Sore itu juga Aku coba datang ke rumah Pak Sam bersama Ayah dan Eyang Roto. Rumah Pak Sam berada di daerah Bog*m Kal*s*n. Sebuah daerah yang sebenarnya lebih terkenal karena nama sebuah Klinik Sunat. Beruntung sore itu Pak Sam sedang ada di rumah.
“Ngopo Le? Isih pengen mbaleni SMA meneh? – Kenapa Nak? Masih ingin balik SMA lagi”, ujar Pak Sam ramah. Gaya nya tidak berubah, tetap slengekan seperti biasanya. Kami lalu dipersilahkan masuk ke ruang tamu. Setelah berbasa-basi sejenak Ayah lalu coba menceritakan keperluan kami dan mulai bercerita soal Eyang Uyut.
Aku bisa melihat, sepertinya Pak Sam hanya mendengarkan untuk formalitas dan menghargai kami saja. Sepertinya dia sudah mengetahui keperluan kami bahkan, sebelum kami menceritakannya. Saat Ayah selesai bercerita Pak Sam kemudian coba bertanya,
“Saya sudah menangkap keperluan Bapak datang kemari? Lalu kalau Saya boleh tau sebenarnya Bapak ingin Saya melakukan apa? Apakah Bapak ingin Saya membalas perbuatan orang yang sudah mengerjai Ibu nya Bapak?”.
Pertanyaan itu jelas ditujukan untuk Eyang Roto. Eyang Roto tidak langsung menjawab. Tampak wajahnya berubah menjadi sedih. Seketika matanya berkaca-kaca.
“Saya malah merasa punya andil atas peristiwa ini Pak. Saya akui, Saya juga ada salah karena tidak terlalu memperhatikan Ibu Saya. Menganggap kondisi Ibu sebagai beban. Terlalu menyerahkan kondisi Ibu pada pembantu atau Pramurukti. Tuhan mungkin ingin menegur Saya supaya Saya balas merawat Ibu yang pernah susah payah merawat dan membesarkan Saya. Saya tidak ingin Bapak membalas perbuatan apapun atas Ibu Saya Pak. Saya hanya ingin jiwa Ibu Saya kembali dan kembali bersatu dengan raga nya. Sehingga kalau Ibu wafat beliau bisa wafat sebagai manusia, bukan sebagai wadah kosong”.
Pak Sam mengangguk-angguk mendengar perkataan Eyang Roto. Pak Sam lalu mengatakan akan membantu untuk menyembuhkan Eyang Uyut. Pak Sam mengatakan besok sore lusa akan datang ke rumah Eyang Roto. Pak Sam juga menyarankan agar Eyang Roto mengadakan pengajian keesokan hari nya untuk mendoakan dan membantu
proses penyembuhan yang akan dilakukan.
“Kowe kok meneng wae Le? Ketok lesu banget…. – Kamu kok diam saja Nak? Kelihatan lesu sekali”, Pak Sam tiba-tiba menegurku. Jujur Aku memang merasa sangat lelah pada waktu itu. Setelah siangnya berusaha mencari bungkusan teluh yang menjadi perantara jasad Eyang Uyut, badanku terasa berat dan lemah. Kepalaku juga berdenyut-denyut. Sedari tadi rasanya sangat lemas dan mengantuk. Tenaga ku benar-benar terkuras “Ndak pa-apa Pak…”, Aku tersenyum simpul dan menjawab pendek. Pak Sam yang seolah tahu kondisiku lalu mendekati dan duduk disebelahku. Tangannya kemudian meraih pundak ku dan mulai melakukan pijitan-pijitan kecil.
“Wah, kowe ki…. Terlalu mekso…. Entek tenogo mu….. - Wah kamu tu terlalu memaksakan diri, habis tenaga mu....”. Pak Sam berkata sambil tertawa terkekeh. Sejurus kemudian dia mengulurkan jari nya ke arah punggung ku lalu menusuk ruas tulang belakang ku dengan telunjuk tangan kanan nya.
