• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berbicara mengenai sanksi - sanksi yang diberikan terhadap mereka yang melakukan tindakan yang menyimpang, khususnya dalam hal ini anak remaja yang sering melakukan tindakan yang menyimpang atau bahkan tindakan pidana, seperti perilaku Geng Motor. Pemerintah Desa Bandar Khalipah mengatakan bahwa sanksi - sanksi yang diberikan lebih ditekankan pada pihak yang berwajib,

yaitu lembaga hukum atau kepolisian. Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara peneliti dengan Kepala Desa Bandar Khalipah yaitu bapak Misno.

“..kalau menghukum kita tidak punya hak untuk menhukum...tapi kalau benar – benar fatal kita serahakan pada penegak hukum..tapi sebelum kami melanjukan ke penegak hukum..kami bina dulu melalui BKMT (Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat)..”

Hasil wawancara pada tanggal 25 Juli 2013

Dari hasil wawancara dengan bapak Misno menunjukkan bahwa upaya Desa Bandar Khalipah dalam mengatasi perilaku menyimpang, khususnya dengan cara pemberian sanksi - sanksi yang tegas terhadap mereka yang telah berulang kali melakukan tindakan yang menyimpang lebih ditekankan pada sanksi - sanksi yang bersifat formal (hukum pidana).

Sanksi - sanksi yang bersifat sanksi sosial, seperti mengucilkan, mengolok - ngolok mereka yang terlibat dalam tindakan yang menyimpang, sama sekali tidak terliat dilaukan oleh Pemerintah Desa Bandar Khalipah. Melihat kenyataaan itu, maka peneliti bertanya bahwa apakah memang sanksi – sanksi sosial sudah tidak mempan lagi dalam mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja di daerah - daerah pinggiran kota? Menurut penelti walaupun Desa Bandar Khalipah adalah salah satu daearah pinggiran kota (sub urban) yang secara ekonomi, politik dan sosial ciri - ciri masyarakatnya sudah mirip dengan masyarakat di perkotaan, namun menurut peneliti sanksi - sanksi sosial adalah salah satu upaya yang masih tetap efektif dalam mengendalikan perilaku menyimpangoleh warganya.

Menurut peneliti kalaupun sanksi - sanksi sosial seperti, mengolok - olok, dan mengucilkan sudah tidak mampu lagi dalam mengendalikan perilaku

menyimpang di masyarakat yang semakin maju, khususnya dalam hal ini adalah mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja yang ahir - ahir ini menjadi perbincngan banyak orang di perkotaan, yaitu Geng Motor, maka menurut peneliti itu bukan berarti sanksi - sanksi sosial sudah tidak efektif lagi dugunakan dalam mengendalikan perilaku masyarakat agar terhindar dari perilaku yang menyimpang. Sanksi - sanksi sosial seperti, menyuruh menyapu jalanan, mengangkat sampah, menelanjangi di individu yang tertangkap melakukan penyimpangan adalah salah satu tawaran dari peneliti yang kiranya dapat dilakukan dalam mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti Geng Motor.

2. Kontrol Lembaga Kepolisian

Pemberian sanksi hukum sesuai dengan tindakan kriminal yang dilanggar terhadap anggota Geng Motor yang sedang tertangkap tangan melakukan tindakan kriminal merupakan salah satu upaya represif yang dilakukan oleh Kepolisian Sektor Percut Sei Tuan untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, yang salah satu contohnya adalah perilaku Geng Motor. Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara peneliti dengan Kabid Reskrim Percut Sei Tuan yaitu bapak AKP Faidir.

“....Selanjutnya setelah kita melakukan sosialisasi pada masyarakat, sekolah, rumah ibadah dengan menyampaikan sanksi - sanksi hukum kepada anak - anak remaja khususnya pelajar SMA dan STM yang berkitan dengan Geng Motor, maka langkah selanjutnya adalah memberikan sanksi yang tegas kepada mereka yang melanggarnya dan kami tidak akan memberikan toleransi apabila yang bersangkutan berbuat tindakan kriminal adalah anggota Geng Motor. Kami tidak memberikan toleransi dengan alasan bahwa Geng Motor ini adalah penyakit masyarakat yang dengan aksi - aksinya seperti memukuli orang, merampok sepeda

motor maupun merampas barang berharga lainnya, dimana kalau hal ini di biarkan terus menerus maka Geng Motor ini akan berkembang menjadi tradisi baru bagi anak - anak muda sekarang. Walaupun dalam hal ini kami memberikan hukuman yang lebih ringan dengan hukuman orang dewasa yang melakukan tindakan kriminal, artinya bahwa hukumannya separuh lebih ringan dari hukuman orang dewasa dan juga mereka pada saat di pengadilan didampingi oleh KPIA dan BAPAS, dimana seperti saya jelaskan sebelumnya bahwa kebanyakan anggota Geng Motor adalah pelajar karena itu ada yang bahkan didampingi Komnas Perlindungan Anak (KPIA)...” Hasil wawancara di Polsek Percut Sei Tuan, 10 Juni 2013

