INDIGO INTERDIMENSIONAL
MATA INDIGO – BENY DAN IBU NYA PART 2
Setelah bersiap-siap dan sarapan Aku berangkat menuju rumah Beny di daerah Pondok Indah. Beny yang sudah menunggu, langsung menyambutku. Rumah Beny tampak besar dan megah. Bentuk bangunan dan desain interiornya bergaya khas victoria. Beberapa patung khas gaya romawi menghiasi sudut-sudut ruangan. Aku melihat di dinding dan di lemari tempat hiasan ada beberapa foto keluarga yang terpasang. Ada foto Beny, Bapaknya dan Ibu nya, serta seorang anak kecil perempuan berumur kisaran 11 atau 12 tahun.
“Bagaimana Yus, banyak makhluk halusnya ya rumah Gwe?”, tanya Beny padaku. Aku tidak langsung menjawab. Bisa dibilang hawa yang Aku rasakan di rumah Beny ini bukan hawa angker atau suasana suram yang menyeramkan. Aku lebih menangkap hawa dan atmosfer kedukaan yang mendalam menyelimuti rumah ini.
Setiap sudut ruangan Aku rasakan menyimpan hawa kesedihan dan penyesalan yang hebat. Kondisi ini yang menarik beberapa makluk halus untuk datang dan bersemayam di dalam rumah ini. Aku bisa pastikan mereka yang Aku lihat bukan penghuni lama. Mereka semua penghuni baru di rumah ini.
“Sabar sebentar ya Ben... Aku coba lihat dulu semuanya”. Aku minta Beny untuk bersabar. Aku coba membuka Mata Ketiga ku lebar-lebar, untuk melacak apakah ada energi kiriman atau santet yang pernah memasuki rumah ini. Tetapi sepertinya Aku tidak menemukan pola energi seperti itu. Mata Ketiga ku malah terarah ke bagian belakang rumah Beny.
Pada bagian belakang itu ada kolam renang, dan Aku menangkap sebuah jejak residual energi yang masih segar di kolam itu. Aku melihatnya bagaikan potongan film yang diputar ulang di hadapanku.
Mataku melihat seorang anak kecil berusia 11 tahun. Anak itu adalah anak yang Aku lihat di beberapa foto keluarga Beny di ruangan depan. Anak itu tampak bermain sendiri tanpa pengawasan. Lama-kelamaan berjalan sendiri ke pinggir kolam. Lantai pinggir kolam yang licin membuatnya terpleset dan jatuh ke dalam kolam. Rupanya anak itu tidak bisa berenang. Tangannya berusaha menggapai-gapai pinggiran kolam.
kolam yang tertelan. Aku lihat di dalam rumah seorang Pembantu malah asyik bersenandung sendiri sambil bersih-bersih. Telinganya menggunakan headset yang mengeluarkan musik dengan suara yang cukup keras. Aku lihat juga Ibu Beny malah sibuk berbicara panjang lebar dengan seseorang via telepon. Mereka semua tidak menyadari bahwa anak kecil itu dalam bahaya.
Gerakan anak kecil itu makin lama makin melemah. Paru-parunya kehabisan udara. Air akhirnya memasuki jalur napasnya dan memutus jalur udara. Gerakan nya akhirnya terhenti, seiring dengan tubuhnya yang meregang nyawa. Tubuh mungil itu mengambang mengenaskan di kolam renang. Pembantu yang sedang bersih-bersih itu akhirnya baru menyadari setelah semuanya terlambat.
Memanggil-manggil panik Ibu nya Beny yang juga tidak sadar kalau telah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa. Tampak penyesalan yang hebat Aku lihat dari Ibu nya Beny, bercampur dengan rasa pilu dan hati yang hancur. Perlahan potongan adegan itu berubah menjadi bayang-bayang dan menghilang dari penglihatanku.
Aku sepertinya sudah bisa menebak kenapa suasana rumah ini jadi terasa kurang nyaman. Yang jelas bukan karena santet atau dikerjai orang.. Aku tinggal memastikan beberapa hal saja. Aku lalu meminta ijin Beny untuk melihat keadaan Ibu nya. Beny bilang ibu nya ada di kamar atas.