“Akhhkk!!...”, Aku tersentak kaget. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang menyambar ruas tulang punggungku. Pak Sam lalu mencoba menenangkan dengan meletakkan tangan kiri nya di atas ubun-ubun kepala ku. Sesaat kemudian Aku merasa seperti ada arus yang mengalir masuk dan menjalar ke seluruh tubuhku lewat telunjuk tangan kanan Pak Sam. Rasanya nyaman sekali. Kepalaku jadi tidak terasa berat lagi. Tubuhku jadi lebih enteng dan bertenaga.
“Ini lho tak ajari…. Tekan bagian sini, ruas tulang punggung ke 9. Ini buat membantu mengisi tenaga orang yang terlalu banyak menguras tenaga kayak kamu itu”. Sambil bercanda Pak Sam tetap menekan telunjuk tangan kanan nya di ruas ke 9 tulang punggung ku. Aku merasa tusukan itu makin lama makin hangat. Seiring dengan itu Aku jadi tidak merasa lemas lagi. Badanku juga jadi lebih ringan. Aku lalu mengucapkan terima kasih kepada Pak Sam. Pak Sam menanyakan apakah Aku menemukan sebuah bungkusan atau benda yang mencurigakan di sekitar rumah. Aku lalu menunjukkan bungkusan yang kutemukan tadi siang.
“Disimpan dulu, kita bakal butuh itu nanti buat besok lusa”, Kata Pak Sam kemudian. Aku lalu kembali memasukkan itu ke dalam tas plastik yang memang ku bawa. Pak Sam berpesan supaya Aku banyak beristirahat, dan tidak membuka Mata Ketiga ku kalau tidak benar-benar dibutuhkan. Ayah dan Eyang Roto lalu berpamitan kepada Pak Sam. Menunggu hari lusa adalah hari yang mendebarkan. Apa yang kira-kira akan dilakukan
Pak Sam untuk menyembuhkan Eyang Uyut? Keesokan harinya sebuah pengajian digelar di rumah Eyang Roto untuk mendoakan kesembuhan Eyang Uyut. Aku pun turut berdoa semoga esok penyembuhan Eyang Uyut berjalan lancar. Hari lusa, menjelang sore Aku dan Ayah menjemput Pak Sam dan membawanya ke rumah Eyang Roto. Sampai di rumah Eyang Roto, Pak Sam lalu dibawa menuju kamar Eyang Uyut. Tampak sepertinya Eyang Uyut sedang tertidur.
Pak Sam lalu meminta agar seluruh jendela kamar ditutup. Setelah itu dia mengeluarkan sebotol air dari dalam tas nya kemudian menuangkan air itu memutari ke empat penjuru kamar. Aku tahu itu bukan air sembarangan, kemungkinan itu adalah air yang sudah diberi doa-doa, dan air itu berfungsi sebagai barikade atau pembatas untuk melindungi apapun yang ada di dalam kamar itu dari serbuan tak kasat mata dari luar. Pak Sam lalu menyuruh Ayah dan Eyang Roto berjaga di luar kamar, sementara Aku diajak masuk ke dalam kamar. Aku kaget, kenapa Aku yang disuruh masuk ke dalam kamar. Tapi akhirnya Aku hanya menuru saja.
Tubuh Eyang Uyut terbujur di ranjangnya. Suasana kamar begitu gelap dan temaram. Suara-suara dari luar seperti menghilang, seolah kami yang ada di dalam kamar ini sudah terpisah dengan dunia luar. Pak Sam lalu menyuruhku mengeluarkan bungkusan teluh yang kutemukan. Karena memang sebelumnya sudah diminta untuk dibawa Aku lalu mengeluarkan bungkusan itu dari saku celana ku. Pak Sam lalu meletakkan bungkusan itu di atas lantai lalu menyiram nya dengan air dari botol yang sebelumnya digunakan untuk membuat pembatas yang melingkari kamar.
