BAB II: METODE PENELITIAN
GAMBARAN UMUM PERAN DAYAH DI ACEH
C. Kurikulum Dayah
Kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap pembentukan model pendidikan, karena tanpa adanya kurikulum sulit rasanya bagi para perencana pendidikan mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakannya. Mengingat pentingnya kurikulum, maka kurikulum perlu dipahami dengan baik oleh semua pelaksana pendidikan.50 Kurikulum dengan demikian memegang peranan kunci dalam pendidikan, sebab kurikulum berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya akan menentukan
49Nuruzzahri, “Latar Belakang,…, (2008), h. 186-187.
50Suyanto Jihad Hisyam, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia
bermacam-macam kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum juga menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan, baik dalam lingkup kelas, daerah, dan wilayah pelaksanaan pendidikan.
Seiring perkembangan tatanan masyarakat yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tuntutan adanya kurikulum yang sesuai dengan perkembagan zaman mejadi relevan. Pemahaman yang benar tentang kurikulum ini menjadi penting, karena kurikulum ikut menentukan arah pembelajaran yang terkait dengan proses maupun substansinya. Jika kurikulum hanya dipahami dalam arti yang sempit, jangan harap kalau pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.51
Dewey mengatakan bahwa ada tiga butir pokok yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sebuah kurikulum di segala tingkat. Pertama, hakikat dan kebutuhan siswa-siswi. Kedua, hakikat dan kebutuhan masyarakat di mana siswa-siswi merupakan bagian dari masyarakat. Ketiga, masalah pokok yang digumuli siswa-siswi untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang matang dan mampu menjalin hubungan dengan masyarakat.52 Hal yang hampir sama juga dikemukan oleh Freire, bahwa setiap muatan kurikulum harus memperhatikan realitas kongkrit peserta didik berdasarkan prinsip-prinsip yang dinamis, bukan prinsip-prinsip statis seperti dalam “pendidikan
sistem bank”. Penerapan kurikulum yang benar akan menumbuhkan
51Suyanto Jihad Hisyam, Refleksi dan,…, (2000), h. 60.
52John Dewey, Philosophy of Education (Littlefeld Adams & co, New Jersey,
kesadaran kritis dan mampu mendorong cara berpikir siswa dalam memandang realitas diri dan masyarakatnya.53
Penerapan kurikulum yang langsung dapat menyentuh inti dari penyelenggaraan pendidikan sampai sekarang masih menjadi problem dari sejumlah lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan
dayah, karena banyak kurikulum yang kurang memperhatikan muatan
lokal,54 karakteristik, kebutuhan dan perkembangan suatu daerah.55 Agar efektif dan efisien, maka kurikulum harus diikuti dengan sistem evaluasi agar dalam penyelenggaraan pendidikan akan melahirkan keterbukaan dinamis dalam masyarakat.
Dalam konteks kurikulum dayah, idealnya segala persoalan keislaman yang berkembang seharusnya dapat terjawab dengan cepat. Apalagi dayah dalam perkembangannya ke depan diharapkan menjadi lembaga yang dapat mengayomi masyarakat dalam hal spiritual.56 Harapan masyarakat yang tinggi terhadap lembaga dayah untuk dapat menjawab segala persoalan kekinian secara cepat tidak dapat dijawab dengan baik oleh lembaga-lembaga dayah. Hal ini terjadi karena kurikulum dayah saat ini lebih berorientasi pada ilmu fiqh semata (fiqh
oriented). Diutamakan fiqh dalam kurikulum dayah karena ilmu ini
dianggap paling banyak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam
53Paulo Freire, Education for Critical Consiousness (London: Sheed and Ward, 1979), h. ix.
54Y.B. Mangunwijaya, Impian dari Yogyakarta (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 98.
55
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik (Rosdakarya, Bandung, 2001), h. 201.