“Kalau sedang tidur atau istirahat nanti saja Ben... Tidak usah buru-buru...”, Aku menyarankan.
“Nggak kok Yus, Ibu tadi sudah bangun kok. Cuma tadi barusan naik lagi ke atas”. Beny lalu mengajakku menaiki tangga ke kamar atas. Sampai di atas Aku melihat Ibu nya Beny sedang duduk melihat ke luar jendela. Pandangan nya mengarah ke halaman belakang, tempat kolam renang yang tadi Aku lihat.
“Bu.... ganggu sebentar Bu. Ini Beny mau kenalin temen Beny ke Ibu”. Ibu nya Beny lalu menoleh ke arah kami. Tangannya cepat menyeka bekas air mata yang sempat membahasahi pipinya. Tampak gugup karena kepergok menangis sendirian di dalam kamar.
“Ehh.. Ben.... Ayo sini suruh masuk temannya....”. Ibu nya Beny menyambut mendekatiku. Langkahnya terpincang-pincang mendekati kami. Gerakan tubuhnya seperti susah payah berusaha menyeret kaki kirinya untuk melangkah. Aku melihat ke arah kaki kirinya itu. Sepertinya Aku menemukan jawaban dari penyakit yang dideritanya. Sekaligus
menjawab misteri yang terjadi di dalam rumah megah ini.
Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Ibunya Beny, Aku lalu turun lagi bersama dengan Beny dan duduk di ruang tamu. Beny tampaknya sudah tidak sabar untuk mendengar jawabanku tentang misteri yang terjadi di rumah nya. Berat sebenarnya buatku untuk menceritakan semua kesimpulanku pada Beny. Hati kecilku berharap semoga semua yang kusampaikan ini salah.
“Kondisi rumah mu yang berubah jadi seperti ini, kamu rasain belum lama kan Ben?”. Aku coba memulainya.
“Iya Yus, sebelumnya rumah gwe baik-baik aja, nggak kayak gini. Kejadian-kejadian sama suasana aneh itu baru mendadak kerasa kira-kira setahunan yang lalu. Mangkanya Gwe pikir kayaknya ini gara-gara keluarga Gwe dikerjain orang ”.
“Kamu punya adik ya? Perempuan. Usia nya kira-kira 11 atau 12 tahun?”. Aku melanjutkan
“Darimana Elu tau Yus?”. Beny lalu menjelaskan. Dirinya memang punya adik perempuan yang umurnya terpaut cukup jauh. Beny mengatakan kalau dulu Ibu nya ingin sekali memiliki anak perempuan. Setelah sekian lama akhirnya bisa hamil dan melahirkan anak perempuan yang dinanti-nantikan. Ibu nya sangat sayang sekali pada adik perempuannya itu.
“Adikmu sudah meninggal ya? Meninggal gara-gara tenggelam di kolam renang di belakang rumah”. Wajah Beny langsung berubah begitu mendengarnya. Kesedihan jelas terlihat di raut wajahnya. Beny mengangguk pelan ke arah ku. Tampak dia juga sepertinya agak takut dengan kemampuanku yang mampu mengetahui segala sesuatu nya tanpa sedikitpun diberitahu.
“Oke Yus, cukup. Gwe ajak lu ke sini bukan buat mengungkit-ungkit kejadian masa lalu yang pernah terjadi di keluarga Gwe. Lu mending langsung bilang aja ke Gwe apa penyebabnya rumah Gwe sampai bisa jadi kayak gini”. Aku menghela napas melihat reaksi Beny. Berharap dia tidak marah dengan apa yang akan kusampaikan.
“Semua yang terjadi di rumah mu ini bukan gara-gara ada santet atau kiriman orang Ben. Dari apa yang Aku lihat seluruh fenomena Astral itu terjadi setelah Adikmu itu meninggal. Semua keanehan yang kamu rasain di rumah mu ini karena kejadian adikmu meninggal di kolam renang belakang”. Beny tampak terkejut mendengar penjelasanku.
