• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Dalam dokumen Materi Ag. Buddha Utk PT (Halaman 41-44)

Manusia yang kualitas batinnya baik, memiliki tanggung jawab moral dalam berperan di kehidupan ini.

4.1. Tanggung jawab terhadap lingkungan.

Hidup para mahkluk memang tidak lepas dari lingkungannya masing-masing. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari seperti apa yang ditulis oleh Dogen dalam karyanya Shobogenzo sebagai berikut: Sejak awal zaman tiada seekor ikan berenang keluar air, tiada juga burung terbang keluar dari udara. Namun bagi ikan yang membutuhkan air sedikit, ia menggunakannya hanya sedikit. Bila ia membutuhkan banyak, ia memakainya banyak juga. Demikian halnya dengan burung dan udara. Jika ikan keluar dari air, ia akan mati. Burung keluar dari udara, ia akan mati. Dari air ikan hidup, dan dari udara burung hidup. Ikan, air, dan hidupnya tidak terpisahkan. Burung, udara, dan hidupnya tidak pula terpisahkan.

Buddha mengumpamakan peningkatan kesejahteraan seperti jalannya kereta beroda empat. Dengan memiliki empat roda kemakmuran, manusia akan hidup makmur atau sukses. Roda pertama tempat tinggal yang sesuai (lingkungan), menyangkut lingkungan fisik dan non fisik dalam arti yang seluas-luasnya; Kedua, pergaulan dengan orang-orang yang mulia; Ketiga, mengarahkan diri, atau menyesuaikan dan menempatkan diri secara benar; Keempat, adanya timbunan jasa kebajikan.

Pandangan Buddhis mengenai hubungan manusia (makhluk) dengan lingkungannya tercermin dari ayat Dhammapada 49 sebagai berikut: “Bagai seekor lebah yang tidak merusak bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa”. Dalam sebuah ekosistem, lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, tetapi sekaligus membayarnya dengan membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi inspirasi,bagaiman seharusnya menggunakan sumber daya alam yang terbatas.

Kita membedakan sesuatu yang hidup dari benda yang mati, tetapi menurut prinsip kesalingbergantungan (paticcasamuppada) sesuatu yang hidup mengandung unsur-unsur yang tidak hidup. Dengan meneliti ke dalam diri sendiri, kita akan melihat bahwa kita memerlukan dan memiliki mineral atau unsur organik lainnya. Dalam Aganna Sutta digambarkan hubungan timbal balik antara perilaku manusia dengan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (Sali) yang semula dikenal sebagai butiran yang bersih tanpa sekam, tetapi akhirnya berubah karena campur tangan dan sifat serakah manusia, sehingga akhirnya menjadi butiran-butiran padi yang bersekam. Kejadian dalam Aganna Sutta tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku manusia yang terpusat pada diri manusia yang menganggap bahwa dunia dan isinya disediakan untuknya saja. Tetapi pandangan ini justru tidak membuat hidup manusia menjadi lebih baik. Individualisme dan kapitalisme ataupun lawannya sosialisme dan komunisme membayar kemajuan duniawi dengan permasalahan lingkungan. Lingkungan hidup menjadi tidak terpelihara, rusak, dan justru mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Hal itu terjadi karena kehidupan non-materi atau kemajuan rohani tidak memperoleh tempat yang wajar. Dalam hal ini agama Buddha menghendaki keseimbangan antara pemenuhan kepentingan materi dan spritual.

Bilamana suatu tempat sudah kurang atau tidak memenuhi daya dukung lingkungan, migrasi merupakan jalan keluar. Mungkin pula manusia dapat melakukan koreksi pada faktor alam, melalui penguasaan teknologi; dan agama dapat berperan mengoreksi perilaku manusia sendiri. Kemampuan memulihkan lingkungan tersirat

dalam mitologi Guan-Yin (Avalokitesvara). Kalau Bodhisatva itu mengunjungi neraka, kehadiranNya membuat suasana neraka seketika menjadi nyaman. Keinginan yang luhur untuk menolong orang lain dan kesucianNya menimbulkan kekuatan tersebut. Hal ini dapat memberi makna bahwa siapapun yang dapat merubah diri sendiri sehingga memiliki kualitas, ia akan mampu mengubah situasi dan lingkungan yang buruk menjadi baik.

Usaha menciptakan lingkungan yang baik di bumi akan membawa berkah hingga ke alam kehidupan berikutnya. Hal ini dicontohkan oleh sakya, raja dewa di surga Tavatimsa. Ia mencapai kebahagiannya itu berkat jasa yang ditimbunnya saat hidup di bumi. Ia senantiasa mengormati dan membantu orang tuanya, menunjang saudara, melakukan banyak kebaikan, Ia membuat jalan, meratakan dan membersihkannya.

Terdapat 32 orang laki-laki yang ikut membantunya. Mereka mendirikan balai umum, tempat berteduh dan beristirahat. Di sana mereka menampung orang miskin dan orang sakit. Ada yang membangun tiang menara, membuat kolam, menyediakan air minum dan air mandi untuk orang lain, membuat kebun bunga. Setelah meniggal mereka dilahirkan di surga. (Dhammapada Atthakata 30).

Kehidupan individu satu dengan yang lainnya baik dalam lingkungan keluarga, maupun masyarakat berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang baik maupun yang buruk. Dalam usaha menciptakan lingkungan yang baik, maka Buddha menggariskan beberapa kewajiban timbal balik antar manusia dalam masyarakat.

4.2. Tanggung jawab umat awam

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam kehidupannya.

1.Kewajiban Anak terhadap orang tua.

Dalam lima cara seorang anak melayani orang tuanya sebagai arah timur.

1.Dahulu aku dirawat oleh mereka, sekarang aku akan merawat mereka; 2.Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka;

3.Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga; 4.Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan;

5.Aku akan melakukan perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia.

2.Orang tua terhadap anak.

1.Mereka mencegahnya berbuat jahat; 2.Mereka mendorongnya berbuat baik, 3.Mereka melatihnya dalam suatu profesi;

4.Mereka mencarikan pasangan (isteri) yang pantas baginya; dan

5.Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan mereka kepadanya.

Dalam lima cara orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak sebagai arah timur, Menunjukkan kecintaan mereka kepadanya:

3.Kewajiban siswa terhadap guru.

1. Dengan bangkit (dan tempat duduk untuk memberi hormat); 2. Dengan melayani mereka;

3. Dengan bersemangat untuk belajar,

4. Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka;

5.Dengan memberikan mereka perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka

Dalam dokumen Materi Ag. Buddha Utk PT (Halaman 41-44)