BAB II: METODE PENELITIAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Latar Belakang Masalah
Peran teungku dan gerakan organisasi yang didirikan oleh
teungku di Aceh sampai hari ini masih menarik untuk diteliti,
meskipun pemikiran mereka saat ini tidak ada yang benar-benar baru bagi masyarakat, namun karena konsistensi mereka dalam menjalankan peran dinamisnya kepada masyarakat menyebabkan teungku selalu diistimewakan oleh masyarakat Aceh.1 Penghormatan istimewa ini merupakan proses wajar mengingat dalam lintas sejarahnya teungku melalui pemikiran-pemikiran konstruktif masih mampu mengarahkan masyarakat kepada kebaikan dan kebenaran. Teungku sebagai pengembang risalah kenabian setidaknya menyiratkan pesan bahwa posisi mereka bukanlah posisi biasa, sehingga kehadirannya dibutuhkan masyarakat. Secara sosial teungku sebagai guree (guru) yang
“dilebihkan” karena memiliki ilmu agama yang tinggi. Dalam kaitan ini berkembang ungkapan dalam masyarakat Aceh “menye han tapateh guree akhe meutumee apuy nuraka (apabila tidak meneruti petunjuk/nasehat guru pada akhirnya akan masuk neraka).
1
Rusdi Sufi, “Keagamaan dan Kepercayaan di Aceh Pada Abad ke 19 dan ke 20”, dalam, Sunaryo Purwo Sumitro (Penyunting), Dari Samudera Pasai Ke
Yogyakarta Persembahan Kepada Teuku Ibrahim Alfian (Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Sinergi Press, tt), h. 206.
Penghormatan terhadap teungku bukan saja dilakukan oleh masyarakat biasa, pada masa jayanya kerajaan-kerajaan Aceh terdahulu, sultan dan sultanah telah menempatkan teungku pada tempat terhormat serta memberikan sejumlah jabatan penting kepada mereka. Beberapa dari mereka yang mendapatkan tempat teristimewa tersebut seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, (pengembang tarekat wujudiyah).2 Nuruddin Ar-Raniry (pengembang tarekat
rifa’iyyah3 dan qadiriyyah),4 serta Abdurrauf as-Singkili (pengembang
2Wujudiyah dihubungkan dengan paham keagamaan yang dibangun oleh Ibn
‘Arabi yang menyatakan bahwa sesunggunya hanya ada satu wujud (wahdatul wujud),
yaitu wujud sejati, yaitu Allah (al-haqq). Sementara alam tidak lain dari sekedar menifestasi (tajalliat) dari wujud sejati tersebut, yang pada dirinya tidak memiliki wujud sejati seperti Tuhan. Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 61. Syarifuddin, Wujudiyah Hamzah Fansuri dalam Perdebatan Para Sarjana
Kajian Hermeuneutik Atas Karya-karya Sastra Hamzah Fansuri (Jakarta: Almahira,
2011). Pendirian Nuruddin Ar-Raniry terhadap mistik Hamzah Fansuri dengan menuduhnya sebagai pengembang ajaran wujudiyah sesat telah menarik perhatian banyak sarjana. Ahmad Daudy, Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin Ar-Raniry (Jakarta: Rajawali Press, 1983), h. 201. S. Ramilus, Syekh Hamzah Fansuri Ulama Besar
dan Penyair Aceh Abd ke 17 (Subulussalam, 1993), h. 8-27.
3Tarekat Rifa’iyyah didirikan oleh Ahmad ibn Ali Abdul Abbas al-Rifa’iy yang meninggal tahun 1183 M di Wasit, Irak. Rifa’iyyahtarekat kedua sesudah tarekat
Qadirriyah, penggemar tarekat ini gemar melakukan perbuatan yang aneh-aneh, seperti
menelan pecahan kaca, bara api, menusuk badan dengan pedang atau pisau (berdabus) pada saat mereka tenggelam dalam berzikir. Kamil Mustafa Syaibani, Al-Silah baina
at-Tasauf wa’l-Tasyayyu, Juz 2 (Bagdad, 1964), h. 139. Muliadi Kurdi, Syeikh Nuruddin
Ar-Raniry Ulama Aceh Penyanggah Paham Wujudiyah (Banda Aceh: Naskah Aceh, 2014),
h. 18.