Hasil wawancara dengan bapak AKP Faidir, sesuai dengan pernyataan yang dikemukan oleh Keontjaraningrat dalam Wahyuni (2004 : 153) yang menyatakan bahwa salah satu upaya dalam mengendalikan perilaku menyimpang adalah dengan memberlakukan hukuman yang merajuk pada sistem hukum yang ada dengan mengenakan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Seorang yang melakukan tindak pidana akan menerima hukuman pidana yaitu dalam bentuk kurungan penjara. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa masyarakat yang hendak menyeleweng dari norma - norma hukum, maka secara tidak langsung seseorang akan menghinrdar dari perbuatan yang menyimpang.

Dari hasil wawancara dengan bapak AKP Faidir dan pernyataan yang dikemukan oleh Keontjaraningrat dalam Wahyuni (2004 : 153) yaitu tentang upaya mengendalikan perilaku menyimpang yang dilakukan dengan pemberian sanksi hukum terhadap mereka yang melanggar suatu norma - norma tertentu, maka peneliti berasumsi bahwa adanya sosialisasi tentang pemberian sanksi hukum terhadap remaja yang melakukan yang menyimpang atau bahkan tindakan pidana, maka secara tidak langsung akan mengurangi kecendrungan anak remaja untuk melakukan tindakan yang menyimpang atau melanggar norma - norma

tertentu. Untuk itu selain adanya sosialisai, penyuluhan, pembinaan terhadap anak remaja, maka sanksi - sanksi hukum formal adalah seseuatu yang harus dilakukaan manakala tindakan kontrol sosial internal, seperti sosialisasi, penyuluhan dan berbagai tindakan lainnya gagal dilakukan dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti perilaku Geng Motor yang kebanyakan anggotanya adalah anak remaja.

Asumsi penulis tersebut sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Prodjodikoro dalam Soedjono (1981 : 91) yang mengatakan bahwa dalam masyarakat yang kompleks, dimana kontrol sosial yang informal dengan cara - cara, seperti mengolok - olok, mungucilkan sudah tidak efektif lagi diterapkan, maka salah satu cara terbaik untuk mengendalikan dan mengawasi perilaku masyarakatnya adalah melalui lembaga - lembaga hukum. Dari teori yang diungkapakan oleh Prodjodikoro tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa untuk mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja, yang salah satu contohnya adalah perilaku Geng Motor yang sangat meresahkan masyarakat yang berada dalam kawasan perkotaan dan kawasan yang pinggiran kota ,seperti Desa Bandar Khalipah benar seperti yang diungkapakan oleh Prodjodikoro yaitu memberlakukan atau memberikan hukuman formal/pidana sesuai dengan tindakan kriminal yang dilakukan, sehingga dengan pemberian sanksi hukum pidana tersebut dapat memberikan efek jera bagi anggota Geng Motor yang sering sekali melakukan tindakan - tindakan yang meresahkan masyarakat. Namun, peneliti berpendapat bahwa yang menjadi permasalahan sekarang ini banyak masyarakat yang berupaya dalam mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja,

seperti Geng Motor tanpa melewati tahap - tahap atau proses kontrol sosial, seperti kontrol preventif, persuasif, represif, coersif. Banyak agen - agen kotrol sosial, seperti: masyarakat, lembaga kepolisian, pemerintah langsung menggunakan kontrol sosial yang berupa sanksi hukum atau tindakan yang berupa kekerasan fisik untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang.

3. Kontrol Lembaga Pendidikan

Sanksi administratif yang diberikan oleh sekolah terhadap siswa yang dianggap telah melanggar peraturan sekolah, seperti misalnya di skor dari sekolah, membuat surat pernyataan diatas materai, sampai terahir dikelurkan (drop out) dari sekolah. Seperti yang diungkapkan oleh wakil kepala sekolah SMK 1 Percut Sei Tuan, bahwa apabila pihak sekolah telah melakukan sosialisasi, pembinaan, pengarahan, tetapi siswa tetap mengulangi tindakan yang menyimpang seperti Geng Motor atau masuk ke dalam keanggotaan Geng Motor, maka tahap selanjutnya akan diberikan sanksi administratif seperti membut surat pernyataan diatas materai. Untuk lebih jelasnya berikut pernyataan bapak Sukirman, saat peneliti melakukan wawancara.

