• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seperti halnya pembujukan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak - anaknya agar tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan atau perilaku menyimpang, maka hal yang sama juga dilakukan oleh Kepolisian Sektor Percut Sei Tuan dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti Geng Motor yaitu dengan cara melakukan bujukan dan nasehat secara lebih intensif terhadap anggota Geng Motor yang telah berulang kali tertangkap tangan melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat atau bahkan tindakan kriminal. Pembinaan pola pikir terhadap anggota Geng Motor adalah

salah satu bagian yang dilakukan oleh kepolisian dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, tidak terkecuali dalam hal ini adalah pembujukan terhadap mereka yang telah berulang kali tertangkap melakukan tindakan yang meresahkan mayarakat atau tindakan pidana. Salah satu bentuk bujukan yang dilakukan dalam mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja adalah dengan cara ,seperti; menekankan faktor malu atas tindakan yang dia lakukan, menekankan pada perasaan bersalah atas tindakan yang dilakukan anak remaja terhadap korbannya dari tindakan penyimpangan yang dilakukan, menunjukkan langsung contoh nyata efek dari tindakan kriminal yang mereka lakukan terhadap masa depan mereka kedepannya, seperti; misalnya dengan cara melihat, dan memperkenalkan orang - orang tahanan, menyuruh untuk berkomunikasi langsung dengan orang tahanan. Dengan demikian secara tidak langsung dapat merasakan tentang bagaimana menjadi tahanan. Kepolisian Sektor Percut Sei Tuan juga memberikan penjelasan bahwa orang - orang yang menjadi tahanan tersebut adalah orang yang sudah tidak punya harapan hidup. Untuk lebih jelasnya berikut penjelasan dari bapak Provos Zulfikar saat saya melakukan wawancara.

“...Cara yang kami lakukan untuk mencegah tindakan yang telah berulang kali tertangkap melakukan tindakan yang meresahkan adalah dengan cara melakukan bujukan yang kami lakukan secara terus menerus, seperti misalnya dengan cara menanyakan bagaimana perasaan mereka kalau mereka ada dipihak korban dari tindakan Geng Motor...kami juga memberikan contoh seperti misalnya bagaimana perasaan kalian kalau korban dari tindakan yang mereka lakukan terhadap korbannya adalah kakak atau ibunya... apakah mereka sedih atau tidak...selanjutnya kami selalu memberikan komitmen tentang masa depannya, seperti kamu datang ke sekolah, dibiayai orang tua, tapi kamu malah ikut-ikutan Geng Motor, merampok orang, berantam...bagaimana

masa depan kamu nanti,..kamu mau jadi apa besok?.. mau dibawa kemana negara ini kalo generasi penerus kayak kamu semua. Kami juga memperkenalkan anggota Geng Motor dengan para narapidana, mempersilahkan mereka untuk berkomunikasi langsung dan mempersilahkan langsung menanyakan tentang perasaan narapidana tersebut selama menjadi tahanan. Anggota Geng Motor yang kebanyakan adalah pelajar yang masih dalam tahap pencarian jati diri juga kami sadar bahwa dia adalah anak-anak kami, jadi salah kalau ada yang menyatakan kami melakukan kekerasan terhadap anggota Geng Motor selama ditahan di Polsek. Yang kami lakukan terhadap mereka adalah pembujukan, karena apabila kami melakukan tindakan secara kekerasan seperti memukul, menampar untuk mencegah agar tindakan yang meresahkan yang meraka lakukan tidak dilakukan lagi, justru akan semakin tinggi angka grafiknya mereka akan mengulanginya lagi....jadi kami harus melakukan bujuk. Intinya kami tetap malakukan sosialisasi, dan memperlakukan mereka seperti manusia walaupun mereka telah berungkali melakukan tindakan yang meresahkan atau bahkan tindakan kriminal...” Hasil wawancara di Polsek Percut Sei Tuan, 19 Juni 2011