4Qadirriyah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir al Jilani (wafat 561
H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jilani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Tarekat Qadiriyah ini terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia.Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke-15 M. Di India misalnya, baru berkembang setelah Syeikh
tarekat syattariah).5 Selain teungku-teungku tersebut di atas, beberapa
teungku lain juga mendapat tempat terhormat karena kegigihan mereka
dalam membela agama dan negara dari agresi kolonial Belanda, mereka terdiri dari Tgk. Chik Di Tiro, Tgk. Awe Geutah, Tgk. Chik Pante Geulima, Tgk. Chik Pante Kulu, Tgk. Chik Kuta Karang, Tgk. Fakinah, Tgk. Tapa, dan sejumlah teungku lainnya.6
Muhammad Ghawsh (w. 1517 M) juga mengaku keturunan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qadiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Ahmad Daudy, Syekh Nuruddin Ar-Raniry (Banda Aceh: Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) IAIN Ar-Raniry, 2006).
5
Tarekat Syattariah didirikan oleh Abdallah Syattar yang meninggal pada tahun 1415 atau 1428 M. Tarekat ini dimasukkan oleh Syeikh Abdurrauf as-Singkili ke Aceh pada abad ke 17, setelah mendapat izin dari gurunya Mullah Ibrahim dari Madinah.
Syattariah salah satu tarekat sufi, tarekat ini bertujuan membangkitkan kesadaran hati
lewat berzikir menuju Allah, tetapi tidak harus fana. Penganut tarekat ini meyakini bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak makhluk, tetapi jalan utama yang harus ditempuh pada tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Dibandingkan dengan tarekat lain yang berkembang dalam dunia sufi, Syattariah termasuk yang mudah dipahami dan dipraktekan, sehingga banyak masyarakat muslim nusantara menggemarinya. Salah satu yang menyebabkan tarekat ini digemari karena masuknya nilai-nilai fiqih ke dalam tarekat.
Tarekat Syattariah dalam perkembangannya di Aceh dan nusantara mengalami dua model pemikiran. Pertama paham wujudiyah (wahdatul wujud) sebagai ajaran Syeikh Hamzah Fansuri, dan Syamsuddin As-Sumatrani, serta yang kedua paham Syuhudiah
(wahdatussyuhud) ajaran yang dibawakan oleh Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Dalam
kondisi demikian jalan tengahnya adalah tarekat Syattariah sebagai penyejuk bagi perbedaan yang sangat tajam di antara kedua aliran tersebut. Oman Fathurahman, Tanbih
al-Masyi, Menyoal Wahdatul Wujud, Kasus Abdurrauf Singkel Abad 17 (Bandung:
Mizan, 1999), h. 54.
Untuk saat ini tarekat syattariah masih berkembang pesat di daerah Pariaman Sumatera Barat, sementara di Aceh sendiri tarekat syattariah tidak begitu berkembang, yang berkembang di Aceh adalah tarekat naqsyabandiah. Damanhuri, Akhlak Persepktif
Pemikiran Tasauf Abdurrauf As-Singkili (Banda Aceh: Rijal Publisher, 2011), h. 59. 6Rusdi Sufi, dkk, Peran Tokoh Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan
Peran besar mereka tidak terbatas dalam memberikan fatwa-fatwa agama di saat keadaan negara aman, dalam keadaan perang pun fatwa-fatwa teungku selalu dibutuhkan oleh masyarakat Aceh. Pada masa peperangan kecerdasan teungku tidak saja diperlihatkan dalam mengatur taktik siasat perang, mereka juga menciptakan berbagai media berupa syair-syair, hikayat-hikayat maupun melalui dakwah agama dalam menggerakkan massa rakyat untuk berperang.7 Menurut Alfian, dalam bingkai sejarah bahwa perang Aceh itu sesungguhnya adalah perang Belanda di Aceh yang dianggap oleh sebagian ahli sebagai perang terbesar yang pernah dilakukan oleh Belanda, hal ini didasari dari banyaknya biaya yang dikeluarkan serta banyaknya korban berjatuhan di kedua belah pihak.8Bagi rakyat Aceh, peperangan dengan Belanda meskipun berlangsung sangat lama, namun mereka merasa tidak pernah takluk. Hal itu terbukti dari kerusuhan-kerusuhan berdarah dalam skala kecil sampai kedatangan Jepang 1942. Perlawanan yang gigih dan berkepanjangan itu bukan saja telah
7
Hikayat prang sabil sebuah bentuk sastra tertulis yang dibacakan pada malam hari, dan hikayat ini merupakan salah satu hikayat yang mampu membakar semangat sebelum peperangan di mulai. Inilah kekuatan perang Aceh yang tidak diduga oleh
kaphe-kaphe (kafir-kafir) Belanda. Melalui hikayat inilah heroisme rakyat Aceh
benar-benar membara, apalagi dalam hikayat tersebut menyebutkan bahwa bagi siapa saja yang mati syahid dalam melawan kaphee akan mendapat bidadari di syurga. T. Ibrahim Alfian,
Perang Kolonial Belanda di Aceh (Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh,
1997), h. 36. Anita Iskandariata, Makna Hikayat Prang Sabil di Aceh (Banda Aceh: Ar-Raniry Press Bekerjasama dengan AK. Group Yogyakarta, 2007), h. 4-5.