“..kita memberikan sanksi administrasi, karna peraturan kalo kita baca poin per poin maka kita harus mentindak lanjuti..jadi pernyataan di atas materai harus ditanda tangani, pelimpahannya oleh guru BP..gitu kan..kan gini, kalau udah dilakukan pengarahan, pembinaan, tapi toh dia tetap melanggar, maka pernyataan harus tetap diatas segel..setelah pernyataan diatas segel juga tidak di indahkan maka akan ada sanksi yang lebih meningkat lagi...peringatannya bisa sampai empat kali..pertama ditangi oleh wali kelas..dari wali kelas tidak di indahkan maka ke BP, BP tidak di indahkan ke PKS kesiswaan, PKS kesiswaan tidak di indahkan maka akan ke kepala sekolah...tapi sangat jarang sekali kasus - kasus itu di selesaikan sampai ke kepala sekolah, karena kalau udah sampai ke kepala sekolah..itu sifatnya udah ke pemberhentiaan...”

Dari hasil wawanara diengan bapak Sukirman dapat diketahui bahwa, sanksi administratif seperti di skor dari sekolah, membuat surat pernyataan diatas materai, sampai terahir di dikeluarkan (drop out) dari sekolah terhadap siswa yang dianggap telah melanggar peraturan sekolah secara berulang ulang, adalah salah satu upaya yang harus dilakukan oleh suatu lembaga sosialisasi formal, seperti sekolah.

Sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Nasution (2010 : 18) yang menyatakan bahwa kontrol langsung disekolah bersumber pada kepala sekolah dan guru. Merekalah yang menentukan kelakuan yang bagaimana yang diharapkan dari murid - murid. Bila anak - anak melanggar peraturan, guru - guru dapat menggunakan otoritas untuk menindah murid itu, sehingga tidak akan diulanginya lagi. Artinya bahwa, selain karena sekolah merupakan salah satu lembaga dari agen sosialisasi formal yang sangat berperngaruh dalam membentuk karakter seorang anak remaja, sekolah dengan segenap otoritasnya juga mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam membentuk karakter seorang siswanya yang baik, bermoral, beretika, dan berilmu. Karena itu, sekolah sebagai agen sosialisasi yang bertugas dalam membentuk karakter siswa – siswanya, juga memiliki hak untuk memberikan hukuman yang berupa sanksi - sanksi administratif dalam mengawasi dan mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak remaja. Peneliti berasumsi bahwa, dengan memberikan dan memberlakukan sanksi - sanksi administarasi kepada seorang anak sejak dini, maka hal tersebut secara tidak langsung juga akan membentuk

karakter seorang anak yang kedepannya akan patuh dan taat atas segala norma-norma sosial.

Sejalan dengan yang diungkapkan oleh bapak Sukirman, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK 1 Percut Sei Tuan yaitu bapak Drs. Manik, juga menyatakan hal yang sama yaitu apabila seorang pelajar yang telah berulang - ulang kali melanggar suatu peraturan tata tertip sekolah, maka langkah selanjutnya yang dilakukan untuk mengendalikan dan mengatasi perilaku yang tidak diinginkan atau menyimpang pada siswa adalah dengan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi suatu tindakan tertentu yang ditanda tangani oleh siswa yang bersangkutan. Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara peneliti dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK 1 Percut Sei Tuan yaitu bapak Drs. Manik.

“...kalau kita sudah membina, menuntun siswa yang melanggar tata tertib sekolah secara berulang - ulang..tapi masih tetap melanggarnya..maka hal yang kita lakukan adalah membuat surat peringatan dan surat perjanjian untuk tidak mengulangi tindakan tersebut yang diatanda tangani oleh siswa yang bersangkutan..hal ini bisa dilakukan sampai 3 kali dan di saksikan oleh orang tuanya..apabila sudah tiga kali dibuat surat perjanjian, tapi masih tetap melanggar perjanjian tersebut..maka secara terpaksa kita harus mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah ini...”

Hasil wawancara dengan bapak Drs. Manik, pada tanggal 17 Juli 2013

Dari hasil dengan bapak Drs. Manik membuktikan bahwa, kontrol yang dilakukan oleh Sekolah SMK 1 Percut Sei Tuan yang berbentuk pemberian sanksi administratif oleh sekolah terhadap siswa yang dianggap telah melanggar peraturan sekolah, seperti misalnya di skor dari sekolah, membuat surat pernyataan diatas materai, sampai terahir di keluarkan (drop out) dari sekolah,

tidak cukup hanya dilakukan kontrol preventif yang berupa melakukan sosialisasi, pembinaan, pengarahan.