Mata nya memperlihatkan dirinya masih sulit mempercayai ucapanku.
“Maksud lu adek Gwe jadi hantu di rumah ini, terus meneror Gwe sama keluarga Gwe? Gitu?”. Aku sudah bisa menebak reaksi Beny yang sudah pasti emosi mendengar penjelasanku. Aku cuma bisa menjelaskan jika rumah pernah mengalami kejadian tragis dan menyimpan residual energi negatif, maka kemungkinan besar hal itu akan menarik banyak fenomena dan makhluk astral lain ke rumah itu.
“Sekarang Aku mau tanya Ben.... Apa pernah kamu dengar Bapak mu atau Ibu mu mengeluhkan hal yang sama dengan yang kamu rasakan tentang rumah ini? Apa pernah kamu mendengar mereka juga mengeluh seperti mendengar suara-suara, merasa diperhatikan, atau merasakan barang-barang yang bergerak, selain dari kamu?
Apa kamu lupa siapa orang yang paling sering diajak Adik mu bermain, selain Ibu mu?”. Beny tercenung mendengar ucapanku. Tiba-tiba air mata nya mengalir membasahi pipinya. Terdengar Beny mulai menangis sesenggukan. Sesekali mulutnya terbata-bata mengucapkan nama Kania.... Kania...
Aku sampai trenyuh melihatnya. Sejenak Aku membiarkan sejenak Beny menguasai perasaannya. Beny dengan sendirinya bercerita. Adiknya bernama Kania. Dirinya sayang dan dekat sekali dengan Kania. Adiknya semata wayang itu paling sering bermain dan minta ditemani kemana-mana olehnya. Bahkan saat Beny harus pulang malam karena kesibukannya sebagai DJ, Kania dengan setia menunggu nya pulang sampai larut malam.
“Seluruh fenomena astral yang terjadi itu cuma kamu yang mengalami nya Ben. Itu karena Kania masih berusaha menarik perhatian mu dan ingin bermain sama kamu, seperti dulu”. Ucapanku membuat Beny tambah sesenggukan. Dirinya baru menyadari bahwa fenomena astral itu bukan gangguan, tetapi karena Kania ingin mengajaknya bermain.
“Terus gimana dengan Ibu Gwe Yus, kaki nya kenapa? Elu yakin itu bukan gara-gara kiriman orang?”. Aku menggelengkan kepala ku. Ini sebetulnya bagian yang paling berat. “Kania sampai saat ini masih memeluk kaki Ibu mu Ben. Itu yang menyebabkan kaki ibumu terasa berat sampai harus diseret-seret”. Mata Beny terbelalak mendengar penjelasanku. Aku lihat dia sampai emosi melihatku. Aku maklum, mungkin penjelasanku bagaikan omongan orang mabuk. Tapi Aku hanya menyampaikan apa yang Aku lihat. Untungnya Aku lihat Beny perlahan-lahan berusaha lebih membuka
pikirannya. Pelan-pelan mencoba menerima mendengarkan dan mengolah penjelasanku. “Kenapa bisa sampai kayak gitu Yus? Maaf, kalo Gwe harus nanya. Dari dulu yang ada dipikiran Gwe orang kalo meninggal ya sudah, pergi ke surga atau ke neraka. Kenapa ini masih peluk kaki ibu nya sampai ibu nya harus jalan kayak orang pincang?”. Beny tidak bisa menyembunyikan rasa emosi nya. Aku berusaha menenangkannya dan menjelaskan sebisaku.
“Ini memang hal di luar yang biasanya Ben. Kemungkinan karena Ibu mu masih merasa sangat bersalah dan masih belum bisa mengikhlaskan Kania. Ibu mu mungkin sampai saat ini masih berharap Kania bisa terus ada di dekatnya. Sama seperti perasaan Kania yang tidak ingin berpisah dari Ibumu dan keluarga mu. Jadinya sampai sekarang Kania masih terus memeluk kaki Ibu mu.”. Sekali lagi Beny terdiam mendengar penjelasanku. Kebingungan dan kebuntuan dalam pikirannya terlihat jelas dari raut wajahnya.
