• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Vinaya bagi para bhikkhu/ni

Dalam dokumen Materi Ag. Buddha Utk PT (Halaman 57-65)

5. MANFAAT PELAKSANAAN SILA DAN VINAYA 1. Manfaat Sila bagi umat perumah tangga

5.2. Manfaat Vinaya bagi para bhikkhu/ni

Sila bagi para bhikkhu yang lebih dikenal dengan Vinaya, ditetapkan oleh Buddha adalah bertujuan untuk:

a. Kebaikan Sangha (tanpa vinaya, eksistensi Sangha tidak akan bertahan lama).

b. Kesejahteraan Sangha (sehingga bhikkhu akan sedikit mendapat rintangan dan hidup damai)

c. Mengendalikan para bhikkhu yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sangha)

d. Kesejahteraan bhikkhu yang berkelakuan baik (karena pengalaman sila dengan baik menyebabkan kebahagiaan hidup sekarang ini)

e. Melindungi diri atau melenyapkan kekotoran batin (kilesa) yang telah ada (karena banyak kesulitan dapat diatasi dengan perilaku yang baik)

f. Mencegah timbulnya kilesa yang baru (kilesa tidak akan timbul pada orang yang memiliki sila yang baik)

g. Memuaskan mereka yang belum puas dengan Dhamma (karena orang yang belum mengenal Dhamma akan puas dengan tingkah laku bhikkhu yang baik)

h. Menambah keyakinan bagi mereka yang telah mendengar Dhamma (karena orang yang telah mengenal Dhamma akan bertambah kuat keyakinannya melihat bhikkhu yang baik)

i. Menegakkan Dhamma yang benar (Dhamma akan bertahan lama bila vinaya dilaksanakan oleh para bhikkhu)

j. Manfaat vinaya itu sendiri (vinaya dapat memberi manfaat kepada makhluk-makhluk terbebas dari samsara)

Dalam kitab Anguttara Nikaya terdapat dua tujuan lain:

“(I) untuk memperoleh sokongan gharavasa (umat perumah tangga), (II) untuk memusnahkan kelompok bhikkhu yang beritikad buruk”.

Butir pertama merupakan hal yang penting untuk Sangha dan kedua memperlihatkan bagaimana vinaya telah melindungi Sangha.

Dhamma telah terpelihara sampai sekarang berkat adanya Sangha, dan Sangha ini terpelihara karena adanya vinaya yang ditaati. Jelaslah, bahwa vinaya memelihara Dharma bagaikan seutas benang mengikat bunga-bunga menjadi satu, sehingga tidak mudah diceraiberaikan oleh angin.

Hubungan Dhamma dan vinaya sangat erat karena, mengajarkan Dhamma tanpa vinaya, sama artinya dengan mengajarkan jalan tanpa menunjukkan bagaimana cara memulai dan menempuhnya. Sebaliknya, vinaya tanpa Dhamma hanya merupakan peraturan-peraturan kosong yang sedikit manfaatnya. Hal ini berlaku bagi bhikkhu maupun umat perumah tangga.

Pahala melaksanakan sila secara umum dimulai dari yang paling mudah hingga tertinggi secara urut adalah sebagai berikut: Siapa pun yang dapat melaksanakan sila dengan baik akan memperoleh:

a. Bebas dari “penyesalan”

b. Bebas dari penyesalan dapat menimbulkan “kegembiraan”. c. Kegembiraan dapat menimbulkan “Kegiuran” (piti)

d. Kegiuran dapat menimbulkan “ketenangan” (passad)

e. Ketenangan akan menimbulkan “pemusatan pikiran” (ekaggata)

f. Pemusatan pikiran akan menimbulkan “pengetahuan mengenai kesunyataan” (anuloma nana)

g. Pengetahuan mengenai kesunyataan akan mendorong untuk “mencari kebenaran” (muncitukannyata nana)

h. Usaha untuk mencari kebebasan akan mendapatkan “Pengetahuan tentang kebebasan” (Nibbana nana).

i. Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang kepada “kebebasan” (Nibbana/Nirvana).

5.1.1.1.1.1.1. Pancasila dan Pancadharma. 6.1. Pancasila

Pancasila adalah lima peraturan yang seyogyanya dilaksanakan dengan baik oleh umat Buddha yang melaksanakan hidup berumah tangga. Terdiri dari:

5.1. Panatipata Veramani sikkhapadam sammadiyami, yang artinya adalah: Bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Yang termasuk dalam sila pertama ini harus kita hindari adalah:

- membunuh manusia dan hewan - menyiksa manusia dan binatang

- menyakiti (jasmani) manusia dan hewan.