Kontrol sosial represif yang berupa pemberian sanksi - sanksi tertentu, tetap perlu dilakukan. Hal ini dilakukan yaitu dengan tujuan untuk mencegah banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, dimana penliti melihat bahwa sekarang ini banyak sekali anak - anak remaja yang tidak peduli atau bahkan mengabaikan kotrol sosial yang berupa sosialisasi, pembinaan, pengarahan.

Dari hasil penelitian tentang kontrol sosial pemerintah secara repersif, baik itu kontrol yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Bandar Khalipah, Lembaga Kepolisian, Lembaga Pendidikan, maka peneliti berasumsi bahwa untuk mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti perilaku Geng Motor merupakan sesuatu yang tidak mudah. Banyak kalangan masyarakat dan pemerintah beranggapan bahwa, cara yang paling efektif untuk mengendalikan perilaku menyimpang seperti Geng Motor adalah dengan cara memberikan hukuman formal yang seberat - beratnya, hal ini dikarenakan perilaku dari Geng Motor merupakan perilaku yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Ada juga yang beranggapan bahwa, untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang yang sangat meresahakan masyarakat seperti Geng Motor adalah dengan cara tindakan-tindakan kekerasan fisik, seperti; memukuli langsung, mengeroyok, hukuman pidana yang seberat – beratnya. Anggapan yang seperti itu merupakan sesuatu yang sangat umum di kalangan masyarakat, tidak jarang aparat pemerintah yang memiliki peran dalam mengendalikan perilaku menyimpang dikalangan remaja

juga kerap sekali melakukan tindakan hukuman dan tidakan kekerasan fisik. Adanya anggapan seperti itu maka secara tidak langsung masyarakat juga akan mengabaikan hukum - hukum formal yang dibuat oleh pemerintah untuk mengendalikan perilaku menyimpang. Akibatnya banyak kalangan masyarakat kerap kali melakukan main hukum sendiri, seperti mengeroyok, memukuli, atau bahkan tindakan yang dapat membuat oktor perilaku menyimpang kehilangan nyawanya. Itu semua merupakan contoh nyata dikalangan masyarakat kita, yang mungkin menunjukkan kesan bahwa masyarakat sudah tidak percaya sama hukuman yang dibuat pemerintah seperti UU. Tidak terkecuali tindakan seperti mengeroyok, memukuli, atau tindankan menghabisakan nyawa sang aktor perilaku menyimpang juga dilakukan masyarakat kepada perilaku menyimpang seperti Geng Motor. Namun walaupun demikian, fenomena dilapangan menunjukkan bahwa perilaku menyimpang seperti Geng Motor masih tetap saja ada atau bahkan bertambah banyak.

Melihat fenomeman tersebut maka peneliti berasumsi bahwa untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti Geng Motor tidak perlu dilakukan dengan tindakan yang berupa kekerasan fisik. Sanksi sosial seperti mengucilkan dari masayarakat, menelanjangi aktor perilaku menyimpang di jalanan, disuurh menyapu jalanan, mengeluarkan dari sekolah (drop out) dan sangsi sosial lainnya merupakan salah satu langkah yang efektif dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja.

Asumsi penulis tersebut sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat dalam Wahyuni (2004 : 153) yang mengatakan bahwa, untuk

mengendalikan perilaku menyimpang, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara mencela dan mengembangkan jiwa rasa malu dalam masyarakat yang melanggar nilai - nilai dan norma sosial, sehingga dengan demikian akan mempengaruhi jiwa seseorang untuk merubah perilakunya sendiri. 4.5.4. Kontrol Sosial Pemerintah Secara Coersif

Merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh agen kontrol sosial, seperti Pemerintah Desa Bandar Khalipah, lembaga kepolisian, lembaga pendidikan, yaitu sebagai upaya yang bertuan untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, yaitu dengan cara memberlakukan tindakan kekerasan fisik dan tindakan yang berupa ancaman, seperti memukul, menampar, mengeroyok dan berbagai tindakan coersif lainnya. Adapun bentuk kontrol sosial secara coersif yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengendalikan perilaku menyimpang seperti Geng Motor adalah sebagai berikut : 1. Kontrol Sosial Pemerintah Desa Bandar Khalipah

Untuk mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti perilaku anggota Geng Motor yang mayoritas anggotanya adalah remaja, maka Pemerintah Desa Bandar Khaliah mengatakan bahwa, untuk mengendalikan banyakanya perilaku menyimpang tersebut tidak dilakukan dengan cara – cara seperti tindakan kekerasan fisik, pemukulan, dan berbagai tindakan coersif lainnya, namun tindakan yang dilakukan lebih detekankan oleh Pemerintah Desa Bandar Khalipah adalah dengan melakukan sosialisasi dan himbauan saja. Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara peneliti dengan Kepala Desa Bandar Khalipah yaitu bapak Misno.

