi pada program PAUD. Selama proses konsultasi dalam versi draf laporan, terdapat sebuah diskusi menarik dengan tim World Bank terkait dengan pendekatan yang dilakukan mengenai masalah ini, dan beberapa faktor yang kontekstual yang berdampak pada hasil- termasuk ketersediaan 3 tahun dukungan yang spesifi k untuk program selama enam tahun agar masyarakat lebih terlibat, dan hambatan untuk memastikan komitmen yang dibuat oleh Gambar politik yang berganti dikelola secara individual. • Insentif untuk tutor dapat mengancam kesinambungan program jika diimplementasikan sebagai

sarana “membeli” kualifi kasi tutor daripada “menguntungkan” dedikasi tutor. Pelajaran yang dapat diambil dari program bidan desa menunjukkan bagaimana sebagian besar bidan desa yang terdidik cenderung meninggalkan pekerjaan pada akhir masa kontrak mereka, untuk mencari peluang baru dengan upah yang lebih baik di daerah perkotaan. Seperti halnya dengan tutor yang terdidik secara akademis dalam program PAUD.

• Tetap penting untuk mendukung peningkatan kapasitas tutor yang sudah ada agar meningkatkan kredibilitas PAUD di kalangan masyarakat. Sementara pendidikan dasar yang diperlukan (SMA/K) untuk tutor ini, harus ada peninjauan kembali atas efektivitas pendidikan lebih lanjut - terutama peninjauan mengenai apakah gelar S1 lebih tepat dibandingkan dengan pilihan lain, seperti ijazah atau sekolah kejuruan setara dengan SMA atau kursus singkat.

91 Studi Strategi Pengembangan Anak Usia Dini

Bab 4 Studi Model Pengembangan PAUD HI; Didorong oleh Masyarakat Vs. Didorong Institusi

berdasarkan latar belakang dan kemampuan peserta untuk menyerap materi. Pelatihan intensif dengan metode satu arah hanya menimbulkan rendahnya persepsi dan pemahaman peserta. Untuk memastikan retensi pengetahuan tutor, prinsip-prinsip metode pembelajaran orang dewasa seperti apresiatif, partisipatif, interaktif dengan menggunakan multi media, diperlukan. Peran dan pengajaran mikro adalah beberapa metode yang dapat membantu tutor untuk mempraktekkan pengetahuan mereka.

• Peran HIMPAUDI, sebagai perpanjangan dari Kemdikbud dalam kaitannya dengan pengembangan

kapasitas tutor, masih dapat ditingkatkan untuk membawa manfaat lebih bagi para pengajar. Sejauh ini, HIMPAUDI belum memenuhi harapan para tutor sebagai suatu asosiasi yang profesional, meskipun mengenakan biaya untuk keanggotaan dan pelatihan.

• Mengenai integrasi kesehatan di PAUD HI, kerjasama dengan layanan kesehatan yang telah ada (terutama Posyandu) merupakan cara yang paling menguntungkan untuk memastikan rendahnya biaya untuk mengintegrasikan pelayanan kesehatan ke PAUD. Hal ini jelas dalam model Taman Posyandu. Namun begitu, model ini masih memerlukan perbaikan, dengan mengikutsertakan pelayanan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, dan kelompok rentan lainnya.

• Mengenai integrasi hak dasar anak-anak dalam PAUD HI, PAUD memiliki peran yang potensial dalam membangun kesadaran di antara para orang tua dan memfasilitasi proses untuk mendapatkan akta kelahiran, seperti yang ditunjukkan oleh para tutor di beberapa PAUD dalam penelitian ini. Namun, advokasi harus diarahkan kepada pencatatan sipil, untuk memberikan informasi proses yang jelas. Juga kepada tokoh masyarakat untuk mengatasi kendala yang terkait dengan sertifi kat pernikahan dan adat istiadat setempat.

• Mengenai hal koordinasi, sejauh ini tidak ada mekanisme yang jelas pada koordinasi antar-sektor di tingkat desa, dalam hal pelaporan, monitoring dan evaluasi. Sehingga, kepala desa memiliki peran potensial untuk berkontribusi, seperti yang telah ditunjukkan pada beberapa daerah di mana kepala desa telah berkomitmen untuk pembangunan PAUD.

• Peraturan mengenai izin operasional dan sertifi kat kelulusan murid PAUD dianggap sebagai beban oleh sebagian pembimbing, khususnya oleh Taman Posyandu dan PAUD mandiri, karena salah satu prasyaratnya adalah sertifi kat hukum pendirian yayasan (yang dibuat oleh notaris). Hal ini diperburuk dengan adanya praktek dari beberapa oknum yang mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut untuk kepentingan pribadi.