Karena setiap makhluk hidup sangat menghargai hidupnya dan hidup dari yang mereka cintai, maka membunuh mereka atau mengancam kehidupan mereka adalah salah satu dari yang terburuk yang dapat dilakukan seorang padanya. Pembunuhan melibatkan kekerasan, ketokohan dan kesakitan pada diri korban, dan akan memperkuat kecendrungan kekerasan, kebencian dan hati tak berbelaskasih pada pelakunya. Bila kita menjaga perasaan orang lain, kita tidak akan membunuh atau menyebabkan kesakitan pada mereka seperti halnya kita tidak lakukan pada diri sendiri.

Semua gemetar pada kekerasan, semua takut pada kematian, tempatkan dirimu pada tempat orang lain. Oleh karenanya jangan membunuh ataupun memyebabkan mereka terbunuh. Semua gemetar pada kekerasan, semua memghargai hidup. Tempatkan dirimu pada tempat orang lain, oleh karenanya jangan membunuh ataupun menyebabkan mereka terbunuh. ( Dhammapada 129-130 )

Dan bila kita ingin lebih mengembangkan kasih sayang, sedemikian kuat dan luasnya, seperti semestinya, maka adalah masuk akal bahwa kita juga hendaknya menghindari pembunuhan makhluk apapun, tidak hanya manusia.

Dari pengertian di atas, kemudian timbul dalam diri kita; “Bagaimanakah dengan orang-orang yang pekerjaannya sebagai penjagal hewan dan nelayan yang hampir tiap hari melakukan pembunuhan hewan?” Kita tahu bahwa tingkat kesadaran, pengertian dan pengetahuan tentang kebenaran yang sejati bagi setiap manusia tidak sama. Jadi tidak perlu kita risaukan tentang mata pencaharian mereka, kalau sampai pada saatnya mereka akan sadar dan mengerti bahwa itu adalah pembunuhan, mereka akan berhenti dengan sendirinya. Ibarat anak SD kita beri pelajaran SMA, maka anak itu tidak akan dapat menerimanya, bahkan menyalahkan kita yang mengajarinya. Tetapi akan tiba saatnya bila ia telah berada di SMA, maka ia akan dapat menerima pelajaran yang kita ajarkan itu dengan senang dan penuh pengertian.

Lagi pula, penjagal hewan dan nelayan melakukan pekerjaan tersebut adalah untuk memenuhi permintaan orang akan daging dan ikan. Jadi mereka sedang melakukan pekerjaan yang enggan dilakukan oleh orang-orang terhormat yang mengerti tentang sila tapi masih tidak dapat meninggalkan kebiasaan jelek menyantap daging mati (bangkai) yang berasal kesakitan makhluk hidup yang mati dijagal. Jika permintaan daging dan ikan tidak ada, maka mereka juga tidak perlu melakukan perbuatan jelek tersebut. Jika Anda perduli dengan nasib mereka, salah satu jalannya adalah melatih diri menghindari.makan daging dan ikan dengan jalan bervegetarian.

Akibat buruk dari pembunuhan adalah: Pendek umur, banyak penyakit, senantiasa sedih dan selalu dalam ketakutan

1.1. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami, yang artinya adalah: Bertekad akan melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan. Yang termasuk dalam sila kedua ini, yang harus kita hindari adalah:

- mencuri, mencopet, merampok dan sejenisnya

- korupsi manipulasi penggelapan barang atau uang dan sejenisnya - berjudi taruhan dan sebagainya

Mencuri adalah suatu tindakan salah sebab memperkuat keserakahan, kelicikan dan kebohongan pada orang yang melakukan pencurian, dan menyebabkan kesusahan dan penyesalan pada mereka yang kecurian. Dalam melaksanakan ajaran Sang Buddha, kita menghindari mengambil barang milik orang lain, malah sebaliknya diajar membagi barang milik kita pada orang lain. Kedermawanan ( Dana ) dan kemurahan hati ( Caga ), tidak hanya mengurangi rasa kepemilikan, tetapi juga memenangkan rasa hormat, mengikat persahabatan dan memberi kegembiraan pada yang lain.