56Usman Husen, “Pengembangan Kurikulum di Dayah Sebuah Konsep Untuk Menjawab Tantangan Zaman”, dalam Makalah Seminar, Mendesing Dayah 2050:
fiqh masalah-masalah yang dibahas berkenaan dengan ibadah ritual, seperti thaharah, shalat, puasa dan haji. Topik-topik ini dianggap paling sentral bagi kaum muslim, sebab aktivitas-aktivitas tesebut merupakan jalan bagi seorang hamba untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Kemudian baru beralih ke persoalan-persoalan lain seperti muamalah, munakahat, kehidupan berumah tangga, kewarisan dan jinayat, jihad, perang, perdamaian, kenegaraan termasuk dalam kajian fiqh. Dalam dunia dayah, kajian tentang fiqh berarti kajian tentang kitab-kitab fiqh klasik (fiqh mazhab Syafi’i) yang ditulis oleh ulama abad pertengahan. Isi dari kitab tersebut dianggap oleh mereka sudah sangat memadai sehingga sulit untuk menerima hal-hal lain di luar fiqh yang mereka pahami termasuk pandangan hukum dari mazhab lain selain mazhab Syafi’i.
Beberapa ilmu lain yang mendapat perhatian mereka adalah Bahasa Arab, mantiq, dan ushul fiqh. Bagi mereka menguasai ilmu-ilmu tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena akan mengantarkan mereka unggul dari santri-santri lain. Meskipun demikian ada beberapa pelajaran yang ditolak untuk dipelajari di dayah, seperti filsafat, matematika, fisika, ekonomi, serta ilmu-ilmu sosial maupun ilmu eksat. Ilmu-ilmu ini sama sekali tidak tersentuh oleh kurikulum dayah. Padahal mempelajari ilmu-ilmu tersebut akan membentuk sikap berpikir kritis para santri, namun dalam dunia dayah ilmu-ilmu tersebut dianggap berbahaya karena dapat merusak tradisi suci para santri. Sikap kritis akan membawa pada upaya untuk menggugat pandangan-pandangan teungku klasik, dan hal ini tidak bisa diterima oleh dayah.
Dengan demikian ilmu yang dikembangkan di dayah adalah ilmu-ilmu yang sifatnya normatif. Bagi mereka semua ilmu-ilmu sudah jadi, kita tinggal mempelajari dan mengamalkan, dan semua ilmu sudah terkumpul dalam karangan-karangan para teungku terdahulu. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk mengkritisi lagi sebab semuanya sudah lengkap.57
Pola-pola yang diterapkan oleh dayah seperti tergambarkan di atas akan membuat dayah semakin ditinggalkan oleh masyarakat, karena dianggap kaku dan tidak melakukan terobosan-terobosan baru untuk tetap eksis oleh ketatnya persaingan saat ini. Untuk mempertahankan eksistensi, dayah harus melakukan terobosan-terobosan, salah satunya melalui modernisasi kurikulum. Pembaharuan kurikulum dayah saat ini merupakan sesuatu yang sangat mendesak dilakukan, mengingat ilmu dari waktu ke waktu semakin berkembang. Pembaharuan kurikulum harus diikuti oleh pembaharuan metode belajar, yaitu dari tradisi lisan ke tradisi tulisan sehingga daya eksplorasinya akan lebih dalam terlihat dengan cara mendalami kitab-kitab kontemporer lewat karya-karya teungku kontemporer.58
Dayah merupakan indentitas bagi masyarakat Aceh, melalui dayah dan teungkunya Aceh menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara di Asia Tenggara. Agar dayah memiliki nilai jual yang tinggi, maka dayah harus berinovasi agar apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang belajar pada dayah dapat
57Zulkarnaini Abdullah, “Fondasi Metodologi dalam Pendidikan Dayah”, dalam
makalah Seminar, Mendesing Dayah 2050: Mencari Format Dayah yang Tahan Zaman (Banda Aceh 26 Mei 2012 ), h. 89-93.
58
terpenuhi. Untuk itu, salah satu inti pokoh yang harus selalu diperhatikan adalah muatan kurikulum dan metode pembelajaran dayah.
D. Peran Dayah Dari Masa Ke Masa