• Orang tua memiliki peran penting dalam menentukan pendaftaran anak-anak di PAUD. Secara

umum, kebanyakan orang tua menyadari pentingnya PAUD dan puas dengan layanan PAUD. Namun, ada persepsi yang kuat yang melihat PAUD sebagai persiapan kesiapan sekolah (kemampuan membaca-menulis-menghitung) daripada perkembangan holistik anak. Kesadaran orang tua terhadap manfaat PAUD tidak selalu berkorelasi dengan kesediaan mereka untuk membiayai, terutama ketika mereka mengetahui bahwa PAUD telah menerima dukungan eksternal. Usaha lebih dalam berkomunikasi harus dilakukan institusi-institusi PAUD tersebut, dengan bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan aparat desa, untuk menunjukkan transparansi dalam penggunaan sumber daya. Hal ini akan membangun kepercayaan, yang akan menjadi faktor penting untuk keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan PAUD, ketika pendanaan eksternal saja tidak mencukupi atau bila periode pendanaan telah berakhir.

Kesimpulan di atas mengarah ke tiga rekomendasi strategis pengembangan PAUD HI

Integrasi PAUD dengan Posyandu

Untuk mengoptimalkan integrasi layanan kesehatan kedalam PAUD, Posyandu memiliki sejumlah layanan yang mencakup kesehatan dan nutrisi dengan sasaran penerima manfaat yaitu ibu, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak balita. Intergrasi ini akan menjamin terjadinya kesinambungan layanan/continuum of care bagi ibu dan anak mulai usia -1 (masa kehamilan) hingga 6 tahun. Selain itu Posyandu sudah dikenal dan tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di daerah perdesaan. Di lain pihak, dikembangkannya program PAUD kedalam Posyandu akan sangat menguntungkan bagi penguatan infra struktur kesehatan yang ada serta pencapaian target pelayanan kesehatan. Dilain pihak PAUD dapat menjadi sarana untuk merevitalisasi Posyandu yang tidak aktif.

92 Kemitraan untuk Pengembangan Kapasitas dan Analisis Pendidikan

Bab 4 Studi Model Pengembangan PAUD HI; Didorong oleh Masyarakat Vs. Didorong Institusi

Ibu-ibu dan perempuan lokal sebagai tutor/kader

Seperti diperlihatkan pada temuan gelar akademik tutor/kader tidak selalu berkorelasi dengan kualitas layanan mereka. Kriteria gelar akademik tinggi sebagai prasyarat sering mengakibatkan tingginya tingkat pergantian tutor (adanya kecenderungan untuk mencari peluang yang lebih baik). Ibu-ibu rumah tangga biasa terbukti dapat juga memberikan pengasuhan yang berkualitas dengan pengalaman mereka menangani anak ditambah dengan pelatihan yang tepat. Perempuan merupakan SDM yang penting akan tetapi belum dimanfaatkan. Kenyataan ini ditemukan disemua daerah. Memberikan kesempatan pada ibu rumah tangga sebagai tutor/kader dan memberikan bea siswa sebagai penghargaan untuk meningkatkan kemampuan akademis merupakan opsi yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan PAUD HI. Pendekatan ini sudah dilakukan dan terbukti berhasil di Rajasthan (India) melalui Aga Khan Foundation bahwa ibu rumah tangga sebagi guru merupakan agen perubahan dalam hal Pengembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini (Arnec newsletter, Early Childhood in Asia and The Pacifi c No.1. 2008).

Resource Sentra PAUD

Mengingat besarnya sasaran anak balita di Indonesia (24 juta anak), pemerintah sendiri tentunya tidak akan mampu untuk mencapai target layanan PAUD sesuai harapan. Untuk itu pembentukan Resource Sentra PAUD di tingkat regional, provinsi atau kabupaten yang berperan untuk peningkatan kemampuan tutor/kader/pengelola, supervisi, monitoring, dan evaluasi bagi program PAUD HI dapat menjadi opsi dalam rangka pencapaian target tersebut. Resource centre merupakan wadah/lembaga koordinasi antara pemerintah, swasta, akademisi, universitas, LSM lokal, nasional dan internasional serta masyarakat yang sifatnya kemitraan, transparan dan terbuka dalam memfasilitasi gagasan, pelaksanaan, penelitian dan desiminasi pembelajaran program PAUD HI. • Hal ini sudah dilakukan oleh Insitute of Educational Development (IED), BRAC University Dhaka,

93 Studi Strategi Pengembangan Anak Usia Dini

95 Studi Strategi Pengembangan Anak Usia Dini

Bab 5

Garis besar

Dokumen terkait