Akibat buruk dari pencurian: Lahir dalam keadaan miskin, sering dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tidak tercapai dan hidupnya selalu tergantung kepada orang lain.

Ada 3 macam pemberian ( Sam Si Kong ) : 1. Pemberian barang materi ( Amisa dana )

Termasuk disini pemberian makanan, pakaian, uang dan barang-barang lain yang dapat berguna bagi orang lain. Sang Buddha mengajak kita melihat nilai – nilai yang terkandung dalam setiap pemberian dan melihat nilai – nilai yang terkandung dalam setiap pemberian dan mempertimbangkan dampak pemberian pada yang menerimanya. Umpamanya dalam hal makanan Sang Buddha bersabda :

“ Sewaktu memberi makanan, si pemberi telah pula memberi lima, apa yang lima itu ? Dia memberi hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan, dan akal budi. Dalam pemberian itu, si pemberi telah mengambil bagian pula dalam hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan, dan akal budi, saat ini maupun saat yang akan datang.” ( Anguttara Nikaya 11:61 )

2. Pemberian tenaga ( Parichaya dana )

Termasuk dalam dana ini adalah meminjamkan bakat, keahlian dan waktu kita kepada seorang atau perhimpunan yang membutuhkan. Bekerja sukarela pada usaha – usaha kemanusiaan, Vihara, organisasi Buddhis.

3.Pemberian Dhamma ( Dhamma dana )

Termasuk disini adalah membabarkan dhamma secara langsung, menulis dharma atau membantu mereka menangani usaha-usaha penyebaran Dharma. Secara tradisional masih ada satu pemberian lagi yaitu pemberian rasa aman ( abhaya dana ) yaitu dengan memberikan kata – kata yang memberikan keyakinan dan ketenangan. 5.3. Kamesuicchacara veramani sikkhapadam samadiyami, yang artinya adalah:

Bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan asusila. Hal yang perlu dihindarkan dalam pelaksanaan sila ini adalah:

- Berzinah (melakukan hubungan kelamin yang bukan suami/isterinya).

- Berciuman dengan orang lain jenis kelamin yang disertai dengan hawa nafsu birahi. - Menyenggol, mencolek dan sejenisnya yang disertai dengan hawa nafsu birahi. - Perbuatan lain yang dapat memberikan, peluang terjadinya pelanggaran.

Seks menyangkut masalah biologis dan psikologis. Tujuan utama adalah untuk mereproduksi turunan, tapi juga menjadi sarana penyampaian cinta dan kelembutan suami dan istri. Dorongan seksual senang dibumbuhi oleh takhayul dan tabu sehingga menjadi sumber perasaan bersalah, ketakutan dan penyakit mental. Demikian pula, dorongan seksual tak terkendali akan menyebabkan frustrasi, perzinahan dan penderaan.

Untuk menghindari kedua ekstrim diatas, sedemikian rupa sehingga masalah seks di tempatkan pada tempat yang tepat baik secara badaniah, psikologis dan kehidupan sosial. Sang Buddha mengajar kita agar menghindari “ Perilaku Seksual yang salah.” Contoh :

- Perkosaan sebab melibatkan kekerasan dan pemaksaan yang berakibat trauma - Perzinahan menyebabkan pengingkaran janji, kebohongan dan kepalsuan.

Umat Buddha dianjurkan mengembangkan prilaku seksual yang terlatih dengan jalan pengendalian diri dan penyederhanaan dalam dorongan seks.

Akibat buruk dari prilaku sex yang salah adalah: mempunyai banyak musuh, beristri/sumi dengan orang yang tidak dicintai, sukar mendapatkan jodoh, tidak memperoleh kebahagiaan dalam hidup berumah tangga dan terlahir sebagai orang yang tidak normal fungsi seksnya.

5.4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami, yang artinya adalah: Bertekad akan melatih diri menghindari perkataan yang tidak benar. Hal-hal termasuk sila keempat ini, yang harus kita hindari adalah

- Berbohong, menipu, dan sejenisnya - Menfitnah, menuduh dan sejenisnya - Berkata kasar atau memaki dan sejenisnya

- Omong kosong, ucapan yang tidak ada gunanya dan sebagainya Syarat-syarat terjadinya musavada adalah:

- Ada hal yang tidak benar

- Ada kehendak untuk mengatakan. - Ada usaha mengucapkannya

- Mengucapkan dan orang lain mendengarnya.