“Lalu ini harus bagaimana Yus? Apa Gwe perlu panggil orang pintar untuk menangani ini?”. Aku menggeleng kan kepala tanda tidak setuju.
“Memanggil orang pintar sama saja artinya menyelesaikan masalah ini dengan cara kekerasan Ben. Ini permasalahan keluarga. Harus diselesaikan dengan hati ke hati. Pertama-tama kita perlu bicara dengan Ibu mu. Kamu sampaikan apa yang kusampaikan ini ke Ibu mu. Ibu mu harus tahu semuanya”. Beny tampak tambah kebingungan. Agak lama dia berpikir. Belum tentu Ibunya mau mendengarkan semua penjelasan ini. Tapi pahit atau buruk, semua ini harus disampaikan. Aku dan Beny lalu pergi kembali ke kamar atas, ke tempat ibu nya Beny tadi menemuiku.
Ibunya Beny mendengarkan semua penjelasan Beny sambil menangis. Berulang kali matanya memandang ke arah kaki sebelah kirinya, seolah berusaha menangkap penampakan Kania di situ. Sayangnya sosok Kania tidak mampu dilihat olehnya. Hanya diriku yang mampu melihat penampakan bocah itu di kaki kiri Ibunya Beny. Posisinya memeluk kaki Ibunya dengan erat. Memandang ke arah wajah ibu nya yang menangis, sambil sesekali juga melihat ke arahku dengan tatapan polos.
“Bu... Ibu harus ikhlaskan Kania. Penyesalan Ibu juga nggak ada guna nya. Malah kasihan Kania nggak bisa kemana-mana...”. Beny berusaha berdialog dengan Ibunya. “Berat Nak... Ibu berat melepaskan Kania. Ibu masih tidak bisa menerima kepergian Kania karena kelalaian Ibu Nak... Biarlah Ibu seperti ini terus sebagai pengganti dosa Ibu pada Kania Nak....”. Ibunya Beny tampak masih bersikeras tidak mau mengikhlaskan
Kania. Aku melihat Ibu nya Beny masih menyesali perbuatannya yang menyebabkan Kania meninggal. Aku lalu coba ikut membantu Beny berdialog dengan Ibunya.
“Tante, kalau Kania berbuat salah pada Tante apakah Tante mau memaafkan?”, tanyaku pada Ibu nya Beny.
“Pasti Nak Yus, pasti akan Ibu maafkan...”, jawab Ibu nya Beny.
“Kalau tante bisa memaafkan Kania, kenapa tante tidak bisa memaafkan diri tante sendiri. Kalau Tante pasti memaafkan Kania, Saya yakin Kania pun pasti memaafkan tante”. Ibu nya Beny terdiam mendengarkan perkataanku. Air mata nya semakin deras mengalir. Beny lalu berusaha menenangkan Ibu nya yang menangis dan menyeka air mata nya.
“Bu, Ibu harus bisa memaafkan diri sendiri. Semua sudah digariskan. Ibu harus ikhlas. Supaya Kania bisa pergi dengan tenang”, ujar Beny sambil memeluk Ibu nya yang menangis. Lama kami membiarkan Ibunya Beny menangis dan tak henti-hentinya memanggil-manggil nama Kania dan ber istiqfar. Sampai akhirnya Ibunya Beny bisa menguasainya dirinya kembali dengan terbata-bata mencoba berbicara padaku.