8
Perang antara Belanda dan Aceh terjadi dalam empat periode, periode Pertama 1873, Kedua 1874-1880, Ketiga 1884-1896 dan Keempat 1898-1942, Haji Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999), h. 176-198.
menghasilkan sejumlah pahlawan nasional, tetapi juga telah mendapat pengakuan internasional tentang heroisme yang luar biasa dari daerah ini. Heroisme yang patut dibanggakan dan disebarluaskan yang kemudian menjadi nilai dari bangsa ini, adalah nilai-nilai ajaran Islam yang berhasil ditanamkan oleh teungku di hati sanubari rakyat Aceh.9
Besarnya peran teungku diakui sendiri oleh Snouck Hurgronje
“bahwa dalam arena politik sultan, hulubalang (bangsawan) dan ulama (teungku) pada waktu perang Aceh berkecamuk, mereka memimpin
rakyat secara berurutan. Mula-mula sultan dengan para bangsawannya, setelah sultan lemah dan tak dapat diharapkan tampillah
hulubalang-hulubalang, tetapi mereka tidak dapat mempersatukan rakyat dan
menjadi tidak konsisten, sehingga kesempatan untuk memimpin jatuh ke tangan teungku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Mereka berhasil mengobarkan semangat rakyat untuk berperang sabil dengan ajaran-ajaran agama, sehingga rakyat mau berjuang sampai mati melawan Belanda yang dianggap kaphee (kafir). Dengan demikian di bawah pimpinan teungku perang Aceh diperpanjang.10
Di Aceh, teungku tidak saja berperan secara individual. Sebelum kemerdekaan, teungku sudah mendirikan organisasi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) sebagai alat perjuangan serta tempat
9
Alfian, Arus Nilai Baru Masyarakat Aceh dalam Konsep Pembangunan
Berwawasan Nusantara (Jakarta: Gramedia, 1989), h. 35-36.
10P.J. Suwarno, “Ulama di Masyarakat Aceh”, dalam, Pergeseran Kekuasaan
Ulama Politik dalam Masyarakat Aceh (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2003), h.
bernaungnya para teungku dalam melakukan reformasi sistem pendidikan serta membangkitkan gerakan sosial, politik dan keagamaan di Aceh.11 PUSA sejak didirikan hingga organisasi ini bubar sudah mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Aceh. Cita-cita penegakan syariat Islam tersebut disampaikan langsung oleh Tgk. M. Daud Beureuh sebagai ketua PUSA sekaligus Gubernur militer untuk Aceh, Langkat dan Tanah Karo di hadapan Presiden Soekarno saat beliau datang ke Aceh pada 1947, dan Soekarno pun berjanji akan memberikan otonomi khusus kepada Aceh, dengan adanya otonomi khusus maka rakyat Aceh dapat menjalankan syarat Islam sebagaimana yang diinginkannya.12
Keinginan PUSA untuk menegakkan syariat Islam secara konstitusi tidak terwujud karena pasang surutnya politik negara saat itu.Tgk. M. Daud Beureueh yang kecewa terhadap janji-janji pemerintah pusat pada 1953 melakukan pemberontakan yang dikenal dengan pemberontakan DI/TII. Pemberontakan ini memiliki alasan logis, selain Provinsi Aceh tidak diberikan otonomi khusus untuk melaksanakan syariat Islam, pemerintah pusat juga ikut serta membubarkan Provinsi Aceh yang ditetapkan sebagai provinsi pada 17 Desember 1949 ke Provinsi Sumatera Utara pada 14 Agustus 1950. Untuk meredam pemberontakan, pemerintah melalui keputusan
11
Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam
Aceh (Jakarta: Grafiti, 1990), h. 9-10.
12Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 342-343.