Akibat buruk dari berdusta adalah adalah bicaranya tidak jelas, mulutnya berbau busuk, sorot matanya tidak wajar, menjadi sasaran pembicaraan yang tidak baik, menjadi sasaran penghinaan dan tidak dipercaya oleh masyarakat.

1.1. Suramerayamajjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami, artinya adalah: “Bertekad akan melatih diri menghindari minuman yang menimbulkan lemahnya kewaspadaan”.

Perbuatan yang menyebabkan lemahnya kewaspadaan adalah:

- Menyadari bahwa ada yang merupakan sura, meraya atau majja. - Ada kehendak untuk minum atau menggunakannya.

- Melakukannya (minum atau menggunakannya). - Timbul gejala-gejala mabuk.

Meraya adalah minuman keras, mengacu kepada minuman keras yang dapat dari bahan yang diragikan. Sura adalah zat yang membuatnya mabuk (alkohol), mengacu kepada minuman keras yang disuling majja adalah sesuatu yang menyebabkan orang tidak sadar. mengacu kepada ganja, morfin, heroin dll yang sejenis. Gabungan dari kata-kata tersebut dapat disepadankan artinya dengan ‘segala yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran’

Akibat buruk dari melanggar sila ke lima adalah: - Tidak disenangi keluarga.

- Mudah terserang penyakit. - Menimbulkan banyak musuh. - Kecerdasan berkurang.

- Harta habis dihambur-hamburkan.

Mereka yang tidak melaksanakan Pancasila yang merupakan latihan moral yang paling minimal, berarti telah memotong akar kelahiran sebagai manusia. Buddha bersabda:

“ Siapa saja yang memusnahkan makhluk hidup, mengambil yang tidak diberikan, berkata tidak benar, pergi bersama istri orang lain dan memuaskan diri dengan cara demikian, memotong akar (kebajikan) dalam dirinya di alam ini.”

6.2. Pancadharma

Pancadharma adalah lima kesunyataan yang harus dilaksanakan oleh para siswa Sang Buddha Gotama, yang terdiri dari:

1. Metta-Karuna, yang artinya adalah cinta kasih dan belas kasihan (welas asih) terhadap semua makhluk hidup. Kalau seseorang dapat melaksanakan metta-karuna dengan baik, maka ia akan dapat melaksanakan sila pertama dari Pancasila Buddhis dengan baik.

2. Samma-Ajiva, artinya adalah mata pencaharian benar, maksudnya adalah mencari penghidupan dengan cara yang baik, yaitu:

- tidak mengakibatkan pembunuhan

- wajar dan halal (bukan karena mencuri, merampok, mencopet) - tidak berdasarkan penipuan

- tidak berdasarkan ilmu yang rendah seperti meramal, pendukunan, tukang tenung dan lain-lain.

Kalau kita dapat melaksanakan dhamma kedua ini dengan baik, maka kita akan dapat melaksanakan sila yang kedua dari Pancasila.

3. Santutthi, artinya adalah puas dengan apa yang dimiliki. Puas dalam hal ini adalah puas dalam hal hawa nafsu birahi. Kalau sudah berumah tangga maka kita harus merasa puas dengan isteri atau suami sendiri dan tidak berzinah dengan orang lain. Bagi yang belum berkeluarga harus puas dengan keadaan yang sekarang yang sedang dialami sampai nanti menjelang dewasa, sehingga dapat melaksanakan sila ketiga dari Pancasila.

4. Sacca, adalah kebenaran atau kejujuran.

Jujur di sini berhubungan dengan pembicaraan seseorang terhadap orang lain yang disertai kehendak. Hanya ada kebenaran dan kejujuran, senantiasa mengatakan sesuatu itu sesuai fakta dan kebenaran, tidak menutup-nutupi fakta dan kebenaran demi kepentingan diri sendiri, kelompok atau golongan tertentu. Dengan hanya berbicara yang benar dan penuh kejujuran kita bisa menghindari dusta dan dapat melaksanakan sila keempat dari Pancasila.

5. Sati-Sampajanna, adalah ingat dan waspada

Kalau kita selalu ingat pada jenis-jenis makanan dan minuman yang dapat menimbulkan lemahnya kewaspadaan serta tidak akan terjerat oleh semua hal sejenisnya.