Sampai botol itu akhirnya kosong. Pemandangan mengerikan seketika terjadi. Tubuh Eyang Uyut lalu tiba-tiba bangun dengan cara yang aneh. Tubuhnya seperti tertarik bangun dengan paksa. Saat ini dia dalam posisi sedang duduk di tempat tidur. Kepalanya lalu menoleh ke arah kami dengan bibir yang menyeringai. Suhu udara disekelilingku tiba-tiba menurun drastis, sebuah hawa dingin yang aneh tiba-tiba menyerang, membuatku menggigil bergidik. Aku mulai mencium aroma busuk dan anyir mulai memenuhi udara, dibarengi dengan suara tawa Eyang Uyut yang terdengar mengikik. “Berikan benda itu…….” , suara yang terdengar seperti geraman berat itu terdengar dari mulut Eyang Uyut. Pak Sam tampak tidak terpengaruh sedikitpun. Matanya awas tajam menatap Eyang Uyut. Seketika tangan nya lalu mengambil korek dan membakar bungkusan teluh yang ada dihadapannya. Seketika api membakar bungkusan itu dengan ganas, dan itu sebuah pemandangan yang aneh mengingat baru saja bungkusan itu disiram dengan air. Seharusnya bungkusan itu jadi tidak gampang terbakar. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Aaaaaa…..!!!”, sebuah teriakan pilu yang mengerikan tiba-tiba terdengar seperti mengoyak gendang telingaku. Membuatku reflek menutup telinga. Teriakan itu dibarengi dengan tubuh Eyang Uyut yang tiba-tiba terhempas seperti roboh dari posisi duduknya. Aku sempat bernapas lega. Aku pikir prosesi ini sudah berakhir. Tapi Pak Sam malah tampak jadi lebih waspada dari sebelumnya. Matanya tetap tajam menatap ke arah Eyang Uyut.
“Pak ini sudah selesai belum?”, tanyaku pada Pak Sam.
“Kamu perhatikan yang baik, itu lihat yang bener”, Pak Sam malah menghardikku. Seketika Aku merasa ini memang belum selesai. Aku lalu membuka Mata Ketiga ku. Tampak olehku makhuk mengerikan yang sebelumnya merasuki tubuh Eyang Uyut saat ini berdiri di samping Eyang Uyut menatap kami.
Wajahnya seperti badut dengan seputar lingkar mata berwarna merah pekat, sementara kulit wajahnya tampak seperti berwarna abu-abu pucat dan keriput. Rambutnya kusut seperti ijuk. Mulutnya yang tidak berbibir menonjolkan gigi-gigi nya yang besar dan panjang, tubuhnya yang agak tinggi tertutup kain kafan yang kotor.
“Tetap waspada. Kita hanya menghilangkan penghubung nya saja. Supaya makhluk itu nggak menguasai tubuh Eyang Uyut. Makhluk ini sudah terlalu lama tinggal di tubuh Eyang Uyut. Dia sudah terlalu banyak menyedot hawa murni inang tubuhnya. Jangan tertipu dengan tampilannya. Dia menyimpan sosok nya yang sebenarnya”. Tanpa mengubah ekspresinya Pak Sam memberikan arahan padaku.
Sesaat kemudian Pak Sam lalu memejamkan mata nya dan mulai merapal sesuatu. Kemudian yang Aku lihat seperti ada sesuatu keluar dari tubuh Pak Sam menyerupai sosok Pak Sam yang lain. Sosok Pak Sam ini yang Aku lihat tampak mengenakan baju beskap putih dan blangkon emas seperti yang pernah Aku lihat di mimpi ku dulu pertama kali. Tapi ada satu yang membedakan, Pak Sam dengan wujud beskap putih itu tampak mengenakan sebuah kain berwarna merah yang dikalungkan di leher
Rupanya makhluk menyeramkan itu sepertinya juga tidak mau kalah. Aku lihat tubuhnya bermetamorfosis dan membesar menjadi bentuk yang berbeda. Kepala makhluk itu juga membesar membuat mulutnya jadi semakin lebar dan memanjang horizontal, sementara giginya tampak menjadi semakin panjang dan menyeramkan. Seperti mulut ikan piranha yang siap merobek-robek mangsanya.