“Nak Yus, kalau nak Yus bisa berkomunikasi dengan Kania, katakan padaya, Ibu rindu sekali pada Kania. Kangen sekali padanya. Sampaikan juga kalau Kania akan selalu jadi anak Ibu yang paling cantik. Sampaikan juga permintaan maaf Ibu sama Kania. Ibu ikhlaskan Kania pergi. Ibu akan selalu sebut nama Kania di dalam doa Ibu”. Hati ku sangat terharu mendengar kata-kata dari Ibu nya Beny. Sekarang tinggal bagian klimaksnya. Bagaimana caranya supaya Kania melepaskan pelukannya dari kaki Ibunya. Aku lalu meminta Beny untuk menyiapkan foto Kania dan mainan peninggalan yang paling disukainya sewaktu masih hidup. Beny lalu mengambil sebuah foto dan sebuah boneka beruang coklat. Aku lalu meletakkan kedua barang itu di tengah ruangan, dan mengajak Beny duduk di sebelahku di dekat kedua barang tersebut. Beny hanya menurut saja. Sebelumnya Aku sempat membisikkan sesuatu pada Beny. Aku lalu minta ibunya Beny untuk duduk di pinggir tempat tidur yang ada di situ. Setelah semuanya siap, sekarang saatnya memulai komunikasi.
“Kania.... anak manis.... kenalan dong ... Mas Yus temannya Kakak Beny. Pengen mainan sama Kania... “. Aku melihat ke arah tempat Kania berada. Coba merayunya agar mau melepaskan pelukannya dari kaki Ibu nya. Meyakinkan Kania bahwa Aku bisa melihatnya. Kania mulai memusatkan pandangannya kepadaku. Aku lalu menyenggol
Beny sebagai aba-aba agar Beny bereaksi.
“Kania... Kania.... Sini Dek... Abang kangen sama Adek...Abang kenalin sama temen abang... Ayo Dek... Sini.... Kita mainan kayak dulu lagi...”. Beny melakukan persis seperti yang Aku minta. Berbuat seolah-olah dia bisa melihat Kania. Tangan Beny menyentuh dan memainkan boneka beruang coklat yang tadi diambilnya. Menggerak-gerakkan boneka itu sehingga boneka itu seolah menari.
Kania mulai bereaksi. Usaha yang Aku dan Beny lakukan mulai membuahkan hasil. Kania perlahan-lahan melepaskan pelukannya dari kaki Ibu nya. Kemudian berdiri dan berjalan perlahan-lahan ke arahku dan Beny. Untungnya Beny tidak bisa melihat Kania. Seandainya bisa melihat, walaupun itu adalah adiknya sendiri belum tentu dirinya berani menghadapi sosok Kania yang sekarang. Wajah Kania tampak pucat pekat. Tatapannya tampak polos, namun kesannya kosong. Tangan nya mulai terulur maju. Seakan hendak mengambil boneka beruang coklat kesayangannya yang sedang di pegang Beny.
“Ayo... Kania.... sini-sini.... Ayo main”. Aku mulai semakin gencar mengajak dan memanggil-manggil Kania. Beny pun jadi ikut-ikutan semakin keras memanggil-manggil Kania.
Tiba-tiba diluar dugaan Kania mendadak menerjang maju sambil berteriak keras ke arah Beny. Aku sampai tersentak ke belakang karena terkejut. Tanpa sadar sekejap memejamkan mataku. Sampai kurasa situasi aman, perlahan-lahan Aku membuka mataku.
Kania tidak tampak di hadapanku, namun saat menoleh Aku melihat Kania sudah menempel di tubuh Beny. Tubuh mereka berdua melekat erat seakan menyatu. Kepala Beny tampak menunduk. Sudah bisa ditebak kalau saat ini Beny sedang kerasukan, dan siapa yang merasukinya sudah tidak usah dijelaskan lagi.
“Jahat.... Mama Jahat...”. Beny berteriak ke arah Ibunya. Matanya nyalang menatap. Suara berubah. Terdengar seperti suara anak perempuan kecil berumur 11 tahun. Bulu kuduk ku langsung berdiri. Terbawa suasana yang tiba-tiba berubah menjadi mencekam, Angin kencang tiba-tiba muncul entah dari mana. Membuat tirai kamar bergerak dan menimbulkan suara derit yang keras. Siapa pun yang mengalami hal ini pasti akan berharap ini semua hanya mimpi buruk yang tak nyata