Dari hasil wawancara dengan bapak Provos Zulfikar tentang kontrol sosial secara persuasif diatas, maka dapat diketahui bahwa bujukan, nasehat, dan pembinaan yang tidak henti - hentinya dilakukan lembaga sekolah, kepolisian, dengan tujuan yang sama yaitu agar tidak mengulangi suatu tindakan tertentu yaitu dengan cara, seperti; membuat berbagai kegiatan - kegitan untuk mengisi waktu anak remaja, sehingga tidak terpengaruh dan bergabung dengan kelompok - kelompok sosial yang menyimpang, seperti Geng Motor. Selain itu, bujukan, pembinanan, juga dilakukan oleh pihak kepolisan terhadap anak - anak remaja khusususnya bujukan kepada anggota Geng Motor yang telah berulang kali tertangkap tangan melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat atau bahkan tindakan kriminal, sehingga dengan demikian kedepannya tidak mengulangi tindakan yang sama, dan meyakinkan mereka terhadap nilai - nilai yang diajarkan.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Basrowi (2005 : 98) yang mengatakan bahwa pengendalian sosial secara persuasif dapat dilaksanakan dengan membujuk dan mengajak secara halus (membujuk, merayu) seseorang atau sekelompok orang agar mematuhi nilai - nilai dan norma - norma sosial yang berlaku di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa selain kontrol yang dilakukan dalam bentuk sanksi hukum, kepolisian terlebih dahulu juga harus melakukan sosialisasi dan pembujukan sebagai upaya dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang seperti Geng Motor. Sosialisai tersebut bisa dilakukan dengan cara sosialisasi langsung ke tempat - tempat yang memungkinkan untuk menyampaikan pesan - pesan moral atau nilai - nilai yang baik terkait dengan masalah yang sedang dihadapi, seperti misalnya masalah perilaku Geng Motor yang sangat meresahkan masyarakat dengan tindakan menyimapang atau bahkan tindakan yang termasuk melanggar hukum pidana dari anggotanya. Adapun menurut peneliti tempat sosialisasi yang cukup bagus untuk melakukan sosialisasi tentang bahayanya Geng Motor terhadap remaja adalah seperti sekolah, temapat - temapat keramain yang banyak dihuni oleh remaja, yaitu dengan cara misalnya melakukan himbauan melalui sepanduk atau umbul - umbul, poster, dan lain - lain.

Namun dari hasil wawancara dengan bapak Zulfikar, peneliti tidak menemukan pernyataan yang ungkapkan oleh bapak Zulfikar tentang pemanggilan orangtua dan pihak sekolah dari anak remaja yang melakukan penyimpangan. Untuk itu, peneliti berpendapat bahwa seharusnya kepolisian dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja secara

persuasif memanggil kedua orangtua dan juga guru dari anak remaja yang melakukan penyimpangan. Menurut peneliti, pemanggilan orangtua dan guru sekolah dari anak remaja yang melakukan penyimpangan adalah untuk memberitahukan bahwa anak atau anak didik mereka terlibat dalam tindakan yang menyimpang, sehingga dengan demikian peran dari keluarga dan sekolah dapat lebih ditingkatkan dalam mengawasi anak remaja tersebut.

Pendapat peneliti tersebut sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Horton dan Hunt (1996 : 276) yang menyatakan bahwa keluarga merupakan kelompok primer yang pertama dari seorang anak dan dari situlah pengembangan kepribadian bermula. Selain itu, pendapat peneliti tersebut juga sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Hirschi dalam Atmasasmita (1992) yang mengatakan bahwa, penyimpangan atau bahkan keriminalitas atau perilaku menyimpang merupaka bukti kegagalan kelompok - kelompok sosial konvensioal untuk mengikat individu agar tetap conform, seperti keluarga, sekolah, atau institusi pendidikan dan kelompok dominan lainnya.