Tangannya juga memanjang dan hanya menyisakan tiga jari dengan kuku yang panjang dan tajam. Badannya membesar dan merobek pakaiannya. Tampak tubuhnya menggembung dan perutnya juga membesar. Kakinya jadi memanjang melengkung. Saat ini makhluk itu sepenglihatanku berhasil mengubah dirinya jadi serupa monster katak raksasa.
Makhluk itu mulai menyerang dan menerkam. Mulutnya terbuka lebar seperti ingin memangsa tubuh Pak Sam yang mengenakan beskap. Dengan gerakan silat Pak Sam menghindar lalu balas menyerang dengan sebuah pukulan bacokan tangan yang mengenai kepala makhluk itu, disusul dengan sebuah tendangan yang membuat makhluk itu terjengkang.
Makhluk itu belum menyerah dan bangkit lagi menyerang dengan ganas. Gerakannya tampak membabi buta dan membuat Pak Sam agak kerepotan. Pak Sam mulai mengambil kain merah yang ada di lehernya dan menggunakannya sebagai cambuk melawan makhluk itu.
Walaupun Pak Sam banyak mendaratkan tendangan dan pukulan namun makhluk itu seperti tidak terpengaruh. Malah makin ganas menyerang. Pada sebuah kesempatan makhluk itu dengan mulut lebarnya seperti hendak mencaplok kepala Pak Sam, sehingga Pak Sam harus bertahan dengan menahan mulut atas dan bawah makhluk itu dengan kedua tangannya.
Pada saat itu tangan makhluk itu berhasil menyambar dan mencakar telak perut Pak Sam. Membuat Pak Sam mundur kesakitan. Perutnya terluka cukup dalam. Setelah momen itu, keadaan seperti mulai berbalik. Makhluk itu jadi seperti di atas angin, sementara Pak Sam mulai keteteran. Beberapa cakaran, pukulan dan tendangan makhluk itu mulai membuat Pak Sam terpojok.
Aku yang melihat itu mulai merasa cemas. Pak Sam tampak kewalahan dan kepayahan. Energinya seperti terkuras habis karena luka di perutnya. Gerakannya jadi melambat. Tidak gesit seperti sebelumnya. Tubuh asli Pak Sam yang ada di sampingku juga sepertinya terpengaruh. Tubuhnya berkeringat banyak sekali. Beberapa kali Pak Sam mengeluarkan suara seperti batuk tertahan. Napasnya juga jadi tidak beraturan dan mulai terengah-engah.
Melihat Pak seperti itu Aku mulai panik. Entah seperti apa jadinya kalau Pak Sam kalah? Bagaimana dengan tubuh aslinya? Sementara itu sosok Pak Sam yang sedang bertarung Aku lihat sudah benar-benar mulai kepayahan. Gerakannya melemah.
Tenaganya benar-benat terkuras. Keadaannya sama dengan keadaanku kemarin. Tapi tunggu…….
Kalau energi atau tenaganya terkuras bukankah ada cara itu. Aku jadi teringat cara yang diajarkan Pak Sam. Cara menyalurkan energi melalui ruas tulang punggung ke 9. Aku harus mencobanya. Tanpa berpikir panjang Aku coba berkonsentrasi memusatkan tenagaku pada ujung jari telunjuk ku. Membayangkan ada arus yang mengalir dan memusat di ujung jari ku. Sambil melakukan itu Aku mulai mencari ruas tulang punggung ke 9 milik Pak Sam. Ketemu……
Cepat Aku mengarahkan telunjuk kanan ku pada titik itu, dan dengan satu tarikan napas panjang yang cukup lama Aku menekan ruas tulang punggung ke 9 Pak Sam. Tubuh Pak Sam sempat tersentak. Tidak lama kemudian Aku rasakan seperti ada arus listrik yang mengalir dari ujung jari ku ke tubuh Pak Sam.
Ternyata ada hasilnya. Napas Pak Sam yang mulai terengah-engah jadi teratur kembali. Tubuh astral Pak Sam yang sedang bertarung juga menunjukkan perubahan. Gerakannya jadi kembali mantap dan gesit. Tenaganya seakan pulih. Beberapa pukulan dan hantaman yang sempat mengenai makhluk itu mulai menunjukkan hasil. Tampak makhluk itu yang kini kewalahan. Sebuah tendangan telak yang keras dari Pak Sam berhasil mendarat di bagian dada makhluk itu dan membuat makhluk itu mundur beberapa langkah.