Dengan selalu ingat dan waspada kita dan waspada kita tidak akan tergiur oleh lingkungan atau bujukan teman-teman kita untuk berbuat perbuatan salah sehingga kita dapat melaksanakan sila kelima dan Pancasila dengan baik.

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa Pancasila dan Pancadharma adalah dua hal yang saling berhubungan. Pancasila adalah penghindaran perbuatan yang tidak baik, sedang Pancadharma adalah pelaksanaan dari perbuatan yang baik. Pancasila gunanya untuk pengendalian diri, sedang Pancadharma adalah untuk mengembangkan perbuatan baik.

Tugas : Buatlah makalah dan diskusikan dalam diskusi kelompok tentang: - aborsi dan diskusikan tentang aborsi dalam pandangan moral Buddhis. - masalah hubungan seks Pra – nikah

- Perkawinan bedaan agama menurut pandangan agama Buddha. - Homo seksual dan lesbian

I. Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat dan jelas:

1.Bagaimana peranan moral dalam kehidupan beragama menurut agama Buddha ? 2.Bagaimana umat Buddha menentukan suatu perbuatan dikatakan baik dan perbuatan

lainnya dikatakan buruk?

3.Jelaskan manfaat moral dalam kehidupan berumah tangga. II. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang paling benar.

1. Faktor-faktor pendukung sila adalah, kecuali:

a. Sati b. Sampajanna. C. Hiri

d. Ottappa e.Irri.

2 .Moral Buddhis ditentukan dengan mempertimbangkan 3 azas, suatu tindakan disebut baik bila perbuatan tersebut dapat membantu pencapaian penambahan kebajikan, cintas, pengertian dan Nibbana. Cara ini disebut azas:

a. Sarana b. Hasil-akibat. C. Universal

d. Penerimaan umum e. Umum.

3. Buddhagosa dalam kitab Visudhimagga memberikan empat penafsiran mengenai sila yaitu, kecuali: a. Menunjukkan sikap batin atau kehendak (Cetana)

b. Menunjukan hanya penghindaran (Virati) yang merupakan corak batin (Cetasika).

c. Menunjukkan pengendalian diri (Samvara).

d. Menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetatpkan (Avitikkhana).

4. Sebab terdekat yang menimbulkan sila adalah adanya:

a.Sati dan nana. B. Khanti dan Viriya. C. Hiri dan Ottap d. Sampajanna. E.Patimokkha.

5. Faedah sila bagi perumah tangga yang tidak disebutkan dalam Mahaparinibbana sutta adalah: a. Bebas dari penyesalan

b. Penyebab seseorang memiliki banyak harta kekayaan.

c. Menghadiri setiap pertemuan tanpa ketakutan atau keragu-raguan. d. Sewaktu akan meninggal hatinya tenang.

e. Penyebab terlahir di alam surga.

6. Untuk melatih kemurahan hati orang melakukan berbagai pemberian (dana), diantaranya adalah pemberian:

1.Nyawa ( Mahatidana). 2. Tubuh (Tidana) 3. Materi (Amise dana). 4. Tenaga (Pacichaya dana) 5. Dhamma (Dhama dana). 6. Rasa Aman (Abhaya dana

yang termasuk 3 macam pemberian (sam si kong) adalah:

a. 3, 4 dan 5 b.1,2 dan 3 c.2,3 dan 4

d. 3,4, dan 5 e. 4,5 dan 6

2. Menghancurkan kelakuan yang salah (dursila) dan menjaga seseorang agar tetap tidak bersalah (anvajja) adalah... dari sila.

a. Wujud b. Faedah c. Fungsi d. Ciri e. Sebab terdekat 3. Berdusta melanggar Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima 4. Berselingkuh melanggar Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima 5. membunuh melanggar Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima 6. Mencuri melanggar Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

7. Menggunakan Narkoba tanpa resep dokter melanggar Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

8. Dengan mengembangkan cinta kasih dan belas kasih kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

9. Dengan bermata pencarian benar kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

10. Dengan puas dengan apa yang dimiliki kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

11. Dengan berpegang teguh pada kejujuran dan kebenaran kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis, terutama sila:

a. pertama b. ke Dua c. ke Tiga d. ke Empat e. ke Lima

12. Dengan selalu ingat dan waspada kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis, terutama sila:

BAB IV

Dalam dokumen Materi Ag. Buddha Utk PT (Halaman 57-65)