Perdana Menteri Republik Indonesia No.1Missi/1959 tanggal 26 Mei 1959 memberikan status keistimewaan dengan otonomi seluas-luasnya dibidang keagamaan, pendidikan dan peradatat.13Meskipun Aceh telah diberikan status keistimewaan namun pentingnya melaksanakan syariat Islam tidak pernah didapatkan.14
Pada era Orde Baru peran aktif penegakan syariat Islam tetap diupayakan oleh teungku-teungku melalui jalur organisasi. Organisasi yang menjadi kenderaan mereka adalah MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama). Kehadiran MPU pada awal pembentukannya hanya sekedar untuk menampung aspirasi teungku-teungku bagi kemajuan Aceh, kemudian menjadi organisasi yang begitu berarti bagi pemerintah Aceh, sehingga pada 1966 Pemda Aceh mengeluarkan Perda No. 1 Tentang Pedoman Dasar Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU).15 Dengan lahirnya Perda ini, maka pemerintah telah menetapkan MPU sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menetapkan fatwa-fatwa yang menjadi salah satu pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan pembinaan masyarakat.
13Ditetapkan dengan Keppres RI No. 469/M/1950. Dalam H.M. Thamrin Z, dan Edy Mulyana, Leburnya Provinsi Aceh (Banda Aceh: Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2008), h. 121.
14
M. Jasin, “Pesan dan Harapan”, dalam, T. Alibsjah Talsya, 10 Tahun Daerah
Istimewa Aceh (Banda Aceh: Pustaka Putroe Tjanden, 1969), h. 13.
15Hamdiah A. Latif, “Persatuan Ulama Seluruh Aceh Its Constribution to Educational Reform in Aceh”,Thesis, (Montreal Canada: McGill University, 1992), h. 68.
Kehadiran MPU ternyata tidak dapat memuaskan semua teungku dayah yang ada di Aceh, mereka merasa bahwa peran sosial dan peran politiknya tidak semuanya dapat tersalurkan melalui MPU. Untuk itu, mereka berupaya mendirikan organisasi baru dengan harapan seluruh aspirasi teungku dayah dapat terakomodir dalam organisasi yang mereka bentuk, organisasi tersebut adalah Persatuan Dayah Inshafuddin. Organisasi Inshafuddin setelah terbentuk menjadi organisasi baru yang berpengaruh luas dalam masyarakat, karena mereka yang bergabung didalamnya adalah pemimpin-pimpinan dayah dan alumni dayah yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta di Aceh. Dengan komposisi dan kekuatan yang dimiliki oleh Inshafuddin, maka organisasi ini kemudian menjadi mitra penting pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial dan agama di Aceh.
Seiring waktu berjalan dan kebutuhan terhadap peran teungku semakin besar, kemudian ditambah oleh komplektisitas permasalahan yang dihadapi masyarakat di tengah suasana konflik di Aceh yang tidak kunjung reda. Beberapa teungku berusaha menghimpun kekuatan baru untuk mendirikan organisasi yang siap membantu masyarakat dan memperjuangkan tegaknya damai di Aceh. Organisasi yang pertama sekali lahir saat itu adalah RTA (Rabithah Thaliban Aceh).
Beberapa bulan setelah RTA (Rabithah Thaliban Aceh) berhasil didirikan oleh aneuk dayah (santri dayah), beberapa teungku pimpinan dayah menggagas berdirinya organisasi HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh). Sebagai organisasi baru, HUDA begitu intens membantu
masyarakat dari intimidasi TNI/Polri dan GAM serta mengupayakan terwujudnya perdamaian di Aceh, sehingga dalam waktu singkat organisasi HUDA telah mendapat dukungan masyarakat secara luas di Aceh.
Setelah dua organisasi (RTA dan HUDA) lahir, pihak kombantan GAM juga tidak tinggal diam dalam mendirikan sayap organisasi keulamaannya, mereka berasumsi bahwa organisasi ulama yang ada, seperti MPU, Inshafuddin, RTA dan HUDA adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat di Aceh. Untuk mewujudkan suatu organisasi baru, mereka akhirnya mendirikan MUNA (Majelis Ulama Nanggroe Aceh). Kehadiran organisasi-organisasi tersebut di atas meskipun dilatarbelakangi oleh berbagai kebutuhan dan kepentingan, namun dalam realitasnya mereka menjadi organisasi yang begitu penting pasca pemerintah memberikan UU No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.Karena dalam UU No. 44 ini teungku telah mendapat peran khusus dalam menentukan kebijakan daerah, dan peran ini tidak pernah diberikan secara konstitusi oleh pemerintah RI pada 1959.