“kalau menghukum remaja kita tidak punya hak untuk menghukum..hanya membina..tapi kalau memang itu benar – benar fatal kami akan serahkan pada penegak hukum..namun kami tidak pernah melanjutkannya ke poltabes atau polsekta...kami bina dulu melalui BKPM (Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat) yang ada di Desa Bandar Khalipah..yang juga anggotanya mempunyai satuan – satuan polisi masyarakat yang terdiri dari 150 anggota..kami bebankan pada mereka untuk membina masyarakat khususnya remaja..karena polmas yang ada disini mencangkup ke dusun- dusun..dengan pakaian dinas yang telah ada..”

Hasil wawancara pada tanggal 25Juli 2013

Dari hasil wawancara dengan bapak Misno dapat diketahui bahwa, upaya Pemerintah Desa Bandar Khalipah dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti perilaku Geng Motor tidak dilakukan dengan tindakan kekerasan fisik. Pemerintah Desa Bandar Khalipah mengatakan bahwa, dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja lebih ditekankan pada upaya sosialisasi dan pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Bandar Khalipah itu sendiri dan juga melalui BKMP (Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat).

Dari hasil wawancara dengan bapak Misno maka dapat dianalisis bahwa Pemerintah Desa bandar Khalipah menyadari bahwa dalam mengendalikan banyaknya perilaku menyimpang dikalangan remaja, seperti Geng Motor harus dikendalikan dengan upaya – upaya perventif dan tindakan persuasif.

2. Kontrol Sosial Lembaga Pendidikan

Sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh 2 orang kepala keluarga yang telah peneliti wawancai yaitu bapak Tarmiji dan Samsudi, hal yang sama juga diugkapkan oleh Wakil Kepala Sekolah SMK 1 Percut Sei Tuan, yaitu bapak Sukirman juga menyatakan bahwa dengan memberlakukan tindakan kekerasan

seperti memukul, menampar terhadap siswa, maka hal itu secara tidak langsung juga membentuk siswa yang lebih bandel kedepannya. bapak Sukirman menyatakan bahwa SMK I Percut Sei Tuan tidak pernah melakukan tindakan kekerasan yang dilakukan untuk mengendalikan dan mengatasi perilaku menyimpang pada siswa - siswanya. Untuk lebih jelasnya berikut hasil wawancara peneliti saat melakukan wawancara dengan bapak Sukirman.

“...oh kalo secara kekerasan, paksaan kita sudah tidak bisa melakukan lagi...kita lebih menyentuh pada prasaan emosional yang didasari oleh kesadaran..karena kan dipenilaian itu ada aspek kognitif, aspek afektif..kita masuk ke ranah afektifnya..supaya adek - adekmu itu bisa lebih menyadari, lebih menyerap, menyadari bahwa apa yang dilakukan ketika dia lakukan pada situasi terjepit itu..dia segera kembali ke yang lebih positif...teknisnya ya kita secara global..umum terpadu..kalo ada yang melakukan pelanggaran baru lakukan secara individu atau prorangan..”

Hasi wawancara pada tanggal 2013 dengan bapak Sukirman

Hasil wawancara dengan bapak Sukirman membuktikan bahwa, tindakan kekerasan fisik seperti memukul, menampar, dan berbagai tindakan kekerasan lainnya, yang dilakukan untuk mengendalikan perilaku yang menyimpang pada anak remaja adalah sesuatu yang harus dihindari dan tidak perlu dilakukan. Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Soekanto (1990 : 18 ) yang mengatakan bahwa, mempersiapkan masa depan anak dengan ketertiban belaka, maka hal ini akan menimbulkan pembrontakan pada anak tersebut. Sejalan dengan teori yang di ungkapakan Soekanto, hasil wawancara dengan bapak Sukirman juga sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Wahyuni (2004) yang mengatakan bahwa, pengendalian dengan cara kekerasan fisik atau dengan ancaman biasanya akan menimbulkan korban dendam.