Cepat Pak Sam menyusul nya dengan sebuah hantaman lutut seperti gerakan Muay Thai ke arah kepala makhluk itu. Membuat makhluk itu jatuh terjengkang tak berdaya. Seakan belum puas, Pak Sam meraih mulut bagian bawah dan atas makhluk itu dengan kedua tangannya dan dengan sebuah gerakan keras tangannya berhasil merobek rahang mulut bagian bawah makhluk itu dan memisahkannya dari tubuhnya.
Seketika makhluk itu menggelepar-gelepar kesakitan. Saat ini tampaknya dia sudah tidak berdaya lagi. Tubuh astral Pak Sam lalu melangkah mundur, kemudian seakan seperti tersedot masuk kembali ke dalam jasad kasarnya. Pak Sam lalu meraih botol tempat tadi menampung air yang sudah kosong. Aku lihat dia mulai merapal sesuatu, dan seketika makhluk yang sedang menggelepar-gelepar itu seperti terhisap masuk ke dalam botol itu. Makhluk itu sudah tidak mampu lagi melawan dan tubuhnya dengan cepat terhisap masuk seluruhnya. Tangan Pak Sam lalu mengambil tutup botol itu lalu menyegel nya dengan merapal sesuatu.
Seketika suasana ruangan tiba-tiba berubah. Suhu udara tidak lagi dingin tetapi hangat. Pak Sam sempat tersenyum melihatku. Pak Sam lalu menyuruhku membuka pintu dan
jendela. Ayah dan Eyang Roto yang sudah menunggu dengan harap-harap cemas langsung menanyaiku. Mereka bilang seperti mendengar suara gaduh dari luar. Aku lalu menyuruh mereka masuk. Pak Sam tersenyum menyambut mereka dan mengatakan tubuh Eyang Uyut sudah tidak dikuasai makhluk jahat lagi, karena makhluk itu sudah dikurungnya di dalam botol.
Ayah dan Eyang Roto tampak lega mendengarnya dan spontan mengucapkan Alhamdullilah. Pak Sam mengalihkan pandangannya kepada ku. Sambil tersenyum tangannya seketika memegang ubun-ubun kepalaku sambil berujar, “Wis pinter kowe saiki, nek ora tok bantu iso gawat mau – Sudah pintar kamu sekarang, kalau tidak kamu bantu bisa gawat tadi”. Pak Sam lalu mengucapkan terima kasih atas bantuanku. Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum dan menarik napas lega
Sekarang tinggal satu hal lagi, yaitu bagaimana menarik sukma Eyang Uyut kembali ke tubuhnya. Selain itu ternyata ada satu masalah lagi. Tatapan Pak Sam mendadak mengarah ke luar pintu kamar. Gestur tubuhnya kembali dalam posisi siaga.
“Kae Bos’e teko – Itu Bos nya datang…..”, Pak Sam berkata kepada ku. Membuatku turut mengalihkan pandang kearah luar pintu kamar. Tampak di luar kamar berdiri sosok lelaki dengan pakaian hitam-hitam dengan pernak-pernik nyentrik seperti kalung kuku macan, batu akik beraneka rupa baik di jari maupun di lehernya (sebagai kalung), anting dari akar bahar, sabuk ikat pinggang besar, dan lain-lain. Sorot mata nya tajam dan tidak bersahabat.
Gurat wajahnya kasar dan keras, dengan kulit yang cenderung gelap khas masyarakat pesisir. Kepalanya menggunakan ikat dari kain merah. Sekilas penampilan nya mirip Limbad. Sosok itu hanya terlihat oleh ku dan Pak Sam. Ayah dan Eyang Roto seakan tidak menyadari kehadiran orang itu. Apakah orang itu yang mengerjai Eyang? Mau apa dia datang kemari? Tampaknya urusan ini belum selesai. Sekali lagi, tampaknya kami harus adu kekuatan. Sekali lagi.